Cerita UMPTN, SPMB, SNMPTN, atau apalah namanya.

10 Komentar

*artikel ini menjurus pada kesombongan, arogansi diri, dan memuji diri yang dilarang oleh nilai moral dan nilai agama. Tapi pada saat ini saya sudah jauh dari sifat-sifat tersebut, serta menjunjung tinggi integritas.

Kemaren-kemaren, saya sempet baca postingan salah satu sahabat STEI saya, Julie, tentang pengalaman dia ikut SPMB yang ternyata sempet ngebuat saya nostalgia jaman-jaman jahiliyah remaja dulu sewaktu masih kelas 3 SMA. Pada saat itu, namanya hidup sebagai siswa 3 IPA bener-bener serba nanggung,

kalau mau belajar : guru sampah semua suasana sekolah gak kondusif,

kalau mau main : gak ada temen buat diajak main, sok sibuk belajar semua!

Dalam kehidupan saya sehari-hari, saya masuk sekolah pagi : jam setengah enam, lanjut maki-maki guru di kelas (yang pasti gak terang-terangan), puas ngemaki guru, istirahat deh, terus maki-maki guru lagi (second leg), nah baru pulang deh. Pulang sekolah, saya langsung cepet-cepet pergi ke lapangan basket. Buat Sholat? Bukan, maen bola!

*ngemaki-maki guru bukan berarti saya menghina guru setiap saat, dalam waktu itu dapat juga ada kegiatan tak berguna lainnya, seperti ngobrol, ataupun main kartu. Tapi setiap melakukan aktivitas tersebut, pasti (akan) keluar kata-kata untuk memaki guru, jadi aktivitasnya dinamakan “maki-maki guru”. Tapi sekarang saya sudah tobat dan semoga Tuhan bisa mengampuni saya, amiin.

Setidaknya aktivitas rutin tersebut yang bisa menolong saya untuk tetap hidup, di bawah kondisi “derita 3 IPA, hidup segan mati tak mau”. Kalau ada yang nanya mau nerusin kuliah di mana, langsung saya jawab dengan pede+arogannya (padahal otak bego, go, go) : STEI-ITB (jurusan yang merupakan jurusan favorit dari dulu, hingga saat ini, dan pasti di masa depan). Sebagai orang yang reputasi kebegoannya cukup tinggi (maksudnya gak pernah jadi top student), jelas temen-temen saya langsung bilang, “Wessssss, tinggi pisan (pisan = banget).” Sambil diketawain haha-hihi (gak tau emang ketawa gara-gara saya si goblok bermimpi besar atau itu merupakan apresiasi untuk mendukung saya).

Walaupun udah diketawain kayak gitu, tapi saya selalu jawab perihal kuliah dengan jawaban yang sama : STEI-ITB. Entah kenapa, setiap menjawab pertanyaan itu, saya tau bahwa hal tersebut adalah hal yang sangat mudah dan dapat dicapai. Namun, tidak ada perubahan pada kehidupan harian saya, sampai akhirnya saya mengikuti try out SPMB pertama saya dan mendapatkan hasil yang mencengangkan!!!

Saya mendapatkan nilai 33,17 % dari skala 100%, yang berarti sangat jauh dari skala minimum untuk masuk STEI (sekitar 56%). Setelah itu makin sah-lah kebegoan saya dalam mengerjakan soal-soal SPMB, dan kemudian saya bertekad untuk meluangkan sedikit waktu saya untuk belajar agar bisa masuk STEI (sebenarnya ini lebih disebabkan karena saya udah ngomong ke temen-temen bahwa tujuan saya masuk STEI, kalau gak masuk bisa hancur harga diri*99% diri saya dibangun dari harga diri * saya).

