Yes or No

1 Komentar

Salah satu kodrat manusia yang paling mendasar adalah mempunyai keinginan. Kemudian, ketika kita telah mencapai keinginan tersebut kita bisa jadi akan mendefinisikan diri kita sebagai orang yang ‘sukses’. Sering sekali dalam hidup kita punya keinginan yang kita bentuk secara mental dengan mengatakan,

“Ya, gw ingin jadi mentri yang bisa membentuk karakter.”

“Gw ingin mengabdi buat bangsa gw.”

“Gw pengen bikin ini, itu, anu, …”

dsb.

Membentuk keinginan dan berusaha mencapai sukses dengan cara seperti itu seringkali bekerja dengan baik, dan sangat realistis untuk dilakukan. Namun, secara personal, saya memiliki masalah untuk membangun keinginan (dreams) dengan cara seperti itu. Salah satunya adalah kepribadian dasar saya yang lebih imaginative dan abstrak dalam membentuk keinginan. Hasilnya, bisa jadi dalam satu waktu keinginan yang saya miliki jumlahnya sangat banyak dan sangat tidak realistis.

Beberapa kali di masa silam, saya sempat memiliki banyak ide, hingga berpikir untuk dapat melakukan semuanya di waktu yang sama. Saya bilang “iya” untuk semua keinginan tersebut. Berharap mendapatkan hasil kerja yang sangat banyak, alih-alih saya hanya mendapatkan hasil kerja yang dampaknya lebih kecil dari usaha yang saya berikan. Teringat beberapa tahun silam, saat saya lagi parah-parahnya mengatakan “ya” pada setiap peluang yang ada. Ayah saya beberapa kali mengingatkan bahwa energi yang kita miliki terbatas, dan kita ga bisa melakukan banyak hal di satu waktu dan mendapatkan hasil yang terbaik di setiap usaha yang berlainan tersebut. Saat itu saya ga percaya. Nyatanya, saya salah. Memang mungkin sudah kodratnya anak muda adalah manusia yang bodoh, dan lambat sekali belajar dari orang tua.

Semenjak saat itu, saya berusaha mengubah diri sehingga saya lebih sering mengatakan “no”. Menjadi Badan Pengurus organisasi, saya katakan tidak. Aktif peluang aktif di organisasi tertentu, saya pun katakan tidak. Terlalu ekstrim mungkin. Saya yang sekarang mungkin akan bilang, “ga gitu juga kalee” ke saya yang di masa silam. Parahnya adalah, saya pun lebih tenggelam pada ide escapism, alienism, depression, dan loneliness. Tenggelam dalam banyak syair Charles Bukowski.

I WAS DRAWN TO ALL THE WRONG THINGS: I LIKED TO DRINK, I WAS LAZY, I DIDN’T HAVE A GOD, POLITICS, IDEAS, IDEALS. I WAS SETTLED INTO NOTHINGNESS; A KIND OF NON-BEING, AND I ACCEPTED IT. I DIDN’T MAKE FOR AN INTERESTING PERSON. I DIDN’T WANT TO BE INTERESTING, IT WAS TOO HARD. WHAT I REALLY WANTED WAS ONLY A SOFT, HAZY SPACE TO LIVE IN, AND TO BE LEFT ALONE.

Charles Bukowski

Sudah sangat jelas, saya pun tertarik dan ditarik oleh banyak hal yang sangat salah. Saya tenggelam makin dalam dan dalam.. Hingga akhirnya seorang kawan saya, Irfan menunjukkan sebuah artikel dengan cerita seorang bilyuner dari Afrika Selatan, yang sekarang hidup di USA. Saya pun membaca lebih lanjut artikel tersebut, dan bersambung ke banyak artikel lainnya, hingga menemukan sebuah teori yang sangat membekas di kepala saya, tentang first principle method-nya elon musk dan extreme focus-nya peter thiel.

Saya pun kembali mengatur dan merencanakan tentang arah fundamental dari kehidupan yang saya inginkan. Membuat daftar tentang hal apa yang make sense, dan hal apa yang ngawur untuk dilakukan. Kemudian saya pun mempelajari, fokus pada keinginan bukanlah mengatakan “iya” pada setiap peluang yang baik dan bagus. Fokus adalah mengatakan “iya” pada satu ide yang sangat bagus, dan juga mengatakan “tidak” pada ribuan ide lain yang bisa jadi sama bagusnya. Sambil berdoa, semoga satu “iya” yang kita miliki ini memang layak untuk diperjuangkan.

Fenomena Finlandia

3 Komentar

Selamat datang di Finlandia.

Ini adalah sebuah negara yang murid-muridnya memulai sekolah di usia yang relatif ‘tua’. Di sekolah, tidak banyak kelas yang perlu diambil, sehingga waktu sekolah pun lebih sedikit. Sangat jarang yang namanya PR dan ujian dari guru. Belum lagi, ada liburan 3 bulan di musim panas yang menanti.

