[Menantang] Matematika yang lebih sulit

3 Komentar

Mathematics is the heart of engineering

Masa-masa liburan lebaran kemarin lebih banyak saya gunakan untuk belajar, dengan harapan saya dapat lebih memahami konsep-konsep yang saya lewatkan di kelas karena tidur. Alih-alih lebih jago, saya malah mengalami kesulitan yang cukup mengganggu, terutama di kuliah Rangkaian Listrik (RL) yang banyak persamaan matematikanya. Hmm,, kenapa ya? Biasanya kalau di urusan matematika saya tidak terlalu kesulitan. Apakah tingkat kesulitannya yang semakin tinggi, atau otak saya yang jarang dipakai (tidur di kelas)?

Iseng-iseng browsing, saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang kuliah Rangkaian Listrik cukup sulit, terbukti dengan jumlah mahasiswa yang lulus biasanya sekitar 50% dari jumlah total mahasiswa. Buset dah, malah ada yang ngulang mata kuliahnya sampai 4-5 kali baru lulus. Serem juga, hiii…

Mencoba berpikir positif, dengan menganggap dosen sebagai penyebab hancurnya nilai mahasiswa, saya mendapatkan fakta bahwa nilai mahasiswa di kuliah RL hancur semua!!! Siapapun dosennya, hancur nilainya. Namun, setelah melihat sekilas, ternyata di antara nilai-nilai yang hancur, terdapat juga mahasiswa yang mendapatkan nilai A. Ini membuktikan satu hal : Rangkaian Listrik gak susah.

Kalau tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi, berarti tinggal satu alasan mengapa nilai mata kuliah RL hancur semua, yakni : malas!

Saya telusuri jalur hidup saya di masa silam, saya mendapati diri saya sebagai orang yang malas (haha). Pada pelajaran eksak, saya hanya mengandalkan kecerdasan dan intuisi untuk memilih satu jawaban dari pilihan ganda yang ada. Sementara pada pelajaran non-eksak, kerjaan saya nyontek, nyalin, kerjasama, atau apapun namanya lah. Yang penting dapat jawaban. Pada masa tersebut, kemalasan itu masih dapat membawa saya ke jenjang kuliah.

Nah, masalahnya muncul ketika saya kuliah, terutama di masa-masa sekarang, pada tingkat kedua, pada saat berbagai mata kuliah yang sudah pernah dipelajari muncul dengan tuntutan yang berbeda. Tuntutan tersebut adalah kemampuan dasar yang sebelumnya saya abaikan, karena kemalasan saya. Jadi, rasanya seperti seluruh kemalasan yang telah kita lakukan seumur kita diakumulasikan ke satu titik di masa kini, hihi..

Konsekuensinya, saya harus belajar mundur dan mengulang berbagai pelajaran yang sebenarnya mudah, namun banyak, sehingga banyak menyita waktu yang harusnya saya gunakan untuk hal yang lain. Namun, ada untungnya juga sih (there’s always a silver lining in every cloud, right?),, saya menyadari kemalasan saya pada saat saya belum mengenal persamaan Maxwell ataupun Schrödinger.

Masa-masa sekarang, matematika yang saya lawan jauh lebih sulit, bukan karena materinya semakin sulit, tapi karena semakin banyak. Jadi, kalau saya pikir kemalasan mahasiswa juga disebabkan oleh sistem pendidikan kita (bukannya menyalahkan, namun harus ada perbaikan kan?).

Kalau saya bandingkan pendidikan SD Indonesia dengan pendidikan SD perancis, ada hal yang cukup menarik, yakni lulusan SD Indonesia lebih ‘pintar’ daripada lulusan SD perancis. Kalau di sana, lulusan SD hanya bisa melakukan operasi matematika : tambah, kurang, kali, bagi. Kontras dengan lulusan sini yang udah bisa KPK, FPB, luas itu, luas ini, dll.

