Institutionalized

Tinggalkan komentar

” These walls are funny. First you hate ’em, then you get used to ’em. Enough time passes, you get so you depend on them. That’s institutionalized.  “

Red, Shawshank Redemption.

Lucky enough, i managed to complete my study in one of the most prestigious institution in Indonesia. After four years of study, including a lot of exams, organization activities, and campus talks : finally i feel really grateful and must admit how much i love that place.

Living in an intelligent and savvy environment, while  also nurtured by my parents nearby, really gives me an exceptional four year. Generation chief of an student unit, committee division chief, writer of a magazine, director of a mini market, and a lot another mesmerizing and disheartening experience that i through in last four are really unforgetable.

However, i feel that this institution have became a sort of institution that makes me become something else : an institutionalized man. In this case, a person who came from my institution, typically will pursue a career as multinational company employee (sorry i don’t include any data about this. this is merely based on my own observation and talks in my campus, but you can google : those facts are real 🙂 ).

Becoming an employee itself is not bad, they have facilities, a lot of learning experience, and of course salary 🙂 .  But, as one of the most prestigious institution with a lot of history and influence in last few decades, i think we have to expect something more. I personally think that ‘the institution’ have to be a symbol that will shake its student to look at the problems neighboring them.

Furthermore, i believe that we cannot solve a lot problems around us by becoming an multinational company’s employee. Okay, maybe we can solve our own & families problems,  but i am certain that we cannot give huge impact to society while working as employee in a corporation.

In a simple word i can say that my institution way of educating its student is like this

student -> institution -> fresh graduate ready for industry.

I am convinced that this way of education is not the way of education of my institution in mid-70’s-80’s. Back then, failed in a subject is quite common, and students take more time to explore themselves in the institution : creating a start-up corporation, active in a party, or even actively doing science research. So, after those student graduated from so-called institution, some of them already know what they will pursue in life.

Right now, there’s too much pressure to complete education. We have to complete study in six year. Those rules really squeeze a lot of students extracurricular activities. As a result, students tend to avoid an extra activities, means they will pass the opportunity to hone their communication, organization, and people skills. While in the other hand, not all students have the people skills necessary when they started their study in university. It is the institution’s task to enhance their skills, both in our outside of the class.

In the other hand, this institution managed to produce a lot of amazing person, they are world/local champions in business plan competition, robot competition, etc. That proves that even a decent person can sparks in an indecent environment.

Obviously, this institution need to improve from an indecent institution to an institution that escalates an ordinary person to a impact creator. The rector have a very-very heavy task. The institution must be the home of society that, in that place, boost its student capability like what was written on plaza widya nusantara.

This place was named “Plaza Widya Nusantara” ,

so that this campus will be a place where people gain knowledge, learn about science, art and technology.

so that this campus will be a place to ask, and there should be answered.

so that its campus life is to build character and personality.

so that its alumni not only be the pioneer of development, but also the pioneer of national unity.

Bandung, December 28th 1996

Prof. Wiranto Arismunandar

Pilihan

Tinggalkan komentar

Gak kerasa, perjalanan kuliah saya sudah berlangsung selama tiga tahun. Artinya, satu tahun yang akan datang, saya akan memiliki banyak pilihan untuk dijalani. Dimulai dari pilihan untuk mengikuti jejak orang tua, mengikuti jejak orang lain, sampai merintis jalan sendiri.

Kita semua memiliki banyak jalan pilihan hidup.

Sayangnya, memilih bukan hal yang gampang untuk anak-anak muda kita. Dari kecil, kebanyakan anak jarang sekali diberi kesempatan untuk memilih. Setelah melewati fase balita, anak langsung disekolahkan. Masuk SD, kemudian SMP, hingga akhirnya SMA. Pelajar-pelajar tersebut tidak pernah benar-benar memilih jalur hidupnya, ya mungkin ada penjurusan IPA dan IPS, tapi kita sama-sama tau mana yang favorit. Kebanyakan anak muda sekarang jarang sekali benar-benar memilih sesuatu dalam hidupnya.

