Harga

2 Komentar

Kalau dipikir-pikir, berapa biaya yang udah dikeluarin sampai detik kehidupan kita yang sekarang ya?

Dari kecil, kita dirawat dengan menggunakan duit orang tua. Dimulai dari biaya  rutin seperti transportasi, makan, pakaian, dsb. Kemudian, ada juga biaya untuk pendidikan. Belum lagi, akan ada biaya lagi yang keluar bila kita sakit. Kadang-kadang juga suka ngeyel,  minta duit ke orang tua : merengek-rengek untuk dibelikan sesuatu.

Biaya-biaya tersebut adalah hal yang materiil. Biaya berupa harta yang dikeluarkan orangtua untuk membesarkan kita. Dalam kasus ini, setiap anak belum tentu mendapatkan investasi berupa biaya dengan jumlah yang sama. Jadi, biaya diri kita hingga detik ini bisa saja sangat jauh berbeda.

Janganlah berkecil hati bila biaya yang dikeluarkan untuk diri kita masih kecil. Janganlah juga berbesar kepala bila telah merasa berbiaya mahal. Besar kecilnya biaya diri kita belum tentu menghasilkan ‘harga’ diri yang besar.

Seperti apa ‘harga’ diri kita? Mari kita ukur..

Seperti apa kita memperlakukan orang tua? Apakah hormat..? atau tidak sopan?.. semakin lancang diri kita tentunya maka diri kita akan semakin murah

Seperti apa kita memperlakukan orang yang kita kenal?…(kawan kampus, rekan kerja, bos di kantor, saudara)

Seperti apa kita memperlakukan orang yang kita tidak kenal?… (office boy, cleaning service, satpam, supir bus,dsb)

Seperti apa sikap kita ketika mengalami hari yang membosankan?…

Seperti apa kita memperlakukan ilmu dan pengetahuan…? Selalu penasarankah kita…?

Seperti apa sikap kita ketika diberi musibah?… Apakah mengeluh terus, atau bersabar…?

Bagaimana kita mengekspresikan kegembiraan?… Apakah perlu semakin narsis dengan pencapaian?..

Apa yang kita lakukan ketika melihat aib orang..? Perlu di-tweet kah?..

Bagaimana juga, kita bersikap atas kepercayaan kita…?

sebenarnya masih banyak pertanyaan lain untuk mengukur harga diri kita sendiri…

dengan mengetahui ‘harga’ diri kita… kita bisa mengetahui… layakkah kita bangga dan senang atas pencapaian dan prestasi diri kita sendiri..?

Jawabannya… tentu saja tidak.

Sebenarnya kita sangat beruntung karena Tuhan akan selalu menutupi sebagian dari aib kita… sehingga kita akan selalu nampak lebih mahal dari harga kita yang semestinya, di depan makhluk yang lainnya…

Tidur sedikit?

Tinggalkan komentar

Banyak sekali kawan-kawan saya dulu yang waktu mahasiswanya gemar sekali begadang. Entah itu begadang untuk main game, mengerjakan tugas yang semakin dekat deadline, ataupun hanya iseng-iseng begadang untuk mengoprek sebuah alat.

Mungkin memang benar, tidur sedikit dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Kadang-kadang, begadang juga membuat kita gak bisa fokus di kegiatan esok harinya. Tapi saya sekarang tidak ingin membahas pengaruh buruk dari begadang. Ternyata ada kabar gembira untuk orang yang tidurnya kurang, jika kita mau melihat sedikit tokoh-tokoh dari generasi sebelum kita yang hobinya juga begadang.

Untuk semua mahasiswa/i yang gemar begadang dan tidur sedikit demi menciptakan sebuah karya, berbahagialah.  Berarti anda semua telah mengikuti jejak leonardo da vinci, thomas edison, nikola tesla, napoleon bonaparte, dan banyak tokoh dunia lainnya.

Salah satu inventor dan penghasil karya terhebat (menurut saya), nikola tesla, bahkan bisa begadang hingga 84 jam di labnya tanpa istirahat ataupun tidur. Selain tesla, ada juga penemu hebat lainnya : thomas edison yang gemar begadang berhari-hari untuk menyalurkan ide-idenya.