Akhirnya, saya menjalani kehidupan pagi+sore saya seperti biasa, namun ditambah kehidupan malam yang tidak biasa (yang biasanya main PC game atau nonton, sekarang diluangkan dengan belajar sekitar satu jam sehari dengan harapan kehidupan remaja saya tidak terganggu *gak gila belajar maksudnya*). Salah satu hal yang saya ingat waktu itu adalah ketika saya belajar adalah adanya acara SMACK DOWN! yang membuat otak saya sedikit terkontaminasi oleh gulat *untung waktu itu saya gak niru-niru adegannya, :D*

Dengan taktik tersebut, saya menjalani kehidupan saya “derita 3 IPA, hidup segan mati tak mau” seperti biasa. Sempat bosan juga di sekolah karena kecenderungan teman untuk bermain berkurang akibat tekanan yang ada. Untungnya, di tengah-tengah semester 2 kelas 3 IPA, teman-teman saya banyak yang sudah diterima di perguruan tinggi melalui jalur khusus (jangan tanya kenapa saya gak ikut), jadi kehidupan “derita 3 IPA, hidup segan mati tak mau” saya pun bisa tertolong. Pada saat itu, ada ujian yang terlupakan oleh saya, yakni UAN / UNAS (Ujian Nasional) yang merupakan jalan menuju kelulusan. Namun, UAN / UNAS pada waktu itu sangat-sangat tidak berkesan akibat levelnya yang terlalu rendah (jangan lupa lho saya belajar di malam hari).

Lulus SMA, dengan peringkat 10 di kelas (akhirnya!!! Saya dapet rangking juga setelah terakhir rangking 1 waktu SD, hahaha), tiba waktu satu/dua bulan yang umumnya digunakan untuk belajar intensif. Namun, pada saat itu, kemampuan saya udah dapat dibilang overwhelming untuk rekan-rekan di sekolah saya (arogansi diri sedikit gapapa kan). Terima kasih untuk satu jam yang saya pakai setiap harinya untuk belajar, saya sudah memiliki kemampuan yang lebih dari cukup untuk STEI-ITB (rekor tertinggi saya sekitar 74,xx %, tapi belum menjadi yang tertinggi). Saya sama sekali tidak tertarik untuk menjadi makhluk yang memiliki nilai tertinggi di Try Out, karena saya pikir jika saya belajar terlalu keras, hal itu malah akan merusak diri saya sendiri.

Saya lebih senang untuk memakai waktu saya untuk mengajari beberapa teman saya, dan bermain bersama teman-teman yang udah lulus ke Perguruan Tinggi. Dua bulan saya lalu dengan hasil try out yang cukup tinggi (selalu 30 teratas), saya melangkah ke bangku SPMB dengan rasa percaya diri yang berlebihan, bahkan cenderung meremehkan.

Ada yang bilang kalau hari-hari menjelang SPMB itu sangat menegangkan, tapi sayangnya ketegangan tersebut tidak sampai pada saya, walaupun saya tidak punya cadangan Perguruan Tinggi Swasta (kalau gagal masih ada tahun depan, ya toh? ). Sehari sebelum SPMB, katanya kita bakal gelisah dan sulit tidur, tapi saya bisa tidur dengan mudah (itu mah kebo aja woi).

Bangun di pagi hari, seperti hari biasa lainnya, saya diminta untuk datang lebih awal di lokasi SPMB, padahal saya paling benci datang pagi-pagi jauh sebelum jadwal mulai *lebih suka on-time*. Pendaftar dari SMA-ku dapat dua tempat, ada yang di SMK di Wastukencana, dan ada yang di SMA 3 dan SMA 5 Bandung.

Ketika ujian, ada juga momen yang bikin konsentrasi sedikit terganggu, yakni ketika ada kendaraan (kayaknya truk) yang terus menggerung-gerungkan suara knalpotnya, menimbulkan polusi suara dan getaran yang bikin kesal. Untungnya, karena saya sudah membiasakan diri pada suasana yang terganggu (saya belajar sambil dengar MUSE), sehingga saya dapat konsentrasi dengan baik.

