SMAK Dago

2 Komentar

Tadi siang mungkin pertama kalinya saya memasuki SMAK Dago, sekolah tempat mantan presiden BJ Habibie menuntut ilmu.

Waktu SMP, saya pernah jalan-jalan di jalan dago. Bukan jalan-jalan ke Factory Outlet seperti kegemaran orang-orang, tapi benar-benar hanya jalan kaki menyusuri jalan dago untuk menghabiskan waktu. Jalan dago waktu itu rindang sekali. Saya terkesima ketika saya melihat salah satu gedung antik yang memiliki halaman luas dan hijau, dengan pohon-pohon tua yang begitu besar. Itulah SMAK Dago. Awalnya, saya tidak pernah menyangka bahwa dulu saya melihat sebuah sekolah. Saya kira, bangunan sekolah itu adalah bangunan rumah angker yang berhantu.

Setelah berjalan lebih lanjut, ternyata saya melihat sebuah plang sekolah tersebut. Wah, gedung ini ternyata sekolah. Sekolah berhantu mungkin, pikir saya kala itu. Wajar saja, jika dilihat lebih dekat, ternyata rumput di sekolah itu nampak liar. Belum lagi cat-cat di gedung yang belanda banget itu sudah mengelupas. Keinginan saya untuk masuk dan curi-curi pandang pemandangan di dalam pun hilang. Takut.

Saya pun tidak terlalu memikirkan sekolah tersebut, hingga pada suatu saat saya melihat sebuah siaran TV. Di acara itu, mantan presiden BJ Habibie bernostalgia tentang sejarah hidupnya. Dimulai dari tempat tinggal beliau di jl. imam bonjol, hingga kisahnya bertemu almarhum mantan ibu negara Ainun Habibie. Kisah yang sangat romantis, menurut saya.

Di acara tersebut, Pak Habibie juga bernostalgia tentang tempat-tempat beliau menuntut ilmu. Saya senang sekali ketika beliau bernostalgia di SMP 5 Bandung, tempat saya menuntut ilmu. Saya pun ikut bernostalgia dengan asyiknya. Saya bandingkan dengan jaman saya saja, sekolah itu sudah berubah banyak. Saya pikir, pasti memori yang bangkit ketika Pak Habibie berjalan-jalan di sana akan sangat menyenangkan. Ternyata, memang sangat menyenangkan. Sayang saja, kisah berikutnya ternyata sangat menyedihkan.

Saya cukup tercengang, ketika melihat keadaan SMAK Dago. Tercengangnya saya saat itu mungkin tidak bisa dibandingkan dengan perasaan Pak Habibie di siaran itu. Di siaran itu, beliau bercerita bahwa saat itu adalah saat pertama kalinya beliau kembali ke SMA-nya itu. Saat masuk gerbang sekolah, beliau cukup terkejut dan nampak terus bertanya-tanya, “apa yang terjadi”. Keadaan sekolahnya kurang lebih mirip dengan deskripsi saya di atas sebelumnya. Liar dan menyeramkan.

Beliau berjalan menyusuri koridor sekolah sambil bercerita tentang kisah-kisahnya di sekolah. Termasuk juga kisahnya dengan Bu Ainun. Beliau melanjutnya ceritanya sambil berjalan, masih sambil terheran-heran. Kini mulai nampak kekecewaan dengan keadaan sekolahnya kini. Mendengar cerita selanjutnya dari pak Habibie, lantas saya baru menyadari SMAK Dago merupakan sekolah unggulan dulunya. Hal ini sangat jauh dengan tebakan saya waktu kecil, sekolah berhantu.

Hal yang menjadi klimaks nostalgia Pak Habibie, adalah ketika beliau memasuki ruang serba guna. Ruang serba guna yang hancur lebur, tepatnya. Atapnya hancur lebur. Potongan-potongan kayu berserakan di mana-mana. Belum lagi lumut yang sudah tumbuh di mana-mana.

” Gila.. Ini nggak bener “

” Kamu tahu ini dosa?! membiarkan sekolah ini jadi seperti ini? “

” Dulu saya menyanyi di sana..”