Apa yang membuat mereka semua kuat tidak tidur berhari-hari? saya rasa kutipan tesla berikut dapat menjelaskan..

“I do not think there is any thrill that can go through the human heart like that felt by the inventor as he sees some creation of the brain unfolding to success… Such emotions make a man forget food, sleep, friends, love, everything.”

~ Nikola Tesla

selamat begadang!

Berdoa…

Tinggalkan komentar

Saya adalah orang yang jarang berdoa (jika definisi berdoa adalah menengadahkan tangan sambil meminta sesuatu ke tuhan). Alasannya, kok saya merasa manja sekali kalau ada apa-apa langsung berdoa. Seolah-olah Tuhan nggak ngasih macam-macam tools dan kesempatan ke kita saja.

Saya takut, kalau sedikit-sedikit langsung berdoa, bisa-bisa dicibir oleh para setan (karena malaikat mana mungkin mencibir manusia): “Lihat nih makhluk yang satu ini, kalau ada maunya aja banyak berdoa. Padahal usaha aja baru sedikit.”

Tapi dengan keadaan jarang berdoa juga, saya punya kekhawatiran. Setan lagi-lagi bisa mencibir : “Sombong bener nih makhluk, berdoa cuma dua kali sehari. Pas bangun tidur dan mau tidur doang!”

Wah… serba salah memang. Semoga saja, jarangnya saya berdoa bukan merupakan wujud sebuah sikap sombong. Saya hanya merasa tidak pantas untuk banyak meminta kepada Tuhan. Sudah banyak sekali karunia yang diberikan hingga detik ini. Sayang sekali jika semua karunia itu tidak dimanfaatkan hanya karena kita sibuk untuk meminta lebih.

Sedikit berdoa, belum tentu sedikit mengingat Tuhan, ataupun sedikit bersyukur. Yang namanya mengingat Tuhan dan bersyukur mesti diperbanyak! Kalau kata cak nur, wujud dari rasa syukur yang paling tinggi adalah kerja keras. Jadi artinya kalau masih males malesan bin ngantukan, artinya kita belum bersyukur.

~ ditulis sambil menunggu tengah hari

Pohon Inovasi dan Kreativitas Belanda

6 Komentar

Belanda merupakan negara yang sangat kreatif dan inovatif. Di negeri kincir angin ini, banyak sekali ide segar bermunculan. Di masa lalu, Belanda membuat tanah rendah (Nederland) yang semula berada di bawah permukaan laut menjadi daratan yang dapat ditinggali. Kini, kita semua tahu Philips: perusahaan raksasa penghasil produk elektronik, perangkat pencahayaan, dan peralatan medis terkemuka di dunia. Saking banyaknya karya inovatif yang diciptakan, membuat the Netherlands seperti sudah terbiasa untuk menghasilkan ide-ide yang brilian.

Telah menjadi 10 besar negara terinovatif[1], tidak membuat Belanda berpuas diri. Pohon-pohon penghasil ide dan inovasi terus ditanam untuk menghasilkan banyak buah karya yang segar. Untuk memastikan buah-buah itu memiliki rasa yang istimewa, bangsa Belanda memiliki caranya tersendiri. Yaitu, dengan membina hubungan yang mesra antara universitas, industri dan pemerintah Belanda. Hubungan inilah yang menciptakan lingkungan ideal agar pohon-pohon ide dan inovasi dapat tumbuh dengan subur.

Baru-baru ini, komitmen hubungan tersebut kembali ditunjukkan. Philips mengumumkan sebuah hubungan kerjasama dengan beberapa universitas di Belanda. Kerjasama tersebut berupa pengembangkan inovasi produk di perangkat kesehatan [2]. Dengan cara ini, bibit-bibit ide dan pemikiran yang berseliweran di universitas dapat ditanamkan pada sebuah tanah yang luas dan gembur. Tanah subur ini lah yang disediakan oleh pemerintah Belanda, sementara pihak industri bertugas untuk menyiram dan memupuknya agar tetap subur.