Akibatnya, ketika seseorang diberi berbagai peluang dan kemungkinan, sering kali hal yang muncul adalah kebingungan.

Di sini harus kita cermati bahwa ‘kemampuan memilih dan menyadari konsekuensinya’ merupakan kemampuan yang benar-benar penting dan mendasar. Tanpa kemampuan itu, mata kehidupan kita akan menjadi buram. Kita akan terombang-ambing oleh arus kehidupan.

When you have to make a choice and don’t make it, that is in itself a choice.

William James quotes (American Philosopher and Psychologist, leader of the philosophical movement of Pragmatism, 18421910)

Mari memilih !!!

Semester 6

2 Komentar

Seperti biasa, ketika sebuah semester kuliah dimulai, saya akan memasang target yang (harapannya) akan saya capai. Semoga saya dapat menjadi seperti ksatria di semester ini, yang berjuang hingga titik darah penghabisan.

Di semester 6 ini, saya mengambil 21 SKS, dengan delapan judul mata kuliah. Mereka adalah :

Sistem Kendali, target A

Entah kenapa ketika saya bertanya mengenai sisken ke anak teknik kendali (yang sudah ngambil semester sebelumnya) maka reaksi mereka adalah

“Ckk.. ah..”

“yah… sisken..”

“shisshhykennn??? ”

setelah saya telusuri lebih dalam, ternyata dosen sisken adalah dosen yang super nyentrik, sampai-sampai bisa dikagumi dan dihina pada saat yang sama (nah l0h gimana caranya).  Tapi pada dasarnya, ini mata kuliah yang cukup menarik, dan matematika banget.

Pembangkitan Tenaga Listrik, target A

Kuliah ini membahas tentang teknologi pembangkitan tenaga listrik, dengan berbagai macam energi yang berfungsi sebagai penggerak utama. Sangat menarik, karena himpunan elektro sendiri sedang gencar-gencarnya mengusahakan pembangkitan listrik untuk masyarakat yang belum terjangkau oleh listrik.

Ekonomi Energi, target A

Kuliah pilihan di jurusan saya, yang saya pilih karena cukup fascinating. Membahas banyak permasalahan energi, mulai dari aspek teknis, ekonomi, hingga sosial. Ya dengan kata lain, membahas hal-hal seperti pembangkit apa sih yang paling ekonomis dan feasible untuk dibangun, hubungan investor dan PLN sebagai penyedia listrik di Indonesia, regulasi pemerintah, PLN yang rugi melulu, harga ABCD, dll. Kelihatannya menarik !!

Hukum Milik Perindustrian, target AB

Berhubung mimpi menjadi pengacara gak kesampaian, maka saya akan mencoba untuk mengambil kuliah ‘hukum’. Hukum Milik Perindustrian akan banyak berjibaku dengan Hak Atas Kekayaan Intelektual, semisal paten, rahasia dagang, dan sebagainya.

Praktikum Tenaga Elektrik II, target B

Kalau sudah berurusan dengan matakuliah praktikum di jurusanku, maka label yang tertulis adalah harus lulus!!! Lulus adalah harga mati !!! keterangan lebih lanjut akan saya quote dari tulisan sebelumnya

Praktikum Teknik Tenaga Elektrik 1 (1 SKS – target A, raihan B)

Pikiran mahasiswa teknik tenaga pastinya bakal terkuras oleh matakuliah satu sks ini. Gimana enggak ? Meskipun satu SKS, tapi ada dua praktikum di mata kuliah ini. Sebelum praktikum aja kami udah diminta untuk tandatangan surat pernyataan kalau kita bersedia menanggung segala resiko yang akan terjadi di pada praktikum ini.

