Dalam buku karangan George Orwell, 1984, muncul sebuah kata baru bernama doublethink. Pada dasarnya doublethink merupakan sikap untuk mempercayai kedua kepercayaan yang sebenarnya bertolak belakang. Kepercayaan yang dimaksud di sini bisa berbentuk ideologi sebuah negara, kesetiaan pada sebuah produk, sampai hal sederhana mengenai diri sendiri.

Kadang-kadang, kita sendiri tidak akan sadar bahwa kita telah menerapkan cara berpikir doublethink. Coba saja kita lihat kamar kita sendiri. Berapa banyak sih sebenarnya peralatan-peralatan yang kita miliki, namun sebenarnya hampir tidak pernah digunakan? Produk yag tidak memenuhi kebutuhan mendasar kita? Di sini di satu sisi kita percaya bahwa alat-alat tersebut memang tidak terlalu dibutuhkan. Namun ternyata toh kita beli juga, karena kita berpikir kita memerlukan alat itu!

*oke, sebenarnya saya juga punya sih barang-barang seperti itu😦

Saya akan bilang bahwa kita telah menjadi konsumen dari marketing era kini. Serangan sinar-sinar video dari layar TV, iklan di HP, atau pernak-pernik yang digunakan di acara televisi, telah ‘menyerang’ alam bawah sadar kita. Kita telah terlatih, bahwa melihat segala sesuatu yang ada di televisi adalah normal. Adalah normal juga, kadang-kadang,ketika melihat sesuatu yang tidak biasa di TV atau berita, kita mengeluh, berkomentar, atau memaki-maki via twitter/FB.

Menurut orwell sendiri, doublethink didefinisikan merupakan :

” Untuk mengetahui dan tidak mengetahui di saat yang sama, (apatis terhadap politik lokal)

untuk menyadari kebenaran yang sesungguhnya ketika mengatakan kebohongan yang tersusun sedemikian rupa,

untuk mempercayai kedua pendapat yang sebenarnya bertolak belakang,

benar-benar tahu pendapat itu bertolak belakang, namun tetap percaya,

dengan menggunakan logika untuk melawan logika,

untuk menolak moralitas padahal mengaku bermoral,

untuk percaya bahwa demokrasi tidak mungkin terjadi, sementara mempercayai partai merupakan penjaga demokrasi

untuk melupakan hal yang perlu dilupakan, namun mengingatnya kembali ketika diperlukan (dengan keadaan siap untuk melupakannya lagi)

di atas semua itu, untuk menerapkan proses yang sama pada proses berpikir itu sendiri. Misalnya : secara sadar, menjadi tidak sadar atas keadaan yang terjadi. Namun, di waktu yang sama, tidak menyadari ‘hiptonis’ yang dilakukan ke diri sendiri. Bahkan untuk memahami kata doublethink, memerlukan pemikiran doublethink juga.”

secara singkat, contoh-contoh doublethink di sekitar kita :

apatis terhadap politik, namun tetap mengikuti perkembangan politik.

percaya bahwa utang negara banyak itu tidak baik, tapi terus meminjam untuk mendapatkan ‘pertumbuhan ekonomi’

anti free-s*x tapi mempromosikan safe-s*x di waktu yang sama, dengan penggunaan alat pengaman

percaya bahwa harus mengejar mimpi yang tinggi, namun percaya juga cara terbaik untuk mencapainya adalah mencari pekerjaan yang aman

percaya uang tidak dapat membeli kebahagiaan, namun hidup tetap mempertahankan uang (kekayaan).