Ide-ide yang berseliweran di universitas tentu saja tidak serta merta muncul. Butuh proses panjang agar bibit-bibit unggul bermunculan. Sepanjang studi, para pelajar ditempa di kelas-kelas sains dan teknologi untuk mendapatkan landasan pemikiran sesuai bidangnya. Tentu saja ini tidak cukup. Oleh karena itu, pelajar kembali dibekali dengan pengetahuan praktis melalui kisah-kisah nyata yang diberikan oleh pengajar tamu di kelas entrepreneurship. Kelas-kelas tambahan ini lah yang berhasil mengajak banyak pelajar untuk memikirkan inovasi teknologi yang tepat guna (dan tentu saja harus bisa dibisniskan!).

Aspek pendanaan seringkali menjadi momok dalam mewujudkan sebuah inovasi. Di Belanda, kita tidak perlu khawatir dengan hal klasik ini. Banyak, banyak, banyak sekali saluran pendanaan yang dapat diperoleh di belanda. Dari pihak universitas sendiri, banyak bantuan yang diberikan, baik berupa dukungan infrastruktur canggih ataupun pendanaan awal [3]. Selain itu, seorang profesor juga dapat memberikan saluran pendanaan tertentu melalui kerjasama dengan industri.

Dukungan pemerintah Belanda untuk ide-ide dari universitas sangatlah besar. Salah satu contohnya adalah STW Grant, yang nilainya dapat mencapai milyaran rupiah untuk sebuah rencana bisnis. Selain itu, banyak juga bantuan pendanaan dari berbagai organisasi serta innovation grant dari pihak bank di Belanda[4]. Tidak hanya masalah pendanaan, pemerintah Belanda juga gemar menciptakan iklim optimal untuk melakukan bisnis.  Semua aspek untuk menjalankan inovasi dan bisnis benar-benar dipertimbangkan. Tak heran, belanda menjadi negara terbaik kedua di dunia untuk melakukan bisnis![5]

Menurut Ir.Saputra, sebuah bangsa akan maju bila jumlah entrepreneur melebihi 2% dari jumlah penduduk[6]. Saat ini, persentase entrepreneur di belanda sudah lebih dari 4% dari jumlah penduduknya[7]. Sebagai negara unggul di bidang inovasi, Belanda sudah siap untuk melaju dengan kencang dengan negara-negara inovatif lainnya. Tentunya, kita  tak mau ketinggalan kan? Mari belajar banyak dari pohon inovasi dan kreativitas Belanda!

Sumber Informasi dan Contoh Program:

[1]http://www.insead.edu/media_relations/press_release/2011_global_innovation_index.cfm

[2]http://www.newscenter.philips.com/main/standard/news/press/2012/201204-leading-dutch-players-in-healthcare-and-technology-join-forces.wpd

[3]http://www.yesdelft.com

[4]http://www.stw.nl/Programmas/

[5]http://nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012/resources/ekonomi/belanda-negara-terbaik-kedua-di-dunia-sebagai-best-place-for-business

[6]http://www.tempo.co/read/news/2011/07/23/089347983/Ciputra-Indonesia-Butuh-Dua-Persen-Wirausahawan

[7]http://www.gemconsortium.org/docs/download/2244

Implikasi Demokrasi Indonesia

Tinggalkan komentar

Sudah satu dekade lebih ‘kita’ setuju untuk menjadi sebuah negara demokrasi. Saat ini, demokrasi kita luar biasa. Menurut Amerika Serikat, kita sukses besar. Menurut saya, demokrasi kita sukses besar juga. Sukses besar dalam melayani pihak asing memanfaatkan sumber daya kita. Bagaimana tidak, kita memang sangat baik dalam urusan luar negeri. Tak heran banyak bangsa asing yang senang dengan bangsa kita. “Orang Indonesia ramah-ramah” sangatlah sering kita dengar.

Sampai satu hal yang sangat penting pun, misalnya ketahanan energi, kita sangat fleksibel dan ramah. Sangat ramah sekali, bahkan. Ingin menjaga ‘harkat’ demokrasi, kita berusaha menghindari jauh-jauh pengalaman menjadi bangsa totaliter di masa lalu. Artinya kita menjauhi juga hal yang berkaitan dengan pemerintah totaliter. Jadi, yang namanya pengambilalihan properti pribadi ataupun aset asing sangat dihindari. Meskipun hal tersebut merugikan negara. Di dalam pikiran kita, tidak menghormati kontrak adalah ciri negara totaliter. Kita sangat takut, jika kita melakukan hal tersebut, kita dicap menjadi negara totaliter lagi.

