Yes or No

1 Komentar

Salah satu kodrat manusia yang paling mendasar adalah mempunyai keinginan. Kemudian, ketika kita telah mencapai keinginan tersebut kita bisa jadi akan mendefinisikan diri kita sebagai orang yang ‘sukses’. Sering sekali dalam hidup kita punya keinginan yang kita bentuk secara mental dengan mengatakan,

“Ya, gw ingin jadi mentri yang bisa membentuk karakter.”

“Gw ingin mengabdi buat bangsa gw.”

“Gw pengen bikin ini, itu, anu, …”

dsb.

Membentuk keinginan dan berusaha mencapai sukses dengan cara seperti itu seringkali bekerja dengan baik, dan sangat realistis untuk dilakukan. Namun, secara personal, saya memiliki masalah untuk membangun keinginan (dreams) dengan cara seperti itu. Salah satunya adalah kepribadian dasar saya yang lebih imaginative dan abstrak dalam membentuk keinginan. Hasilnya, bisa jadi dalam satu waktu keinginan yang saya miliki jumlahnya sangat banyak dan sangat tidak realistis.

Beberapa kali di masa silam, saya sempat memiliki banyak ide, hingga berpikir untuk dapat melakukan semuanya di waktu yang sama. Saya bilang “iya” untuk semua keinginan tersebut. Berharap mendapatkan hasil kerja yang sangat banyak, alih-alih saya hanya mendapatkan hasil kerja yang dampaknya lebih kecil dari usaha yang saya berikan. Teringat beberapa tahun silam, saat saya lagi parah-parahnya mengatakan “ya” pada setiap peluang yang ada. Ayah saya beberapa kali mengingatkan bahwa energi yang kita miliki terbatas, dan kita ga bisa melakukan banyak hal di satu waktu dan mendapatkan hasil yang terbaik di setiap usaha yang berlainan tersebut. Saat itu saya ga percaya. Nyatanya, saya salah. Memang mungkin sudah kodratnya anak muda adalah manusia yang bodoh, dan lambat sekali belajar dari orang tua.

Semenjak saat itu, saya berusaha mengubah diri sehingga saya lebih sering mengatakan “no”. Menjadi Badan Pengurus organisasi, saya katakan tidak. Aktif peluang aktif di organisasi tertentu, saya pun katakan tidak. Terlalu ekstrim mungkin. Saya yang sekarang mungkin akan bilang, “ga gitu juga kalee” ke saya yang di masa silam. Parahnya adalah, saya pun lebih tenggelam pada ide escapism, alienism, depression, dan loneliness. Tenggelam dalam banyak syair Charles Bukowski.

I WAS DRAWN TO ALL THE WRONG THINGS: I LIKED TO DRINK, I WAS LAZY, I DIDN’T HAVE A GOD, POLITICS, IDEAS, IDEALS. I WAS SETTLED INTO NOTHINGNESS; A KIND OF NON-BEING, AND I ACCEPTED IT. I DIDN’T MAKE FOR AN INTERESTING PERSON. I DIDN’T WANT TO BE INTERESTING, IT WAS TOO HARD. WHAT I REALLY WANTED WAS ONLY A SOFT, HAZY SPACE TO LIVE IN, AND TO BE LEFT ALONE.

Charles Bukowski

Sudah sangat jelas, saya pun tertarik dan ditarik oleh banyak hal yang sangat salah. Saya tenggelam makin dalam dan dalam.. Hingga akhirnya seorang kawan saya, Irfan menunjukkan sebuah artikel dengan cerita seorang bilyuner dari Afrika Selatan, yang sekarang hidup di USA. Saya pun membaca lebih lanjut artikel tersebut, dan bersambung ke banyak artikel lainnya, hingga menemukan sebuah teori yang sangat membekas di kepala saya, tentang first principle method-nya elon musk dan extreme focus-nya peter thiel.

