Pohon Inovasi dan Kreativitas Belanda

6 Komentar

Belanda merupakan negara yang sangat kreatif dan inovatif. Di negeri kincir angin ini, banyak sekali ide segar bermunculan. Di masa lalu, Belanda membuat tanah rendah (Nederland) yang semula berada di bawah permukaan laut menjadi daratan yang dapat ditinggali. Kini, kita semua tahu Philips: perusahaan raksasa penghasil produk elektronik, perangkat pencahayaan, dan peralatan medis terkemuka di dunia. Saking banyaknya karya inovatif yang diciptakan, membuat the Netherlands seperti sudah terbiasa untuk menghasilkan ide-ide yang brilian.

Telah menjadi 10 besar negara terinovatif[1], tidak membuat Belanda berpuas diri. Pohon-pohon penghasil ide dan inovasi terus ditanam untuk menghasilkan banyak buah karya yang segar. Untuk memastikan buah-buah itu memiliki rasa yang istimewa, bangsa Belanda memiliki caranya tersendiri. Yaitu, dengan membina hubungan yang mesra antara universitas, industri dan pemerintah Belanda. Hubungan inilah yang menciptakan lingkungan ideal agar pohon-pohon ide dan inovasi dapat tumbuh dengan subur.

Baru-baru ini, komitmen hubungan tersebut kembali ditunjukkan. Philips mengumumkan sebuah hubungan kerjasama dengan beberapa universitas di Belanda. Kerjasama tersebut berupa pengembangkan inovasi produk di perangkat kesehatan [2]. Dengan cara ini, bibit-bibit ide dan pemikiran yang berseliweran di universitas dapat ditanamkan pada sebuah tanah yang luas dan gembur. Tanah subur ini lah yang disediakan oleh pemerintah Belanda, sementara pihak industri bertugas untuk menyiram dan memupuknya agar tetap subur.

Ide-ide yang berseliweran di universitas tentu saja tidak serta merta muncul. Butuh proses panjang agar bibit-bibit unggul bermunculan. Sepanjang studi, para pelajar ditempa di kelas-kelas sains dan teknologi untuk mendapatkan landasan pemikiran sesuai bidangnya. Tentu saja ini tidak cukup. Oleh karena itu, pelajar kembali dibekali dengan pengetahuan praktis melalui kisah-kisah nyata yang diberikan oleh pengajar tamu di kelas entrepreneurship. Kelas-kelas tambahan ini lah yang berhasil mengajak banyak pelajar untuk memikirkan inovasi teknologi yang tepat guna (dan tentu saja harus bisa dibisniskan!).

Aspek pendanaan seringkali menjadi momok dalam mewujudkan sebuah inovasi. Di Belanda, kita tidak perlu khawatir dengan hal klasik ini. Banyak, banyak, banyak sekali saluran pendanaan yang dapat diperoleh di belanda. Dari pihak universitas sendiri, banyak bantuan yang diberikan, baik berupa dukungan infrastruktur canggih ataupun pendanaan awal [3]. Selain itu, seorang profesor juga dapat memberikan saluran pendanaan tertentu melalui kerjasama dengan industri.

Dukungan pemerintah Belanda untuk ide-ide dari universitas sangatlah besar. Salah satu contohnya adalah STW Grant, yang nilainya dapat mencapai milyaran rupiah untuk sebuah rencana bisnis. Selain itu, banyak juga bantuan pendanaan dari berbagai organisasi serta innovation grant dari pihak bank di Belanda[4]. Tidak hanya masalah pendanaan, pemerintah Belanda juga gemar menciptakan iklim optimal untuk melakukan bisnis.  Semua aspek untuk menjalankan inovasi dan bisnis benar-benar dipertimbangkan. Tak heran, belanda menjadi negara terbaik kedua di dunia untuk melakukan bisnis![5]

Menurut Ir.Saputra, sebuah bangsa akan maju bila jumlah entrepreneur melebihi 2% dari jumlah penduduk[6]. Saat ini, persentase entrepreneur di belanda sudah lebih dari 4% dari jumlah penduduknya[7]. Sebagai negara unggul di bidang inovasi, Belanda sudah siap untuk melaju dengan kencang dengan negara-negara inovatif lainnya. Tentunya, kita  tak mau ketinggalan kan? Mari belajar banyak dari pohon inovasi dan kreativitas Belanda!

