Institutionalized

Tinggalkan komentar

” These walls are funny. First you hate ’em, then you get used to ’em. Enough time passes, you get so you depend on them. That’s institutionalized.  “

Red, Shawshank Redemption.

Lucky enough, i managed to complete my study in one of the most prestigious institution in Indonesia. After four years of study, including a lot of exams, organization activities, and campus talks : finally i feel really grateful and must admit how much i love that place.

Living in an intelligent and savvy environment, while  also nurtured by my parents nearby, really gives me an exceptional four year. Generation chief of an student unit, committee division chief, writer of a magazine, director of a mini market, and a lot another mesmerizing and disheartening experience that i through in last four are really unforgetable.

However, i feel that this institution have became a sort of institution that makes me become something else : an institutionalized man. In this case, a person who came from my institution, typically will pursue a career as multinational company employee (sorry i don’t include any data about this. this is merely based on my own observation and talks in my campus, but you can google : those facts are real 🙂 ).

Becoming an employee itself is not bad, they have facilities, a lot of learning experience, and of course salary 🙂 .  But, as one of the most prestigious institution with a lot of history and influence in last few decades, i think we have to expect something more. I personally think that ‘the institution’ have to be a symbol that will shake its student to look at the problems neighboring them.

Furthermore, i believe that we cannot solve a lot problems around us by becoming an multinational company’s employee. Okay, maybe we can solve our own & families problems,  but i am certain that we cannot give huge impact to society while working as employee in a corporation.

In a simple word i can say that my institution way of educating its student is like this

student -> institution -> fresh graduate ready for industry.

I am convinced that this way of education is not the way of education of my institution in mid-70’s-80’s. Back then, failed in a subject is quite common, and students take more time to explore themselves in the institution : creating a start-up corporation, active in a party, or even actively doing science research. So, after those student graduated from so-called institution, some of them already know what they will pursue in life.

Right now, there’s too much pressure to complete education. We have to complete study in six year. Those rules really squeeze a lot of students extracurricular activities. As a result, students tend to avoid an extra activities, means they will pass the opportunity to hone their communication, organization, and people skills. While in the other hand, not all students have the people skills necessary when they started their study in university. It is the institution’s task to enhance their skills, both in our outside of the class.

In the other hand, this institution managed to produce a lot of amazing person, they are world/local champions in business plan competition, robot competition, etc. That proves that even a decent person can sparks in an indecent environment.

Obviously, this institution need to improve from an indecent institution to an institution that escalates an ordinary person to a impact creator. The rector have a very-very heavy task. The institution must be the home of society that, in that place, boost its student capability like what was written on plaza widya nusantara.

This place was named “Plaza Widya Nusantara” ,

so that this campus will be a place where people gain knowledge, learn about science, art and technology.

so that this campus will be a place to ask, and there should be answered.

so that its campus life is to build character and personality.

so that its alumni not only be the pioneer of development, but also the pioneer of national unity.

Bandung, December 28th 1996

Prof. Wiranto Arismunandar

Iklan

Hari ini

2 Komentar

Hari ini, saya cukup lelah nih. Lelah, tapi puas (jangan mikir macem-macem yak). Kelelahan yang seperti ini sudah lama tidak saya rasakan.

Kali ini, bukan kelelahan yang disebabkan berlari men-dribble bola lalu memasukkan bola ke gawang, tapi karena seharian berinteraksi dengan adik-adik kelas !!!

Dimulai dari pagi hari ketika secara tidak sengaja diminta untuk jadi moderator dadakan di acara pengenalan himpunan pada mahasiswa baru STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika). Ketika saya melihat mahasiswa-mahasiswi barunya, wuihh… matanya banyak yang berbinar, menaruh banyak harapan pada kampus itb yang sedang mereka masuki. Saya hanya bisa berharap, semua harapan itu dapat terjaga, dan semakin kuat begitu memasuki kehidupan kampus.

Selanjutnya, setelah jum’atan adalah waktunya untuk menjadi trainer SSDK (Strategi Sukses di Kampus).

Kesan pertama saya memasuki kelas : panas euy, haha. Sudah waktunya ITB memasang AC di semua ruangan kelas.

I love the class! Ceweknya cantik-cantik, cowoknya juga ganteng-ganteng.. Tapi di atas itu semua, hal yang membuat saya senang adalah sebagian besar dari mereka ingin belajar. Selalu ingin menjadi lebih baik. Yah… Meskipun gak semuanya sih, saya hanya bisa berharap saya bisa menyentuh isi hati mereka yang paling dalam dan menyalakan sedikit api semangat di dalamnya.

Kesan yang diberikan oleh peserta juga lucu-lucu. I love it.

Tapi, di atas itu semua, saya harap peserta yang mengikuti kelas saya, maupun kelas lainnya dapat memahami apa yang ingin disampaikan kepada mereka. Kita harus menyadari bahwa kita telah dianugerahi senjata terhebat di dunia, yakni kebebasan untuk memilih. (ayo inget2 yaaa… dari buku 7th habits, saya sepakat dengan teori ini)

Kebebasan memilih tersebut, harus digunakan untuk mengikuti dorongan hati. Gak usah takut hati mikir macem-macem, hati itu tulus dan dapat dipercaya. Inget ya, ketika saya bilang dorongan hati, itu beda dengan bisikan setan ataupun hawa nafsu. Dorongan hati itu adalah teriakan keinginan dari hati kalian tentang apa yang benar-benar ingin kalian lakukan dalam hidup. Dengan hidup mengikuti hati kalian yang tulus, maka kita gak akan pernah menyesal dalam hidup ini. Apapun yang kita lakukan. Sepakat?

Nice day, semoga hari ini dapat membuat orang-orang yang lebih baik : baik itu diri saya sendiri, maupun orang lain.