Saya pun kembali mengatur dan merencanakan tentang arah fundamental dari kehidupan yang saya inginkan. Membuat daftar tentang hal apa yang make sense, dan hal apa yang ngawur untuk dilakukan. Kemudian saya pun mempelajari, fokus pada keinginan bukanlah mengatakan “iya” pada setiap peluang yang baik dan bagus. Fokus adalah mengatakan “iya” pada satu ide yang sangat bagus, dan juga mengatakan “tidak” pada ribuan ide lain yang bisa jadi sama bagusnya. Sambil berdoa, semoga satu “iya” yang kita miliki ini memang layak untuk diperjuangkan.

Iklan

Harga

2 Komentar

Kalau dipikir-pikir, berapa biaya yang udah dikeluarin sampai detik kehidupan kita yang sekarang ya?

Dari kecil, kita dirawat dengan menggunakan duit orang tua. Dimulai dari biaya  rutin seperti transportasi, makan, pakaian, dsb. Kemudian, ada juga biaya untuk pendidikan. Belum lagi, akan ada biaya lagi yang keluar bila kita sakit. Kadang-kadang juga suka ngeyel,  minta duit ke orang tua : merengek-rengek untuk dibelikan sesuatu.

Biaya-biaya tersebut adalah hal yang materiil. Biaya berupa harta yang dikeluarkan orangtua untuk membesarkan kita. Dalam kasus ini, setiap anak belum tentu mendapatkan investasi berupa biaya dengan jumlah yang sama. Jadi, biaya diri kita hingga detik ini bisa saja sangat jauh berbeda.

Janganlah berkecil hati bila biaya yang dikeluarkan untuk diri kita masih kecil. Janganlah juga berbesar kepala bila telah merasa berbiaya mahal. Besar kecilnya biaya diri kita belum tentu menghasilkan ‘harga’ diri yang besar.

Seperti apa ‘harga’ diri kita? Mari kita ukur..

Seperti apa kita memperlakukan orang tua? Apakah hormat..? atau tidak sopan?.. semakin lancang diri kita tentunya maka diri kita akan semakin murah

Seperti apa kita memperlakukan orang yang kita kenal?…(kawan kampus, rekan kerja, bos di kantor, saudara)

Seperti apa kita memperlakukan orang yang kita tidak kenal?… (office boy, cleaning service, satpam, supir bus,dsb)

Seperti apa sikap kita ketika mengalami hari yang membosankan?…

Seperti apa kita memperlakukan ilmu dan pengetahuan…? Selalu penasarankah kita…?

Seperti apa sikap kita ketika diberi musibah?… Apakah mengeluh terus, atau bersabar…?

Bagaimana kita mengekspresikan kegembiraan?… Apakah perlu semakin narsis dengan pencapaian?..

Apa yang kita lakukan ketika melihat aib orang..? Perlu di-tweet kah?..

Bagaimana juga, kita bersikap atas kepercayaan kita…?

sebenarnya masih banyak pertanyaan lain untuk mengukur harga diri kita sendiri…

dengan mengetahui ‘harga’ diri kita… kita bisa mengetahui… layakkah kita bangga dan senang atas pencapaian dan prestasi diri kita sendiri..?

Jawabannya… tentu saja tidak.

Sebenarnya kita sangat beruntung karena Tuhan akan selalu menutupi sebagian dari aib kita… sehingga kita akan selalu nampak lebih mahal dari harga kita yang semestinya, di depan makhluk yang lainnya…

Tidur sedikit?

Tinggalkan komentar

Banyak sekali kawan-kawan saya dulu yang waktu mahasiswanya gemar sekali begadang. Entah itu begadang untuk main game, mengerjakan tugas yang semakin dekat deadline, ataupun hanya iseng-iseng begadang untuk mengoprek sebuah alat.

Mungkin memang benar, tidur sedikit dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Kadang-kadang, begadang juga membuat kita gak bisa fokus di kegiatan esok harinya. Tapi saya sekarang tidak ingin membahas pengaruh buruk dari begadang. Ternyata ada kabar gembira untuk orang yang tidurnya kurang, jika kita mau melihat sedikit tokoh-tokoh dari generasi sebelum kita yang hobinya juga begadang.

Untuk semua mahasiswa/i yang gemar begadang dan tidur sedikit demi menciptakan sebuah karya, berbahagialah.  Berarti anda semua telah mengikuti jejak leonardo da vinci, thomas edison, nikola tesla, napoleon bonaparte, dan banyak tokoh dunia lainnya.