Kontrak-kontrak seperti gas tangguh jaman megawati yang merugikan negara, pun kita hormati. Sebagai negara, kita tidak akan berani untuk mempersoalkan kontrak tersebut. Walhasil kita hanya bisa merayu dan memohon pada RRC untuk melakukan rembukan. Presiden pun pasti terpikir masalah ini, dan memang pernah melakukan ‘renegosiasi’ kontrak itu. Hasilnya? Berhasil naik. Tapi sangat sedikit sekali.

Memang, kesannya negara kita lemah sekali. Tapi inilah implikasi dari negara demokrasi pancasila. Kita akan makin sedih sekali kalau membayangkan, jika gas tersebut dijual dengan harga pasar, maka kita akan untung ratusan trilyun. Dengan keuntungan itu, ribut-ribut subsidi BBM seperti yang terjadi sekarang tidak akan terjadi. Selama menjadi negara demokrasi pancasila, penyesalan itu mesti kita pendam dalam-dalam. Sekaligus berharap kontrak-kontrak blunder seperti itu tidak terjadi lagi.

Implikasi lain yang kita peroleh adalah media massa. Pemerintah sendiri bisa dibilang tidak memiliki televisi. Bahkan TVRI sekalipun. Ini merupakan implikasi dari demokrasi kita. Sebagai hasilnya, pemerintah pun dihajar oleh TV-TV swasta itu. Rakyat pun dihajar dengan berita-berita yang menunjukkan seolah-olah negara kita akan bubar esok hari. Depresif mungkin. Tapi inilah negara kita dengan demokrasi pancasila. Masih ada sisi positifnya memang : kita diberi peluang untuk mempelajari realitas media, realitas tv, dan realitas kehidupan kita.

Melalui demokrasi, rakyat semua terlibat dalam pemerintahan. Memang itulah tujuan utama dari demokrasi : kesetaraan rakyat.

Melalui demokrasi pancasila, rakyat setara dan bebas memilih siapa yang akan mewakilinya. Apakah ingin memilih pemimpin yang moderat, pemimpin yang sangat ramah pada pihak asing, ataupun pemimpin yang tidak dinginkannya sekalipun.

#mohon maaf untuk sedikit post yang sedikit depresif, kita butuh yang seperti ini kadang-kadang. minggu depan saya akan menulis yang positif 😀

Fenomena Finlandia

3 Komentar

Selamat datang di Finlandia.

Ini adalah sebuah negara yang murid-muridnya memulai sekolah di usia yang relatif ‘tua’. Di sekolah, tidak banyak kelas yang perlu diambil, sehingga waktu sekolah pun lebih sedikit. Sangat jarang yang namanya PR dan ujian dari guru. Belum lagi, ada liburan 3 bulan di musim panas yang menanti.

Guru merupakan profesi yang diburu dan dihormati. Guru di sini bukanlah pekerjaan sampingan. Perlu gelar master (S2) dan bersaing dengan 1600 pelamar lainnya, untuk memperebutkan 160 tempat sebagai guru setiap tahunnya. Guru bertindak sebagai motivator dan innovator di kelas, dengan gaji yang sangat layak.

Sekolah di Finlandia memiliki kebebasan untuk menentukan kurikulumnya. Tentunya dengan sedikit panduan dan banyak kucuran dana dari pemerintah pusat. Setiap saat, sekolah dapat berinovasi dan mengimplementasikan pendidikan yang dianggap lebih baik, melalui ‘norma’ yang dibentuk oleh sesama guru yang menginginkan pendidikan terbaik untuk muridnya.

Tidak ada rangking. Tidak ada kesenjangan pencapaian prestasi. Namun negara ini memuncaki berbagai aspek kehidupan berdasarkan banyak survei.

Yang lebih hebatnya lagi, semua hal tersebut dicapai dengan pendidikan yang gratis!