Di praktikum Mesin-Mesin Elektrik, belum praktikum aja udah ada tugas pendahuluan sebanyak 40 nomor, wajib tulis tangan yang harus dikerjakan dalam waktu kurang dari 24 jam… hoaaahm… selain itu ada juga tes awal sebelum praktikum yang durasinya minimal 4 jam, itu juga kalau pinter dan hoki. Kalau males, gak boleh praktikum, dan bisa-bisa tes awal berlanjut hingga 8-10 jam. Setelah tes awal, ambil data 2-4 jam kira-kira. Kelar deh, eh tapi tunggu dulu, masih ada laporan. Ngebuat laporannya juga gak kalah repotnya, wajib tulis tangan dengan format IEEE. Nah itu baru satu modul. Baru satu praktikum.

Masih ada lagi praktikum Teknik Tegangan Tinggi, kurang lebih sama, tapi lebih santai dan lebih ringan kerjaannya.

Kali ini, praktikum yang diambil adalah praktikum Elektronika Daya dan praktikum Analisis Sistem Tenaga. Wish us luck !

Elektronika Daya, target C

Kalo anak-anak bilang sih, ini merupakan matakuliah paling susah di kampusku !!! Diajar oleh salah satu power-electronics-engineer terkemuka di dunia. Soal-soal ujian yang keluar dijamin baru dan selalu bikin pusing orang-orang yang membacanya. Itu baru membaca soalnya, belum lagi ngejawabnya.. wuih, dijamin keriting dah otak kita. Lulus mata kuliah ini saja sudah cukup, saya pikir. gak muluk-muluk deh.

Komputer & Rekayasa Sistem, target B

Mata kuliah ini bisa dibilang sebagai ‘final-mission’nya anak-anak jurusan power di kampusku. Gimana enggak? Dosennya matakuliah ini merupakan dosen yang paling dihormati sepanjang masa oleh orang-orang yang berkecimpung di dunia tenaga listrik. Beliau adalah Prof. Dr. Sudjana Sapiie, rektor ITB di periode 1970-an.

Ada kisah yang cukup menarik sewaktu mantan dirut PLN, Fahmi Mochtar memberikan seminar/kuliah tamu di kampusku. Ketika itu Prof John berada di ruangan seminar sebagai tamu undangan, di samping rektor ITB saat itu, Pak Djoko Santoso.

Sebelum memulai kuliahnya, Pak Fahmi memberikan kata sambutan sbb : ” Yang terhormat, rektor ITB, Pak Prof John..”

kemudian, peserta dan mahasiswa satu ruangan seminar kebingungan, celingak-celinguk kanan-kiri. Setelah itu, Pak Fahmi meneruskan :

“Pak Djoko kan cuma penggantinya. ”

Sontak satu ruangan seminar tertawa, memahami rasa hormat yang ditunjukkan oleh pak wakil dirut pln kepada Pak Prof John yang kira-kira usianya sudah hampir menginjak usia ke-80.

Ya kurang lebih itulah gambaran atas respek yang dimiliki oleh anak didiknya prof john. Setelah masuk ke kelasnya pun saya memahami perasaan generasi sebelum saya, setelah melihat kemampuan matematika prof john, serta ekspresinya yang bakalan membekas di kepala anak didiknya.

Biomekanika, target A

Kuliah yang saya anggap sangat fascinating, terutama karena saya sangat menyenangi olahraga sepakbola. Di kuliah ini akan dibahas aspek mekanis dan kesehatan dari sistem tubuh manusia. Di paruh semester pertama, akan dibahas aspek teknis, yang mendatangkan langsung dosen ekspert dari teknik mesin. Kemudian, di paruh kuliah kedua, akan dibahas sisi lain tubuh oleh doktor olahraga ITB (yang menuntut ilmu di jepang) dan juga ilmu kesehatannya dari dokter yang didatangkan langsung dari fakultas kedokteran UNPAD. Fascinating, isn’t it ?

target nilai rata-rata semester ini : 3, 47.. semoga dapat tercapai… amin !

Review Semester 5

Tinggalkan komentar

Lima semester telah kulalui di kampusku, artinya saya sudah melewati lebih dari separuh jalan menuju gelar cumlaude sarjana di bidang teknik tenaga listrik. Seperti semester sebelumnya, saya akan menyajikan raihan yang telah saya dapat pada semester 5.