Salah satu inventor dan penghasil karya terhebat (menurut saya), nikola tesla, bahkan bisa begadang hingga 84 jam di labnya tanpa istirahat ataupun tidur. Selain tesla, ada juga penemu hebat lainnya : thomas edison yang gemar begadang berhari-hari untuk menyalurkan ide-idenya.

Apa yang membuat mereka semua kuat tidak tidur berhari-hari? saya rasa kutipan tesla berikut dapat menjelaskan..

“I do not think there is any thrill that can go through the human heart like that felt by the inventor as he sees some creation of the brain unfolding to success… Such emotions make a man forget food, sleep, friends, love, everything.”

~ Nikola Tesla

selamat begadang!

Berdoa…

Tinggalkan komentar

Saya adalah orang yang jarang berdoa (jika definisi berdoa adalah menengadahkan tangan sambil meminta sesuatu ke tuhan). Alasannya, kok saya merasa manja sekali kalau ada apa-apa langsung berdoa. Seolah-olah Tuhan nggak ngasih macam-macam tools dan kesempatan ke kita saja.

Saya takut, kalau sedikit-sedikit langsung berdoa, bisa-bisa dicibir oleh para setan (karena malaikat mana mungkin mencibir manusia): “Lihat nih makhluk yang satu ini, kalau ada maunya aja banyak berdoa. Padahal usaha aja baru sedikit.”

Tapi dengan keadaan jarang berdoa juga, saya punya kekhawatiran. Setan lagi-lagi bisa mencibir : “Sombong bener nih makhluk, berdoa cuma dua kali sehari. Pas bangun tidur dan mau tidur doang!”

Wah… serba salah memang. Semoga saja, jarangnya saya berdoa bukan merupakan wujud sebuah sikap sombong. Saya hanya merasa tidak pantas untuk banyak meminta kepada Tuhan. Sudah banyak sekali karunia yang diberikan hingga detik ini. Sayang sekali jika semua karunia itu tidak dimanfaatkan hanya karena kita sibuk untuk meminta lebih.

Sedikit berdoa, belum tentu sedikit mengingat Tuhan, ataupun sedikit bersyukur. Yang namanya mengingat Tuhan dan bersyukur mesti diperbanyak! Kalau kata cak nur, wujud dari rasa syukur yang paling tinggi adalah kerja keras. Jadi artinya kalau masih males malesan bin ngantukan, artinya kita belum bersyukur.

~ ditulis sambil menunggu tengah hari

Fenomena Finlandia

3 Komentar

Selamat datang di Finlandia.

Ini adalah sebuah negara yang murid-muridnya memulai sekolah di usia yang relatif ‘tua’. Di sekolah, tidak banyak kelas yang perlu diambil, sehingga waktu sekolah pun lebih sedikit. Sangat jarang yang namanya PR dan ujian dari guru. Belum lagi, ada liburan 3 bulan di musim panas yang menanti.

Guru merupakan profesi yang diburu dan dihormati. Guru di sini bukanlah pekerjaan sampingan. Perlu gelar master (S2) dan bersaing dengan 1600 pelamar lainnya, untuk memperebutkan 160 tempat sebagai guru setiap tahunnya. Guru bertindak sebagai motivator dan innovator di kelas, dengan gaji yang sangat layak.

Sekolah di Finlandia memiliki kebebasan untuk menentukan kurikulumnya. Tentunya dengan sedikit panduan dan banyak kucuran dana dari pemerintah pusat. Setiap saat, sekolah dapat berinovasi dan mengimplementasikan pendidikan yang dianggap lebih baik, melalui ‘norma’ yang dibentuk oleh sesama guru yang menginginkan pendidikan terbaik untuk muridnya.

Tidak ada rangking. Tidak ada kesenjangan pencapaian prestasi. Namun negara ini memuncaki berbagai aspek kehidupan berdasarkan banyak survei.

Yang lebih hebatnya lagi, semua hal tersebut dicapai dengan pendidikan yang gratis!