Itulah respon-respon Pak Habibie ketika melihat keadaan ruangan yang hancur lebur itu. Hati saya saja terasa teriris, ikut merasakan rasa marah, kecewa, sedih yang dialami Pak Habibie. Tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan beliau yang telah menempuh studi di sana, serta menjalani memori yang menyenangkan, indah, ataupun yang tidak mungkin terulang lagi.

Saya pun tidak berani membayangkan perasaan beliau saat pertengahan tahun kemarin, terjadi sengketa yang disertai kerusuhan di sekolah yang berada di jalan dago itu.

Hari ini, saya berkesempatan untuk masuk dan melihat langsung sekolah mantan presiden kita itu. Memang, sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar di gedung ini. Murid-murid yang dulunya sekolah di gedung ini telah belajar di tempat lain. Yang ada hanya gedung yang pagarnya ditutup seng, dan gedung yang pintu gerbangnya ditutup. Cukup banyak orang yang menjaga di sekitar pintu masuk gedung itu. Beruntung, saya bisa masuk. Namun, benar-benar tidak ada yang bisa dinikmati di sana. Di satu sisi, ada ruang-ruang kelas yang memang antik dan terawat. Namun, isinya bukan meja dan bangku khas sekolah, melainkan meja besar yang dikelilingi kursi-kursi seperti di ruang-ruang rapat.

Saya pun ditunjukkan jalan untuk menuju tempat tujuan saya, sambil membayangkan kehidupan sekolah apa yang mungkin terjadi di tempat ini dulu. Indah sekali pasti.

Lamunan saya buyar, ketika kemudian saya melihat sisi lain gedung itu. Ini ternyata benar-benar sekolah berhantu, pikir saya. Liar dan menyeramkan. Di diri saya pun muncul kekhawatiran.

Bagaimana masa depan gedung ini, akankah terus seperti ini?

Bagaimana kisah-kisah yang telah terjalin di gedung ini, akan hilangkah?

Fungsi apakah yang akan diperankan oleh gedung ini nantinya? Apa mau dijadikan museum?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya tahan dalam-dalam, karena memang saya tidak mempunyai ilmu untuk menjawabnya.  Ibaratnya, seperti menonton sinetron indonesia di televisi, sambil menahan kesal dan gemes.

Iklan

Kunci jawaban UN, UAN, UNAS, bocor tiap tahun?

5 Komentar

Sebelum baca post ini, harap siapkan mindset anda bahwa saya sedang membicarakan masalah UN, UAN, UNAS, atau apapun namanya yang soal dan pembahasannya bocor, atau malah banjir tiap tahunnya. Saya yakin fenomena ini terjadi secara nasional (hmm, mungkin kecuali daerah yang terpencil, saya tidak tahu).

Topik yang sudah basi, yaitu soal UN, UAN, UNAS bocor. Hal tersebut mencerminkan betapa bobroknya pendidikan serta moral bangsa kita ini. Kebobrokan tersebut jelas berasal dari orang-orang pengurus pendidikan kita, dep***dik***nas (oops, saya sensor), yang saya pikir juga bobrok dengan membela dirinya dengan mengatakan bahwa kunci jawaban yang beredar merupakan kunci palsu, padahal udah jelas (terutama bagi kita yang udah UN) kunci tersebut nyata. Ya enggak sih? Atau mau mencoba mengabaikan kenyataan pahit ini?

Kalau melihat kondisi kita saat ini, saya yakin kalau soal UN, UAN, UNAS akan bocor terus-menerus, tahun ke tahun jika tidak ada penanganan khusus dari pemerintah. Terutama pada tahun ini, saya yakin soal UN akan bocor lagi karena pemerintah sedang fokus ke pemilu, jadi pendidikan dikesampingkan dahulu. Tapi saya ingin coba fokus membahas tentang fenomena sosial yang terjadi di negeriku ini.

