Implikasi Demokrasi Indonesia

Tinggalkan komentar

Sudah satu dekade lebih ‘kita’ setuju untuk menjadi sebuah negara demokrasi. Saat ini, demokrasi kita luar biasa. Menurut Amerika Serikat, kita sukses besar. Menurut saya, demokrasi kita sukses besar juga. Sukses besar dalam melayani pihak asing memanfaatkan sumber daya kita. Bagaimana tidak, kita memang sangat baik dalam urusan luar negeri. Tak heran banyak bangsa asing yang senang dengan bangsa kita. “Orang Indonesia ramah-ramah” sangatlah sering kita dengar.

Sampai satu hal yang sangat penting pun, misalnya ketahanan energi, kita sangat fleksibel dan ramah. Sangat ramah sekali, bahkan. Ingin menjaga ‘harkat’ demokrasi, kita berusaha menghindari jauh-jauh pengalaman menjadi bangsa totaliter di masa lalu. Artinya kita menjauhi juga hal yang berkaitan dengan pemerintah totaliter. Jadi, yang namanya pengambilalihan properti pribadi ataupun aset asing sangat dihindari. Meskipun hal tersebut merugikan negara. Di dalam pikiran kita, tidak menghormati kontrak adalah ciri negara totaliter. Kita sangat takut, jika kita melakukan hal tersebut, kita dicap menjadi negara totaliter lagi.

Kontrak-kontrak seperti gas tangguh jaman megawati yang merugikan negara, pun kita hormati. Sebagai negara, kita tidak akan berani untuk mempersoalkan kontrak tersebut. Walhasil kita hanya bisa merayu dan memohon pada RRC untuk melakukan rembukan. Presiden pun pasti terpikir masalah ini, dan memang pernah melakukan ‘renegosiasi’ kontrak itu. Hasilnya? Berhasil naik. Tapi sangat sedikit sekali.

Memang, kesannya negara kita lemah sekali. Tapi inilah implikasi dari negara demokrasi pancasila. Kita akan makin sedih sekali kalau membayangkan, jika gas tersebut dijual dengan harga pasar, maka kita akan untung ratusan trilyun. Dengan keuntungan itu, ribut-ribut subsidi BBM seperti yang terjadi sekarang tidak akan terjadi. Selama menjadi negara demokrasi pancasila, penyesalan itu mesti kita pendam dalam-dalam. Sekaligus berharap kontrak-kontrak blunder seperti itu tidak terjadi lagi.

Implikasi lain yang kita peroleh adalah media massa. Pemerintah sendiri bisa dibilang tidak memiliki televisi. Bahkan TVRI sekalipun. Ini merupakan implikasi dari demokrasi kita. Sebagai hasilnya, pemerintah pun dihajar oleh TV-TV swasta itu. Rakyat pun dihajar dengan berita-berita yang menunjukkan seolah-olah negara kita akan bubar esok hari. Depresif mungkin. Tapi inilah negara kita dengan demokrasi pancasila. Masih ada sisi positifnya memang : kita diberi peluang untuk mempelajari realitas media, realitas tv, dan realitas kehidupan kita.

Melalui demokrasi, rakyat semua terlibat dalam pemerintahan. Memang itulah tujuan utama dari demokrasi : kesetaraan rakyat.

Melalui demokrasi pancasila, rakyat setara dan bebas memilih siapa yang akan mewakilinya. Apakah ingin memilih pemimpin yang moderat, pemimpin yang sangat ramah pada pihak asing, ataupun pemimpin yang tidak dinginkannya sekalipun.

#mohon maaf untuk sedikit post yang sedikit depresif, kita butuh yang seperti ini kadang-kadang. minggu depan saya akan menulis yang positif 😀

Blow Up Miyabi (Maria Ozawa)

5 Komentar

sebenernya rada segan juga sih nulis post tentang miyabi

Katanya, miyabi mau dateng ke Indonesia sekitar pertengahan bulan ini. Hal yang sebenarnya sepele ini, ternyata sempat jadi headline media. Ada yang setuju-setuju aja, ada juga yang menentang sepenuhnya. Ya.. hal ini ‘memecah’ negeri kita menjadi dua kubu, pro dan kontra. Yang pro diwakilkan oleh pihak pembuat film + penonton miyabi (ya iya lah), dan salah satu badan yang sudah menyatakan kontra adalah MUI.

Lupakanlah bahwa sekarang kita punya dua pihak yang lagi ‘ribut’. Ketahuilah bahwa ternyata sebelumnya miyabi udah pernah ‘main’ di Bali, tanpa pemberitaan yang seheboh sekarang. Pertanyaan yang muncul adalah : kenapa kedatangan sekarang heboh baget, sementara kedatangan yang dulu adem-adem aja?