Dalam film dokumenternya, Dr. Tony Wagner, Innovation Education Fellow – Harvard University, melakukan perjalanan untuk menjawab pertanyaan : apa yang menyebabkan sistem pendidikan swedia selalu menempati peringkat teratas dalam berbagai ukuran yang diterapkan berbagai lembaga internasional?

Di finlandia, umumnya murid memulai studinya di usia 7 tahun. Kemampuan sosial dipelajari di pre-school, dan kemampuan bahasa dipelajari di rumah. Tidak seperti di indonesia, suasana belajar di kelas pun sangat casual dan nyaman. Tidak ada seragam. Jumlah siswa di kelas pun sangat sedikit, selalu di bawah 20 murid.

Materi yang diajarkan di kelas pun sangat konseptual, memacu kreativitas, dan cara berpikir. Misalnya, di kelas-2, siswa diberi pengertian mengenai jenis-jenis sumber energi. Setelah beberapa minggu mendalami subjek tersebut, siswa diberikan studi kasus untuk membayangkan apa yang terjadi ketika listrik di rumah padam. Siswa diminta menggambar apa yang ada di pikirannya. Dengan cara ini, cara berpikir, kemampuan seni, serta studi kasus nyata diberikan dalam satu subjek studi.

Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui mimpinya lebih awal. Dalam film dokumenter ini, Wagner mewawancara siswa dari kelas 8 dan 9. Saat ditanyakan mimpinya, sudah banyak yang bisa menjawab. Mimpi-mimpi seperti menjadi animator disney, pemain es hoki, insinyur, hingga dokter pun bermunculan. Hal ini menunjukan kemampuan reasoning dan kemampuan bermimpi yang sudah berkembang.

Di kelas 9, kelas mengenai politik memperkenalkan secara interaktif, mengenai “siapa orang ini”, “dari kementrian apa orang ini”, dan “dari partai mana orang ini”. Dijelaskan juga mengenai DPR-nya Finlandia, kementrian-kementrian yang ada. Di kelas itu, diajukan studi kasus yang menarik. Para siswa ditunjukkan janji-janji yang diucapkan politisi tentang pendidikan seperti apa yang seharusnya mereka dapatkan. Kemudian, mereka diminta untuk menyatakan apakah janji-janji tersebut sudah tercapai.

Sejak dini, pengetahuan membangun konsep pun sudah dibangun. Misalnya, saat kelas 8, guru mengajak siswa untuk berusaha menemukan persamaan phytagoras. Semua ini dilakukan berdasarkan konsep pengajaran yang telah disusun oleh guru tersebut. Konsep pengajaran itu, sebelumnya telah juga didiskusikan dengan pengajar lain, untuk mendapatkan masukan ataupun memberikan ide konsep pengajaran yang baru. Dengan demikian, terbentuk sebuah ‘lingkaran’ evaluasi sesama guru yang benar-benar berdasarkan keinginan untuk mendorong pengajaran yang lebih baik.

Sistem pemberian tugas yang diberikan oleh guru pun cukup menarik. Misalnya, penggunaan perangkat teknologi informasi lebih ditekankan sebagai perangkat murid untuk mengerjakan tugas. Untuk murid yang mengambil tugas marketing, tugas mereka bisa saja melakukan riset marketing di facebook, ataupun mencari artikel-artikel marketing yang dapat menunjang tugas mereka. Dengan menaruh banyak tugas di jaringan internet, murid dan guru juga dapat berinteraksi untuk mendiskusikan tugas yang ada. Ada juga tugas yang diberikan saat entrepreneurship camp. Siswa dikelompokkan menjadi 5-7 orang, berada  di satu tempat yang sama selama 26 jam. Mereka ditugaskan untuk menghasilkan ide produk atau jasa dalam satu malam. (yap, satu malam membuat jasa dan produk. hal ini menekankan pentingnya kerjasama dalam tim, kemampuan inovasi, dan daya kreativitas untuk menghasilkan ide bisnis)

Siswa diwajibkan belajar hingga usia 16 tahun. Setelah itu, mereka dapat meneruskan studi untuk menjadi akademisi, ataupun mengikuti sekolah vocational (profesi).  Sekitar 45% memilih untuk mengikuti sekolah profesi. Setelah lulus pendidikan profesi, siswa SMK-nya Finlandia itu akan dapat langsung memasuki dunia kerja.

