Tadi siang mungkin pertama kalinya saya memasuki SMAK Dago, sekolah tempat mantan presiden BJ Habibie menuntut ilmu.

Waktu SMP, saya pernah jalan-jalan di jalan dago. Bukan jalan-jalan ke Factory Outlet seperti kegemaran orang-orang, tapi benar-benar hanya jalan kaki menyusuri jalan dago untuk menghabiskan waktu. Jalan dago waktu itu rindang sekali. Saya terkesima ketika saya melihat salah satu gedung antik yang memiliki halaman luas dan hijau, dengan pohon-pohon tua yang begitu besar. Itulah SMAK Dago. Awalnya, saya tidak pernah menyangka bahwa dulu saya melihat sebuah sekolah. Saya kira, bangunan sekolah itu adalah bangunan rumah angker yang berhantu.

Setelah berjalan lebih lanjut, ternyata saya melihat sebuah plang sekolah tersebut. Wah, gedung ini ternyata sekolah. Sekolah berhantu mungkin, pikir saya kala itu. Wajar saja, jika dilihat lebih dekat, ternyata rumput di sekolah itu nampak liar. Belum lagi cat-cat di gedung yang belanda banget itu sudah mengelupas. Keinginan saya untuk masuk dan curi-curi pandang pemandangan di dalam pun hilang. Takut.

Saya pun tidak terlalu memikirkan sekolah tersebut, hingga pada suatu saat saya melihat sebuah siaran TV. Di acara itu, mantan presiden BJ Habibie bernostalgia tentang sejarah hidupnya. Dimulai dari tempat tinggal beliau di jl. imam bonjol, hingga kisahnya bertemu almarhum mantan ibu negara Ainun Habibie. Kisah yang sangat romantis, menurut saya.

Di acara tersebut, Pak Habibie juga bernostalgia tentang tempat-tempat beliau menuntut ilmu. Saya senang sekali ketika beliau bernostalgia di SMP 5 Bandung, tempat saya menuntut ilmu. Saya pun ikut bernostalgia dengan asyiknya. Saya bandingkan dengan jaman saya saja, sekolah itu sudah berubah banyak. Saya pikir, pasti memori yang bangkit ketika Pak Habibie berjalan-jalan di sana akan sangat menyenangkan. Ternyata, memang sangat menyenangkan. Sayang saja, kisah berikutnya ternyata sangat menyedihkan.

Saya cukup tercengang, ketika melihat keadaan SMAK Dago. Tercengangnya saya saat itu mungkin tidak bisa dibandingkan dengan perasaan Pak Habibie di siaran itu. Di siaran itu, beliau bercerita bahwa saat itu adalah saat pertama kalinya beliau kembali ke SMA-nya itu. Saat masuk gerbang sekolah, beliau cukup terkejut dan nampak terus bertanya-tanya, “apa yang terjadi”. Keadaan sekolahnya kurang lebih mirip dengan deskripsi saya di atas sebelumnya. Liar dan menyeramkan.

Beliau berjalan menyusuri koridor sekolah sambil bercerita tentang kisah-kisahnya di sekolah. Termasuk juga kisahnya dengan Bu Ainun. Beliau melanjutnya ceritanya sambil berjalan, masih sambil terheran-heran. Kini mulai nampak kekecewaan dengan keadaan sekolahnya kini. Mendengar cerita selanjutnya dari pak Habibie, lantas saya baru menyadari SMAK Dago merupakan sekolah unggulan dulunya. Hal ini sangat jauh dengan tebakan saya waktu kecil, sekolah berhantu.

Hal yang menjadi klimaks nostalgia Pak Habibie, adalah ketika beliau memasuki ruang serba guna. Ruang serba guna yang hancur lebur, tepatnya. Atapnya hancur lebur. Potongan-potongan kayu berserakan di mana-mana. Belum lagi lumut yang sudah tumbuh di mana-mana.

” Gila.. Ini nggak bener “

” Kamu tahu ini dosa?! membiarkan sekolah ini jadi seperti ini? “

” Dulu saya menyanyi di sana..”

Itulah respon-respon Pak Habibie ketika melihat keadaan ruangan yang hancur lebur itu. Hati saya saja terasa teriris, ikut merasakan rasa marah, kecewa, sedih yang dialami Pak Habibie. Tentu tidak ada apa-apanya dibandingkan beliau yang telah menempuh studi di sana, serta menjalani memori yang menyenangkan, indah, ataupun yang tidak mungkin terulang lagi.

Saya pun tidak berani membayangkan perasaan beliau saat pertengahan tahun kemarin, terjadi sengketa yang disertai kerusuhan di sekolah yang berada di jalan dago itu.

Hari ini, saya berkesempatan untuk masuk dan melihat langsung sekolah mantan presiden kita itu. Memang, sudah tidak ada kegiatan belajar mengajar di gedung ini. Murid-murid yang dulunya sekolah di gedung ini telah belajar di tempat lain. Yang ada hanya gedung yang pagarnya ditutup seng, dan gedung yang pintu gerbangnya ditutup. Cukup banyak orang yang menjaga di sekitar pintu masuk gedung itu. Beruntung, saya bisa masuk. Namun, benar-benar tidak ada yang bisa dinikmati di sana. Di satu sisi, ada ruang-ruang kelas yang memang antik dan terawat. Namun, isinya bukan meja dan bangku khas sekolah, melainkan meja besar yang dikelilingi kursi-kursi seperti di ruang-ruang rapat.

Saya pun ditunjukkan jalan untuk menuju tempat tujuan saya, sambil membayangkan kehidupan sekolah apa yang mungkin terjadi di tempat ini dulu. Indah sekali pasti.

Lamunan saya buyar, ketika kemudian saya melihat sisi lain gedung itu. Ini ternyata benar-benar sekolah berhantu, pikir saya. Liar dan menyeramkan. Di diri saya pun muncul kekhawatiran.

Bagaimana masa depan gedung ini, akankah terus seperti ini?

Bagaimana kisah-kisah yang telah terjalin di gedung ini, akan hilangkah?

Fungsi apakah yang akan diperankan oleh gedung ini nantinya? Apa mau dijadikan museum?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut saya tahan dalam-dalam, karena memang saya tidak mempunyai ilmu untuk menjawabnya.  Ibaratnya, seperti menonton sinetron indonesia di televisi, sambil menahan kesal dan gemes.