Waktu saya kecil dulu, saya menyaksikan bagaimana rumah yang saya tempati hingga kini dibangun. Sebelum rumah itu kini dapat berdiri dengan kokoh, tentunya ada masanya saat bangunan tersebut masih berupa tanah kosong. Keadaan ini bisa kita gambarkan seperti saat kita baru lahir. Masih ‘bersih’. Kosong melompong.

Kemudian, jika kita biarkan tanah tersebut, bisa jadi tanah tersebut terkena paparan sinar matahari, ataupun guyuran hujan yang kemudian akan memunculkan tumbuhan-tumbuhan liar jika dibiarkan terus menerus. Membiarkan struktur tanah di lapangan tersebut mengikuti kehendak alam. Hal ini mirip seperti membiarkan anak-anak kecil dan remaja bermain dengan lingkungan sekitarnya.  Pada masa ini, kemampuan berpikir, emosional, dan kemampuan motorik dasar anak dan remaja dibentuk.  Syukur-syukur lingkungan memberikan dampak positif, tapi gak menutup kemungkinan juga lingkungan malah memberikan sesuatu yang buruk.

Tetapi, jangan lupa kita punya pilihan lain.

Kita juga bisa membentuk pondasi yang kokoh, mungkin sekedar untuk bangunan dua tingkat atau tiga tingkat, sampai fondasi untuk gedung pencakar langit. Dalam kehidupan, hal ini dapat dilakukan dengan membuat anak memiliki berbagai kemampuan yang positif, nilai-nilai dan tatanan hidup yang mulia, serta melatih bakat-bakat anak yang terpendam. Menyiapkan mereka untuk menjadi manusia yang siap mengambil peran besar di dalam hidupnya.

Setelah menyusun fondasi, waktunya kita membentuk ‘wajah’ dan struktur bangunan. Apakah itu merupakan bangunan dengan nuansa yang sangat mewah, ataupun cukup dengan rumah sederhana yang bersahaja. Apakah itu merupakan bangunan bertingkat 100, ataupun hanya rumah satu tingkat. Keadaan ini dapat kita analogikan dengan masa usia produktif kita. Apakah kita ingin memiliki pekerjaan dan kehidupan yang besar, ataupun mungkin kita sudah bersyukur dengan segala keadaan yang Tuhan berikan.

Seiring perjalanan, akan semakin banyak detail yang muncul di dalam bangunan kita. Mungkin itu sebuah mobil sport eropa keluaran terbaru di garasi depan, sampai foto-foto album berisikan keluarga kita di meja sebelah tempat tidur kita. Banyak hal seperti itu akan kita isikan nantinya ke dalam rumah tersebut, ada yang hanya akan muncul sebentar, kemudian digantikan, tapi juga akan ada benda yang akan selalu ada di rumah tersebut. Itu adalah memori kita.

Hingga akhirnya, bangunan kita penuh oleh segala benda di dalamnya, dan tiba waktunya bagi kita untuk berhenti menambah luas, tingkat lantai, ataupun perangkat di dalamnya. Kita sudah terlalu lelah dan tua untuk menambah segala sesuatunya ke bangunan tersebut. Inilah masa non-produktif kita. Kita hidup dengan kenangan berupa benda-benda di dalam bangunan kita, dan monumen kejayaan yang ditunjukkan dengan rupa dari bangunan kita.

Bangunan kita dapat berupa gedung pencakar langit, universitas, ataupun sebuah museum seni, yang bergantung pada bahan dan material yang kita digunakan untuk menyusunnya. Kita bisa menyusunnya dengan material terbaik, yang tentunya berasal dari cinta dan kasih. Tapi, bisa juga kita menyusunnya dari material oplosan yang dibeli dengan harga murah.

Dalam kehidupan ini, tentunya kita ingin memiliki bangunan yang terbaik menurut kita. Entah itu merupakan gedung tertinggi ataupun hanya sekedar bangunan sederhana yang memiliki banyak manfaat. Namun, di sisi lain, jangan sampai kita lupa bangunan yang akan kita bentuk nantinya adalah bangunan yang materialnya disusun dari setiap saat kehidupan kita, yakni bagaimana kita memiliki paradigma, bagaimana kita bersikap, dan bagaimana kita melakukan segala hal.

Dalam membentuk bangunan tersebut, tentunya kita ingin menggunakan material yang terbaik. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama membentuk bangunan kehidupan kita dengan menggunakan material yang terbaik, yang berasal dari kebaikan dan kemuliaan hati kita semua.