Di Finlandia, adalah penting untuk dapat menelusuri kemampuan diri sendiri. Tak jarang, di umur 11, ketika murid memperoleh hasil yang buruk di bidang eksakta, maka murid tersebut tidak akan diarahkan untuk menjadi akademisi. Tersedia jenis kelas-kelas lain yang lebih dianjurkan, apakah itu di bidang sosial, ataupun seni. Pokoknya, bidang yang lebih memungkinkan untuk menunjang karir yang lebih sesuai.

Apa yang melatarbelakangi pendidikan yang begitu maju itu? Padahal di tahun 1960 Finlandia hanyalah satu dari banyak negara miskin lainnya. Menurut film dokumenter tersebut, di saat itu, hal yang pertama dilakukan Finlandia adalah dengan membentuk comprehensive school. Ini adalah sekolah yang ditujukan untuk semua orang. Perlu waktu lima tahun untuk mendefinisikan bagaimana pendidikan yang seharusnya pada tahun 70an. Kemudian fase berikutnya adalah untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan untuk guru pada tahun 80an. Diperlukan pendidikan master untuk menjadi guru. Kemudian, dibutuhkan waktu 30 tahun untuk mencapai keadaan agar sistem pendidikan Finlandia menjadi seperti sekarang.

Waktu 30 tahun ini dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan. Pada tahun 1990an, sistem pendidikan terpusat Finlandia mempercayakan penyusunan kurikulum yang lebih mendetail pada daerah. Dengan pola pemikiran sama akibat dari pendidikan yang sama di tahun 1970, sebagian besar masyarakat di sana percaya bahwa pendidikan yang lebih baik adalah kunci masa depan Finlandia. Akibatnya, kepercayaan tersebut berbuah. Para pendidik di ruang kelas menjadi inovator yang terus mendorong untuk mencari cara terbaik untuk mengeluarkan potensi yang dimiliki oleh pelajar. Para pendidik pun bertukar ide, membuat sebuah lingkaran evaluasi untuk mencapai pendidikan yang lebih baik. Semuanya hanya berdasarkan kepercayaan yang diberikan dari otoritas yang lebih tinggi.

apa yg bisa dipelajari kita sebagai masyarakat Indonesia?

Baiklah, banyak hal yang membedakan Indonesia dengan Finlandia. Dimulai dari perbedaan budaya, perbedaan ukuran dan demografi, hingga banyak perbedaan lainnya. Menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah melihat Finlandia sebagai contoh utama dalam menerapkan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Di samping itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan

1. Pendidikan merupakan proses nomor 1 yang tidak boleh diganggu gugat oleh urusan apapun. Pendidikan ini bukan dalam arti sempit, namun dalam arti luas. Termasuk mengeksplorasi diri sendiri, cara berpikir, cara berimajinasi, menuliskan dan menggambarkan ide, kemampuan atletik dsb.

2. Butuh waktu panjang sekali untuk membuat transformasi pendidikan. Finlandia butuh 30 tahun sejak penerapan sistem pendidikan yang baru. Dimulai dari kesetaraan pendidikan, penerapan tujuan yang sama dengan politisi dan industri, serta pemberian rasa percaya yang tinggi.

3. Rasa kepercayaan yang tinggi diterapkan dengan menetapkan panduan kurikulum yang sedikit. Dengan demikian, siswa bisa fokus pada pengembangan diri : memilih proyek yang disukainya, mengembangkan kemampuan seni, ataupun langsung memilih untuk berkarir melalui pendidikan profesi

4. Kepercayaan yang tinggi juga diterapkan hingga tingkatan yang paling bawah. Sekolah bebas membuat kurikulum, dan murid pun dipercaya untuk melakukan apa yang sekolah inginkan. Penggunaan teknologi sangat dianjurkan, untuk membuat sebuah digital portofolio pengajar dan siswa. Pengajar dapat mempublikasikan metode pengajarannya, sementara siswa dapat mempublikasikan proyek-proyeknya.

