“Bagaikan padi, semakin masak semakin merunduk.”

Ilmu padi mengisyaratkan bahwa semakin tinggi kemampuan dan ilmu pengetahuan yang kita miliki, maka seharusnya kita tak pantas untuk takabur (sombong). Ilmu padi ini bisa dibilang sebagai ilmunya ‘kita’ ya karena padi memang tumbuh subur di daerah kita (asia).

Sebenarnya ini ungkapan yang bagus, tapi kadang-kadang ada aja orang yang salah tafsir dan akhirnya bisa bikin emosi juga. Banyak, banyak, banyak orang yang sebenarnya memiliki kemampuan dan pengetahuan lebih, tapi dengan dalih ‘ilmu padi’ itu, mereka malah jadi merendah dan gak mau / gak berani mengeluarkan pemikiran mereka, ya katakanlah untuk sekedar berbagi ilmu. Ini sayang banget kan, mereka sebenarnya memiliki kemampuan, tapi kesulitan untuk mengeluarkan isi otak berupa pemikiran mereka.

Kalau kita bandingkan dengan budaya barat, misalnya aja ucapan, “with great power, comes great responsibility”. Saya jauh lebih suka ungkapan barat ini. Dengan semakin bertambahnya pengetahuan, maka seharusnya kita merasa kalau tanggung jawab kita bertambah. Tanggung jawab untuk apa? ya tanggung jawab untuk memaksimalkan ilmu tersebut. Kalau ilmu tersebut bisa berdampak baik, ya sebarkanlah. Kalau buruk, simpan sendiri saja.  Atau mau menyimpan ilmu buruk dan menyebarkan ilmu kejahatan ?

Terserah, tapi ucapan itu sudah mengingatkan kita kalau tanggung jawab kita berbanding lurus dengan pengetahuan. Selanjutnya, tergantung kedewasaan kita apakah ingin bertanggung jawab atau tidak. Ya nggak sih ?

Sebenarnya masih ada lagi peribahasa yang ngeselin, “air beriak tanda tak dalam”, “tong kosong nyaring bunyinya”, “air tenang menghanyutkan”. Peribahasa ini bisa jadi dalih orang males ngomong. Bikin sebel juga. Males tapi bahasnya, haha.

Peribahasa kita memang banyak yang aneh-aneh ya, tapi saya yakin juga di budaya luar pasti ada juga peribahasa yang aneh-aneh, cuma gak terekspos aja.