Dalam film dokumenternya, Dr. Tony Wagner, Innovation Education Fellow – Harvard University, melakukan perjalanan untuk menjawab pertanyaan : apa yang menyebabkan sistem pendidikan swedia selalu menempati peringkat teratas dalam berbagai ukuran yang diterapkan berbagai lembaga internasional?

Di finlandia, umumnya murid memulai studinya di usia 7 tahun. Kemampuan sosial dipelajari di pre-school, dan kemampuan bahasa dipelajari di rumah. Tidak seperti di indonesia, suasana belajar di kelas pun sangat casual dan nyaman. Tidak ada seragam. Jumlah siswa di kelas pun sangat sedikit, selalu di bawah 20 murid.

Materi yang diajarkan di kelas pun sangat konseptual, memacu kreativitas, dan cara berpikir. Misalnya, di kelas-2, siswa diberi pengertian mengenai jenis-jenis sumber energi. Setelah beberapa minggu mendalami subjek tersebut, siswa diberikan studi kasus untuk membayangkan apa yang terjadi ketika listrik di rumah padam. Siswa diminta menggambar apa yang ada di pikirannya. Dengan cara ini, cara berpikir, kemampuan seni, serta studi kasus nyata diberikan dalam satu subjek studi.

Dengan cara ini, siswa dapat mengetahui mimpinya lebih awal. Dalam film dokumenter ini, Wagner mewawancara siswa dari kelas 8 dan 9. Saat ditanyakan mimpinya, sudah banyak yang bisa menjawab. Mimpi-mimpi seperti menjadi animator disney, pemain es hoki, insinyur, hingga dokter pun bermunculan. Hal ini menunjukan kemampuan reasoning dan kemampuan bermimpi yang sudah berkembang.

Di kelas 9, kelas mengenai politik memperkenalkan secara interaktif, mengenai “siapa orang ini”, “dari kementrian apa orang ini”, dan “dari partai mana orang ini”. Dijelaskan juga mengenai DPR-nya Finlandia, kementrian-kementrian yang ada. Di kelas itu, diajukan studi kasus yang menarik. Para siswa ditunjukkan janji-janji yang diucapkan politisi tentang pendidikan seperti apa yang seharusnya mereka dapatkan. Kemudian, mereka diminta untuk menyatakan apakah janji-janji tersebut sudah tercapai.

Sejak dini, pengetahuan membangun konsep pun sudah dibangun. Misalnya, saat kelas 8, guru mengajak siswa untuk berusaha menemukan persamaan phytagoras. Semua ini dilakukan berdasarkan konsep pengajaran yang telah disusun oleh guru tersebut. Konsep pengajaran itu, sebelumnya telah juga didiskusikan dengan pengajar lain, untuk mendapatkan masukan ataupun memberikan ide konsep pengajaran yang baru. Dengan demikian, terbentuk sebuah ‘lingkaran’ evaluasi sesama guru yang benar-benar berdasarkan keinginan untuk mendorong pengajaran yang lebih baik.

Sistem pemberian tugas yang diberikan oleh guru pun cukup menarik. Misalnya, penggunaan perangkat teknologi informasi lebih ditekankan sebagai perangkat murid untuk mengerjakan tugas. Untuk murid yang mengambil tugas marketing, tugas mereka bisa saja melakukan riset marketing di facebook, ataupun mencari artikel-artikel marketing yang dapat menunjang tugas mereka. Dengan menaruh banyak tugas di jaringan internet, murid dan guru juga dapat berinteraksi untuk mendiskusikan tugas yang ada. Ada juga tugas yang diberikan saat entrepreneurship camp. Siswa dikelompokkan menjadi 5-7 orang, berada  di satu tempat yang sama selama 26 jam. Mereka ditugaskan untuk menghasilkan ide produk atau jasa dalam satu malam. (yap, satu malam membuat jasa dan produk. hal ini menekankan pentingnya kerjasama dalam tim, kemampuan inovasi, dan daya kreativitas untuk menghasilkan ide bisnis)

Siswa diwajibkan belajar hingga usia 16 tahun. Setelah itu, mereka dapat meneruskan studi untuk menjadi akademisi, ataupun mengikuti sekolah vocational (profesi).  Sekitar 45% memilih untuk mengikuti sekolah profesi. Setelah lulus pendidikan profesi, siswa SMK-nya Finlandia itu akan dapat langsung memasuki dunia kerja.