Sumber Informasi dan Contoh Program:

[1]http://www.insead.edu/media_relations/press_release/2011_global_innovation_index.cfm

[2]http://www.newscenter.philips.com/main/standard/news/press/2012/201204-leading-dutch-players-in-healthcare-and-technology-join-forces.wpd

[3]http://www.yesdelft.com

[4]http://www.stw.nl/Programmas/

[5]http://nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012/resources/ekonomi/belanda-negara-terbaik-kedua-di-dunia-sebagai-best-place-for-business

[6]http://www.tempo.co/read/news/2011/07/23/089347983/Ciputra-Indonesia-Butuh-Dua-Persen-Wirausahawan

[7]http://www.gemconsortium.org/docs/download/2244

Iklan

Fenomena Finlandia

3 Komentar

Selamat datang di Finlandia.

Ini adalah sebuah negara yang murid-muridnya memulai sekolah di usia yang relatif ‘tua’. Di sekolah, tidak banyak kelas yang perlu diambil, sehingga waktu sekolah pun lebih sedikit. Sangat jarang yang namanya PR dan ujian dari guru. Belum lagi, ada liburan 3 bulan di musim panas yang menanti.

Guru merupakan profesi yang diburu dan dihormati. Guru di sini bukanlah pekerjaan sampingan. Perlu gelar master (S2) dan bersaing dengan 1600 pelamar lainnya, untuk memperebutkan 160 tempat sebagai guru setiap tahunnya. Guru bertindak sebagai motivator dan innovator di kelas, dengan gaji yang sangat layak.

Sekolah di Finlandia memiliki kebebasan untuk menentukan kurikulumnya. Tentunya dengan sedikit panduan dan banyak kucuran dana dari pemerintah pusat. Setiap saat, sekolah dapat berinovasi dan mengimplementasikan pendidikan yang dianggap lebih baik, melalui ‘norma’ yang dibentuk oleh sesama guru yang menginginkan pendidikan terbaik untuk muridnya.

Tidak ada rangking. Tidak ada kesenjangan pencapaian prestasi. Namun negara ini memuncaki berbagai aspek kehidupan berdasarkan banyak survei.

Yang lebih hebatnya lagi, semua hal tersebut dicapai dengan pendidikan yang gratis!

Dalam film dokumenternya, Dr. Tony Wagner, Innovation Education Fellow – Harvard University, melakukan perjalanan untuk menjawab pertanyaan : apa yang menyebabkan sistem pendidikan swedia selalu menempati peringkat teratas dalam berbagai ukuran yang diterapkan berbagai lembaga internasional?

Di finlandia, umumnya murid memulai studinya di usia 7 tahun. Kemampuan sosial dipelajari di pre-school, dan kemampuan bahasa dipelajari di rumah. Tidak seperti di indonesia, suasana belajar di kelas pun sangat casual dan nyaman. Tidak ada seragam. Jumlah siswa di kelas pun sangat sedikit, selalu di bawah 20 murid.

Materi yang diajarkan di kelas pun sangat konseptual, memacu kreativitas, dan cara berpikir. Misalnya, di kelas-2, siswa diberi pengertian mengenai jenis-jenis sumber energi. Setelah beberapa minggu mendalami subjek tersebut, siswa diberikan studi kasus untuk membayangkan apa yang terjadi ketika listrik di rumah padam. Siswa diminta menggambar apa yang ada di pikirannya. Dengan cara ini, cara berpikir, kemampuan seni, serta studi kasus nyata diberikan dalam satu subjek studi.

Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui mimpinya lebih awal. Dalam film dokumenter ini, Wagner mewawancara siswa dari kelas 8 dan 9. Saat ditanyakan mimpinya, sudah banyak yang bisa menjawab. Mimpi-mimpi seperti menjadi animator disney, pemain es hoki, insinyur, hingga dokter pun bermunculan. Hal ini menunjukan kemampuan reasoning dan kemampuan bermimpi yang sudah berkembang.