Kalau semester ini memiliki sebuah tema, maka tema besar di semester 5 adalah GAGAL TOTAL.. 😀

Semester 5 kemarin merupakan kombinasi dari gak ngerti kuliah, bosen kuliah, sok-sok aktif di organisasi, dan sedikit aroma kompetisi sepakbola. Hasilnya, sedikit banget yang saya dapat di semester kemaren, udah kuliah gak ngerti… nilai terjun bebas… jarang main kartu… jarang main pingpong… dan gak menang kompetisi bola juga.. kumplit dah penderitaan.

Di samping penderitaan itu, Saya akan mengajak pembaca untuk membaca review saya tentang realisasi target akademik yang saya buat di awal semester 5..

Mesin-Mesin Elektrik (3 SKS – target B, raihan C)

Mesin elektrik, kuliah yang saya kira akan menjadi kuliah yang ‘kacang’, ternyata menjadi salah satu kuliah yang paling MENYERAMKAN… Gimana enggak, kalau di tahun-tahun sebelumnya peserta kuliah disajikan soal yang biasanya mirip-mirip tahun sebelumnya, kali ini ujiannya dibuat SANGAT BERBEDA, karena sebuah revolusi dan legenda telah dibuat oleh asisten dosen mata kuliah ini, dengan membuat soal ujian yang levelnya sebenarnya biasa saja, tapi sangat-sangat berbeda dengan tahun sebelumnya. Walhasil, strategi ini sangat ampuh untuk membasmi orang-orang malas seperti saya… hehe. Alhasil nilai C pun saya syukuri, ya setidaknya untuk menjaga mimpi cumlaude.

Material Elektromagnetik (3 SKS – target B, raihan AB)

Semester ini, saya ketemu lagi dengan Pak Warno, dosen yang telah meluluskan saya dari matakuliah medan elektromagnet. Karena ‘ilmu material’ memang bidangnya Pak Warno, kuliah ini bener-bener fascinating. Semua aspek material elektromagnet yang dibahas nyambung banget dengan teknik tenaga listrik yang emang merupakan ‘field of work’nya beliau. Well, dapet AB lagi nih dari Pak Warno.

Komputasi dan Analisis Numerik (3 SKS – target A, raihan AB)

Untuk melakukan analisis secara numerik sebenarnya perhitungan matematis yang digunakan sederhana, nah tapi yang susah adalah untuk menentukan rumus mana yang dipake, serta menjaga ketelitian dalam mengerjakan soal. Sempet kepeleset di ujian pertama, gara-gara sehari sebelum ujian malah makan-makan di hanamasa dan kekenyangan (walhasil males belajar), nilai ujiannya dapet 50. Untungnya, ujian akhir bisa ‘ngerjain’ dan dapet AB. cheers.

Kompatibilitas Elektromagnetik (3 SKS – target B, raihan B)

Matakuliah paling ‘berat’ di semester 5. Pas lagi ujian akhir kebagian tanggung jawab ngurusin acara besarnya elektro, electrical engineering events, gak belajar deh.. walhasil, ikut ujian ulang, dapet tugas tambahan, dan tak lupa ujian lisan.

Teknik Tegangan Tinggi (3 SKS – target B, raihan C)

Mata Kuliah yang bakal diwanti-wanti bakal menjadi kuliah yang nilainya paling ngasal sepanjang masa. Semuanya sudah saya persiapkan sebelum mengambil kuliah ini. Dapet A atau E pun saya tidak akan gembira ataupun menangis. Saya jarang masuk kelas, begitu juga dosennya. Eh, ternyata dapet C.

Praktikum Teknik Tenaga Elektrik 1 (1 SKS – target A, raihan B)

Pikiran mahasiswa teknik tenaga pastinya bakal terkuras oleh matakuliah satu sks ini. Gimana enggak ? Meskipun satu SKS, tapi ada dua praktikum di mata kuliah ini. Sebelum praktikum aja kami udah diminta untuk tandatangan surat pernyataan kalau kita bersedia menanggung segala resiko yang akan terjadi di pada praktikum ini.