Tentang Kunci Jawaban

Sebenarnya, menurut rekan saya yang memiliki relasi yang cukup (sangat) dekat dengan seseorang yang memiliki posisi tinggi di dep***dik***nas, tidak ada masalah kebocoran pada kunci jawaban UN, karena kunci jawaban sudah dijaga dengan sangat ketat oleh aparat pemerintah di pemerintah pusat sana di Jakarta, disegel dan tidak ada seorangpun (halah lebay) kecuali orang-orang tertentu yang mengetahui kunci tersebut. Di keadaan ini, saya harus memberikan apresiasi lebih pada petinggi yang menjaga kunci jawaban, good job.

Bagaimana kunci jawaban ada

Masalah dimulai ketika distribusi soal UN dilakukan. Begini deh, soal yang dibuat oleh dep***dik***nas kan harus merata, adil, menyebar, dan berada tepat waktu di tempat ujian. Bisa dibayangkan kan kalau Negara kita adalah Negara yang sangat-sangat besar (walaupun sudah dibagi menjadi beberapa rayon), sehingga untuk melakukan distribusi soal ujian nasional dibutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga distribusi soal harus dilakukan agak jauh hari sebelum UN dilaksanakan.

This is the period where shit happens. Pasti aja , ada oknum yang menginginkan keuntungan dari segala kesempatan yang ada. Dengan berbagai metode (yang gak mungkin saya jabarkan di sini), mereka mendapatkan soal-soal ujian tersebut (somehow tidak merusak segel) pada sore-malam sebelum ujian, lalu mereka pergi menyebar ke SMA-SMA yang dianggap ‘potensial’ untuk menghasilkan keuntungan bagi mereka.

Ada beberapa metode yang saya ketahui untuk ‘menjual’ soal-soal tersebut. Ada yang menjual secara ‘mentah’, yakni siswa membeli soal langsung tanpa jawaban, bisa juga siswa membeli paket sms ‘halah’ yang biasanya banyak siswa terjebak pada paket sms ini. Selain itu, bisa juga kadang-kadang siswa yang membeli kunci jawaban tersebut mendatangi siswa yang ‘pintar’ malam-malam sebelum UN, lalu mengerjakan soal tersebut bareng-bareng, kemudian meng-SMS siswa-siswa satu sekolah lainnya pada pagi sebelum UN.

Bagaimana cara mendapatkan kunci jawaban

Gampang aja sih, kalau kamu siswa-siswi SMA, kamu tinggal nongkrong di depan sekolah kamu, sekitar sore hari – kalau bisa sampai malem dan kalau bisa rame-rame – (usahakan juga kelihatan cemas dan bingung). Pasti akan ada mas-mas, atau om-om lah yang akan menghampiri anda dan kemudian akan menawarkan soal, kunci, atau apapun yang berhubungan dengan UN. Jikalau sampai malam hari belum ada tanda-tanda penawaran, maka SMA anda kurang beruntung dan semoga tahun depan SMA anda dapat menjadi SMA incaran penjual-penjual kunci jawaban.

Mudah bukan? Mendapatkan kunci jawaban Ujian yang digadang-gadang sebagai ujian yang sangat sulit. Eits, tunggu dulu. Ujian yang sulit? Bukankah setelah ujian itu masih ada ujian-ujian yang lain??? UMPTN, SPMB, SNMPTN? STAN? Ujian mertua? Ujian Dunia? Ujian Akhirat? Bentar-bentar, saya cari dulu cara dapat bocoran ujian yang lain ya.

*walaupun saya tahu hal-hal di atas bukan berarti saya ‘pengguna’ bocoran UN dan juga jangan simpulkan bahwa almamater saya dan ‘SMA sebelah SMA saya’ adalah ‘pengguna’.

[Menantang] Matematika yang lebih sulit

3 Komentar

Mathematics is the heart of engineering

Masa-masa liburan lebaran kemarin lebih banyak saya gunakan untuk belajar, dengan harapan saya dapat lebih memahami konsep-konsep yang saya lewatkan di kelas karena tidur. Alih-alih lebih jago, saya malah mengalami kesulitan yang cukup mengganggu, terutama di kuliah Rangkaian Listrik (RL) yang banyak persamaan matematikanya. Hmm,, kenapa ya? Biasanya kalau di urusan matematika saya tidak terlalu kesulitan. Apakah tingkat kesulitannya yang semakin tinggi, atau otak saya yang jarang dipakai (tidur di kelas)?