Di kelas 9, kelas mengenai politik memperkenalkan secara interaktif, mengenai “siapa orang ini”, “dari kementrian apa orang ini”, dan “dari partai mana orang ini”. Dijelaskan juga mengenai DPR-nya Finlandia, kementrian-kementrian yang ada. Di kelas itu, diajukan studi kasus yang menarik. Para siswa ditunjukkan janji-janji yang diucapkan politisi tentang pendidikan seperti apa yang seharusnya mereka dapatkan. Kemudian, mereka diminta untuk menyatakan apakah janji-janji tersebut sudah tercapai.

Sejak dini, pengetahuan membangun konsep pun sudah dibangun. Misalnya, saat kelas 8, guru mengajak siswa untuk berusaha menemukan persamaan phytagoras. Semua ini dilakukan berdasarkan konsep pengajaran yang telah disusun oleh guru tersebut. Konsep pengajaran itu, sebelumnya telah juga didiskusikan dengan pengajar lain, untuk mendapatkan masukan ataupun memberikan ide konsep pengajaran yang baru. Dengan demikian, terbentuk sebuah ‘lingkaran’ evaluasi sesama guru yang benar-benar berdasarkan keinginan untuk mendorong pengajaran yang lebih baik.

Sistem pemberian tugas yang diberikan oleh guru pun cukup menarik. Misalnya, penggunaan perangkat teknologi informasi lebih ditekankan sebagai perangkat murid untuk mengerjakan tugas. Untuk murid yang mengambil tugas marketing, tugas mereka bisa saja melakukan riset marketing di facebook, ataupun mencari artikel-artikel marketing yang dapat menunjang tugas mereka. Dengan menaruh banyak tugas di jaringan internet, murid dan guru juga dapat berinteraksi untuk mendiskusikan tugas yang ada. Ada juga tugas yang diberikan saat entrepreneurship camp. Siswa dikelompokkan menjadi 5-7 orang, berada  di satu tempat yang sama selama 26 jam. Mereka ditugaskan untuk menghasilkan ide produk atau jasa dalam satu malam. (yap, satu malam membuat jasa dan produk. hal ini menekankan pentingnya kerjasama dalam tim, kemampuan inovasi, dan daya kreativitas untuk menghasilkan ide bisnis)

Siswa diwajibkan belajar hingga usia 16 tahun. Setelah itu, mereka dapat meneruskan studi untuk menjadi akademisi, ataupun mengikuti sekolah vocational (profesi).  Sekitar 45% memilih untuk mengikuti sekolah profesi. Setelah lulus pendidikan profesi, siswa SMK-nya Finlandia itu akan dapat langsung memasuki dunia kerja.

Di Finlandia, adalah penting untuk dapat menelusuri kemampuan diri sendiri. Tak jarang, di umur 11, ketika murid memperoleh hasil yang buruk di bidang eksakta, maka murid tersebut tidak akan diarahkan untuk menjadi akademisi. Tersedia jenis kelas-kelas lain yang lebih dianjurkan, apakah itu di bidang sosial, ataupun seni. Pokoknya, bidang yang lebih memungkinkan untuk menunjang karir yang lebih sesuai.

Apa yang melatarbelakangi pendidikan yang begitu maju itu? Padahal di tahun 1960 Finlandia hanyalah satu dari banyak negara miskin lainnya. Menurut film dokumenter tersebut, di saat itu, hal yang pertama dilakukan Finlandia adalah dengan membentuk comprehensive school. Ini adalah sekolah yang ditujukan untuk semua orang. Perlu waktu lima tahun untuk mendefinisikan bagaimana pendidikan yang seharusnya pada tahun 70an. Kemudian fase berikutnya adalah untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan untuk guru pada tahun 80an. Diperlukan pendidikan master untuk menjadi guru. Kemudian, dibutuhkan waktu 30 tahun untuk mencapai keadaan agar sistem pendidikan Finlandia menjadi seperti sekarang.