Saya pikir tidak ada masalah kalau siswa benar-benar paham apa yang mereka pelajari, namun masalahnya adalah pendidikan kita (*opini pribadi) mencoba berbagai hal terlalu cepat, yang berujung ke budaya serba instan. Pendidikan berpengaruh pada karakter, ya kan? Sehingga jangan heran mengapa budaya ‘kita’ serba instan. Saya pikir harus ada perubahan yang sangat mendasar pada sistem pendidikan (bukan dengan ganti kurikulum saja), tapi juga pengajar, fasilitas, dll. dll. dll.

*sori jadi pengkritik tanpa solusi.

Aduh, kok malah jadi ngeblog, bukannya belajar???

Bentar, ah masa belajar terus sih?

Yaudah, beres ngeblog belajar yah!

Bentar,, tidur dulu ah..

Menyontek di sekolah…

11 Komentar

Cheating at School

Berdasarkan polling yang dilakukan oleh salah satu situs favorit saya Gamefaqs, ternyata pengguna internet di dunia cukup jujur, hahaha…

Bukan, bukan itu poinnya. Ternyata kecenderungan untuk menyontekitu sangat-sangatlah besar. Berdasarkan polling, ternyata sekitar 75% orang sudah pernah menyontek. Dan sekitar 90% orang tergoda untuk menyontek..

Nah, berdasarkan tulisan di kampusku,

Menyontek dan Menitip Absen adalah benih-benih korupsi

Menyontek udah [dulu, di kampus sih enggak], Nitip Absen sering [nah ini dia kegemaran saya]. Benarkah saya akan menjadi koruptor?

Belum tentu. Jawabannya adalah tergantung kepada sistem yang diterapkan.

Sewaktu saya SMA, sistem yang ada sangat memungkinkan saya untuk menyontek, juga menitip absen. Guru yang tidak kompeten, serta sistem absensi yang lemah, serta banyak faktor lain menyebabkan hal-hal tadi. Selain itu, pada saat SMA, kecenderungan untuk bersenang-senang semaking banyak karena raging hormon, berdampak pada kemalasan belajar hingga akhirnya menyontek dan menitip absen.

Kuliah? Di kampusku, sistem ujiannya cukup bagus, sehingga kemungkinan untuk menyontek sangat sulit. Nah, sayang sistem absensinya masih lemah [pada beberapa dosen.]

Nah, jadi sangatlah sulit untuk memberantas korupsi jika kita hanya meninjau pemimpin atau pihak-pihak tertentu. Hal ini disebabkan oleh godaan akan selalu datang pada orang yang mempunyai kekuasaan. Lambat laun, orang yang mempunyai kekuasaan akan tergoda juga.

Timbul lagi pertanyaan, Bagaimana menciptakan sistem anti korupsi?

yah, minimal agar tidak seperti negeriku deh,,

[Tips SPMB SNMPTN UMPTN] Ketika ‘si malas’ datang

20 Komentar

Sebagai follow-up dari tulisan saya sebelumnya Tips menghadapi SPMB, saya kembali menulis tips untuk teman-teman yang akan menghadapi SPMB.

Tentunya pembaca pernah mengalami hal seperti ini : Ketika sedang belajar, tiba-tiba muncul rasa malas. Ingin rasanya tiduran sebentar di kasur/sofa sambil menonton TV untuk istirahat. Sebenarnya hal ini manusiawi. Tetapi, kalau belajar belum lima menit sudah mau istirahat? Itu malas. Nah, ini dia kesalahan nomor satu.

1. 1. Jangan pernah belajar di tempat yang banyak gangguannya.

Jauhilah benda yang disebut sebagai TV, radio, kasur, tempat tidur dan sofa. Biasakan untuk belajar menggunakan meja belajar, ditunjang dengan suasana yang nyaman untuk belajar [beberapa orang nyaman untuk belajar di keadaan hening, namun ada yang efektif dengan musik klasik dll.], sehingga rasa malas pun sulit untuk datang. Contoh cara belajar yang bagus, yakni Yagami Light dari komik Death Note.

2. 2. Gunakan break, waktu istirahat

Sebuah penelitian menunjukkan bahwa daya konsentrasi maksimum manusia hanya bisa dipertahankan selama 16 menit. Setelah itu, daya konsentrasi manusia akan berkurang. Oleh karena itu, saya sarankan untuk melakukan break, bisa dengan musik, minum, ataupun peregangan. Jauhi TV ya, apalagi tempat tidur. Saya sarankan, break dilakukan setiap 40 menit belajar.