Di Finlandia, adalah penting untuk dapat menelusuri kemampuan diri sendiri. Tak jarang, di umur 11, ketika murid memperoleh hasil yang buruk di bidang eksakta, maka murid tersebut tidak akan diarahkan untuk menjadi akademisi. Tersedia jenis kelas-kelas lain yang lebih dianjurkan, apakah itu di bidang sosial, ataupun seni. Pokoknya, bidang yang lebih memungkinkan untuk menunjang karir yang lebih sesuai.

Apa yang melatarbelakangi pendidikan yang begitu maju itu? Padahal di tahun 1960 Finlandia hanyalah satu dari banyak negara miskin lainnya. Menurut film dokumenter tersebut, di saat itu, hal yang pertama dilakukan Finlandia adalah dengan membentuk comprehensive school. Ini adalah sekolah yang ditujukan untuk semua orang. Perlu waktu lima tahun untuk mendefinisikan bagaimana pendidikan yang seharusnya pada tahun 70an. Kemudian fase berikutnya adalah untuk mengadakan pelatihan dan pendidikan untuk guru pada tahun 80an. Diperlukan pendidikan master untuk menjadi guru. Kemudian, dibutuhkan waktu 30 tahun untuk mencapai keadaan agar sistem pendidikan Finlandia menjadi seperti sekarang.

Waktu 30 tahun ini dibutuhkan untuk menumbuhkan kepercayaan. Pada tahun 1990an, sistem pendidikan terpusat Finlandia mempercayakan penyusunan kurikulum yang lebih mendetail pada daerah. Dengan pola pemikiran sama akibat dari pendidikan yang sama di tahun 1970, sebagian besar masyarakat di sana percaya bahwa pendidikan yang lebih baik adalah kunci masa depan Finlandia. Akibatnya, kepercayaan tersebut berbuah. Para pendidik di ruang kelas menjadi inovator yang terus mendorong untuk mencari cara terbaik untuk mengeluarkan potensi yang dimiliki oleh pelajar. Para pendidik pun bertukar ide, membuat sebuah lingkaran evaluasi untuk mencapai pendidikan yang lebih baik. Semuanya hanya berdasarkan kepercayaan yang diberikan dari otoritas yang lebih tinggi.

apa yg bisa dipelajari kita sebagai masyarakat Indonesia?

Baiklah, banyak hal yang membedakan Indonesia dengan Finlandia. Dimulai dari perbedaan budaya, perbedaan ukuran dan demografi, hingga banyak perbedaan lainnya. Menurut saya, yang bisa kita lakukan adalah melihat Finlandia sebagai contoh utama dalam menerapkan inovasi-inovasi dalam pendidikan. Di samping itu, ada beberapa hal yang harus diperhatikan

1. Pendidikan merupakan proses nomor 1 yang tidak boleh diganggu gugat oleh urusan apapun. Pendidikan ini bukan dalam arti sempit, namun dalam arti luas. Termasuk mengeksplorasi diri sendiri, cara berpikir, cara berimajinasi, menuliskan dan menggambarkan ide, kemampuan atletik dsb.

2. Butuh waktu panjang sekali untuk membuat transformasi pendidikan. Finlandia butuh 30 tahun sejak penerapan sistem pendidikan yang baru. Dimulai dari kesetaraan pendidikan, penerapan tujuan yang sama dengan politisi dan industri, serta pemberian rasa percaya yang tinggi.

3. Rasa kepercayaan yang tinggi diterapkan dengan menetapkan panduan kurikulum yang sedikit. Dengan demikian, siswa bisa fokus pada pengembangan diri : memilih proyek yang disukainya, mengembangkan kemampuan seni, ataupun langsung memilih untuk berkarir melalui pendidikan profesi

4. Kepercayaan yang tinggi juga diterapkan hingga tingkatan yang paling bawah. Sekolah bebas membuat kurikulum, dan murid pun dipercaya untuk melakukan apa yang sekolah inginkan. Penggunaan teknologi sangat dianjurkan, untuk membuat sebuah digital portofolio pengajar dan siswa. Pengajar dapat mempublikasikan metode pengajarannya, sementara siswa dapat mempublikasikan proyek-proyeknya.

