Terlalu Tinggi

Tinggalkan komentar

Kadang-kadang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, orang yang dijuluki sebagai ‘pinter’ ataupun ‘jenius’ ternyata cenderung ‘autis’. Saat mereka memikirkan sesuatu, mereka mikir sendirian. Seolah-olah mereka punya dunianya sendiri. Jika ada hal yang tidak diketahui ataupun kurang dipahami, maka mereka mengambil asumsi yang belum tentu cocok dengan kenyataan.

Nah, di kampusku banyak banyak banget orang-orang yang seperti itu. Punya dunianya sendiri. Lucu juga sih liatnya, hehe. Seiring berjalannya waktu, asumsi yang mereka buat tentang dunia akan semakin kuat karena jarang menyesuaikan asumsi yang dimiliki dengan kenyataan yang ada di tatanan sosial, keasyikan di dunianya sendiri.

Orang lain yang biasa aja (seperti saya :D) biasanya kesulitan untuk menangkap maksud dan pemikiran orang-orang ‘pintar’ itu. Hal ini terjadi karena apa yang kita dan mereka lihat cukup berbeda. Mereka melihat dunianya sendiri, sementara kita hidup dengan.. yaa kehidupan dan sudut pandang biasa. Makanya sering kali kalo anak kampusku ngomong, kadang-kadang orang biasa nggak ngerti. Terlalu rumit, katanya. Terlalu tinggi pemikirannya.

Nah, di sini orang-orang ‘pintar’ itu juga punya beberapa tugas lebih.

Tugas yang pertama adalah agar mampu menyampaikan dunianya melalui bahasa yang lebih sederhana ke orang-orang yang pemikirannya berbeda dengan mereka. Istilahnya, turun ke bumi lah..

Tugas yang berikutnya adalah untuk mencari pengetahuan lain yang bersumber dari fakta ataupun pemikiran orang yang berasal dari background berbeda, misalnya sosial, ekonomi, sampai hukum. Dengan demikian, asumsi yang salah dapat segera diperbaiki.

Kalau tugas ini bisa dikerjakan dengan baik, maka bisa jadi dunia mereka bisa benar-benar terbentuk di dunia yang nyata. Kalau nggak, yaa.. bisa jadi selamanya orang ‘pintar’ itu hanya akan menjadi ‘orang pintar’ yang ‘autis’.

Tips Sukses di Fakultas dan Program Studi

4 Komentar

Well, saya memiliki tulisan tentang tips sukses di fakultas (STEI-ITB) dan program studi, ditujukan untuk mahasiswa baru ITB 2009. Tulisan ini terinspirasi oleh pidato dari Profesor Ida I Dewa Gede Raka, salah satu dosen di ITB, yang kini telah pensiun. Mungkin tulisan ini akan terkesan klise, tapi ini benar. Jika saja kita bisa mengamalkan semuanya, maka definisi sukses yang kita inginkan pasti tercapai. Tapi, tentunya jangan pernah lupakan tentang kebebasan memilih dan kekuatan dorongan hati. Itulah senjata terkuat di dunia.

Here we go.

Lestian Atmopawiro

13207042 – Teknik Tenaga Listrik

Tips Sukses di Fakultas & Program Studi

Beberapa tahun belakangan terdapat perubahan yang cukup signifikan pada sistem penerimaan mahasiswa baru di ITB, yakni mahasiswa baru diharuskan untuk menjalani tahun pertama di fakultas/sekolah, baru kemudian melanjutkan studinya di program studi. Tentunya, hal ini membuat beberapa perubahan yang signifikan, baik pada pola pendidikan maupun kehidupan sosial di kampus. Sebagai salah satu mahasiswa yang menjalani kehidupan fakultas dan program studi, saya memiliki beberapa tips untuk dapat sukses di fakultas dan program studi.

Jadilah aktivis. Aktivis di sini adalah orang-orang yang aktif pada kehidupan di unit/himpunan di kampus. Dengan menjadi aktivis pada suatu organisasi tertentu, maka kita dapat memaksa diri kita untuk memiliki tanggung jawab sebagai wadah untuk mengasah diri yang akan meningkatkan softskill. Pada tingkat pertama, kamu dapat aktif dengan memilih unit tertentu sesuai minat, dan selain itu juga ada wadah lain berupa pembinaan dari kakak-kakak STEI yang bernama PLO (Profession and Leadership Orientation), PLO ini akan berguna untuk mengenal teman-teman fakultas, dan lebih mengetahui profesi serta kepemimpinan di dunia elektro dan informatika. Sementara itu, jika kamu telah memutuskan untuk masuk ke dunia elektrotenik, maka kamu dapat aktif di Himpunan Mahasiswa Elektroteknik, yang merupakan wadah selanjutnya yang akan melengkapi kemampuan kamu di dunia keelektroteknikan.