3. 3. Ketika malas sudah tidak bisa ditahan?

Ketika kepala kamu sudah benar-benar akan meledak, pikiranmu berteriak, itu pertanda kamu harus memanjakan pikiran kamu. Lakukan kegiatan favorit kamu, misalnya main bola, istirahatlah untuk satu hari. Bermain game boleh, tetapi jangan yang adiktif [jauhi dota dan mmorpg, hahaha…]. Toh, waktu kamu masih banyak kan? [apa yakin masih banyak?]

4. 4. Kalau malas terus?

Berubah dong. Ada banyak cara untuk menyiasati kemalasan. Salah satunya adalah dengan menggunakan ‘teori 5 menit’. Mulailah, paksa diri kamu untuk belajar 5 menit saja. Kalau mau terus, syukur… kalau mau berhenti juga tidak apa-apa. Tapi, kebanyakan orang cenderung untuk terus belajar.

Baby’s guide :

Sebenarnya, rasa malas dialami oleh semua orang. Ada orang yang bisa menyiasati kemalasan tersebut, namun ada orang yang terus terbuai oleh kemalasannya sendiri. Beberapa cara untuk menyiasati kemalasan :

  1. Ciptakan situasi lingkungan yang nyaman
  2. Pakai meja belajar!
  3. Jauhi TV, tempat tidur
  4. Istirahat, 5-7 menit setiap 40 menit

Tulisan yang satu tema :

Buku Strategi lulus SNMPTN SPMB UMPTN

Tips-tips menghadapi SMPB..

Ceritaku tentangku di SPMB

Teman di Malaysia

11 Komentar

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lainlain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, 😀

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???

The Fine Art of Catching Liars

5 Komentar

Bill’s Thought

– Senyum yang berlebihan ataupun tatapan yang terlalu antusias yang terus menerus biasanya palsu. Senyum yang asli akan hilang setelah empat-sampai lima detik.
– Gerakan tubuh ataupun mimik muka yang tidak wajar juga [dalam hal ini misalnya orang yang menghantam meja, tetapi menunggu beberapa detik untuk membentuk ‘mimik’ marah]
– Ekspresi muka yang tidak simetris biasanya juga palsu

Nah, berdasarkan artikel “The Fine Art of Catching Liars”-nya pak Paul Ekman, diambil dari sini , itulah beberapa ciri ketika orang berbohong. Namun demikian, sangatlah sulit untuk mendeteksi si tukang boong’ dalam kehidupan yang nyata, karena hingga kini tidak ada alat yang dapat secara presisi menentukan apakah seseorang berbohong atau tidak

 

Namun, ternyata ada beberapa cara untuk mendeteksi kebohongan, yakni yang paling populer adalah kerutan di antara dahi yang bertahan 1/25 detik [nah loh…]. Aplikasi kasus ini dapat kita temui pada kasus bill clinton, dalam sebuah kasus skandal dengan Monica Lewinski. Sewaktu Bill Clinton mengucapkan “I did not have sexual relations with that woman… Monica Lewinski.”.. Nah, pas dia mengucapkan “With that Woman”, pada dahinya muncul kerutan, sekejap. [ah, sayang saya enggak menemukan gambarnya]

 

Nah, di kelas bahasa inggris saya, kami langsung mencoba, apakah kami dapat menangkap seorang pembohong… Dari kelas dipilih dua orang. Saya, dan seorang rekan saya. Pengajar menanyakan apa yang saya lakukan hari minggu kemarin

 

jawaban asli saya : melakukan sejumlah riset

 

jawaban asli teman saya : tinggal di rumah

 

setiap siswa di kelas diberi kesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan pada saya dan teman saya. [dalam hal ini saya mendapatkan peran ‘si jujur’ dan teman saya menjadi orang yang jujur, pada siswa diberitahu bahwa dia pergi ke kebun binatang].

 

Saya seberusaha mungkin menunjukkan ciri-ciri pembohong, hahaha.