5. Semua kepercayaan tersebut dibangun pada konsensus, yang menyatakan pendidikan adalah yang utama, dan merupakan sumber daya utama untuk Finlandia. Tidak ada lagi yang lain yang dapat menolong Finlandia selain Sumber Daya Manusia mereka sendiri

6. Pada akhirnya, Finlandia hingga kini pun belum puas. Masih banyak hal yang dapat dikerjakan. Mereka merasa bahwa terdapat beberapa kekurangan dalam melakukan pengembangan potensi siswa. Fokus Finlandia berikutnya adalah menekankan lagi secara mendalam mengenai kemampuan reasoning, komunikasi, cara berpikir, imajinasi,  kemampuan bermimpi, dan kemampuan mendasar lainnya.

‘Doublethink’ di sekitar saya

4 Komentar

Dalam buku karangan George Orwell, 1984, muncul sebuah kata baru bernama doublethink. Pada dasarnya doublethink merupakan sikap untuk mempercayai kedua kepercayaan yang sebenarnya bertolak belakang. Kepercayaan yang dimaksud di sini bisa berbentuk ideologi sebuah negara, kesetiaan pada sebuah produk, sampai hal sederhana mengenai diri sendiri.

Kadang-kadang, kita sendiri tidak akan sadar bahwa kita telah menerapkan cara berpikir doublethink. Coba saja kita lihat kamar kita sendiri. Berapa banyak sih sebenarnya peralatan-peralatan yang kita miliki, namun sebenarnya hampir tidak pernah digunakan? Produk yag tidak memenuhi kebutuhan mendasar kita? Di sini di satu sisi kita percaya bahwa alat-alat tersebut memang tidak terlalu dibutuhkan. Namun ternyata toh kita beli juga, karena kita berpikir kita memerlukan alat itu!

*oke, sebenarnya saya juga punya sih barang-barang seperti itu 😦

Saya akan bilang bahwa kita telah menjadi konsumen dari marketing era kini. Serangan sinar-sinar video dari layar TV, iklan di HP, atau pernak-pernik yang digunakan di acara televisi, telah ‘menyerang’ alam bawah sadar kita. Kita telah terlatih, bahwa melihat segala sesuatu yang ada di televisi adalah normal. Adalah normal juga, kadang-kadang,ketika melihat sesuatu yang tidak biasa di TV atau berita, kita mengeluh, berkomentar, atau memaki-maki via twitter/FB.

Menurut orwell sendiri, doublethink didefinisikan merupakan :

” Untuk mengetahui dan tidak mengetahui di saat yang sama, (apatis terhadap politik lokal)

untuk menyadari kebenaran yang sesungguhnya ketika mengatakan kebohongan yang tersusun sedemikian rupa,

untuk mempercayai kedua pendapat yang sebenarnya bertolak belakang,

benar-benar tahu pendapat itu bertolak belakang, namun tetap percaya,

dengan menggunakan logika untuk melawan logika,

untuk menolak moralitas padahal mengaku bermoral,

untuk percaya bahwa demokrasi tidak mungkin terjadi, sementara mempercayai partai merupakan penjaga demokrasi

untuk melupakan hal yang perlu dilupakan, namun mengingatnya kembali ketika diperlukan (dengan keadaan siap untuk melupakannya lagi)

di atas semua itu, untuk menerapkan proses yang sama pada proses berpikir itu sendiri. Misalnya : secara sadar, menjadi tidak sadar atas keadaan yang terjadi. Namun, di waktu yang sama, tidak menyadari ‘hiptonis’ yang dilakukan ke diri sendiri. Bahkan untuk memahami kata doublethink, memerlukan pemikiran doublethink juga.”

secara singkat, contoh-contoh doublethink di sekitar kita :

apatis terhadap politik, namun tetap mengikuti perkembangan politik.

percaya bahwa utang negara banyak itu tidak baik, tapi terus meminjam untuk mendapatkan ‘pertumbuhan ekonomi’

anti free-s*x tapi mempromosikan safe-s*x di waktu yang sama, dengan penggunaan alat pengaman

percaya bahwa harus mengejar mimpi yang tinggi, namun percaya juga cara terbaik untuk mencapainya adalah mencari pekerjaan yang aman

percaya uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun hidup tetap mempertahankan uang (kekayaan).