Foto menyusul yak… haha.

Kenapa EL (Elektro)?

5 Komentar

“ Pilih EL saja, hihihi… Kabur, “

Irvan 132, my friend in blogosphere

Pada awalnya, seperti anak-anak pada umumnya, saya yang berumur 15 tahun (Masih SMA) menganggap programmer sebagai profesi yang keren (kamu juga?). Bisa bekerja freelance, bisa berkeliaran bebas seperti kuda liar [weleh…]. Plus, dunia IT merupakan dunia yang sangat-sangat menarik karena perkembangan yang terjadi di dunia ini sangatlah pesat.

Sampai akhirnya pada akhir kelas 3 SMA, saya melihat dunia informatika yang sebenarnya : algoritma, coding, math, logic. Itulah “jeroan-nya” programmer. Merasa tidak tega pada otak cocok dengan hal tersebut, akhirnya saya hunting jurusan lain yang akan saya masuki.

Sempat bingung antara teknik industri dengan teknik elektro, akhirnya saya memutuskan untuk memilih STEI, karena ada teknik elektronya. Nah di sini masalah kembali muncul ketika saya kuliah di STEI, ternyata …

Jeroannya EL (elektro) juga sama aja!!! Cacing integral, bilangan complex, persamaan diferensial, membuat saya merasa bahwa dunia IF (informatika) lebih ringan. Akhirnya saya membayangkan jika saya masuk ke jurusan tertentu.

Kayaknya kalau masuk IF jadi:

Ngerjain tugas sampai malem

Kurang tidur

Hidup untuk tugas dan tidur

Kalau masuk EL, saya akan bernasib seperti orang-orang berikut :

tidur

Tidur di kelas

Kebanyakan tidur

Hidup untuk tidur dan tidur

Bukan, bukan, itu sih bayangan si pemalas, tentunya saya membayangkan bidang apa yang akan saya tekuni kalau masuk jurusan tertentu. Keunggulan, serta kekurangan masing-masing jurusan. Hasil dari pertapaan saya menghasilkan bahwa elektro lebih baik (bagi saya), kenapa?

1. Hampir semua energi dikonversi menjadi listrik, karena listrik mudah digunakan dan ditransmisikan

Dengan demikian, tentunya semua orang membutuhkan listrik, dan saya pun jadi dibutuhkan (hehe)

2. Indonesia krisis listrik

Meskipun belum terbayang akan membantu negeri ini dengan jalan apa, saya pikir saya dapat membantu negeri ini dengan masuk jurusan ini (halah gombal)

3. Banyak Cabangnya!

Tidak seperti di Informatika yang tidak mempunyai cabang ilmu, teknik elektro punya enam sub-jurusan, yakni power engineering, telecommunication engineering, biomedical engineering, computer engineering, control engineering ( teknik kendali ?), dan teknik elektro (aneh juga ya, teknik elektro dalam teknik elektro).

4. EL udah banyak yang sukses

Cari aja deh, banyak sih lulusan EL yang udah jadi direktur macem-macem perusahaan, tapi saya pikir ini hanya karena usia EL yang udah tua, sementara IF baru aja ultah yang ke 25

5. “Anak EL bisa belajar IF, IF belum tentu bisa belajar EL”. Kata orang

“Sok tau kamu, belajar aja belum.” Kata saya.

6. Anak IF antisosial

“Awas lo ngatain kakak gue antisosial.” Kata saya.

[ Mengisi Stand] Edufair di SMAN 5 Bandung

5 Komentar

Senang rasanya bisa kembali ke tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun, yakni SMA Negeri 5 Bandung. Saya kembali dalam rangka mengisi acara Edufair, yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Acara Edufair ini sendiri [menurut saya] terbagi menjadi tiga jenis, yakni panggung hiburan, kelas presentasi, dan stan-stan yang disewakan.

Nah, unit yang saya masuki, yakni Kokesma ITB [Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa ITB], mengisi stan pada acara Edufair tersebut. Selain stan yang kami tempati, juga ada stan yang dihuni oleh perwakilan dari Prasetya Mulya Business School, STPDN/IPDN, UPI, UNPAR, Polban, Widyatama, STAN, U.K. Maranatha, STIE, dll. [banyak sekali, sampai lupa]

Karena saya merupakan orang yang cukup populer sewaktu SMA, ternyata adik-adik kelas [bukan hanya kelas XII, namun juga kelas X dan XI] tidak malu untuk mendatangi stan kami dan bertanya tentang segala sesuatu tentang ITB. Bahkan, kami cukup kewalahan ketika banyak sekali orang yang mengerumuni stan kami untuk menanyakan banyak hal. Brosur yang telah kami siapkan pun telah ludes sebelum tengah hari.

Ternyata, kembali sebagai seorang sosok yang bisa diteladani ternyata cukup menyenangkan. Saya bisa nostalgia & mengobrol [dengan adik kelas yang cantik-cantik, maklum di kampusku kering], berbagi pengalaman [meski belum banyak], memompakan motivasi [ke siswa kelas tiga], menjadi SPG [mempromosikan suatu hal, dalam hal ini kampus ITB], bertemu guru [yang dulu saya maki-maki di kelas], bertemu guru [yang saya cintai karena gaya mengajarnya].

Overall, saya cukup puas dengan minat yang ditunjukkan oleh adik-adik kelas saya. Semoga Edufair semakin sukses di tahun-tahun berikutnya. Semoga dinasti SMAN 5 Bandung terus menjadi dinasti yang kokoh, tidak melupakan motto : “Lima besar karena kebersamaan.”.

Selalu menyenangkan kembali ke tempat yang kita cintai!

*mohon maaf tidak ada media foto sebagai bukti, hihi…