Pulang ujian, saya langsung cocokkan dengan jawaban yang ada di radio, dan ternyata hasilnya cukup bagus : matematika sempurna, bahasa indonesia kosong empat, bahasa inggris ada yang salah(79,xx%) walaupun ada sedikit perbedaan kunci bahasa indonesia pada versi yang berlainan. Waktu pulang, saya disuguhi susu (hahaha, tumben baik ortu, tapi kenapa harus susu???), dan langsung ke kamar, bilang pengen istirahat, padahal pengen maen, hehehe. Rasanya, saya pengen ketawa sambil bilang, “gak ada soal yang lebih susah?” gara-gara over confidence waktu itu, meskipun saya tahu pasti ada yang lebih pintar dari saya. Di saat itu hanya ada tiga kata di dalam hati saya:

Aing, aing, aing (Saya, saya, saya)

Hari kedua, lumayan susah, tapi itu cuma karena saya kurang belajar, biologinya cukup di luar dugaan karena salahnya banyak, matematika ipa benar semua, fisika benar sebelas (masih ingat, hehe), kimia mudah tapi ada yang salah, IPA terpadu : cuma diisi empat! Walhasil, setelah diuji dengan kunci yang ada, saya mendapatkan hasil 52% di hari kedua, dan langsung hura-hura dengan teman sepermainan saya.

Satu bulan kemudian

Namanya anak ikut SPMB, pasti ada rasa takut kalau kertasnya kelipet, keselip, gak ke-scan ataupun kotor yang dapat menyebabkan kegagalan. Hal itu pun sedikit menganggu saya, walaupun dari hasil uji kunci jawaban saya pasti masuk STEI. Sempat sedikit deg-degan saat mikirin pengumuman (maklum lah ya manusia). Nah, pada hari pengumuman SPMB, saya tidak membuka internet, karena yakin pasti ada yang ngelihatin hasil SPMB-ku *halah sok iye*, dan ternyata benar, HP pun bergetar dan ada SMS masuk:

selamat ya Les, kamu keterima di STEI.

Anj***, gob***, Les, maneh asup oge ka STEI. (les, kamu masuk juga ke STEI)

Ah, maneh ngarebut jatah aing ka STEI gobs (sial, kamu ngerebut jatah saya di STEI, gob***)

*Lucu-lucu ekspresinya, tapi saya yakin juga pasti ada yang gagal, makanya saya gak bales/ngirim SMS ke orang lain.

*Menyenangkan juga melihat hidup ini dapat diprediksi dengan mudah (pada akhirnya saya sadar saya selalu berhasil mencapai target yang diinginkan karena target yang saya buat terlalu mudah).

Keesokan harinya, saya pergi ke sekolah, untuk melihat siapa saja yang seperguruan dengan saya nantinya, dan ternyata banyak juga! Senangnya, aku punya banyak mimpi yang akan kuwujudkan!

Sekitar satu tahun kemudian

Saya sedang duduk di depan laptop, memikirkan banyaknya hal yang dulu saya miliki, namun sekarang hilang entah ke mana. Cinta, Kecerdasan, Kepercayaan diri, dan Arogansi? Bukan, tapi emosi.

Expect Emotion!

Link ke tema yang sama :

Buku Strategi lulus SNMPTN SPMB UMPTN

Tips-tips menghadapi SMPB..

tips SPMB part 2 : ketika malas datang

[ Mengisi Stand] Edufair di SMAN 5 Bandung

5 Komentar

Senang rasanya bisa kembali ke tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun, yakni SMA Negeri 5 Bandung. Saya kembali dalam rangka mengisi acara Edufair, yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Acara Edufair ini sendiri [menurut saya] terbagi menjadi tiga jenis, yakni panggung hiburan, kelas presentasi, dan stan-stan yang disewakan.

Nah, unit yang saya masuki, yakni Kokesma ITB [Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa ITB], mengisi stan pada acara Edufair tersebut. Selain stan yang kami tempati, juga ada stan yang dihuni oleh perwakilan dari Prasetya Mulya Business School, STPDN/IPDN, UPI, UNPAR, Polban, Widyatama, STAN, U.K. Maranatha, STIE, dll. [banyak sekali, sampai lupa]

Karena saya merupakan orang yang cukup populer sewaktu SMA, ternyata adik-adik kelas [bukan hanya kelas XII, namun juga kelas X dan XI] tidak malu untuk mendatangi stan kami dan bertanya tentang segala sesuatu tentang ITB. Bahkan, kami cukup kewalahan ketika banyak sekali orang yang mengerumuni stan kami untuk menanyakan banyak hal. Brosur yang telah kami siapkan pun telah ludes sebelum tengah hari.

