Teringat tulisan saya sebelumnya tentang kehilangan, tulisan itu saya tulis berdasarkan sudut pandang orang yang gak kehilangan. Nah,, sekarang tiba waktunya saya menulis dari sudut pandang orang yang ‘kehilangan’.

Well, ceritanya dimulai ketika saya kehilangan barang pribadi : hp, dompet yang berisi ktp, sim, kartu studi, dan sejumlah uang yang gak banyak sih, tapi cukup lah untuk beli hape esia dua biji (haha banyak juga yak?).

Di waktu kehilangan, ya sempet juga sih down, seolah-olah pandangan mata tinggal 3/8nya, sama sekali gak bisa liat ke atas. Tapi keadaan itu cuma sebentar kok. Lumayan cepat saya bisa melupakan kejadian kehilangan itu. Kenapa? Kalau kita mencoba mengingat-ingat ketika kita dilahirkan, kita gak bawa apa-apa ke dunia kan? Demikian pula ketika akhirnya kita meninggal dan dikebumikan, gak akan ada hal duniawi yang dibawa.

Jadi, karena udah tau kita gak punya apa-apa di dunia ini, gak usah takut untuk kehilangan.

Ucapan ini emang mudah dan terdengar klise, tapi ini benar apa adanya. Kalau saja kita bisa memahami bahwa kita gak punya apa-apa, saya percaya kita bisa menghidupi kehidupan kita dengan seluruh kemampuan kita. Ibaratnya kita sedang bermain judi, tapi menggunakan duit orang lain. Kita pasti berani-berani aja kan memasang taruhan tinggi ? toh kalaupun kalah, kita tidak kehilangan apapun.

Kita gak punya apa-apa di dunia ini, jadi gak ada alasan untuk gak berbuat yang terbaik, ataupun yang terburuk. Sepakat?