Saya sendiri bukan orang yang mempercayai mimpi. Salah satunya karena banyak hal yang terjadi di dalam mimpi kadang-kadang gak karuan anehnya. Pernah suatu saat saya bermimpi bahwa di dunia ini hanyalah saya yang memiliki hidung. Orang-orang penasaran kenapa saya punya hidung. Sementara saya sendiri bingung kenapa orang lain tidak punya hidung. Sedang asik memperdebatkan siapa yang normal, tiba-tiba ada yang berteriak. Tiba-tiba juga semua orang berusaha menangkap dan mengejar saya. Saya pun kabur sambil memikirkan mengapa saya dikejar. Saya pun lari sekencang-kencangnya, mungkin seperti maling sendal yang dikejar warga setelah shalat jum’at. Tapi pada akhirnya pun saya terkejar dan tertangkap. Saat itu, tiba-tiba mimpi menjadi blank. Saya berada di hamparan padang pasir. Sangat tidak nyambung sama sekali sebenarnya. Tapi di dunia mimpi saya tidak menyadari keanehan apa pun. Setelah bangun, saya baru menyadari telah mengalami mimpi aneh. Menyadari juga bahwa sebenarnya mimpi ini tidak perlu diingat.

Di sisi lain, cukup banyak kisah mimpi yang seolah memberikan pertanda. Mungkin bagi sebagian besar orang mimpi digigit ular merupakan pertanda akan mendapatkan rejeki. Sayangnya saya belum pernah dipatok ular, baik dalam mimpi maupun dunia nyata. Jadi tidak tahu apakah mimpi dipatok ular memang pertanda rejeki.

Saya sangat percaya teori bahwa mimpi merupakan refleksi dari pemikiran alam bawah sadar kita. Ketika kita menginginkan sesuatu dengan sepenuh hati, maka seringkali sesuatu itu akan terbawa dalam mimpi kita. Misalnya, ketika saya mengikuti sebuah lomba tentang merger dua buah bank. Pada akhir kompetisi, saya  memikirkan persoalan tersebut hingga berjam-jam. Bahkan sampai lupa makan. Kemudian, malamnya, saya bermimpi melakukan presentasi di depan dua direktur bank. Saking fokusnya pada suatu hal, saya sampai memikirkannya dalam mimpi.

Hal tersebut terjadi juga di kesempatan yang lain. Yaitu ketika saya menyusun dokumen untuk mengikuti sebuah lomba penelitian ilmiah. Pada beberapa hari untuk mempersiapkan dokumen itu, saya sangat fokus. Saking fokusnya, hingga lagi-lagi selama berhari-hari saya memimpikan hal yang sama : bermimpi memikirkan penelitian itu!!

Ketika ‘kegiatan’ yang terjadi di dunia nyata mampu terbawa hingga mimpi kita, saya sangat yakin. Itulah cerminan bahwa kita telah mencurahkan seluruh pikiran kita untuk menekuni ‘kegiatan’ kita. Buktinya, di kedua perlombaan di atas, saya mampu menyabet penghargaan. (ce ileeh!)

*sebenarnya banyak juga hal lain yang dikerjakan hingga terbawa mimpi.  Sayangnya tidak semua hal dapat diselesaikan dan dimenangkan dengan hanya mencurahkan seluruh pikiran kita.

Memikirkan sesuatu hingga terbawa mimpi. Kesannya memang sangat duniawi sekali. Saya tidak akan berdebat apakah mimpi yang semacam ini benar atau salah. Saya bukan ahli mimpi ataupun ahli agama. Saya hanya sangat yakin, ketika saya melakukan suatu hal hingga terbawa mimpi, saya telah melakukan hal tersebut dengan sepenuh hati.