Ternyata, kembali sebagai seorang sosok yang bisa diteladani ternyata cukup menyenangkan. Saya bisa nostalgia & mengobrol [dengan adik kelas yang cantik-cantik, maklum di kampusku kering], berbagi pengalaman [meski belum banyak], memompakan motivasi [ke siswa kelas tiga], menjadi SPG [mempromosikan suatu hal, dalam hal ini kampus ITB], bertemu guru [yang dulu saya maki-maki di kelas], bertemu guru [yang saya cintai karena gaya mengajarnya].

Overall, saya cukup puas dengan minat yang ditunjukkan oleh adik-adik kelas saya. Semoga Edufair semakin sukses di tahun-tahun berikutnya. Semoga dinasti SMAN 5 Bandung terus menjadi dinasti yang kokoh, tidak melupakan motto : “Lima besar karena kebersamaan.”.

Selalu menyenangkan kembali ke tempat yang kita cintai!

*mohon maaf tidak ada media foto sebagai bukti, hihi…

Menjadi anak kecil

3 Komentar

Her : Les, jadi anak kecil lagi dong, lucu, hihihi..

Her : Sekarang mah udah kaya mas-mas..

Me : Waduh…

Jadi ingat cerita Dragon Ball GT, sewaktu Son Goku kembali menjadi anak kecil. Kebiasaan yang dilakukan oleh Son Goku sewaktu menjadi anak kecil tidaklah berubah, yakni berpetualang, bertarung, lalu makan. Tidak jauh bedanya kan dengan sewaktu Goku dewasa?

Nah, kalau diminta menjadi anak kecil lagi, tentunya saya akan menolak. Bukannya tidak ingin bersenang-senang [lagi], namun menjadi dewasa dan tua sudah merupakan bagian dari kehidupan kita. Lagipula, saya sudah menghabiskan masa bocah saya sesuai keinginan saya.

Hal yang terpenting, jalanilah bagian hidup kita sekarang ini sebaik mungkin, agar tidak menyesal di kemudian hari. Jadi,

biarlah bocah tersenyum, bersenang-senang, mengenal hal baru

remaja pacaran, berpesta ria, mencoba hal baru

orang dewasa menikah, berpusing-pusing, menambah pengalaman

orang tua beribadah, beristirahat tenang, berbagi pengalaman.

Me : Ya sudah, kalau begitu saya post aja foto saya sewaktu kecil, inilah foto saya sewaktu kecil..

Little Atmopawiro

Dekat setelah jauh

6 Komentar

Saya masih ingat, ketika dulu ada wanita [halah, jangan cewek terus ya, bosen] yang selalu tersenyum malu-malu, ketika bertemu saya. Begitu pula dengan saya. Sepertinya kami berdua masih enggan untuk berbicara, bahkan hanya untuk berkenalan sekalipun. Saya sudah tau namanya, sebenarnya. Begitupun dengan dia. Pasti. Saya tahu itu.

Sampai akhirnya kami harus melanjutkan pendidikan kami ke jenjang yang lebih tinggi, dan kami memasuki universitas yang berbeda. Sebenarnya tidak ada perasaan apapun sama sekali, tapi entah kenapa diri ini terasa yakin bahwa saya bisa mengenal dirinya lebih jauh.

Perasaan itu ternyata benar. Suatu hari, Saya bertemu dengan wanita tersebut, dan kami saling menyapa. Aliran percakapan yang terjadi sangat lancar, seolah-olah saya telah mengenalnya bertahun-tahun. Perkenalan di antara kami pun cukup unik,,

…..

Her : Halo, Lestian, kenalan ya, saya tau nama kamu Lestian, nama saya *****. Kita sempet satu sekolah kan?

Me : Hihi, dah tau koq,, kamu yang dulu di kelas ** kan ?

…..

Sempet nyesel juga, kenapa baru dekat sekarang. Setelah Jauh. Kalau sudah jodoh, pasti ketemu. Tapi jangan berharap terus nunggu jodoh. Bodoh namanya.