Di praktikum Mesin-Mesin Elektrik, belum praktikum aja udah ada tugas pendahuluan sebanyak 40 nomor, wajib tulis tangan yang harus dikerjakan dalam waktu kurang dari 24 jam… hoaaahm… selain itu ada juga tes awal sebelum praktikum yang durasinya minimal 4 jam, itu juga kalau pinter dan hoki. Kalau males, gak boleh praktikum, dan bisa-bisa tes awal berlanjut hingga 8-10 jam. Setelah tes awal, ambil data 2-4 jam kira-kira. Kelar deh, eh tapi tunggu dulu, masih ada laporan. Ngebuat laporannya juga gak kalah repotnya, wajib tulis tangan dengan format IEEE. Nah itu baru satu modul. Baru satu praktikum.

Masih ada lagi praktikum Teknik Tegangan Tinggi, kurang lebih sama, tapi lebih santai dan lebih ringan kerjaannya.

Analisis Sistem Tenaga (3 SKS – target A, raihan A)

Another fascinating class. Kuliah di kelas ini nambah wawasan tentang sistem tenaga. Dosennya baik pula, makin semangat belajarnya. Kelas ini agak gak biasa, karena yang ngambil cuma segelintir orang. (10-15 orang mungkin) Jadinya terpaksa rajin.. hahaha. Inilah yang menginspirasi saya untuk ngambil kelas kecil lagi di semester 6.

Manajemen Proyek (3 SKS – target A, raihan AB)

Asik, asik… Mroyek…

Itu pikiran awal saya, tapi ternyata ini merupakan kuliah yang paling jarang saya masuki, meskipun sebenernya ilmunya sangat-sangat menarik. Males masuknya karena mahasiswa yang ngambil kuliah ini super-super banyak, dan biasanya kebagian tempat di belakang. Kalo nggak tidur ya ngobrol. Mending di luar kelas kan ya ? hehe. Untungnya masih dapet AB di kelas ini.

Semester 5 merupakan semester paling ngaco yang pernah saya jalani di kampusku. Bener-bener kebawa arus kuliah, ampe-ampe berat badan yang udah minimum masih bisa turun ternyata saudara-saudara. Ya nggak aneh juga sih, makan pagi mungkin masih di rumah, tapi karena siang-malam di kampus jadinya sering lupa makan siang. Kalau nginep di kampus, paginya pasti gak makan.

Di semester kemarin, 3 bulan awal dihabiskan oleh kesibukan praktikum dan ujian.

Satu bulan berikutnya, oleh kompetisi futsal.

Bulan berikutnya, oleh acara electrical engineering events.

Kalau dipikir-pikir, masih beruntung juga dapet nilai rata-rata di atas 3.. Semoga semester enam bisa jauh lebih baik dari semester lima ini… amin.

Target IP  : 3,45 ::: IP Semester 5 : 3,07

Fisik Setelah Memasuki Bangku Kuliah

3 Komentar

Gak kerasa kalau kuliah enggak hanya berdampak ke perkembangan mental dan keilmuan, tapi juga bisa berdampak ke hal yang lain, yakni FISIK.

Ditulis besar gini, karena memang perubahan yang biasanya terjadi karena orang masuk kampus biasanya signifikan. Ya udah gak heran lagi, orang yang dulunya six-pack, sehat bugar, keker setelah masuk ke kehidupan kampus jadi gak pernah olahraga, terus jadi tambun. Wajar sih, kalau dipikir-pikir cuma sebagian kecil banget kampus yang mengadakan matakuliah olahraga, paling ITB, itu juga sekarang hanya satu semester pula.

