Awas Anjing Galak

6 Komentar

Lagi-lagi post saya yang sekarang ini terinspirasi dari foto yang saya ambil isengly.

Gambar di post ini juga termasuk post yang udah agak lama nongkrong di hard disk saya (dan tentu masih banyak gambar yang lain tentunya, hehe)

Ceritanya bermula ketika saya berjalan menuju sebuah lapangan yang terkenal di Bandung, bukan karena fasilitas yang dimiliki, namun karena lapangan tersebut memunyai berbagai sifat, bisa jadi kolam setelah hujan dan bisa juga jadi padang pasir kalau lagi musim kemarau. Namanya lapangan saparua, waktu saya smp dulu suka maen di sana dan kalau ke sana suka mlesetin namanya jadi saparua dome (kayak stadion di jepang itu lho, Sapporo dome, hehe)

Tiba-tiba saya mendengar gonggongan anjing.

“guk guk guk”

Kaget ½ hidup, saya mengambil ancang-ancang untuk kabur (ya iyalah kabur masa mau ngegigit anjing) sambil melihat sumber suara. Ahhh, saya lega juga ketika melihat anjing anjing itu berada di halaman rumah, dibatasi dengan pagar. Entah insting apa yang meguasai saya, saya langsung refleks ngeluarin HP dari kantong dan mengambil potret anjing anjing tersebut :

Ketika saya mendekat, gonggongannya semakin intens, gak tau emang gak suka orang asing atau emang udah disuruh buat ngegonggong tiap ada orang lewat (biar eksis gituh rumahnya). Gak tau ada apa di rumah itu, sampai ada 3 anjing yang ngejagain (atau lebih ya? Hmm). Nah, jika diperhatikan lebih lanjut, ternyata ada bola plastik yang nyasar ke rumah itu sebanyak dua buah.

Langsung terbayang di benak saya anak-anak kecil yang lagi main bola, dan salah satu dari anak-anak itu nendang bola ke rumah itu, terus yang nendang itu mau ngambil bolanya dan ternyata liat anjing tiga biji, akhirnya dia takut dan gak mau ngambil. Jadi inget masa kecil saya, ahh,, my precious time,

Lumayan juga bisa flashback ke masa silam, masa lalu memang untuk dikenang karena kita gak bisa kembali ke masa lalu.

Iklan

Kapan Indonesia bisa ke EURO ?

6 Komentar

Lho? Indonesia kan negara asia?!

 

Saya teringat ketika Saya masih kecil, ada iklan yang menayangkan Dik Doank sedang melamun dan mengucapkan, “ Kapan yaa, indonesia bisa masuk piala dunia? “, saya juga sempat bertanya-tanya mengapa Indonesia yang memiliki 250 juta orang (and counting of course), tidak mempunyai 11 pemain sepakbola yang mampu menembus Piala Dunia. Sebenarnya apa yang salah? Pembinaan kah? Atau memang sepakbola bukanlah gen bangsa Indonesia?

 

Udahlah, Indonesia mah maen bulu tangkis aja, gak usah main bola

 

Sepertinya ‘gen’ tidak bisa dijadikan alasan. Buktinya, kita tahu bahwa untuk pemain berumur 12 tahun dari indonesia memiliki prestasi yang cukup mumpuni, misalnya di danone nations cup.

 

2005 : Peringkat 11 dunia dari 32 negara

 

• The Best Attack Team

Memecahkan gol terbanyak sepanjang sejarah DNC, yaitu sebanyak 24 gol

 

• Top Scorer

Irvin Museng dengan 10 gol, dan karena prestasinya tersebut Irvin dipanggil untuk bergabung dengan AJAX Amsterdam Junior

 

2006 : Peringkat 4 dunia dari 32 negara

 

• The Best Defense Team

hanya kebobolan 1 goal selama World Final        

 

Untuk membuktikan apakah bangsa indonesia mempunyai bakat di bidang sepakbola, saya jalan-jalan (sebenarnya gak sengaja lewat) ke Saparua Dome (plesetan dari Sapporo Dome), tempat yang apabila kering menjadi gurun pasir dan apabila hujan menjadi kolam, untuk menonton anak-anak berusia sekitar 14 tahun bermain bola.

 

Foto-foto :

 

pic-maen-bola

Menurut analisis saya, (pura-pura jadi komentator yang ngerti bola)

 

Pada anak umur 14 tahun, ada beberapa anak yang memiliki teknik menonjol misalnya juggling yang sudah advanced dan kontrol bola yang manis. Tentu saja teknik merupakan hal yang krusial dan anak-anak kita mempunyai hal tersebut , tetapi sayangnya mereka masih belum matang dalam permainan. Misalnya, ketika ada rekannya yang kosong, pemain malah memilih untuk membawa bola sendiri dan akhirnya bola dapat direbut, atau mereka belum mengerti kapan harus menyerang atau bertahan. Padahal, yang membedakan antara pemain kelas satu dan pemain kasta bawah adalah mental pemain.

 

Tentunya kita menyadari perbedaan yang muncul ketika kita melihat permainan timnas indonesia dan timnas kelas dunia. Dalam menyusun permainan, pemain indonesia selalu terlihat ‘rusuh’ dan tidak terstruktur.

 

Dibuang Saja! Salah Pengertian! Maksudnya Baik! Melambung di atas mistar gawang!

Mungkin dari segi teknik kita tidak terlalu kalah, namun kita benar-benar kalah ketika bermain sebagai tim. Nah, ini menandakan kalau pembinaan kita salah pada umur sekitar 14-17 tahun. Seharusnya, pada umur segini, pemain mendapatkan tempaan berupa pertandingan rutin dan taktik, karena pemain telah mempunyai teknik dasar yang baik.

 

Saya tidak punya kekuatan, siapa yang punya kekuatan untuk memaksimalkan pembinaan pada umur tersebut? Yang pasti harapan kita bukan pada Halid.

 

Bakat sudah ada, tinggal poles saja oleh pelatih berkualitas. Ya toh?