Waktu 30 tahun ini dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan. Pada tahun 1990an, sistem pendidikan terpusat Finlandia mempercayakan penyusunan kurikulum yang lebih mendetail pada daerah. Dengan pola pemikiran sama akibat dari pendidikan yang sama di tahun 1970, sebagian besar masyarakat di sana percaya bahwa pendidikan yang lebih baik adalah kunci masa depan Finlandia. Akibatnya, kepercayaan tersebut berbuah. Para pendidik di ruang kelas menjadi inovator yang terus mendorong untuk mencari cara terbaik untuk mengeluarkan potensi yang dimiliki oleh pelajar. Para pendidik pun bertukar ide, membuat sebuah lingkaran evaluasi untuk mencapai pendidikan yang lebih baik. Semuanya hanya berdasarkan kepercayaan yang diberikan dari otoritas yang lebih tinggi.

apa yg bisa dipelajari kita sebagai masyarakat Indonesia?

Baiklah, banyak hal yang membedakan Indonesia dengan Finlandia. Dimulai dari perbedaan budaya, perbedaan ukuran dan demografi, hingga banyak perbedaan lainnya. Menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah melihat Finlandia sebagai contoh utama dalam menerapkan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Di samping itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan

1. Pendidikan merupakan proses nomor 1 yang tidak boleh diganggu gugat oleh urusan apapun. Pendidikan ini bukan dalam arti sempit, namun dalam arti luas. Termasuk mengeksplorasi diri sendiri, cara berpikir, cara berimajinasi, menuliskan dan menggambarkan ide, kemampuan atletik dsb.

2. Butuh waktu panjang sekali untuk membuat transformasi pendidikan. Finlandia butuh 30 tahun sejak penerapan sistem pendidikan yang baru. Dimulai dari kesetaraan pendidikan, penerapan tujuan yang sama dengan politisi dan industri, serta pemberian rasa percaya yang tinggi.

3. Rasa kepercayaan yang tinggi diterapkan dengan menetapkan panduan kurikulum yang sedikit. Dengan demikian, siswa bisa fokus pada pengembangan diri : memilih proyek yang disukainya, mengembangkan kemampuan seni, ataupun langsung memilih untuk berkarir melalui pendidikan profesi

4. Kepercayaan yang tinggi juga diterapkan hingga tingkatan yang paling bawah. Sekolah bebas membuat kurikulum, dan murid pun dipercaya untuk melakukan apa yang sekolah inginkan. Penggunaan teknologi sangat dianjurkan, untuk membuat sebuah digital portofolio pengajar dan siswa. Pengajar dapat mempublikasikan metode pengajarannya, sementara siswa dapat mempublikasikan proyek-proyeknya.

5. Semua kepercayaan tersebut dibangun pada konsensus, yang menyatakan pendidikan adalah yang utama, dan merupakan sumber daya utama untuk Finlandia. Tidak ada lagi yang lain yang dapat menolong Finlandia selain Sumber Daya Manusia mereka sendiri

6. Pada akhirnya, Finlandia hingga kini pun belum puas. Masih banyak hal yang dapat dikerjakan. Mereka merasa bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam melakukan pengembangan potensi siswa. Fokus Finlandia berikutnya adalah menekankan lagi secara mendalam mengenai kemampuan reasoning, komunikasi, cara berpikir, imajinasi,  kemampuan bermimpi, dan kemampuan mendasar lainnya.

Pilihan

Tinggalkan komentar

Gak kerasa, perjalanan kuliah saya sudah berlangsung selama tiga tahun. Artinya, satu tahun yang akan datang, saya akan memiliki banyak pilihan untuk dijalani. Dimulai dari pilihan untuk mengikuti jejak orang tua, mengikuti jejak orang lain, sampai merintis jalan sendiri.

Kita semua memiliki banyak jalan pilihan hidup.

