Udah sekitar seminggu, sampai dua minggu ini saya melewati rute pulang yang teratur. Dari kampus, pulang malam, untuk kemudian sampai rumah saat orang-orang di rumah biasanya sudah tidur. Dari kampus, biasanya saya naik angkot sampai terminal gunung batu, untuk dilanjutkan jalan kaki kira-kira lima belas menit.

Nah, bagian jalan kaki ini yang bikin saya merasa agak aneh. Biasanya saya jalan kaki dari terminal gunung batu, untuk sampai ke rumah. Ada jalan yang biasa saya lewati kalau saya pulang larut malam. Jalan yang biasa saya lewati itu, lumayan besar dan mendapatkan penerangan yang cukup. Tapi, dalam beberapa waktu belakangan ini, saya memilih jalan yang berbelok-belok dan melewati gang-gang yang kecil. Dengan melewati jalan itu, saya dapat sampai di rumah dengan waktu kira-kira lima belas menit, yang sebenarnya lebih lama dibandingkan melewati jalan yang besar.

Perjalanan dimulai dengan masuk melalui gang sempit, yang dipinggirnya banyak corat-coretan dengan menggunakan pilox. Tak jauh dari jalan keluar di gang itu, terdapat ‘tempat tinggal’ seorang sepuh yang biasa tertunduk lesu di pintu masuk gang itu ketika siang hari. Tempat tinggal itu mungkin luasnya hanya 2×2 meter. Saya bisa simpulkan tempat tinggalnya hanya digunakan untuk tempat tidur saja.

Setelah keluar dari gang, saya menemui sebuah pertigaan. Di tempat ini, kalau belum terlalu larut malam kadang-kadang saya bisa liat sekumpulan orang tua sedang nongkrong-nongkrong. Kalau udah larut malem, biasanya tempat ini akan sepi.

Sebenarnya kalau saya masuk melalui gang lain yang letaknya tak jauh dari tempat itu, saya dapat menemui tempat yang ramai dengan cewek-cewek. Biasanya mereka berdandan dengan pakaian yang warnanya ‘nabrak’, tak lupa dengan celana hotpants. Entah maksudnya apa. Yang pasti, kehadiran mereka semakin saya sadari akibat info dari ogit kawan saya.

Di satu titik akan ada sebuah pos satpam di tempat keluar gang itu. Pos satpam itu seperti pos pada umumnya, yang berwarna hijau plus ada kentungan yang digantung. Di situ, ada pak satpam yang entah kenapa saat saya datang, entah jam 11, jam 12, atau jam 1 pun sedang jongkok dan asik memegang rokok kretek djisamsoe yang sedang mengebul.

Melewati pos itu, kemudian saya memasuki sebuah komplek yang lumayan besar. Di sini ada mesjid, tidak terlalu besar sih. Tapi saat saya lewati mesjid itu, isi mesjid itu akan selalu gelap di dalamnya. Isi mesjid itu bisa terlihat remang-remang dengan bantuan lampu jalan yang menyilaukan mata.

Kemudian saya menelusuri jalan lagi, untuk kemudian memasuki gang. Di belokan gang itu, biasanya ada sekumpulan pemuda yang sedang nongkrong, membentuk lingkaran, untuk membicarakan hal-hal yang terjadi di keseharian mereka. Biasanya sih sambil merokok sampoerna mild. Kalo saya perhatikan lebih dekat, pusat lingkaran tempat mereka berkumpul, akan penuh dengan air ludah, akibat tak kuat menahan rasa pahit yang ada di mulut ketika menghirup rokok.

Memasuki gang, saya akan melewati lagi sebuah komplek yang memiliki jalan sangat sempit, tapi cukup untuk jalan motor. Di siang hari, biasanya akan banyak anak-anak yang mengerumuni pedagang mainan ataupun makanan ringan. Tapi, di malam hari hanya akan ada pagar tertutup disertai terang lampu kuning dari lampu bohlam. Kadang-kadang kalau beruntung saya bisa melihat muda mudi sedang pacaran di sebuah bangku di teras warung yang sudah tutup.

Keluar dari gang itu, akan ada sebuah jalan besar sebagai akses menuju akademi gizi. Tapi untuk saya, jalan itu hanyalah jalan untuk memotong ke perjalanan saya selanjutnya menuju sebuah gang sempit lagi yang menuju ke sebuah kuburan.

Di kuburan itu, suasananya sangat gelap gulita. Di siang hari mungkin saya akan menyadari tulisan ‘ingatlah besok kita akan mati’, ataupun sebuah blok kuburan yang dipagari, yang menandakan bahwa blok itu adalah blok kuburan keluarga. Di siang hari juga, saya akan dapat dengan mudah melihat jalan setapak yang di sisi-sisinya terdapat ratusan batu nisan dan gundukan tanah kuburan. Jika diikuti, jalan setapak itu akan berujung pada sebuah jalan menurun.

Di turunan ini, terbentuk tangga yang dibuat dengan semen, meskipun sebagian besar dari anak tangga itu sudah hancur, menyisakan tanah-tanah basah yang licin. Untung saja di pinggir-pinggir turunan itu ada pagar bambu yang dapat dijadikan pegangan.

Setelah melalui turunan, akan ada dua petak sawah kecil di kiri kanan jalan setapak itu. Melihat ke depan, akan terlihat penerangan dari rumah yang terletak di sisi jauh jalan. Untuk mencapai rumah itu, saya harus menaiki anak tangga yang untungnya masih bagus.

Saat melewati jalan itu di siang hari, saya tidak pernah mengalami hal yang aneh, kecuali bunyi discharge listrik yang berasal dari tiang listrik usang. Namun, ketika saya melewati jalan itu di malam hari, banyak hal menarik yang saya dapatkan. Yang paling saya rasakan adalah jalan yang sangat gelap. Jika beruntung, saya dapat melihat jalan remang-remang dengan bantuan terang bulan purnama. Namun, hal yang sering terjadi saya harus berjalan sangat pelan dan berhati-hati untuk memastikan pijakan. Kadang-kadang saya pake bantuan lampu dari layar HP untuk melihat pijakan.

Melihat ke kiri dan ke kanan, saya dapat melihat siluet pohon-pohon, yang kadang -kadang terdapat juga sebuah siluet makhluk lain yang muncul dengan sangat singkat.

Setiap tiga dan empat langkah, wajah saya selalu tersangkut dengan semacam benang, yang pada awalnya saya pikir adalah jaring laba-laba. Namun dengan semakin seringnya saya tersangkut di malam hari, saya mulai meragukan bahwa benang itu adalah jaring laba-laba.

Saya sempat berhenti di dekat tiang listrik, untuk mendengarkan bunyi discharge. Tapi pada malam hari, bunyi discharge itu jarang saya dengar.

Saya sempat hampir terpeleset di jalan turun, untung masih selamat akibat berpegangan pada pagar bambu.

Begitu melewati turunan itu, saya tinggal menaiki tangga di sisi jauh jalan untuk mencapai jalan besar. Saat telah menaiki tangga tersebut, artinya saya sudah dekat dengan rumah.

Saya sendiri heran mengapa saya selalu mengambil jalan yang sama sekali tidak nyaman tersebut. Entah mengapa pengalaman dari jalan yang tidak biasa itu, mampu untuk menarik saya terus menerus untuk terus melangkah di jalan itu.