Wisudaan

6 Komentar

Ada salah satu momen di kampusku yang ditunggu-tunggu oleh banyak mahasiswa, terutama mahasiswa yang akan lulus dan menamatkan jenjang pendidikan formalnya. Momen itu adalah wisudaan, yang di dalamnya berbagai rangkaian acara yang bisa dibilang jadi momen dan peresmian kelulusan, sebelum nantinya lulusan kampusku bisa mengaplikasikan pengetahuannya, ataupun belajar lebih dalam lagi di universitas/kampus lain.

Kalau di jurusanku sendiri, ada beberapa tradisi yang mesti dilakukan oleh mahasiswa junior untuk merayakan kelulusan seniornya. Dimulai dari acara malam wisudaan, yang di dalamnya ada berbagai rangkaian acara yang intinya untuk mengapresiasi, menghibur, serta menciptakan momen dan memori terakhir wisudawan di kampus, semacam prom night, tetapi muatan acaranya disesuaikan dengan status mahasiswa, isinya gak hura-hura aja.

Kemudian, ada juga yang namanya arak-arakan (bukan arak miras ini ya, diarak jalan beriringan maksudnya, tapi wisudawan ada di atas kendaraan gitu). Di arak-arakan ini, wisudawan diarak oleh junior-juniornya. Kalau dulu mungkin bisa diarak keliling bandung, beberapa dekade ke belakang, wisudawan sempat diarak keliling ITB aja. Namun, berhubung jaman udah berubah dan bandung pun udah gampang macet, sekarang arak-arakan cuma dilakukan mengelilingi lapangan bola sasana budaya ganesa. Melihat kecenderungan jarak arak-arakan yang semakin kecil dari zaman ke zaman, bukan gak mungkin arak-arakan nanti ga ada 😦

Setelah diarak, ada lagi acara ramah tamah dengan dosen dan civitas akademik fakultas. Biasanya di sini ada pemberian selamat ataupun hujatan untuk mahasiswa yang terlalu pinter atau terlalu bego. (Meskipun biasanya lebih banyak hujatannya :D)

Ada dua acara yang paling ditunggu junior di wisudaan, yang pertama adalah acara nyetrum seniornya. Sudah merupakan tradisi anak elektro kalau lulus bakal disetrum. Wah.. seneng semua kan junior bisa ngebales seniornya waktu diospek dulu. Maka diaturlah spesifikasi genset agar bisa menghasilkan tegangan yang bisa menyiksa seniornya tapi gak akan bikin seniornya kejang-kejang terus mati. Tapi anehnya wisudawan rata-rata malah seneng disetrum, wah junior pun memikir otak untuk membuat suatu acara lagi yang bisa ‘ngerjain’ seniornya.

Muncullah acara berikutnya, yakni perang air. Para junior mempersiapkan air dalam kantong plastik untuk melempari para wisudawan. Untuk wisudawan juga disediakan kanong-kantong air, ya biar adil dan seru. Airnya bisa macem-macem dari yang bening sampai yang berwarna, baunya juga ada yang biasa aja, ada juga yang gak karuan baunya. Berasa jadi anak kecil lagi kalau lagi main yang namanya perang air ini deh semua orang.. hehehe. Meskipun demikian, perang air ini menuai berbagai kontroversi, selain karena bikin orang lain ngiri pingin ikut, tapi juga karena acara ini menggunakan banyak sekali kantong plastik, yang jelas-jelas ditentang greenpeace dan pecinta lingkungan hidup lainnya.

Saat ini wisudaan mungkin bentuknya akan berubah lagi, mengikuti perkembangan zaman, keinginan mahasiswa, dan kebijakan rektor. Sekarang, saya juga gak tau wisudaan sekarang bakal kayak gimana, mungkin karena saya udah terlalu tua untuk mengurus wisudaan. (sementara di sisi lain belum bisa jadi wisudawan.. hehe)

Semoga bisa lulus juli 2011 ! amin

Iklan

Kenapa EL (Elektro)?

5 Komentar

“ Pilih EL saja, hihihi… Kabur, “

Irvan 132, my friend in blogosphere

Pada awalnya, seperti anak-anak pada umumnya, saya yang berumur 15 tahun (Masih SMA) menganggap programmer sebagai profesi yang keren (kamu juga?). Bisa bekerja freelance, bisa berkeliaran bebas seperti kuda liar [weleh…]. Plus, dunia IT merupakan dunia yang sangat-sangat menarik karena perkembangan yang terjadi di dunia ini sangatlah pesat.

Sampai akhirnya pada akhir kelas 3 SMA, saya melihat dunia informatika yang sebenarnya : algoritma, coding, math, logic. Itulah “jeroan-nya” programmer. Merasa tidak tega pada otak cocok dengan hal tersebut, akhirnya saya hunting jurusan lain yang akan saya masuki.

Sempat bingung antara teknik industri dengan teknik elektro, akhirnya saya memutuskan untuk memilih STEI, karena ada teknik elektronya. Nah di sini masalah kembali muncul ketika saya kuliah di STEI, ternyata …

Jeroannya EL (elektro) juga sama aja!!! Cacing integral, bilangan complex, persamaan diferensial, membuat saya merasa bahwa dunia IF (informatika) lebih ringan. Akhirnya saya membayangkan jika saya masuk ke jurusan tertentu.

Kayaknya kalau masuk IF jadi:

Ngerjain tugas sampai malem

Kurang tidur

Hidup untuk tugas dan tidur

Kalau masuk EL, saya akan bernasib seperti orang-orang berikut :

tidur

Tidur di kelas

Kebanyakan tidur

Hidup untuk tidur dan tidur

Bukan, bukan, itu sih bayangan si pemalas, tentunya saya membayangkan bidang apa yang akan saya tekuni kalau masuk jurusan tertentu. Keunggulan, serta kekurangan masing-masing jurusan. Hasil dari pertapaan saya menghasilkan bahwa elektro lebih baik (bagi saya), kenapa?

1. Hampir semua energi dikonversi menjadi listrik, karena listrik mudah digunakan dan ditransmisikan

Dengan demikian, tentunya semua orang membutuhkan listrik, dan saya pun jadi dibutuhkan (hehe)

2. Indonesia krisis listrik

Meskipun belum terbayang akan membantu negeri ini dengan jalan apa, saya pikir saya dapat membantu negeri ini dengan masuk jurusan ini (halah gombal)

3. Banyak Cabangnya!

Tidak seperti di Informatika yang tidak mempunyai cabang ilmu, teknik elektro punya enam sub-jurusan, yakni power engineering, telecommunication engineering, biomedical engineering, computer engineering, control engineering ( teknik kendali ?), dan teknik elektro (aneh juga ya, teknik elektro dalam teknik elektro).

4. EL udah banyak yang sukses

Cari aja deh, banyak sih lulusan EL yang udah jadi direktur macem-macem perusahaan, tapi saya pikir ini hanya karena usia EL yang udah tua, sementara IF baru aja ultah yang ke 25

5. “Anak EL bisa belajar IF, IF belum tentu bisa belajar EL”. Kata orang

“Sok tau kamu, belajar aja belum.” Kata saya.

6. Anak IF antisosial

“Awas lo ngatain kakak gue antisosial.” Kata saya.