Menghancurkan kesenangan orang lain

3 Komentar

Saya sedang berada di kampusku, menempuh perjalanan pulang. Nah, pada saat perjalanan itu, saya bertemu teman saya yang pada saat itu sedang sumringah [sangat-sangat gembira, kelihatannya]

Her : “Leeees!!! Sini-sini, ku bisikin sesuatu”

Me : “Wokey, ada apa?”

Her : “Tadi, ku diajak si **** main,, senengnya!”

Nah, berhubung saya juga diajak oleh si **** untuk main, saya bilang

Me : “Lha, saya juga diajak.”

Her : “Haaah!?”

Sekarang mimic wajahnya agak berubah kecewa, hihihi jadi lucu mukanya. Tanpa maksud apa-apa, saya bilang lagi

Me : “Main di daerah *** kan? Tadi ku diajak rame-rame sama temennya juga”

Her : “Hiiii! Udah sana-sana, bikin orang gak jadi seneng aja!” [bercanda]

Me : “Hahaha, sori yak!”

Her : “Ya udah, kamu mau ke sana ga? Ikut dong, biar bareng..”

Lupa sudah menghancurkan kesenangannya, saya bilang lagi :

Me : “Kagak ah, malessss…” [Sambil terus jalan]

Nah, sekarang saya minta maaf, lewat blog dulu, besok baru lewat lisan secara langsung.

The Fine Art of Catching Liars

5 Komentar

Bill’s Thought

– Senyum yang berlebihan ataupun tatapan yang terlalu antusias yang terus menerus biasanya palsu. Senyum yang asli akan hilang setelah empat-sampai lima detik.
– Gerakan tubuh ataupun mimik muka yang tidak wajar juga [dalam hal ini misalnya orang yang menghantam meja, tetapi menunggu beberapa detik untuk membentuk ‘mimik’ marah]
– Ekspresi muka yang tidak simetris biasanya juga palsu

Nah, berdasarkan artikel “The Fine Art of Catching Liars”-nya pak Paul Ekman, diambil dari sini , itulah beberapa ciri ketika orang berbohong. Namun demikian, sangatlah sulit untuk mendeteksi si tukang boong’ dalam kehidupan yang nyata, karena hingga kini tidak ada alat yang dapat secara presisi menentukan apakah seseorang berbohong atau tidak

 

Namun, ternyata ada beberapa cara untuk mendeteksi kebohongan, yakni yang paling populer adalah kerutan di antara dahi yang bertahan 1/25 detik [nah loh…]. Aplikasi kasus ini dapat kita temui pada kasus bill clinton, dalam sebuah kasus skandal dengan Monica Lewinski. Sewaktu Bill Clinton mengucapkan “I did not have sexual relations with that woman… Monica Lewinski.”.. Nah, pas dia mengucapkan “With that Woman”, pada dahinya muncul kerutan, sekejap. [ah, sayang saya enggak menemukan gambarnya]

 

Nah, di kelas bahasa inggris saya, kami langsung mencoba, apakah kami dapat menangkap seorang pembohong… Dari kelas dipilih dua orang. Saya, dan seorang rekan saya. Pengajar menanyakan apa yang saya lakukan hari minggu kemarin

 

jawaban asli saya : melakukan sejumlah riset

 

jawaban asli teman saya : tinggal di rumah

 

setiap siswa di kelas diberi kesempatan untuk mengajukan sejumlah pertanyaan pada saya dan teman saya. [dalam hal ini saya mendapatkan peran ‘si jujur’ dan teman saya menjadi orang yang jujur, pada siswa diberitahu bahwa dia pergi ke kebun binatang].

 

Saya seberusaha mungkin menunjukkan ciri-ciri pembohong, hahaha.

 

Pada akhir kelas, ternyata orang yang dapat menangkap si pembohong saja hanyalah sembilan orang dari enam belas orang. Dua orang diantaranya menjawab kami berdua berbohong [hah?!]. Tujuh orang lagi menganggap saya berbohong.

 

kalau dibuat menjadi persentase, berarti hanya 56,25 persen yang dapat menangkap pembohong. Konon katanya sistem interogasi dapat menangkap sekitar 80% pembohong, belum bagus. Liedetectors lebih gampang dibohonhi. Duh susah banget ya untuk menangkap tukang tipu…

Sial, akhirnya saya kena juga! Malu Euy!

2 Komentar

duh, ternyata bahaya juga jadi orang yang jahil ya? Kalau saya mencoba flashback tentang usilan-usilan yang telah saya lakukan,

hmm, ini salah satunya, yah tidak begitu merugikan sih, tapi cukup untuk ngebuat orang sampai panik, haha… duh kelepasan .

sampai akhirnya saya memutuskan untuk bolos kuliah lagi nitip absen ke teman, nah di sini salahnya, saya bilang kalau ada kuis, sms aja…

ketika sedang asyik-asyik bercengkrama ngobrol, tiba-tiba muncul sms :

Les, ada Kuis !!!

Meyakinkan banget nih sms, apalagi orang yang saya titipi absen itu orang yang belum pernah jarang saya jahili. Langsung aja tuh saya lari, yah sekitar 300 meter mungkin, naik tangga ke lantai empat, mengetuk pintu dan,

sial, di dalam kelas ternyata tidak ada kuis! Hmmph! Ya udah, setelah itu saya langsung keluar, beli minum [capek bo!], masuk lagi, tidur deh[tuh kan percuma juga kuliah],…

jadi, lesson tentang menjahili : Siap-Siap mendapatkan karma tak terduga, haha…

“Larangan yang Aneh” kok tambah Aneh???

13 Komentar

Masi ingat “Larangan yang Aneh…”-Nya Mas Sora?