Kuliah di kampusku, memang kerasa gak ada tuntutan untuk meningkatkan fisik, karena saya sendiri ngerasa lebih ditempa aspek kedisiplinannya. Ada tugas lah, dengan deadlinenya yang mepet banget, jadi mana mikir juga fisik. Yang ada keseringan begadang, bangun kesiangan, di kelas ngantuk, terus malemnya kerja lagi. Intinya, sangat susah untuk merencanakan olahraga, ya istilahnya mungkin “boro-boro”.

Dampaknya ke saya sendiri gimana? Ya meskipun alhamdulillah badan saya masih bentuknya yang lama (tetep kurus, 😀 ) tapi ada penurunan drastis yang sangat terasa : STAMINA. Ya mungkin stamina gak ngaruh untuk mahasiswa pada umumnya, tapi untuk saya stamina penting banget.

Contohnya aja, dua minggu yang lalu sempet ada turnamen futsal, baru 5 menit main udah langsung ngos-ngosan, untung udah cetak gol satu, lumayan. Abis itu saya diganti dan gak kuat maen lagi. Setelah itu, hari berikutnya, jadi starter, langsung cetak gol di awal-awal *nyombong lagi :D*, tapi 5 menit kemudian ngos-ngosan dan gak kuat lanjutin pertandingan, saya minta keluar.

Ada apa dengan badan ini? Baru kerasa parahnya kehidupan kampus untuk fisik, bahkan mungkin kehidupan kampus lebih parah dari kehidupan om-om yang kerjanya ngemil doang.

Sudah waktunya memasukkan latihan olahraga ke jadwal rutin. Ya engga usah lari juga sih, siapa juga yang hobinya lari. Semoga ke depannya fisik saya membaik, amin.

Pembaca juga jangan lupa olahraga rutin yak ! Jaman makin edan, kasian badan kalau enggak pernah dilatih

Kehilangan Rasa Takut

4 Komentar

Baru sadar nih, entah kenapa akhir-akhir ini saya tidak bisa merasakan beberapa hal yang dulu sangatlah menarik perhatian saya.

Misalnya, ketika saya masih berada pada titik-titik awal pendidikan : saat SD/SMP saya gak bisa ngerjain ujian, biasanya akan ada kekecewaan ataupun kesedihan mendalam saat ujian nge-blank. Nah, sekarang? Mau ada ujian besok juga, perasaan panik itu hilang entah kenapa. Entah kenapa gak ada dorongan rasa takut atau apapun yang bisa memaksa saya untuk belajar.

Selain itu, kalau dulu saya ragu untuk maki-maki orang ataupun mencela orang yang salah, sekarang entah kenapa perasaan itu udah hilang. Sekarang, saya gak ragu untuk mengucapkan sesuatu yang mungkin menyakiti orang lain.

Apa yang terjadi yah? Saya sendiri bingung. Apakah mungkin ini semua terjadi pada semua orang yang bertambah tua? apakah ketika kita bertambah tua akan banyak hal-hal dan perasaan yang akan kita lupakan?

Saya sendiri saat ini berusaha untuk mempertahankan perasaan tersebut, dan berharap bertambah tua tidaklah seburuk itu. Saya ingin bisa takut lagi, takut ketika dunia ini tidak bekerja seperti yang saya inginkan, ataupun takut ketika orang lain tersakiti, oleh orang yang tidak memiliki perasaan.

Pendidikan Sekarang

3 Komentar

Beberapa waktu yang lalu saya masuk kuliah jam 7 pagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya kira hari ini akan menjadi hari biasa yang ‘elektro’ banget. Eh, tapi ternyata saya kecipratan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman dosen. Boleh lah ya, dibagi-bagi :

Cerita dimulai dari kisah sebuah dielektrik, namun entah kenapa akhirnya nyambung ke cerita tentang pendidikan di indonesia. Salah satunya adalah tentang kebudayaan ‘IPA’, yakni pada umumnya keluarga di indonesia cenderung memaksakan anak-anaknya untuk menjadi seorang sarjana.

Entah kenapa budaya itu bisa muncul ya, tapi yang pasti kalau di SMA, yang namanya IPS udah identik dengan orang-orang bego, dan IPA identik dengan anak-anak yang cemerlang akademiknya (matematika, sains, etc.)..

