Kapan ya sumber daya Indonesia habis?

Tinggalkan komentar

Oke, jadi ceritanya negeriku Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berkembang ekonominya. sampai-sampai tahun lalu dapat predikat ‘best after china’. Ada banyak sekali faktor yang mendukung pertumbuhan itu. Saat ini, saya ingin mengarahkan fokus kita ke faktor energi.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pasti didukung juga oleh asupan energi yang baik. Negeri kita didominasi oleh 4 jenis asupan energi utama, yakni minyak, gas alam, batu bara, dan biomassa. Mayoritas dari energi tersebut adalah bahan bakar fosil, yang jelas akan habis suatu saat. Pertanyaan besarnya adalah kapan sumber daya ini akan habis, dengan cara kita mengeksploitasi dan menggunakannya seperti sekarang. Mari kita hitung saja secara simpel dan sederhana.

  • Minyak : Indonesia miskin akan minyak bumi. Cadangan proven reserve kita hanya 0.3% dari proven reserve dunia. Dengan proven reserve 4.3 miliar barel minyak, dan mengingat di 2009 kita memproduksi minyak (dan kondensat) sebanyak 350 juta barel minyak. Dengan matematika sederhana, sudah jelas kita akan kesulitan mendapatkan minyak (dengan harga wajar) dari tanah air kita dalam waktu kurang dari 15 tahun. Sebagai pembanding, Saudi Arabia punya proven reserve lebih dari 100 tahun.
  • Gas alam : Indonesia dapat ranking 11 di dunia untuk proven reserve natural gas (dengan 1.7% proven reserve di tahun 2009). Menghitung dengan cara yang mirip seperti poin sebelumnya, kita bisa melihat bahwa gas alam dari bumi kita bisa dinikmati selama kira-kira 50 tahun.
  • Biomassa : Untuk kasus indonesia, yang dimaksud biomassa adalah kayu bakar. Banyak sekali masyarakat yang menggunakan kayu bakar untuk mendapatkan energi. Bisa diasumsikan hutan adalah energi yang terbarukan, sehingga kita bisa katakan energi ini akan ada untuk waktu yang sangat panjang. 
  • Batu bara : Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar di dunia, meskipun hanya punya sekitar 0.5% dari proven reserve batu bara dunia. Dengan laju ekspor seperti sekarang, batu bara akan bertahan selama sekitar 80 tahun.

Sedikit pandangan pribadi untuk hasil perhitungan di atas.

  • Minyak : Jelas cadangan minyak akan habis, dan akan habis secara cepat. Kelak, kita pasti akan mengimpor minyak lebih banyak lagi, tapi tentu saja saat itu harga minyak 80 dollar/ barel sudah tidak akan ada lagi di dunia ini. Implikasinya banyak sekali, kemungkinan adalah kelak pemerintah pun pasti sudah tak sudi dan tak mampu mensubsidi BBM. 
  • Gas alam : Gas alam adalah alternatif minyak yang lebih bersih, dan syukur kita punya lebih banyak. Tapi lambat laun nasibnya akan mirip seperti minyak.
  • Biomassa : Masyarakat yang sudah mengenal migas, serta teknologi yang menggunakan energi dari migas, rasa-rasanya akan sulit untuk kembali mengandalkan kayu bakar. Di sisi lain, progress untuk mengembangkan biomassa yang modern (biogas, biofuel, dsb) masih sangat minim. Padahal bisa jadi biomassa modern adalah salah satu jalan keluar kita.
  • Batu bara : Entah kenapa dengan cadangan yang sangat sedikit (relatif dengan china yang punya 50x cadangan batu bara kita), kita malah pol-polan menggaruk bumi dan mencari batu bara. Mungkin niat kita sebenarnya baik, untuk mendorong ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Tapi ini seperti mengulang kejadian masa silam di tahun 70an, saat kita merasakan booming eksplorasi migas. Saat ini,40 tahun dari kejadian itu, toh kita sadar kalo kita miskin migas.