Guru merupakan profesi yang diburu dan dihormati. Guru di sini bukanlah pekerjaan sampingan. Perlu gelar master (S2) dan bersaing dengan 1600 pelamar lainnya, untuk memperebutkan 160 tempat sebagai guru setiap tahunnya. Guru bertindak sebagai motivator dan innovator di kelas, dengan gaji yang sangat layak.

Sekolah di Finlandia memiliki kebebasan untuk menentukan kurikulumnya. Tentunya dengan sedikit panduan dan banyak kucuran dana dari pemerintah pusat. Setiap saat, sekolah dapat berinovasi dan mengimplementasikan pendidikan yang dianggap lebih baik, melalui ‘norma’ yang dibentuk oleh sesama guru yang menginginkan pendidikan terbaik untuk muridnya.

Tidak ada rangking. Tidak ada kesenjangan pencapaian prestasi. Namun negara ini memuncaki berbagai aspek kehidupan berdasarkan banyak survei.

Yang lebih hebatnya lagi, semua hal tersebut dicapai dengan pendidikan yang gratis!

Dalam film dokumenternya, Dr. Tony Wagner, Innovation Education Fellow – Harvard University, melakukan perjalanan untuk menjawab pertanyaan : apa yang menyebabkan sistem pendidikan swedia selalu menempati peringkat teratas dalam berbagai ukuran yang diterapkan berbagai lembaga internasional?

Di finlandia, umumnya murid memulai studinya di usia 7 tahun. Kemampuan sosial dipelajari di pre-school, dan kemampuan bahasa dipelajari di rumah. Tidak seperti di indonesia, suasana belajar di kelas pun sangat casual dan nyaman. Tidak ada seragam. Jumlah siswa di kelas pun sangat sedikit, selalu di bawah 20 murid.

Materi yang diajarkan di kelas pun sangat konseptual, memacu kreativitas, dan cara berpikir. Misalnya, di kelas-2, siswa diberi pengertian mengenai jenis-jenis sumber energi. Setelah beberapa minggu mendalami subjek tersebut, siswa diberikan studi kasus untuk membayangkan apa yang terjadi ketika listrik di rumah padam. Siswa diminta menggambar apa yang ada di pikirannya. Dengan cara ini, cara berpikir, kemampuan seni, serta studi kasus nyata diberikan dalam satu subjek studi.

Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui mimpinya lebih awal. Dalam film dokumenter ini, Wagner mewawancara siswa dari kelas 8 dan 9. Saat ditanyakan mimpinya, sudah banyak yang bisa menjawab. Mimpi-mimpi seperti menjadi animator disney, pemain es hoki, insinyur, hingga dokter pun bermunculan. Hal ini menunjukan kemampuan reasoning dan kemampuan bermimpi yang sudah berkembang.

Di kelas 9, kelas mengenai politik memperkenalkan secara interaktif, mengenai “siapa orang ini”, “dari kementrian apa orang ini”, dan “dari partai mana orang ini”. Dijelaskan juga mengenai DPR-nya Finlandia, kementrian-kementrian yang ada. Di kelas itu, diajukan studi kasus yang menarik. Para siswa ditunjukkan janji-janji yang diucapkan politisi tentang pendidikan seperti apa yang seharusnya mereka dapatkan. Kemudian, mereka diminta untuk menyatakan apakah janji-janji tersebut sudah tercapai.

Sejak dini, pengetahuan membangun konsep pun sudah dibangun. Misalnya, saat kelas 8, guru mengajak siswa untuk berusaha menemukan persamaan phytagoras. Semua ini dilakukan berdasarkan konsep pengajaran yang telah disusun oleh guru tersebut. Konsep pengajaran itu, sebelumnya telah juga didiskusikan dengan pengajar lain, untuk mendapatkan masukan ataupun memberikan ide konsep pengajaran yang baru. Dengan demikian, terbentuk sebuah ‘lingkaran’ evaluasi sesama guru yang benar-benar berdasarkan keinginan untuk mendorong pengajaran yang lebih baik.

Sistem pemberian tugas yang diberikan oleh guru pun cukup menarik. Misalnya, penggunaan perangkat teknologi informasi lebih ditekankan sebagai perangkat murid untuk mengerjakan tugas. Untuk murid yang mengambil tugas marketing, tugas mereka bisa saja melakukan riset marketing di facebook, ataupun mencari artikel-artikel marketing yang dapat menunjang tugas mereka. Dengan menaruh banyak tugas di jaringan internet, murid dan guru juga dapat berinteraksi untuk mendiskusikan tugas yang ada. Ada juga tugas yang diberikan saat entrepreneurship camp. Siswa dikelompokkan menjadi 5-7 orang, berada  di satu tempat yang sama selama 26 jam. Mereka ditugaskan untuk menghasilkan ide produk atau jasa dalam satu malam. (yap, satu malam membuat jasa dan produk. hal ini menekankan pentingnya kerjasama dalam tim, kemampuan inovasi, dan daya kreativitas untuk menghasilkan ide bisnis)

Siswa diwajibkan belajar hingga usia 16 tahun. Setelah itu, mereka dapat meneruskan studi untuk menjadi akademisi, ataupun mengikuti sekolah vocational (profesi).  Sekitar 45% memilih untuk mengikuti sekolah profesi. Setelah lulus pendidikan profesi, siswa SMK-nya Finlandia itu akan dapat langsung memasuki dunia kerja.