Sayangnya, memilih bukan hal yang gampang untuk anak-anak muda kita. Dari kecil, kebanyakan anak jarang sekali diberi kesempatan untuk memilih. Setelah melewati fase balita, anak langsung disekolahkan. Masuk SD, kemudian SMP, hingga akhirnya SMA. Pelajar-pelajar tersebut tidak pernah benar-benar memilih jalur hidupnya, ya mungkin ada penjurusan IPA dan IPS, tapi kita sama-sama tau mana yang favorit. Kebanyakan anak muda sekarang jarang sekali benar-benar memilih sesuatu dalam hidupnya.

Akibatnya, ketika seseorang diberi berbagai peluang dan kemungkinan, sering kali hal yang muncul adalah kebingungan.

Di sini harus kita cermati bahwa ‘kemampuan memilih dan menyadari konsekuensinya’ merupakan kemampuan yang benar-benar penting dan mendasar. Tanpa kemampuan itu, mata kehidupan kita akan menjadi buram. Kita akan terombang-ambing oleh arus kehidupan.

When you have to make a choice and don’t make it, that is in itself a choice.

William James quotes (American Philosopher and Psychologist, leader of the philosophical movement of Pragmatism, 18421910)

Mari memilih !!!

Pendidikan Sekarang

3 Komentar

Beberapa waktu yang lalu saya masuk kuliah jam 7 pagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya kira hari ini akan menjadi hari biasa yang ‘elektro’ banget. Eh, tapi ternyata saya kecipratan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman dosen. Boleh lah ya, dibagi-bagi :

Cerita dimulai dari kisah sebuah dielektrik, namun entah kenapa akhirnya nyambung ke cerita tentang pendidikan di indonesia. Salah satunya adalah tentang kebudayaan ‘IPA’, yakni pada umumnya keluarga di indonesia cenderung memaksakan anak-anaknya untuk menjadi seorang sarjana.

Entah kenapa budaya itu bisa muncul ya, tapi yang pasti kalau di SMA, yang namanya IPS udah identik dengan orang-orang bego, dan IPA identik dengan anak-anak yang cemerlang akademiknya (matematika, sains, etc.)..

Setelah masuk IPA, selanjutnya anak-anak tersebut dituntut agar masuk jurusan favorit, semacam kedokteran dan teknik. Bisa disimpulkan kan, kalo masa depan sebagian besar anak di indonesia yang mampu sekolah adalah untuk menjadi sarjana/dokter.

Nah, sarjana/dokter nantinya ke mana sih? Kalau pinter banget paling lanjut sekolah lagi, kalau agak pinter biasanya diculik perusahaan asing : untuk jadi ‘onta’ pengurus fasilitas (yang kerjanya cuma ngejalanin mesin, mengawasi alat-alat dan digaji lumayan gede), yang bodo untung-untungnya jadi pengusaha, atau kalau keterlaluan bodonya bisa jadi pegawai biasa. Bahkan, bisa aja nganggur meski punya ijazah sarjana.

Nah, sekarang anak IPSnya (yang katanya waktu SMA jelek akademiknya) akan masuk ke ilmu sosial macam hukum, akuntansi, komunikasi, hubungan internasional, dll. yang ternyata kadang-kadang bisa lebih penting dari sains! Orang-orang ini bisa melakukan something beyond sekedar mengurus fasilitas, seperti berpolitik, bernegosiasi, dll. yang ternyata bisa lebih penting dan lebih strategis daripada orang teknik. Di sinilah anehnya, orang yang notabene ‘gak pinter’ kok diminta ngurus keputusan-keputusan penting? Argumen sang dosen adalah bahwa bila yang mengurus keputusan-keputusan strategis tersebut adalah orang-orang yang kurang pintar, maka sangat sulit bagi bangsa ini untuk maju.

Inilah yang disebut pak dosen sebagai kerugian orang-orang pinter yang masuk IPA, peluang mereka untuk jadi ‘onta’ yang nyaman sangatlah besar. Sementara itu, anak-anak ‘kurang pinter berkemampuan kurang’ malah mengurus keputusan yang sangat-sangat penting. Bisa berabe kan?