5. Semua kepercayaan tersebut dibangun pada konsensus, yang menyatakan pendidikan adalah yang utama, dan merupakan sumber daya utama untuk Finlandia. Tidak ada lagi yang lain yang dapat menolong Finlandia selain Sumber Daya Manusia mereka sendiri

6. Pada akhirnya, Finlandia hingga kini pun belum puas. Masih banyak hal yang dapat dikerjakan. Mereka merasa bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam melakukan pengembangan potensi siswa. Fokus Finlandia berikutnya adalah menekankan lagi secara mendalam mengenai kemampuan reasoning, komunikasi, cara berpikir, imajinasi,  kemampuan bermimpi, dan kemampuan mendasar lainnya.

‘Doublethink’ di sekitar saya

4 Komentar

Dalam buku karangan George Orwell, 1984, muncul sebuah kata baru bernama doublethink. Pada dasarnya doublethink merupakan sikap untuk mempercayai kedua kepercayaan yang sebenarnya bertolak belakang. Kepercayaan yang dimaksud di sini bisa berbentuk ideologi sebuah negara, kesetiaan pada sebuah produk, sampai hal sederhana mengenai diri sendiri.

Kadang-kadang, kita sendiri tidak akan sadar bahwa kita telah menerapkan cara berpikir doublethink. Coba saja kita lihat kamar kita sendiri. Berapa banyak sih sebenarnya peralatan-peralatan yang kita miliki, namun sebenarnya hampir tidak pernah digunakan? Produk yag tidak memenuhi kebutuhan mendasar kita? Di sini di satu sisi kita percaya bahwa alat-alat tersebut memang tidak terlalu dibutuhkan. Namun ternyata toh kita beli juga, karena kita berpikir kita memerlukan alat itu!

*oke, sebenarnya saya juga punya sih barang-barang seperti itu 😦

Saya akan bilang bahwa kita telah menjadi konsumen dari marketing era kini. Serangan sinar-sinar video dari layar TV, iklan di HP, atau pernak-pernik yang digunakan di acara televisi, telah ‘menyerang’ alam bawah sadar kita. Kita telah terlatih, bahwa melihat segala sesuatu yang ada di televisi adalah normal. Adalah normal juga, kadang-kadang,ketika melihat sesuatu yang tidak biasa di TV atau berita, kita mengeluh, berkomentar, atau memaki-maki via twitter/FB.

Menurut orwell sendiri, doublethink didefinisikan merupakan :

” Untuk mengetahui dan tidak mengetahui di saat yang sama, (apatis terhadap politik lokal)

untuk menyadari kebenaran yang sesungguhnya ketika mengatakan kebohongan yang tersusun sedemikian rupa,

untuk mempercayai kedua pendapat yang sebenarnya bertolak belakang,

benar-benar tahu pendapat itu bertolak belakang, namun tetap percaya,

dengan menggunakan logika untuk melawan logika,

untuk menolak moralitas padahal mengaku bermoral,

untuk percaya bahwa demokrasi tidak mungkin terjadi, sementara mempercayai partai merupakan penjaga demokrasi

untuk melupakan hal yang perlu dilupakan, namun mengingatnya kembali ketika diperlukan (dengan keadaan siap untuk melupakannya lagi)

di atas semua itu, untuk menerapkan proses yang sama pada proses berpikir itu sendiri. Misalnya : secara sadar, menjadi tidak sadar atas keadaan yang terjadi. Namun, di waktu yang sama, tidak menyadari ‘hiptonis’ yang dilakukan ke diri sendiri. Bahkan untuk memahami kata doublethink, memerlukan pemikiran doublethink juga.”

secara singkat, contoh-contoh doublethink di sekitar kita :

apatis terhadap politik, namun tetap mengikuti perkembangan politik.

percaya bahwa utang negara banyak itu tidak baik, tapi terus meminjam untuk mendapatkan ‘pertumbuhan ekonomi’

anti free-s*x tapi mempromosikan safe-s*x di waktu yang sama, dengan penggunaan alat pengaman

percaya bahwa harus mengejar mimpi yang tinggi, namun percaya juga cara terbaik untuk mencapainya adalah mencari pekerjaan yang aman

percaya uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun hidup tetap mempertahankan uang (kekayaan).

Older Entries Newer Entries