Di Finlandia, adalah penting untuk dapat menelusuri kemampuan diri sendiri. Tak jarang, di umur 11, ketika murid memperoleh hasil yang buruk di bidang eksakta, maka murid tersebut tidak akan diarahkan untuk menjadi akademisi. Tersedia jenis kelas-kelas lain yang lebih dianjurkan, apakah itu di bidang sosial, ataupun seni. Pokoknya, bidang yang lebih memungkinkan untuk menunjang karir yang lebih sesuai.

Apa yang melatarbelakangi pendidikan yang begitu maju itu? Padahal di tahun 1960 Finlandia hanyalah satu dari banyak negara miskin lainnya. Menurut film dokumenter tersebut, di saat itu, hal yang pertama dilakukan Finlandia adalah dengan membentuk comprehensive school. Ini adalah sekolah yang ditujukan untuk semua orang. Perlu waktu lima tahun untuk mendefinisikan bagaimana pendidikan yang seharusnya pada tahun 70an. Kemudian fase berikutnya adalah untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan untuk guru pada tahun 80an. Diperlukan pendidikan master untuk menjadi guru. Kemudian, dibutuhkan waktu 30 tahun untuk mencapai keadaan agar sistem pendidikan Finlandia menjadi seperti sekarang.

Waktu 30 tahun ini dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan. Pada tahun 1990an, sistem pendidikan terpusat Finlandia mempercayakan penyusunan kurikulum yang lebih mendetail pada daerah. Dengan pola pemikiran sama akibat dari pendidikan yang sama di tahun 1970, sebagian besar masyarakat di sana percaya bahwa pendidikan yang lebih baik adalah kunci masa depan Finlandia. Akibatnya, kepercayaan tersebut berbuah. Para pendidik di ruang kelas menjadi inovator yang terus mendorong untuk mencari cara terbaik untuk mengeluarkan potensi yang dimiliki oleh pelajar. Para pendidik pun bertukar ide, membuat sebuah lingkaran evaluasi untuk mencapai pendidikan yang lebih baik. Semuanya hanya berdasarkan kepercayaan yang diberikan dari otoritas yang lebih tinggi.

apa yg bisa dipelajari kita sebagai masyarakat Indonesia?

Baiklah, banyak hal yang membedakan Indonesia dengan Finlandia. Dimulai dari perbedaan budaya, perbedaan ukuran dan demografi, hingga banyak perbedaan lainnya. Menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah melihat Finlandia sebagai contoh utama dalam menerapkan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Di samping itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan

1. Pendidikan merupakan proses nomor 1 yang tidak boleh diganggu gugat oleh urusan apapun. Pendidikan ini bukan dalam arti sempit, namun dalam arti luas. Termasuk mengeksplorasi diri sendiri, cara berpikir, cara berimajinasi, menuliskan dan menggambarkan ide, kemampuan atletik dsb.

2. Butuh waktu panjang sekali untuk membuat transformasi pendidikan. Finlandia butuh 30 tahun sejak penerapan sistem pendidikan yang baru. Dimulai dari kesetaraan pendidikan, penerapan tujuan yang sama dengan politisi dan industri, serta pemberian rasa percaya yang tinggi.

3. Rasa kepercayaan yang tinggi diterapkan dengan menetapkan panduan kurikulum yang sedikit. Dengan demikian, siswa bisa fokus pada pengembangan diri : memilih proyek yang disukainya, mengembangkan kemampuan seni, ataupun langsung memilih untuk berkarir melalui pendidikan profesi

4. Kepercayaan yang tinggi juga diterapkan hingga tingkatan yang paling bawah. Sekolah bebas membuat kurikulum, dan murid pun dipercaya untuk melakukan apa yang sekolah inginkan. Penggunaan teknologi sangat dianjurkan, untuk membuat sebuah digital portofolio pengajar dan siswa. Pengajar dapat mempublikasikan metode pengajarannya, sementara siswa dapat mempublikasikan proyek-proyeknya.

5. Semua kepercayaan tersebut dibangun pada konsensus, yang menyatakan pendidikan adalah yang utama, dan merupakan sumber daya utama untuk Finlandia. Tidak ada lagi yang lain yang dapat menolong Finlandia selain Sumber Daya Manusia mereka sendiri

6. Pada akhirnya, Finlandia hingga kini pun belum puas. Masih banyak hal yang dapat dikerjakan. Mereka merasa bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam melakukan pengembangan potensi siswa. Fokus Finlandia berikutnya adalah menekankan lagi secara mendalam mengenai kemampuan reasoning, komunikasi, cara berpikir, imajinasi,  kemampuan bermimpi, dan kemampuan mendasar lainnya.