Saya sendiri percaya hampir segalanya diusahakan untuk dipercepat. Sekolah makin dipercepat : ada program akselerasi di sekolah menengah. Untuk yang sedang kuliah, ada juga yang namanya program fast-track. Cukup lima tahun, mahasiswa bisa dapat gelar S1+S2. Tapi semua yang serba cepat itu tidak hanya ada di pendidikan saja. Kalau kita mau komunikasi dengan orang tinggal akses hp, facebook, atau twitter. Cepat sekali respon yang kita dapat.

Segala sesuatunya pun ada makin cepat dan mudah untuk dilakukan. Misalnya, di dunia maya. Orang dapat dengan mudah mencibir atau mengomentari isu-isu yang dibawa oleh pers. Di twitter, tinggal di-RT saja. Di facebook, tinggal di-share. Ramailah orang-orang memberikan dukungan – yang mungkin hanya 5 detik proses mendukungnya – pada berbagai kasus yang menggelikan, seperti misalnya kasus pencurian sendal yang terkenal itu.

Masyarakat dunia maya dapat dengan mudah mengutuk, memuji, mendukung, ataupun sekedar menyebarkan informasi yang bahkan belum tentu shahih. Pada awalnya memang, kebanyakan dari kita merasa terpanggil jiwa keadilannya. Ada hukum yang tidak adil, kita marah. Ada pejabat yang berkegiatan baik, kita puji. Ada penjahat yang berkegiatan baik, kita curiga (ha ha ha). Tapi, lama kelamaan, sadar atau tidak sadar, ada beberapa sikap yang terbentuk ketika kita banyak berinteraksi di maya melalui media sosial.

Yang paling kentara, adalah mudah terpengaruh oleh informasi yang belum jelas sumbernya. Kadang-kadang ada dari beberapa kawan saya yang menyebarkan informasi, hanya dengan membaca judul berita. Kacaunya, model berita jaman sekarang padahal udah semacam ini :

Penting pisan kan ?!

Kemudian, kadang-kadang arus informasi yang mengalir di lingkaran sosial dunia maya terkadang terlalu deras. Twit seseorang terkadang ditujukan ke anu yang telah ngetwit sesuatu, yang ternyata berhubungan juga dengan perlakuan orang lain. Belum beres, eh ternyata kemarinnya si anu kan ini juga sama si itu. Terkadang saya heran dan tidak mengerti apa yang dibicarakan. Untungnya, sejak kecil saya diajarkan untuk bisa membedakan hal yang penting dan yang tidak penting. Hal yang tidak penting, pokoknya saya tidak penasaran!

Kalau tidak bijak, kelebihan-kelebihan yang ditawarkan era informasi berupa cepatnya informasi dan banyaknya berita bisa jadi blunder buat kita. Bisa-bisa, karena biasa mendapatkan informasi dengan cepat, kita cenderung jadi orang yang tidak sabaran. Bisa-bisa, karena banyak update informasi kita cenderung jadi orang yang ingin tahu hal yang tidak perlu kita ketahui. Bisa jadi, fokus kita buyar, karena terlalu banyak hal yang ingin kita ketahui.

Padahal, saya sendiri diajarkan dari kecil bahwa hidup itu mesti sabar dan fokus. Tapi bukan berarti lambat seperti peribahasa Alon-alon asal klakon. Bergerak harus tetap cepat, tetapi tidak grasak-grusuk.

Sabar, dan fokus. Itulah jalan yang akan saya susuri dalam beberapa tahun ke depan. Hanya mencoba sesuatu terobosan pada waktunya. Hanya akan fokus pada hal yang saya kerjakan. Hanya akan fokus pada peluang-peluang yang ada. Hanya akan fokus pada mempelajari hal yang penting. Hanya akan fokus pada bisikan-bisikan bimbingan dari yang Maha Kuasa.

Pendapat saya belum tentu benar, yang tidak setuju silakan memberi pencerahan! he he