Bekerja dalam tim. Setelah aktif dalam suatu organisasi tertentu, pastikan kamu banyak bekerja dalam tim. Dengan bekerja dalam tim, kamu akan terbiasa untuk melihat potensi-potensi diri kamu sendiri, bahkan orang lain, sehingga dapat membuat jejaring sosial yang efektif. Dengan bekerja dalam tim, potensi yang dicapai akan jauh lebih besar daripada bekerja sendiri.

Baca & Tulislah. Sangatlah penting untuk meluaskan pengetahuan kita di luar pengetahuan prodi sendiri. Bergaul tidaklah hanya dengan manusia secara langsung saja, namun juga dengan komunikasi tulisan. Sebagai engineer, hidup kita akan cukup dipenuhi oleh komunikasi tulisan, sehingga biasakanlah untuk membaca buku-buku yang baik, serta menulis hal-hal yang ada di dalam pikiran.

Belajar bahasa asing. Dunia telah memasuki era globalisasi. Diperlukan suatu kemampuan untuk berinteraksi dengan penduduk yang berbeda bahasa dengan kita. Salah satunya, adalah dengan menguasai bahasa asing, setidaknya bahasa inggris yang merupakan bahasa dunia. Latihlah hal tersebut degan membaca, berbicara, dan mendengarkan bahasa asing.

Belajar Berkontribusi.Perlu diketahui kita adalah sedikit dari banyak manusia di Indonesia yang memiliki keberuntungan untuk dapat memiliki pengetahuan yang banyak. Hal ini memberi kita tanggung jawab untuk memberi lebih banyak. Dimulai dari hal-hal yang kecil, seperti belajar dengan tekun, bakti sosial, hingga sesuatu yang cukup besar seperti membuat pembangkit listrik pikohidro skala kecil untuk desa tertinggal, seperti yang telah dilakukan kakak-kakak kita di Himpunan Mahasiswa Elektro ITB.

[Menantang] Matematika yang lebih sulit

3 Komentar

Mathematics is the heart of engineering

Masa-masa liburan lebaran kemarin lebih banyak saya gunakan untuk belajar, dengan harapan saya dapat lebih memahami konsep-konsep yang saya lewatkan di kelas karena tidur. Alih-alih lebih jago, saya malah mengalami kesulitan yang cukup mengganggu, terutama di kuliah Rangkaian Listrik (RL) yang banyak persamaan matematikanya. Hmm,, kenapa ya? Biasanya kalau di urusan matematika saya tidak terlalu kesulitan. Apakah tingkat kesulitannya yang semakin tinggi, atau otak saya yang jarang dipakai (tidur di kelas)?

Iseng-iseng browsing, saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang kuliah Rangkaian Listrik cukup sulit, terbukti dengan jumlah mahasiswa yang lulus biasanya sekitar 50% dari jumlah total mahasiswa. Buset dah, malah ada yang ngulang mata kuliahnya sampai 4-5 kali baru lulus. Serem juga, hiii…

Mencoba berpikir positif, dengan menganggap dosen sebagai penyebab hancurnya nilai mahasiswa, saya mendapatkan fakta bahwa nilai mahasiswa di kuliah RL hancur semua!!! Siapapun dosennya, hancur nilainya. Namun, setelah melihat sekilas, ternyata di antara nilai-nilai yang hancur, terdapat juga mahasiswa yang mendapatkan nilai A. Ini membuktikan satu hal : Rangkaian Listrik gak susah.

Kalau tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi, berarti tinggal satu alasan mengapa nilai mata kuliah RL hancur semua, yakni : malas!

Saya telusuri jalur hidup saya di masa silam, saya mendapati diri saya sebagai orang yang malas (haha). Pada pelajaran eksak, saya hanya mengandalkan kecerdasan dan intuisi untuk memilih satu jawaban dari pilihan ganda yang ada. Sementara pada pelajaran non-eksak, kerjaan saya nyontek, nyalin, kerjasama, atau apapun namanya lah. Yang penting dapat jawaban. Pada masa tersebut, kemalasan itu masih dapat membawa saya ke jenjang kuliah.

