Ujian yang berat

7 Komentar

Lupakan ujian-ujian di kampus, lupakan tadi malam chattingan hingga jam 2 pagi, ada sesuatu yang lebih penting : sanak-saudara mau dateng siang ini, sementara sekarang jam 10.30 pagi dan saya belum mandi!!!

Dengan mata merah, belekan di sana-sini, plus hidung meler, saya langsung kebut cari baju-celana-anduk, dan langsung mandi. Sesuai dugaan, begitu selesai mandi, ternyata rumah udah ramai oleh tamu yang jumlahnya sekitar 9-10 orang, ada yang dari malang, surabaya, dan daerah jawa lainnya (ini asumsi yang dibuat karena hampir seluruh percakapan terjadi dalam bahasa jawa,, dan aing teu ngarti!!!).

Walhasil, dikarenakan saya merasa seperti kambing conge’, saya langsung ke kamar saya dan menyalakan laptop (terngiang larangan ayah saya tentang laptop : JANGAN NYALAKAN LAPTOP KARENA DAPAT MENARIK ANAK-ANAK. KAMU TAU KAN ANAK-ANAK SURABAYA KAYA APA???)

Ah, masa bodo lah, siapa juga yang mau ke kamar saya. Iseng-iseng saya main monopoli :

untitled-3ini dia hal yang bisa mencetak orang kapitalis

dan setelah beberapa saat hal yang ditakutkan benar-benar terjadi :

“Mas main apa??”

Itu benar-benar kata-kata yang mengubah hari saya selanjutnya. Memang seharusnya larangan dan ucapan orang tua itu diikuti. Walhasil akhirnya laptop itu didominasi oleh seorang anak gadis belia dan saya hanya bisa terpaku menonton *sok-sok ngawas sambil ngajarin cara main monopoli padahal sebenarnya takut laptopnya dibanting karena pernah kejadian hp dibanting anak-anak*

Setelah mengawasi beberapa saat, beban saya berkurang saat om-sis (ayahnya si ade) ngebantu jadi pengawas. Setelah si ade kalah mutlak dalam game monopoli (ya iya lah, mainnya ngeklik-klik doang…) saya kira permainan akan usai, semua senang, semua beres. Namun, ternyata dia pengen main satu game lagi hearts.

“ De,, emangnya ngerti cara maen hearts?”

“He em,, di sekolah juga suka maen.”

Eh bentar-bentar, di sekolah katanya?!? Sekolah Dasar dong?!? Ck, Ck, Ck, sekarang ternyata permainan kartu sudah merambah kancah per-SD-an. Dulu aja saya di SD cuma maen sepakbola kertas, tarung bolpen, RPG-RPG-an, sama bikin komik (wakaka gamenya norak semua kalau dilihat sekarang). Dengan rasa penasaran ingin melihat permainan hearts si ade, ternyata hasilnya tidak jauh dari monopoli : tetep aja asal ngeklik-klik.

Beberapa saat kemudian, saat tamu sudah pergi, ternyata ortu ingin mengantar mereka jalan-jalan keliling bandung (tentu saja saya menolak ikut,, manusia anti sosial gitu lho). Akibatnya, saya ditinggal di rumah sendiri (HOME ALONE), dengan keadaan seperti :

untitled-2

yes, sate, ayam bakar, sup-supan, bumbu kecap bumbu kacang + sayur

untitled-1

minum, gemblong, bika ambon, lemper, onde-onde, salak, jeruk yang acak-acakan (maklum Indonesia)

You know lah, banyak mobil banyak polusi, banyak hajat banyak sisa makanan, hahahaha…

Sampai jumpa saat musim dingin usai! (hibernasi)

Kalkulator baru (lagi)

Tinggalkan komentar

Setelah bersenang-senang dengan kalkulator baru pada ujian 1 rangkaian listrik (post sebelumnya), saya akan kembali bersenang-senang dengan si dia dalam menghadapi ujian 2 rangkaian listrik.

Namun, sialnya ternyata kalkulator yang baru seumur jagung itu HILANG!!

Hal yang terakhir saya ingat dari si dia adalah ketika menghampiri rekan-rekan yang sedang belajar bareng, lalu saya ikut belajar sebentar dan mengeluarkan dia dari tas. Sepertinya dia tidak pernah kembali masuk ke dalam tas, dan memilih untuk hidup bersama engineer lain (hiks) à sebenarnya salah saya sendiri kalkulatornya ga dikasih nama.

Walhasil, akhirnya saya minta duit lagi untuk beli kalkulator (ck ck ck anak jaman sekarang), dengan nomor seri yang sama dengan sebelumnya (udah terlanjur enjoy ama kalkulator itu,, ntar kalau nilai jelek malah nyari-nyari pembelaan).

Cukup sebal, iya. Mengapa barang yang cukup penting seperti itu masih bisa saya hilangkan. Tapi, untungnya saya hanya kehilangan barang yang dapat dibeli dan digantikan. Kalau anda ingin tahu arti kehilangan sebenarnya, tanyalah pada Steve Jobs:

Steve jobs adalah orang yang mendirikan (co-found) Apple computer pada saat umurnya masih 20 tahun di garasi orang tuanya (kita tahu kalau dia melakukan hal tersebut karena sangat menyukainya dan ingin ‘pamer’ pada temannya). Dalam 10 tahun, dia berhasil membuat apple berkembang menjadi sebuah perusahaan 2 miliar dolar dengan 4000 pekerja.

