Fair-Weather Friend

2 Komentar

Mungkin ada dari pembaca yang punya teman dekat, ketika diajak ke sebuah keadaan baik, menyenangkan, dan penuh gairah, dia akan sering ada untuk kita. Di keadaan ini dia akan mendampingi kita terus, ya bareng-bareng ketawa, berbagi cerita yang penuh kebijaksanaan, ataupun sekedar menemani ke-gajelasan kita.

Tapi ketika keadaan memburuk, ya anggaplah kita sedang sakit, sedih, ataupun sedang rapuh (halah abg banget), maka ketika kita melihat sekeliling, teman tersebut tidak ada untuk membantu. Nah, inilah yang disebut istilah asing sebagai fair-weather friend.

Kenapa tiba-tiba ngomongin fair-weather friend ?

Jadi begini, beberapa waktu silam (udah lama juga sih), teman saya cerita tentang temannya yang seperti itu. Pas seneng-seneng aja sering bareng, eh pas susah gak pernah nongol. (Phew, i’m too old for a talk like this.. haha) Tapi di sisi lain, saya pikir, di umur saya yang segini juga masih ada kok teman yang seperti itu.

Saya sendiri pikir gak-apa-apalah kalau ada diantara kita yang mau jadi orang seperti itu, ya maksud saya, siapa juga sih yang mau repot dengan urusan sedih orang lain? Urusan kita aja udah banyak ? (jangan vonis saya orang kayak gitu yak.. hehe)

Tapi di sini, pertemanan bisa jadi masalah ketika kita sudah mengucapkan akan membantu teman kita dalam keadaan apapun, tapi kenyataannya bantuan cuma di mulut aja, kelakuan ya tetep aja muncul pas saat-saat gembira, di saat kesedihan gak pernah muncul. Kalau begini, si temennya “fair-weather friend” yang percaya ini bakal sakit banget batinnya. Rasanya kayak kita cuma diambil untungnya aja, pas kita dianggap merugikan, kita ditinggalin begitu aja.

Adalah benar bahwa banyak orang yang bisa kamu percaya, tapi sangatlah langka orang yang bisa kita percayai sepenuhnya. Bahkan orang terdekatmu pun bisa mengkhianatimu (hiiiiiiiiiiii…. serem yak, haha)

Gak-gak bukan itu esensinya, esensinya adalah jangan pernah menggantungkan prinsip hidup pembaca ke hal yang namanya teman, teman itu memang menyenangkan ketika keadaannya bagus, tapi kadang-kadang sangatlah sulit untuk mendapatkan teman yang bisa menemani kita menghadang berbagai badai kehidupan. Percayalah apa yang pembaca percayai, misalnya prinsip, tuhan, karma, atau apapun itu yang penting dasarnya jelas dan tetap.

Ibarat lalat yang hanya mengincar bau sapi, haha.

Iklan

Dekat setelah jauh

6 Komentar

Saya masih ingat, ketika dulu ada wanita [halah, jangan cewek terus ya, bosen] yang selalu tersenyum malu-malu, ketika bertemu saya. Begitu pula dengan saya. Sepertinya kami berdua masih enggan untuk berbicara, bahkan hanya untuk berkenalan sekalipun. Saya sudah tau namanya, sebenarnya. Begitupun dengan dia. Pasti. Saya tahu itu.

Sampai akhirnya kami harus melanjutkan pendidikan kami ke jenjang yang lebih tinggi, dan kami memasuki universitas yang berbeda. Sebenarnya tidak ada perasaan apapun sama sekali, tapi entah kenapa diri ini terasa yakin bahwa saya bisa mengenal dirinya lebih jauh.

Perasaan itu ternyata benar. Suatu hari, Saya bertemu dengan wanita tersebut, dan kami saling menyapa. Aliran percakapan yang terjadi sangat lancar, seolah-olah saya telah mengenalnya bertahun-tahun. Perkenalan di antara kami pun cukup unik,,

…..

Her : Halo, Lestian, kenalan ya, saya tau nama kamu Lestian, nama saya *****. Kita sempet satu sekolah kan?

Me : Hihi, dah tau koq,, kamu yang dulu di kelas ** kan ?

…..

Sempet nyesel juga, kenapa baru dekat sekarang. Setelah Jauh. Kalau sudah jodoh, pasti ketemu. Tapi jangan berharap terus nunggu jodoh. Bodoh namanya.

Teman di Malaysia

11 Komentar

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lainlain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, 😀

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???