Iseng-iseng browsing, saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang kuliah Rangkaian Listrik cukup sulit, terbukti dengan jumlah mahasiswa yang lulus biasanya sekitar 50% dari jumlah total mahasiswa. Buset dah, malah ada yang ngulang mata kuliahnya sampai 4-5 kali baru lulus. Serem juga, hiii…

Mencoba berpikir positif, dengan menganggap dosen sebagai penyebab hancurnya nilai mahasiswa, saya mendapatkan fakta bahwa nilai mahasiswa di kuliah RL hancur semua!!! Siapapun dosennya, hancur nilainya. Namun, setelah melihat sekilas, ternyata di antara nilai-nilai yang hancur, terdapat juga mahasiswa yang mendapatkan nilai A. Ini membuktikan satu hal : Rangkaian Listrik gak susah.

Kalau tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi, berarti tinggal satu alasan mengapa nilai mata kuliah RL hancur semua, yakni : malas!

Saya telusuri jalur hidup saya di masa silam, saya mendapati diri saya sebagai orang yang malas (haha). Pada pelajaran eksak, saya hanya mengandalkan kecerdasan dan intuisi untuk memilih satu jawaban dari pilihan ganda yang ada. Sementara pada pelajaran non-eksak, kerjaan saya nyontek, nyalin, kerjasama, atau apapun namanya lah. Yang penting dapat jawaban. Pada masa tersebut, kemalasan itu masih dapat membawa saya ke jenjang kuliah.

Nah, masalahnya muncul ketika saya kuliah, terutama di masa-masa sekarang, pada tingkat kedua, pada saat berbagai mata kuliah yang sudah pernah dipelajari muncul dengan tuntutan yang berbeda. Tuntutan tersebut adalah kemampuan dasar yang sebelumnya saya abaikan, karena kemalasan saya. Jadi, rasanya seperti seluruh kemalasan yang telah kita lakukan seumur kita diakumulasikan ke satu titik di masa kini, hihi..

Konsekuensinya, saya harus belajar mundur dan mengulang berbagai pelajaran yang sebenarnya mudah, namun banyak, sehingga banyak menyita waktu yang harusnya saya gunakan untuk hal yang lain. Namun, ada untungnya juga sih (there’s always a silver lining in every cloud, right?),, saya menyadari kemalasan saya pada saat saya belum mengenal persamaan Maxwell ataupun Schrödinger.

Masa-masa sekarang, matematika yang saya lawan jauh lebih sulit, bukan karena materinya semakin sulit, tapi karena semakin banyak. Jadi, kalau saya pikir kemalasan mahasiswa juga disebabkan oleh sistem pendidikan kita (bukannya menyalahkan, namun harus ada perbaikan kan?).

Kalau saya bandingkan pendidikan SD Indonesia dengan pendidikan SD perancis, ada hal yang cukup menarik, yakni lulusan SD Indonesia lebih ‘pintar’ daripada lulusan SD perancis. Kalau di sana, lulusan SD hanya bisa melakukan operasi matematika : tambah, kurang, kali, bagi. Kontras dengan lulusan sini yang udah bisa KPK, FPB, luas itu, luas ini, dll.

Saya pikir tidak ada masalah kalau siswa benar-benar paham apa yang mereka pelajari, namun masalahnya adalah pendidikan kita (*opini pribadi) mencoba berbagai hal terlalu cepat, yang berujung ke budaya serba instan. Pendidikan berpengaruh pada karakter, ya kan? Sehingga jangan heran mengapa budaya ‘kita’ serba instan. Saya pikir harus ada perubahan yang sangat mendasar pada sistem pendidikan (bukan dengan ganti kurikulum saja), tapi juga pengajar, fasilitas, dll. dll. dll.