Nah, masalahnya muncul ketika saya kuliah, terutama di masa-masa sekarang, pada tingkat kedua, pada saat berbagai mata kuliah yang sudah pernah dipelajari muncul dengan tuntutan yang berbeda. Tuntutan tersebut adalah kemampuan dasar yang sebelumnya saya abaikan, karena kemalasan saya. Jadi, rasanya seperti seluruh kemalasan yang telah kita lakukan seumur kita diakumulasikan ke satu titik di masa kini, hihi..

Konsekuensinya, saya harus belajar mundur dan mengulang berbagai pelajaran yang sebenarnya mudah, namun banyak, sehingga banyak menyita waktu yang harusnya saya gunakan untuk hal yang lain. Namun, ada untungnya juga sih (there’s always a silver lining in every cloud, right?),, saya menyadari kemalasan saya pada saat saya belum mengenal persamaan Maxwell ataupun Schrödinger.

Masa-masa sekarang, matematika yang saya lawan jauh lebih sulit, bukan karena materinya semakin sulit, tapi karena semakin banyak. Jadi, kalau saya pikir kemalasan mahasiswa juga disebabkan oleh sistem pendidikan kita (bukannya menyalahkan, namun harus ada perbaikan kan?).

Kalau saya bandingkan pendidikan SD Indonesia dengan pendidikan SD perancis, ada hal yang cukup menarik, yakni lulusan SD Indonesia lebih ‘pintar’ daripada lulusan SD perancis. Kalau di sana, lulusan SD hanya bisa melakukan operasi matematika : tambah, kurang, kali, bagi. Kontras dengan lulusan sini yang udah bisa KPK, FPB, luas itu, luas ini, dll.

Saya pikir tidak ada masalah kalau siswa benar-benar paham apa yang mereka pelajari, namun masalahnya adalah pendidikan kita (*opini pribadi) mencoba berbagai hal terlalu cepat, yang berujung ke budaya serba instan. Pendidikan berpengaruh pada karakter, ya kan? Sehingga jangan heran mengapa budaya ‘kita’ serba instan. Saya pikir harus ada perubahan yang sangat mendasar pada sistem pendidikan (bukan dengan ganti kurikulum saja), tapi juga pengajar, fasilitas, dll. dll. dll.

*sori jadi pengkritik tanpa solusi.

Aduh, kok malah jadi ngeblog, bukannya belajar???

Bentar, ah masa belajar terus sih?

Yaudah, beres ngeblog belajar yah!

Bentar,, tidur dulu ah..

Teman di Malaysia

11 Komentar

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lainlain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, 😀

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???

I’m Exhausted.

11 Komentar

Begitulah. Setelah melepas rindu untuk bermain futsal [saya bermain futsal sekitar tiga jam], saya pergi ke kampus untuk mencari buku di perpustakaan.

Yah, namanya perpustakaan kampusku, untuk mencari buku itu lumayan sulit. Sebenarnya perpustakaannya tidak terlalu luas, namun sistem pencarian buku yang tersedia di tiap lantai sepertinya hanya “formalitas”. Ketika saya menuliskan buku, list not found. Bah! Kesal. Jadi, saya harus menelusuri tiap rak, karena buku di raknya pun tidak tersimpan dengan rapi [bandingkan dengan SMA saya, buku tersimpan dengan rapi berdasarkan kategori, sehingga mudah untuk mencari buku].

Hingga akhirnya saya dapat menemukan buku idaman saya dalam waktu setengah jam [BAH! lama!tidak termasuk waktu perjalanan, hanya waktu di rak!]. Setelah itu, saya berikan bukunya pada pustakawan untuk meminjam buku tersebut. Namun, pustakawan menjawab, “Mas, ini buku referensi. Bukan untuk dipinjam. Silakan baca di sini…”

Heeeeuh, sebel. udah lama-lama, gak dapet pula bukunya. Jadi ingat, ternyata saya belum makan berat setelah olahraga yang berat. Saya pusing, lalu pulang, makan, tidur….

Saya dibangunkan oleh telepon Spitod , main game, lalu tidur lagi

Hilang deh semangat untuk belajar.

Kalau sudah segar, saya belajar.

Sekarang mau istirahat dulu, main…