Mungkin ada dari pembaca yang punya teman dekat, ketika diajak ke sebuah keadaan baik, menyenangkan, dan penuh gairah, dia akan sering ada untuk kita. Di keadaan ini dia akan mendampingi kita terus, ya bareng-bareng ketawa, berbagi cerita yang penuh kebijaksanaan, ataupun sekedar menemani ke-gajelasan kita.

Tapi ketika keadaan memburuk, ya anggaplah kita sedang sakit, sedih, ataupun sedang rapuh (halah abg banget), maka ketika kita melihat sekeliling, teman tersebut tidak ada untuk membantu. Nah, inilah yang disebut istilah asing sebagai fair-weather friend.

Kenapa tiba-tiba ngomongin fair-weather friend ?

Jadi begini, beberapa waktu silam (udah lama juga sih), teman saya cerita tentang temannya yang seperti itu. Pas seneng-seneng aja sering bareng, eh pas susah gak pernah nongol. (Phew, i’m too old for a talk like this.. haha) Tapi di sisi lain, saya pikir, di umur saya yang segini juga masih ada kok teman yang seperti itu.

Saya sendiri pikir gak-apa-apalah kalau ada diantara kita yang mau jadi orang seperti itu, ya maksud saya, siapa juga sih yang mau repot dengan urusan sedih orang lain? Urusan kita aja udah banyak ? (jangan vonis saya orang kayak gitu yak.. hehe)

Tapi di sini, pertemanan bisa jadi masalah ketika kita sudah mengucapkan akan membantu teman kita dalam keadaan apapun, tapi kenyataannya bantuan cuma di mulut aja, kelakuan ya tetep aja muncul pas saat-saat gembira, di saat kesedihan gak pernah muncul. Kalau begini, si temennya “fair-weather friend” yang percaya ini bakal sakit banget batinnya. Rasanya kayak kita cuma diambil untungnya aja, pas kita dianggap merugikan, kita ditinggalin begitu aja.

Adalah benar bahwa banyak orang yang bisa kamu percaya, tapi sangatlah langka orang yang bisa kita percayai sepenuhnya. Bahkan orang terdekatmu pun bisa mengkhianatimu (hiiiiiiiiiiii…. serem yak, haha)

Gak-gak bukan itu esensinya, esensinya adalah jangan pernah menggantungkan prinsip hidup pembaca ke hal yang namanya teman, teman itu memang menyenangkan ketika keadaannya bagus, tapi kadang-kadang sangatlah sulit untuk mendapatkan teman yang bisa menemani kita menghadang berbagai badai kehidupan. Percayalah apa yang pembaca percayai, misalnya prinsip, tuhan, karma, atau apapun itu yang penting dasarnya jelas dan tetap.

Ibarat lalat yang hanya mengincar bau sapi, haha.