Setelah masuk IPA, selanjutnya anak-anak tersebut dituntut agar masuk jurusan favorit, semacam kedokteran dan teknik. Bisa disimpulkan kan, kalo masa depan sebagian besar anak di indonesia yang mampu sekolah adalah untuk menjadi sarjana/dokter.

Nah, sarjana/dokter nantinya ke mana sih? Kalau pinter banget paling lanjut sekolah lagi, kalau agak pinter biasanya diculik perusahaan asing : untuk jadi ‘onta’ pengurus fasilitas (yang kerjanya cuma ngejalanin mesin, mengawasi alat-alat dan digaji lumayan gede), yang bodo untung-untungnya jadi pengusaha, atau kalau keterlaluan bodonya bisa jadi pegawai biasa. Bahkan, bisa aja nganggur meski punya ijazah sarjana.

Nah, sekarang anak IPSnya (yang katanya waktu SMA jelek akademiknya) akan masuk ke ilmu sosial macam hukum, akuntansi, komunikasi, hubungan internasional, dll. yang ternyata kadang-kadang bisa lebih penting dari sains! Orang-orang ini bisa melakukan something beyond sekedar mengurus fasilitas, seperti berpolitik, bernegosiasi, dll. yang ternyata bisa lebih penting dan lebih strategis daripada orang teknik. Di sinilah anehnya, orang yang notabene ‘gak pinter’ kok diminta ngurus keputusan-keputusan penting? Argumen sang dosen adalah bahwa bila yang mengurus keputusan-keputusan strategis tersebut adalah orang-orang yang kurang pintar, maka sangat sulit bagi bangsa ini untuk maju.

Inilah yang disebut pak dosen sebagai kerugian orang-orang pinter yang masuk IPA, peluang mereka untuk jadi ‘onta’ yang nyaman sangatlah besar. Sementara itu, anak-anak ‘kurang pinter berkemampuan kurang’ malah mengurus keputusan yang sangat-sangat penting. Bisa berabe kan?

Tapi, kerugian ini bisa aja jadi keunggulan : kenapa? karena di bidang teknik, mahasiswa belajar secara sistematik dengan proses latihan yang cukup keras. Bila mahasiswa memanfaatkan fasilitas tersebut, maka akan dihasilkan orang yang sangat cakap. Contohnya, mahasiswa belajar tentang sistem vektor yang secara analogis dan filosofis dapat diterapkan di banyak bidang lain di dunia (saya sendiri masih bingung hubungan vektor dengan dunia, di mana ya pak?). Tapi, hal tersebut dipastikan dengan banyaknya orang-orang ‘sukses’ yang berasal dari bidang teknik.

mau contoh ? ini sebagian kecil contohnya dari teknik elektro

  • Arifin Panigoro dan Bu Yani Panigoro (pemilik medco)
  • Rinaldi Firmansyah (dirut telkom)
  • Hasnul Suhaimi (dirut xl)
  • Wahyu Wijayadi (direktur Indosat)
  • Wityasmoro (dirut mobile 8)
  • Dany Buldansyah (deputi dirut Bakrie Tel)
  • Aburizal Bakrie (menko kesra)
  • Fahmi Muchtar (dirut PLN)
  • And of course… many more !!!

(sedikit ya yang jadi politikus?)

Kalau saya pikir, memang aneh juga sih kebudayaan di indonesia ini mengenai pendidikan. Di sini, orang berburu sekolah negeri dan jurusan teknik. Sementara itu, di amerika serikat, orang-orang biasanya mengincar private school (swasta) dan berburu jurusan sosial (hukum, etc.). Mungkin saja, itu penyebab keadaan kedua bangsa tersebut cukup berbeda. Orang-orang yang mengurus negeri ini bukanlah bakat-bakat terbaik.

Pertanyaannya : perlukah anak teknik terjun ke politik?

Terserah, yang pasti saya denger politik aja udah mau muntah.

Older Entries