Pertanda Mimpi

Tinggalkan komentar

Saya sendiri bukan orang yang mempercayai mimpi. Salah satunya karena banyak hal yang terjadi di dalam mimpi kadang-kadang gak karuan anehnya. Pernah suatu saat saya bermimpi bahwa di dunia ini hanyalah saya yang memiliki hidung. Orang-orang penasaran kenapa saya punya hidung. Sementara saya sendiri bingung kenapa orang lain tidak punya hidung. Sedang asik memperdebatkan siapa yang normal, tiba-tiba ada yang berteriak. Tiba-tiba juga semua orang berusaha menangkap dan mengejar saya. Saya pun kabur sambil memikirkan mengapa saya dikejar. Saya pun lari sekencang-kencangnya, mungkin seperti maling sendal yang dikejar warga setelah shalat jum’at. Tapi pada akhirnya pun saya terkejar dan tertangkap. Saat itu, tiba-tiba mimpi menjadi blank. Saya berada di hamparan padang pasir. Sangat tidak nyambung sama sekali sebenarnya. Tapi di dunia mimpi saya tidak menyadari keanehan apa pun. Setelah bangun, saya baru menyadari telah mengalami mimpi aneh. Menyadari juga bahwa sebenarnya mimpi ini tidak perlu diingat.

Di sisi lain, cukup banyak kisah mimpi yang seolah memberikan pertanda. Mungkin bagi sebagian besar orang mimpi digigit ular merupakan pertanda akan mendapatkan rejeki. Sayangnya saya belum pernah dipatok ular, baik dalam mimpi maupun dunia nyata. Jadi tidak tahu apakah mimpi dipatok ular memang pertanda rejeki.

Saya sangat percaya teori bahwa mimpi merupakan refleksi dari pemikiran alam bawah sadar kita. Ketika kita menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, maka seringkali sesuatu itu akan terbawa dalam mimpi kita. Misalnya, ketika saya mengikuti sebuah lomba tentang merger dua buah bank. Pada akhir kompetisi, saya  memikirkan persoalan tersebut hingga berjam-jam. Bahkan sampai lupa makan. Kemudian, malamnya, saya bermimpi melakukan presentasi di depan dua direktur bank. Saking fokusnya pada suatu hal, saya sampai memikirkannya dalam mimpi.

Hal tersebut terjadi juga di kesempatan yang lain. Yaitu ketika saya menyusun dokumen untuk mengikuti sebuah lomba penelitian ilmiah. Pada beberapa hari untuk mempersiapkan dokumen itu, saya sangat fokus. Saking fokusnya, hingga lagi-lagi selama berhari-hari saya memimpikan hal yang sama : bermimpi memikirkan penelitian itu!!

Ketika ‘kegiatan’ yang terjadi di dunia nyata mampu terbawa hingga mimpi kita, saya sangat yakin. Itulah cerminan bahwa kita telah mencurahkan seluruh pikiran kita untuk menekuni ‘kegiatan’ kita. Buktinya, di kedua perlombaan di atas, saya mampu menyabet penghargaan. (ce ileeh!)

*sebenarnya banyak juga hal lain yang dikerjakan hingga terbawa mimpi.  Sayangnya tidak semua hal dapat diselesaikan dan dimenangkan dengan hanya mencurahkan seluruh pikiran kita.

Memikirkan sesuatu hingga terbawa mimpi. Kesannya memang sangat duniawi sekali. Saya tidak akan berdebat apakah mimpi yang semacam ini benar atau salah. Saya bukan ahli mimpi ataupun ahli agama. Saya hanya sangat yakin, ketika saya melakukan suatu hal hingga terbawa mimpi, saya telah melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati.

Older Entries