Ternyata kabarnya sekarang jadi :

Larangannya tambah aneh…

*duh maaf ya sumber daya kurang memadai, jadi gambarnya…

tapi intinya, tanda coretnya dikerik!!! apa ini pengaruh blognya Sora-Kun? Wah, ternyata pengaruh blog memang hebat…

*dasar gak mau rugi, gak diganti, malah dikerik

Anyway, larangannya jadi bener atau malah tambah aneh?

[Akhirnya] Bolos Lagi!!!

8 Komentar

Senang? Sedih ? Gembira ? Entahlah… Yang Pasti : Akhirnya saya bolos lagi!
Duh, jangan ditiru yah, baik bagi yang masih jadi pelajar maupun yang udah kerja…
Kenapa ya bolos?
Menurut pengalaman saya sendiri, ada beberapa alasan bolos:

1. Gak suka pelajaran, pengajar, atau situasi kelas

2. Bosen euy, bosen…

3. Gangguan alam [perut, ajakan teman]

Dulu, waktu SMA udah saya kuatkan niat, untuk gak bolos-bolosan lagi pas kuliah.. Nyatanya? Bolos lagi. Kayaknya saya kudu recode DNA ala Mas Rhenald Khasali..

Sebelnya, ternyata nyari tempat ‘tongkrongan tukang bolos’ susah deh.. Kalau waktu sekolah dulu sih tempatnya gak terlalu banyak. Sekarang? Ngajak temen mau bolos aja susahnya minta ampun. O iyah, jadi inget ceritanya Pak Budi Rahardjo..

Alkisah ada seorang dosen yang ‘gendeng’, tapi jenius. Suatu waktu ia mendapat tawaran untuk belajar di berbagai tempat, namun ia memilih brazil sebagai tempatnya mengajar. Kenapa? Karena ia ingin belajar kendang-kendangan dan musik brazil [gendeng banget kan].. Sampai akhirnya pada akhir tahun ia mengajar,
beliau mengatakan “Saya tidak pernah melihat pendidikan sebobrok ini dalam hidup saya sebelumnya!!!

“Namun, saya bangga ternyata ada juga mahasiswa yang mendapatkan nilai A pada pelajaran saya”

langsung tiba-tiba ada yang tunjuk tangan,

“Yang dapat nilai A itu saya Pak!!!”

“Wah, coba bagi-bagi rahasia, bagaimana cara kamu belajar”

Saya tidak pernah ikut kuliah Bapak!

Lha, jadi kuliah itu membantu atau merusak tidak??

*walau bagaimanapun saya terpaksa harus tetep masuk, soalnya ada peraturan 80% kehadiran, kalau enggak terpenuhi, gak bisa ikut ujian..

Alhamdulillah, Saya Masih diberi Kesempatan…

3 Komentar

Jadi ingat, salah satu saat terdekat saya dengan kematian. Waktu itu saya masih bocah. Kelas 5 SD tepatnya.. Saya sedang berlari riang, menyanyikan lagu crayon sinchan, “Sang gajah terkena flu..” [padahal yang bener kan, “Selalu saja terkena flu…”]. Setelah itu saya, menaikkan pantat saya ke pegangan tangga. Biasanya, saya berhasil sampai di bawah dengan selamat. Tidak terpikirkan oleh saya bahaya yang menghadang. Saya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tangga, menuju anak tangga di lantai satu dengan kepala berada di bawah.. Saat itu gerakan saya terasa seperti slow motion.. Kepalaku siap pecah menghantam anak tangga.

Untung aja ada teman saya, namanya Rifki [thanks for saving my life]. Saya hantam badannya, seperti smack down. Setelah itu saya mengalami blackout. Bangun-bangun, saya udah ada di UKS. Kepala terasa berat. Teman-teman mengerumuni saya. Kepalaku sangat pusing. Blackout lagi. Bangun-bangun saya udah berada di alat MRI, untuk mengecek jika tulang tengkorak ataupun otak saya mengalami kerusakan. Saya tidur lagi.. [Hmm, satu juta keluar tuh, mayan waktu saya masih SD]

Ternyata, otak saya tidak mengalami kerusakan, hanya memar biasa. Saat saya kembali ke sekolah, mata teman saya, Rifki, merah sebelah. Setelah saya ucapkan terima kasih padanya, dia bilan, “enggak apa-apa kok” [wah, dia memang ikhlas, gak marah udah ditimpa sama saya, tapi katanya dia nangis waktu ditimpa saya. Gak ada dendam atau pamrih, salut]..

Waktu itu, momen itu tidak terlalu penting. Tapi, sekarang… Entah apa jadinya kalau waktu itu tidak ada dia. Dimana ya saya? Hidup ini takkan kusia-siakan [sekarang sih mikirnya gitu]. Thanks ya Rifki, dimanapun kamu, for saving my life…

Dipercaya, Atau Kacung?!?

5 Komentar

Rasanya beban-beban hidup saya jadi mahasiswa sangat berat. Hal-hal yang dulu saya lakukan tanpa mengeluh, sekarang terasa berat :

“Leeees!!! Angkat Jemurannya!”

“Leeees!!!, Ambilin flash disk!”

“Les, beliin xxx !”

Berat? Marah? Enggak sama sekali. Tapi kenapa ya saya seperti merasa disuruh-suruh terus. Atau Ego saya yang semakin tinggi? Sifat saya yang gak mau mengecewakan orang kadang-kadang bikin gila! [ Note : Saya bukan kaum tertindas hehe 🙂 ]..

Entah ini kepercayaan ataupun kemalasan orang lain, biarlah.. Sabar, kan puasa, tul kan??

Older Entries