Beberapa hari yang lalu saya mengurus legalisasi fotokopi paspor. Tidak ada yang spesial sebenarnya dalam mengurus dokumen tersebut, karena proses di kantor imigrasi Bandung untuk dokumen tersebut kurang dari lima belas menit.

Hanya saja, di awal proses mengajukan dokumen itu, saya sedikit manyun ketika mesti menunggu dicuekin penjaga counter informasi yang lagi ngobrol-ngobrol ama kawannya.

Saya juga sedikit malas ketika harus melengkapi persyaratan-persyaratan yang disebutkan oleh mbak-mbak imigrasi yang cantik tapi jutek.

Saya hanya bisa geleng-geleng ketika ibu-ibu kantin menunjukkan tempat fotokopian seraya mengusir. Mungkin tadinya saya dikira mau makan, tapi ternyata bukan.

Saya kira saya akan menjalani hari yang buruk, saya seolah menghadapi interaksi lingkungan yang sangat tidak nyaman di salah satu sudut kota bandung itu.

Saya putuskan untuk minum es kelapa muda dulu, siapa tau penat di kepala bisa hilang.

Ternyata segarnya es kelapa hanya sampai di badan saja, sementara kepala masih panas.

Saat hendak membayar, tanpa sadar uang pecahan 100 ribu di kantong jatuh. Mas-mas penjual lah yang mengingatkan saya untuk mengambil uang itu.

Kepala yang asalnya cukup penat, menjadi sedikit lega, ternyata masih ada orang baik di jalan.

Perjalanan berlanjut, lagi-lagi saya bertemu orang ramah di tempat print dokumen. Dia bilang, tidak usah bayar uang print, karena belum ada kembalian. Padahal jumlahnya lima ribu rupiah, lumayan cukup untuk satu porsi makanan sederhana.

Tentu saya akan kembali lagi untuk membayar uang tersebut, setelah mendapatkan pecahan uang.

Kepala saya pun semakin lega, percaya bahwa masih banyak orang yang percaya akan kebaikan di kota ini.