*sori jadi pengkritik tanpa solusi.

Aduh, kok malah jadi ngeblog, bukannya belajar???

Bentar, ah masa belajar terus sih?

Yaudah, beres ngeblog belajar yah!

Bentar,, tidur dulu ah..

Menyontek di sekolah…

11 Komentar

Cheating at School

Berdasarkan polling yang dilakukan oleh salah satu situs favorit saya Gamefaqs, ternyata pengguna internet di dunia cukup jujur, hahaha…

Bukan, bukan itu poinnya. Ternyata kecenderungan untuk menyontekitu sangat-sangatlah besar. Berdasarkan polling, ternyata sekitar 75% orang sudah pernah menyontek. Dan sekitar 90% orang tergoda untuk menyontek..

Nah, berdasarkan tulisan di kampusku,

Menyontek dan Menitip Absen adalah benih-benih korupsi

Menyontek udah [dulu, di kampus sih enggak], Nitip Absen sering [nah ini dia kegemaran saya]. Benarkah saya akan menjadi koruptor?

Belum tentu. Jawabannya adalah tergantung kepada sistem yang diterapkan.

Sewaktu saya SMA, sistem yang ada sangat memungkinkan saya untuk menyontek, juga menitip absen. Guru yang tidak kompeten, serta sistem absensi yang lemah, serta banyak faktor lain menyebabkan hal-hal tadi. Selain itu, pada saat SMA, kecenderungan untuk bersenang-senang semaking banyak karena raging hormon, berdampak pada kemalasan belajar hingga akhirnya menyontek dan menitip absen.

Kuliah? Di kampusku, sistem ujiannya cukup bagus, sehingga kemungkinan untuk menyontek sangat sulit. Nah, sayang sistem absensinya masih lemah [pada beberapa dosen.]

Nah, jadi sangatlah sulit untuk memberantas korupsi jika kita hanya meninjau pemimpin atau pihak-pihak tertentu. Hal ini disebabkan oleh godaan akan selalu datang pada orang yang mempunyai kekuasaan. Lambat laun, orang yang mempunyai kekuasaan akan tergoda juga.

Timbul lagi pertanyaan, Bagaimana menciptakan sistem anti korupsi?

yah, minimal agar tidak seperti negeriku deh,,

Mengapa Andre Melamun Saja?

Tinggalkan komentar

Aha!

*Gambar dari komik bobobo-bo-bo-bobo

Itu adalah salah satu coretan yang ada di toilet di SMA saya dulu. Perkataan ini selalu menjadi guyonan ketika Andre [teman saya] sedang melamun. Sebenarnya, apa yang mendasari orang untuk melamun ya? Menurut saya, ini beberapa alasan kita melamun :

1.      Mempunyai masalah yang sedang kita pikirkan solusinya

2.      Terbawa oleh fantasi sendiri, ketika sedang ada kejadian yang mengingatkan kita tentang sesuatu [biasanya masa lalu]

3.      Mikirin pacar, hihi…

4.      Tidak ada teman bicara

5.      Perkataan seseorang yang mengiang-ngiang

dll.

Sepertinya penyakit melamun saya [saya sendiri lebih suka menyebutnya dengan merenung], semakin parah akhir-akhir ini. Bahkan, pacar teman dekat saya sampai bertanya-tanya kenapa akhir-akhir ini saya sangat-sangat-sangat sering merenung.

Entah apa yang saya renungkan, saya tidak tahu, sepertinya tidak ada yang saya renungkan.

Alam kan selalu berusaha untuk mencapai titik keseimbangan. Mungkinkah karena terlalu banyak bolos kuliah, terlalu banyak bersenang-senang, sehingga Tuhan ‘mengutuk’ saya agar melakukan renungan yang tidak jelas?

Rasanya sekarang tidak ada satu pun ‘alat’ yang dapat memuaskan saya.

Mungkin saya harus mulai belajar lagi, karena hidup yang isinya hanya kesenangan sangatlah tidak seimbang.

Teman di Malaysia

11 Komentar

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lainlain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, 😀

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???