Pada saat itu, apple meluncurkan macintosh –considered as best product by steve-, dan steve akan berusia 30 tahun. Namun, meskipun dipublikasikan dengan dahsyat, penjualan macintosh buruk, sehingga komisaris apple memutuskan untuk memecat steve.

Dipecat oleh perusahaan yang dibuat oleh kita sendiri? Itu yang terjadi.

jobs

i’m talking about a man who not driven by opulent motive of retirement at age forty

*Lengkapnya, bisa dilihat di pidatonya di stanford (sini) , atau kalau mau lebih lengkap bisa ditonton di film The Triumph of The Nerds, Pirates of Sillicon Valley. (film lumayan jadul, hahaha, tapi Inspiring)

Sementara kampus sedang libur, saya berguling-guling dulu kaya si meng-tubi* (kucing deket rumah) sampai H-7 ujian akhir pelajaran lainnya.

*bacanya kayak tubi di teletubbies

Kalkulator Baruuu!!!

7 Komentar

Setelah kemarin memuat post yang cukup serius *kyaa kyaa* (cewek seneng cowok serius) maka sekarang waktunya untuk post yang penting, yaitu tentang saya, mbwahahaha *ketawanya bagong narsis*

Ceritanya dimulai ketika saya kuliah di semester dua lalu, tepatnya saat mata kuliah pengantar rangkaian elektrik. Nah, di pelajaran itu ada yang namanya bilangan kompleks. Bilangan ini dipakai di analisis sistem rangkaian satu fasa di kawasan fasor *terlihat rumit? memang rumit :D*. Sebenarnya pelajaran ini gak susah-susah amat sih, tapi karena suatu sebab saya sangat sulit untuk menerjemahkan bilangan-bilangan kompleks tersebut dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain (iya, iya, ini pembelaan).

Sebab itu adalah kalkulator.

Kalkulator tua yang saya pakai selama ini tidak mendukung fitur bilangan kompleks (ya iya lah, udah tau kalkulator jadul tapi masih dipakai-pakai juga). Walaupun udah banyak orang yang bilang kalau ngitung bilangan kompleks susah, tapi saya malah nekat pake kalkulator jadul itu. Hasilnya? Luar biasa bung, saat orang lain menghitung dengan kalkulator mereka yang modern, saya masih terbengong bengong ngitung bilangan kompleks. (ibaratnya orang lain udah pake korek api, saya masih pake batu, hiks…)

Kalkulator biadab nan jadul

Setelah ujian itu, saya pun langsung pulang ke rumah dan mencari kalkulator yang lebih modern (eh ga gitu juga deng) dengan mengubek-ubek kamar, karena teringat kalau dulu pernah ngelihat kalkulator yang super canggih dan super keren, peninggalan kaka’ *kyaa kyaa* (bukan kaka’ pemain bola loh),, , dan ternyata setelah pengubekan lebih lanjut kalkulatornya ketemu!

Keren kan??? Keren kaaan????

Namun, ternyata kalkulator tersebut habis batrenya, sehingga saya harus beli batre ukuran AAA (yang imut-imut itu lho) sebanyak empat biji. Mahal juga sih, lumayan *halah 20.000 doang, dasar pelit. Bilang aja gak mau beli kalkulator yang baru kan?*buat siap-siap ujian berikutnya.

Ternyata, setelah saya beli batere dan memasangnya ke kalkulator,, it works!

Serasa mendapatkan hidayah, saya pun langsung sujud syukur (halah lebay) untuk mensyukuri kalkulator baru saya *baru? baru beli batere kali???* . Namun, ternyata kesenangan tersebut hanya bertahan lama, karena keesokan harinya kalkulatornya mengalami kerusakan memori yang tidak dapat diperbaiki hanya dengan mengganti batere seperti hal yang saya lakukan dengan mudah tersebut. (antiklimaks banget ga sih?)

Waktu pun berlalu…

Dari saat itu, saya tidak bertemu dengan si bilkom (bilangan kompleks, tapi disingkat biar jadi norak). Namun, si bilkom ternyata akan muncul di ujian rangkaian elektrik (sekuel dari pengantar rangkaian elektrik) besok!!! Teringat akan pengalaman saya dengan kalkulator, saya berinisiatif untuk mengambil langkah ekonomis, yakni dengan meminjam kalkulator *yaaahh,, itu mah kere dudul bukan ekonomis* ke temen-temen saya.

Namun, terbayang di benak saya kalau saya kerjanya minjem melulu,

Apa kata dunia??? (iklan Telkom itu lho,, eh bukan ya? Iklan Telkom mah yang “teeelllpoooonn, teeellpoooon ruuumaaah *jadul banget wakakaka*”)

Ya sudah, akhirnya saya merogoh kocek *sebenarnya bukan kocek saya juga sih, kocek bonyok* untuk membeli kalkulator baru,, horeeee *kyaa kyaa akhirnya beli juga*

Kalkulator baru, hore!!!

Saking senangnya punya kalkulator baru, walaupun secara fitur kalkulator ini kalah dengan kalkulator yang kedua (contoh pemakaian secara yang salah :D) saya sampai semangat untuk langsung nge-post berita bahagia ini *hiks hiks* (tangis bahagia), namun lupa bahwa saya masih ada ujian besok.

*eh cara make kalkulatornya gimana ya???

belajar dulu ah cara make’-nya,, eh tunggu. Kalau belajar kalkulator terus, kapan belajar rangkaian elektriknya???