Tulisan ini akan saya akhiri tanpa kesimpulan. Hal yang muncul hanyalah banyak pertanyaan lain. Mari kita simpan untuk lain kesempatan.

Implikasi Demokrasi Indonesia

Tinggalkan komentar

Sudah satu dekade lebih ‘kita’ setuju untuk menjadi sebuah negara demokrasi. Saat ini, demokrasi kita luar biasa. Menurut Amerika Serikat, kita sukses besar. Menurut saya, demokrasi kita sukses besar juga. Sukses besar dalam melayani pihak asing memanfaatkan sumber daya kita. Bagaimana tidak, kita memang sangat baik dalam urusan luar negeri. Tak heran banyak bangsa asing yang senang dengan bangsa kita. “Orang Indonesia ramah-ramah” sangatlah sering kita dengar.

Sampai satu hal yang sangat penting pun, misalnya ketahanan energi, kita sangat fleksibel dan ramah. Sangat ramah sekali, bahkan. Ingin menjaga ‘harkat’ demokrasi, kita berusaha menghindari jauh-jauh pengalaman menjadi bangsa totaliter di masa lalu. Artinya kita menjauhi juga hal yang berkaitan dengan pemerintah totaliter. Jadi, yang namanya pengambilalihan properti pribadi ataupun aset asing sangat dihindari. Meskipun hal tersebut merugikan negara. Di dalam pikiran kita, tidak menghormati kontrak adalah ciri negara totaliter. Kita sangat takut, jika kita melakukan hal tersebut, kita dicap menjadi negara totaliter lagi.

Kontrak-kontrak seperti gas tangguh jaman megawati yang merugikan negara, pun kita hormati. Sebagai negara, kita tidak akan berani untuk mempersoalkan kontrak tersebut. Walhasil kita hanya bisa merayu dan memohon pada RRC untuk melakukan rembukan. Presiden pun pasti terpikir masalah ini, dan memang pernah melakukan ‘renegosiasi’ kontrak itu. Hasilnya? Berhasil naik. Tapi sangat sedikit sekali.

Memang, kesannya negara kita lemah sekali. Tapi inilah implikasi dari negara demokrasi pancasila. Kita akan makin sedih sekali kalau membayangkan, jika gas tersebut dijual dengan harga pasar, maka kita akan untung ratusan trilyun. Dengan keuntungan itu, ribut-ribut subsidi BBM seperti yang terjadi sekarang tidak akan terjadi. Selama menjadi negara demokrasi pancasila, penyesalan itu mesti kita pendam dalam-dalam. Sekaligus berharap kontrak-kontrak blunder seperti itu tidak terjadi lagi.

Implikasi lain yang kita peroleh adalah media massa. Pemerintah sendiri bisa dibilang tidak memiliki televisi. Bahkan TVRI sekalipun. Ini merupakan implikasi dari demokrasi kita. Sebagai hasilnya, pemerintah pun dihajar oleh TV-TV swasta itu. Rakyat pun dihajar dengan berita-berita yang menunjukkan seolah-olah negara kita akan bubar esok hari. Depresif mungkin. Tapi inilah negara kita dengan demokrasi pancasila. Masih ada sisi positifnya memang : kita diberi peluang untuk mempelajari realitas media, realitas tv, dan realitas kehidupan kita.

Melalui demokrasi, rakyat semua terlibat dalam pemerintahan. Memang itulah tujuan utama dari demokrasi : kesetaraan rakyat.

Melalui demokrasi pancasila, rakyat setara dan bebas memilih siapa yang akan mewakilinya. Apakah ingin memilih pemimpin yang moderat, pemimpin yang sangat ramah pada pihak asing, ataupun pemimpin yang tidak dinginkannya sekalipun.

#mohon maaf untuk sedikit post yang sedikit depresif, kita butuh yang seperti ini kadang-kadang. minggu depan saya akan menulis yang positif 😀