Tadi sore, saya hendak mengirim tiga dokumen ke luar negeri. Dua ke norwegia, satu ke swedia.

Di Bandung sendiri, ada beberapa layanan untuk mengirim dokumen seperti itu. Beberapa kawan saya sendiri merekomendasikan pengiriman dokumen dengan jasa DHL. DHL ini adalah kurir surat-menyurat yang paling besar, dan sangat terkenal. Setahu saya, ada jasa kurir yang lain selain DHL itu. PT POS INDONESIA namanya. Tentu saja saya menanyakan mengapa mereka tidak mencoba mengirim melalui POS INDONESIA. Setelah mendengarkan pertanyaan itu, sontak kawan-kawan yang saya tanya tertawa. Saya juga ikut tertawa. Saat itu saya mendengar banyak hal lucu, “kalau keselip ntar gimana hayo?”, “ntar kalo ketumpahan kopi di kantor posnya gimana hayo?”, “kalo motor pak posnya dicuri, siapa yang mau ganti dokumennya?”, dan banyak hal-hal mencemaskan yang lain membuat saya bimbang. Bimbang ingin memutuskan dengan kurir lokal atau kurir asing.

Mulailah alam bawah sadar saya membuat pertimbangan-pertimbangan psikis untuk memilih kurir pengiriman. ‘ DHL vs POS INDONESIA’.

Sisi diri saya yang nasionalis bilang, lha masa sama jasa negeri sendiri gak percaya? mau jadi apa bangsa ini kalau rakyatnya sendiri gak percaya sama perusahaan milik negaranya sendiri. Toh, kalaupun pakai kurir asing yang menangani suratnya di sini pun pasti orang lokal juga kan?

Secara batin, saya pun manggut-manggut mengiyakan argumen dari si nasionalis itu.

Namun, kubu lawan pro DHL pun kembali mengingatkan kembali argumen kawan-kawan saya. ‘Kalo telat dokumennya, gimana hayo? masak iya gagal hanya karena urusan dokumen?’

Sedikit muncul rasa cemas di diri saya. Kalau tidak sampai gimana? Kalau dokumennya jatuh di tengah jalan gimana? Berbagai pikiran buruk pun muncul di pikiran saya. Saya pun semakin cenderung untuk memilih DHL untuk kurir saya. Di saat otak saya hampir memutuskan untuk memilih DHL, ternyata sosok otak logika saya muncul. Dia memunculkan pertanyaan,

‘ini 2012. memangnya masih ada kasus dokumen tidak sampai?’

‘bukannya batas waktu penerimaan dokumennya masih lama?’

‘fasilitas POS INDONESIA juga tidak kalah kan sebenarnya?’

‘Bukannya sudah waktunya percaya pada jasa kurir nasional?’

Pertanyaan dari logika tersebut memunculkan sebuah pandangan baru. Bagaikan dewa dalam dunia pikiran, sosok logika langsung menumpas rasa cemas yang ada. Bagai nabi, sosok logika dapat ‘mengubah’ kubu pro DHL menjadi pro nasionalis.

Langsunglah saya kemudian menuju kantor pos, dan mengirimkan dokumen. Alhamdulillah, mbak-mbaknya baik, dan menawarkan dua paket yang berbeda. ‘Mau yang mana mas, EMS atau register?’. Jelas, saya pun bingung. Ternyata mengirim dokumen pun bisa dibeda-bedakan. Yang satu cukup 3-5 hari, sementara yang register bisa memakan waktu 1-2 minggu. Yang satu harganya melangit (750ribu), sementara yang register cukup 130ribu saja. Yang satu bisa dilacak di banyak titik hingga lokasi pengiriman, sementara yang register hanya bisa diketahui jika dokumen telah sampai bandara soekarno-hatta.

Saya pikir, mau tiga minggu baru sampai pun saya masih bersyukur. Lagipula mbak pos bilang 2 minggu pasti sampai. Seakan terhipnotis oleh sorot mata mbak pos, saya pun memilih paket yang murah. Kemudian si mbak pos bilang, “Dokumennya penting ga mas? Kalau penting pake EMS saja..”, seakan ingin membuat saya mengeluarkan biaya lebih banyak.  Saya jawab, “Kalau tidak penting ngapain saya kirim mbak!! tapi paket register saja sudah cukup.” (padahal ga ada duit lebih di dompet.. he he)

Pengalaman saya di kantor pos cukup memuaskan, setidaknya hingga di front officenya. Tinggal menunggu performa kurir perjalanan yang akan membawa dokumen saya berikutnya. Kalau ternyata dokumen tidak sampai pada waktunya, saya akan minta pertanggungjawaban. Dimulai dari mencari mbak pos itu, untuk saya ajak kencan!! he he