Tapi, kerugian ini bisa aja jadi keunggulan : kenapa? karena di bidang teknik, mahasiswa belajar secara sistematik dengan proses latihan yang cukup keras. Bila mahasiswa memanfaatkan fasilitas tersebut, maka akan dihasilkan orang yang sangat cakap. Contohnya, mahasiswa belajar tentang sistem vektor yang secara analogis dan filosofis dapat diterapkan di banyak bidang lain di dunia (saya sendiri masih bingung hubungan vektor dengan dunia, di mana ya pak?). Tapi, hal tersebut dipastikan dengan banyaknya orang-orang ‘sukses’ yang berasal dari bidang teknik.

mau contoh ? ini sebagian kecil contohnya dari teknik elektro

  • Arifin Panigoro dan Bu Yani Panigoro (pemilik medco)
  • Rinaldi Firmansyah (dirut telkom)
  • Hasnul Suhaimi (dirut xl)
  • Wahyu Wijayadi (direktur Indosat)
  • Wityasmoro (dirut mobile 8)
  • Dany Buldansyah (deputi dirut Bakrie Tel)
  • Aburizal Bakrie (menko kesra)
  • Fahmi Muchtar (dirut PLN)
  • And of course… many more !!!

(sedikit ya yang jadi politikus?)

Kalau saya pikir, memang aneh juga sih kebudayaan di indonesia ini mengenai pendidikan. Di sini, orang berburu sekolah negeri dan jurusan teknik. Sementara itu, di amerika serikat, orang-orang biasanya mengincar private school (swasta) dan berburu jurusan sosial (hukum, etc.). Mungkin saja, itu penyebab keadaan kedua bangsa tersebut cukup berbeda. Orang-orang yang mengurus negeri ini bukanlah bakat-bakat terbaik.

Pertanyaannya : perlukah anak teknik terjun ke politik?

Terserah, yang pasti saya denger politik aja udah mau muntah.

[ Mengisi Stand] Edufair di SMAN 5 Bandung

5 Komentar

Senang rasanya bisa kembali ke tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun, yakni SMA Negeri 5 Bandung. Saya kembali dalam rangka mengisi acara Edufair, yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Acara Edufair ini sendiri [menurut saya] terbagi menjadi tiga jenis, yakni panggung hiburan, kelas presentasi, dan stan-stan yang disewakan.

Nah, unit yang saya masuki, yakni Kokesma ITB [Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa ITB], mengisi stan pada acara Edufair tersebut. Selain stan yang kami tempati, juga ada stan yang dihuni oleh perwakilan dari Prasetya Mulya Business School, STPDN/IPDN, UPI, UNPAR, Polban, Widyatama, STAN, U.K. Maranatha, STIE, dll. [banyak sekali, sampai lupa]

Karena saya merupakan orang yang cukup populer sewaktu SMA, ternyata adik-adik kelas [bukan hanya kelas XII, namun juga kelas X dan XI] tidak malu untuk mendatangi stan kami dan bertanya tentang segala sesuatu tentang ITB. Bahkan, kami cukup kewalahan ketika banyak sekali orang yang mengerumuni stan kami untuk menanyakan banyak hal. Brosur yang telah kami siapkan pun telah ludes sebelum tengah hari.

Ternyata, kembali sebagai seorang sosok yang bisa diteladani ternyata cukup menyenangkan. Saya bisa nostalgia & mengobrol [dengan adik kelas yang cantik-cantik, maklum di kampusku kering], berbagi pengalaman [meski belum banyak], memompakan motivasi [ke siswa kelas tiga], menjadi SPG [mempromosikan suatu hal, dalam hal ini kampus ITB], bertemu guru [yang dulu saya maki-maki di kelas], bertemu guru [yang saya cintai karena gaya mengajarnya].

Overall, saya cukup puas dengan minat yang ditunjukkan oleh adik-adik kelas saya. Semoga Edufair semakin sukses di tahun-tahun berikutnya. Semoga dinasti SMAN 5 Bandung terus menjadi dinasti yang kokoh, tidak melupakan motto : “Lima besar karena kebersamaan.”.

Selalu menyenangkan kembali ke tempat yang kita cintai!

*mohon maaf tidak ada media foto sebagai bukti, hihi…

Teman di Malaysia

11 Komentar

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lainlain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, 😀

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???