sebenernya rada segan juga sih nulis post tentang miyabi

Katanya, miyabi mau dateng ke Indonesia sekitar pertengahan bulan ini. Hal yang sebenarnya sepele ini, ternyata sempat jadi headline media. Ada yang setuju-setuju aja, ada juga yang menentang sepenuhnya. Ya.. hal ini ‘memecah’ negeri kita menjadi dua kubu, pro dan kontra. Yang pro diwakilkan oleh pihak pembuat film + penonton miyabi (ya iya lah), dan salah satu badan yang sudah menyatakan kontra adalah MUI.

Lupakanlah bahwa sekarang kita punya dua pihak yang lagi ‘ribut’. Ketahuilah bahwa ternyata sebelumnya miyabi udah pernah ‘main’ di Bali, tanpa pemberitaan yang seheboh sekarang. Pertanyaan yang muncul adalah : kenapa kedatangan sekarang heboh baget, sementara kedatangan yang dulu adem-adem aja?

Jawabannya (mungkin) adalah kepentingan. Atas dasar kepentingan apa, saya gak tau. Yang pasti, telah terjadi blow-up : pengeksposan berita secara berlebihan. Inget heboh lagu indonesia raya? ponari? manohara? jacko? dewi persik cerai? presiden yang dikasih surat ancaman?

Pada blow-up media kali ini : miyabi datang ke Indonesia, salah satu yang diuntungkan ya pihak produser film. Setiap hari filmnya diobrolin terus, ya itung-itung promosi gratis lah (argh sial, saya juga lagi promosi jadinya). Sementara itu, kita cuma bisa seneng sendiri atau kesel sendiri, sementara kita-kita belum tentu dapet apa-apa dari film dia, ‘menculik miyabi’ yang bergenre film komedi. Oke lah mungkin kita bisa nonton film komedi, tapi belum tentu lucu ataupun ada nilai moral positif.

Selain itu, blow up media sekarang ini, kalau dipikir-pikir bisa ngebuat dosa beruntun juga untuk pihak media. Bayangkan, orang-orang yang beruntung gak tau miyabi, bisa aja jadi penasaran untuk ngecek miyabi di google. Nah lo, apa yang ada di halaman pertama google kalau kita nyari miyabi? atau maria ozawa? saya gak tau. (jangan cari miyabi di google ya… plis, ntar dosanya nyambung ke saya, haha)

Media itu kan seharusnya dapat memberikan manfaat yang positif, dengan informasi yang mendidik. Udah cukup lah sinetron+infotainment kita kacau sekacau-kacaunya. Tapi, ternyata media berita juga udah makin kacau!!! Media berita sekarang udah bergeser ke kepentingan yang lain, yang mengedepankan keuntungan pihak ‘mereka’ dan mengorbankan kepentingan masyarakat.

Kalau kita inget ke masa silam, sebenarnya udah banyak blow-up yang dilakukan oleh media, yang dilakukan untuk menutupi berbagai hal, terutama politik. Pada intinya, sama sih tujuannya, yakni memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu. Ngomong-ngomong kepentingan, sekarang yang lagi ngetrend sekarang ini ya duel kepentingan di puncak partai golkar. Dua orang yang berduel itu ternyata sama-sama punya media. Surya Paloh di MetroTV dan Abu Rizal Bakrie di TVOne. Jelaslah, wartawan-wartawan di kedua media tersebut jadi ‘wartawan mati’ yang mengesampingkan objektivitas dan netralitas berita demi kepentingan tertentu, kemudian berusaha untuk memuja-muji si pemilik media.

Jelaslah, bahwa kalau kita memercayai media massa yang ada sekarang, kita belum tentu dapat berita yang sebenarnya benar-benar perlu kita ketahui. Mungkin berita yang kita lihat adalah kabut yang menutupi trik-intrik kepentingan pihak-pihak tertentu. Benarlah kata John Mayer, dalam lagunya waiting on the world to change,

And when you trust your television
What you get is what you got
Cause when they own the information, oh
They can bend it all they want

That’s why we’re waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting
Waiting on the world to change

It’s not that we don’t care,
We just know that the fight ain’t fair
So we keep on waiting
Waiting on the world to change

And we’re still waiting
Waiting on the world to change
We keep on waiting waiting on the world to change
One day our generation
Is gonna rule the population
So we keep on waiting
Waiting on the world to change

We keep on waiting
Waiting on the world to change