Jawabannya (mungkin) adalah kepentingan. Atas dasar kepentingan apa, saya gak tau. Yang pasti, telah terjadi blow-up : pengeksposan berita secara berlebihan. Inget heboh lagu indonesia raya? ponari? manohara? jacko? dewi persik cerai? presiden yang dikasih surat ancaman?

Pada blow-up media kali ini : miyabi datang ke Indonesia, salah satu yang diuntungkan ya pihak produser film. Setiap hari filmnya diobrolin terus, ya itung-itung promosi gratis lah (argh sial, saya juga lagi promosi jadinya). Sementara itu, kita cuma bisa seneng sendiri atau kesel sendiri, sementara kita-kita belum tentu dapet apa-apa dari film dia, ‘menculik miyabi’ yang bergenre film komedi. Oke lah mungkin kita bisa nonton film komedi, tapi belum tentu lucu ataupun ada nilai moral positif.

Selain itu, blow up media sekarang ini, kalau dipikir-pikir bisa ngebuat dosa beruntun juga untuk pihak media. Bayangkan, orang-orang yang beruntung gak tau miyabi, bisa aja jadi penasaran untuk ngecek miyabi di google. Nah lo, apa yang ada di halaman pertama google kalau kita nyari miyabi? atau maria ozawa? saya gak tau. (jangan cari miyabi di google ya… plis, ntar dosanya nyambung ke saya, haha)

Media itu kan seharusnya dapat memberikan manfaat yang positif, dengan informasi yang mendidik. Udah cukup lah sinetron+infotainment kita kacau sekacau-kacaunya. Tapi, ternyata media berita juga udah makin kacau!!! Media berita sekarang udah bergeser ke kepentingan yang lain, yang mengedepankan keuntungan pihak ‘mereka’ dan mengorbankan kepentingan masyarakat.

Kalau kita inget ke masa silam, sebenarnya udah banyak blow-up yang dilakukan oleh media, yang dilakukan untuk menutupi berbagai hal, terutama politik. Pada intinya, sama sih tujuannya, yakni memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu. Ngomong-ngomong kepentingan, sekarang yang lagi ngetrend sekarang ini ya duel kepentingan di puncak partai golkar. Dua orang yang berduel itu ternyata sama-sama punya media. Surya Paloh di MetroTV dan Abu Rizal Bakrie di TVOne. Jelaslah, wartawan-wartawan di kedua media tersebut jadi ‘wartawan mati’ yang mengesampingkan objektivitas dan netralitas berita demi kepentingan tertentu, kemudian berusaha untuk memuja-muji si pemilik media.

Jelaslah, bahwa kalau kita memercayai media massa yang ada sekarang, kita belum tentu dapat berita yang sebenarnya benar-benar perlu kita ketahui. Mungkin berita yang kita lihat adalah kabut yang menutupi trik-intrik kepentingan pihak-pihak tertentu. Benarlah kata John Mayer, dalam lagunya waiting on the world to change,

And when you trust your television
What you get is what you got
Cause when they own the information, oh
They can bend it all they want

That’s why we’re waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting
Waiting on the world to change

It’s not that we don’t care,
We just know that the fight ain’t fair
So we keep on waiting
Waiting on the world to change

And we’re still waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting waiting on the world to change
One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on the world to change

We keep on waiting
Waiting on the world to change

Coba Indonesia punya ‘South Park’

15 Komentar

 

South Park

gambar dari sini

I’m gonna to the south park and gonna have myself a time

Pretty faces everywhere, humble folks without temptation …

 

Kalau saya diminta untuk mengajukan satu film animasi yang ‘tersinting’, saya akan mengajukan nama South Park. Bagaimana tidak, kartun ini berani mengkritik bangsanya sendiri dengan cara-cara yang ekstrem. Mulai dari persoalan sederhana di sekolah, hingga artis ternama seperti Paris Hilton, Matt Damon, dll.

Hebatnya, serial kartun ini mendapatkan respon yang luar biasa, hingga mampu bertahan hingga 11 musim dan akan terus bertambah [i hope so :D]. Inilah kekuatan media yang sebenarnya, menurut saya. Dan bangsa yang dibenci oleh ‘banyak’ orang Indonesia, Amerika telah menggunakannya.

Sementara kita lihat di Indonesia tercinta, tayangan Republik BBM, Republik Mimpi, yang memberikan kritik berupa humor cerdas saja pada awal penayangannya mendapatkan kritik dari pejabat pemerintah. Namun, Republik mimpi masih bertahan hingga sekarang.

Tetapi, republik mimpi bukanlah kartun. Saya pikir, Benny dan Mice merupakan kartun yang dapat mewakilkan ‘southpark’-nya Indonesia, selain kritik disampaikan dengan cara yang pas dengan kultur indonesia, juga dapat menghibur,,

Maju terus Benny dan Mice!!!