Tiap generasi punya jamannya sendiri, tiap jaman punya generasinya sendiri. Jaman dulu, kemungkinan besar tantangan terberat kebanyakan dari masyarakat adalah untuk bagaimana mendapatkan makan untuk hari esok. Jika sudah bisa makan, baru mikir bagaimana bisa sekolah. Jika sudah bisa sekolah baru mikir gimana caranya beli buku, ataupun akses informasi.

Jaman sekarang, banyak hal sudah berubah. Jumlah masyarakat kita yang merangsek naik ke “middle class” sangatlah banyak, dan terus bertambah jumlahnya. Bertambahnya jumlah orang ke kelas ini bisa dianggap sebuah kemajuan, tapi juga tentu juga ada sisi lain dari kemajuan tersebut. Rata-rata dari masyarakat kelas ini sudah mampu mengakses informasi dengan mudah. Informasi memang seringkali dapat memudahkan urusan dalam kehidupan kita. Tapi saya percaya sekali bahwa informasi yang mengalir ke benak kita seringkali terlalu banyak.

Terlalu banyak, sehingga seringkali kita terdistraksi oleh aliran berita sebanyak satu atau dua kalimat yang menganggu keinginan kita untuk membaca sebuah essay delapan paragraf. Terlalu banyak, sehingga seringkali dari satu informasi dan tulisan singkat yang mengalir ke benak kita, lalu membuat kita meninggalkan prioritas utama kita selama berjam-jam.

Di jaman ini, saya percaya bahwa kita memerlukan sebuah tingkatan pemikiran, yang mampu membuat semacam filter pikiran untuk menolak informasi-informasi yang tidak relevan. Di tingkatan pemikiran ini, kita hanya perlu mengambil informasi yang kita inginkan, untuk kemudian dipadu dengan premis-premis yang kita miliki di kepala: untuk menelurkan sebuah pengetahuan yang baru, atau mengecek keabsahan informasi yang sudah ada.

Tentu, hal yang saya sebut dengan “informasi yang kita inginkan” perlu didefiniskan lebih lanjut.

Contoh orang yang saya anggap telah menerapkan tingkatan pemikiran tersebut, adalah Peter Thiel. Dia menerapkan konsep extreme focus.

Thiel believes that people should work only on their one most important project until it is finished.  Paypal executive Keith Rabois recalls that Thiel “would refuse to discuss virtually anything else with you except what was currently assigned as your number one initiative.”

“The most important benefit of this approach is that it impels the organization to solve the challenges with the highest impact. Without this discipline, there is a consistent tendency of employees to address the easier to conquer, albeit less valuable, imperatives. As a specific example, if you have 3 priorities and the most difficult one lacks a clear solution, most people will gravitate towards the 2d order task with a clearer path to an answer.

As a result, the organization collectively performs at a B+ or A- level, but misses many of the opportunities for a step-function in value creation.”