 

Pada akhir kelas, ternyata orang yang dapat menangkap si pembohong saja hanyalah sembilan orang dari enam belas orang. Dua orang diantaranya menjawab kami berdua berbohong [hah?!]. Tujuh orang lagi menganggap saya berbohong.

 

kalau dibuat menjadi persentase, berarti hanya 56,25 persen yang dapat menangkap pembohong. Konon katanya sistem interogasi dapat menangkap sekitar 80% pembohong, belum bagus. Liedetectors lebih gampang dibohonhi. Duh susah banget ya untuk menangkap tukang tipu…

Belajar sendiri yah!

4 Komentar

“Boleh nonton film ini, tentang bagaimana komputer bisa berkembang hingga bisa menjadi seperti sekarang ini, tapi belajar tanggung sendiri, setuju?” kata Pak Budi Rahardjo , dosen Konsep Teknologi [concept of engineering] saya.

“Yaaaa!!!” kata hampir seluruh murid dalam kelas.

Saya sih iya-iya aja, wong lagi terjangkit virus malas dan ngantuk…

Sebenarnya tidak ada masalah pada cerita di atas, sampai akhirnya saya harus menghadapi ujian Konsep Teknologi. Dari H-7 sampai H-1, saya santai-santai aja, karena seluruh materi yang diajarkan di kelas sudah saya kuasai. Sampai akhirnya saya tiba pada waktu 5 jam sebelum ujian, saya menemukan teman-teman dari fakultas yang sama, sedang memelajari sejumlah diagram-diagram dan perhitugan matematika yang belum saya mengerti.

“Belajar apa mas, mba’?” tanya Saya

“Kontek Les, nih ada soal tahun kemarin” balas salah seorang

Wow, bener-bener. Dari enam soal yang ada, saya hanya bisa mengerjakan tiga nomor… Tiga nomor diantaranya ada kosakata yang saya mengerti artinya, namun tidak mengerti cara mengolahnya.

“Waaah, gak ngerti semua nih!!! Jelasin dong…” pinta Saya

Syukurlah, dalam waktu yang relatif singkat [kurang lebih satu jam], saya sudah bisa memahami materi-materi yang “aneh” itu… Terima kasih buat Luqman, Imam, Reza, Julie, dkk. yang udah membantu saya 😀

Kesimpulan : Hal yang dipelajari namun sering dilupakan adalah detail terhadap ucapan orang lain, terkadang kita dapat menganggap diri kita dapat melakukan sesuatu dan cenderung menganggap remeh terhadap suatu hal. Saya masih beruntung, bahan ujian yang tidak saya pelajari relatif mudah dan sedikit. Coba kalau banyak,, bisa gila…

Beruntung juga saya… Ah, untung aja saya punya temen yang baik 😀 .

Awas loh Pak Budiiiiiiii !!!

Sial, akhirnya saya kena juga! Malu Euy!

2 Komentar

duh, ternyata bahaya juga jadi orang yang jahil ya? Kalau saya mencoba flashback tentang usilan-usilan yang telah saya lakukan,

hmm, ini salah satunya, yah tidak begitu merugikan sih, tapi cukup untuk ngebuat orang sampai panik, haha… duh kelepasan .

sampai akhirnya saya memutuskan untuk bolos kuliah lagi nitip absen ke teman, nah di sini salahnya, saya bilang kalau ada kuis, sms aja…

ketika sedang asyik-asyik bercengkrama ngobrol, tiba-tiba muncul sms :

Les, ada Kuis !!!

Meyakinkan banget nih sms, apalagi orang yang saya titipi absen itu orang yang belum pernah jarang saya jahili. Langsung aja tuh saya lari, yah sekitar 300 meter mungkin, naik tangga ke lantai empat, mengetuk pintu dan,

sial, di dalam kelas ternyata tidak ada kuis! Hmmph! Ya udah, setelah itu saya langsung keluar, beli minum [capek bo!], masuk lagi, tidur deh[tuh kan percuma juga kuliah],…

jadi, lesson tentang menjahili : Siap-Siap mendapatkan karma tak terduga, haha…

Older Entries