Kadang-kadang kita lihat dalam kehidupan sehari-hari, orang yang dijuluki sebagai ‘pinter’ ataupun ‘jenius’ ternyata cenderung ‘autis’. Saat mereka memikirkan sesuatu, mereka mikir sendirian. Seolah-olah mereka punya dunianya sendiri. Jika ada hal yang tidak diketahui ataupun kurang dipahami, maka mereka mengambil asumsi yang belum tentu cocok dengan kenyataan.

Nah, di kampusku banyak banyak banget orang-orang yang seperti itu. Punya dunianya sendiri. Lucu juga sih liatnya, hehe. Seiring berjalannya waktu, asumsi yang mereka buat tentang dunia akan semakin kuat karena jarang menyesuaikan asumsi yang dimiliki dengan kenyataan yang ada di tatanan sosial, keasyikan di dunianya sendiri.

Orang lain yang biasa aja (seperti saya :D) biasanya kesulitan untuk menangkap maksud dan pemikiran orang-orang ‘pintar’ itu. Hal ini terjadi karena apa yang kita dan mereka lihat cukup berbeda. Mereka melihat dunianya sendiri, sementara kita hidup dengan.. yaa kehidupan dan sudut pandang biasa. Makanya sering kali kalo anak kampusku ngomong, kadang-kadang orang biasa nggak ngerti. Terlalu rumit, katanya. Terlalu tinggi pemikirannya.

Nah, di sini orang-orang ‘pintar’ itu juga punya beberapa tugas lebih.

Tugas yang pertama adalah agar mampu menyampaikan dunianya melalui bahasa yang lebih sederhana ke orang-orang yang pemikirannya berbeda dengan mereka. Istilahnya, turun ke bumi lah..

Tugas yang berikutnya adalah untuk mencari pengetahuan lain yang bersumber dari fakta ataupun pemikiran orang yang berasal dari background berbeda, misalnya sosial, ekonomi, sampai hukum. Dengan demikian, asumsi yang salah dapat segera diperbaiki.

Kalau tugas ini bisa dikerjakan dengan baik, maka bisa jadi dunia mereka bisa benar-benar terbentuk di dunia yang nyata. Kalau nggak, yaa.. bisa jadi selamanya orang ‘pintar’ itu hanya akan menjadi ‘orang pintar’ yang ‘autis’.