Beberapa waktu yang lalu saya masuk kuliah jam 7 pagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya kira hari ini akan menjadi hari biasa yang ‘elektro’ banget. Eh, tapi ternyata saya kecipratan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman dosen. Boleh lah ya, dibagi-bagi :

Cerita dimulai dari kisah sebuah dielektrik, namun entah kenapa akhirnya nyambung ke cerita tentang pendidikan di indonesia. Salah satunya adalah tentang kebudayaan ‘IPA’, yakni pada umumnya keluarga di indonesia cenderung memaksakan anak-anaknya untuk menjadi seorang sarjana.

Entah kenapa budaya itu bisa muncul ya, tapi yang pasti kalau di SMA, yang namanya IPS udah identik dengan orang-orang bego, dan IPA identik dengan anak-anak yang cemerlang akademiknya (matematika, sains, etc.)..

Setelah masuk IPA, selanjutnya anak-anak tersebut dituntut agar masuk jurusan favorit, semacam kedokteran dan teknik. Bisa disimpulkan kan, kalo masa depan sebagian besar anak di indonesia yang mampu sekolah adalah untuk menjadi sarjana/dokter.

Nah, sarjana/dokter nantinya ke mana sih? Kalau pinter banget paling lanjut sekolah lagi, kalau agak pinter biasanya diculik perusahaan asing : untuk jadi ‘onta’ pengurus fasilitas (yang kerjanya cuma ngejalanin mesin, mengawasi alat-alat dan digaji lumayan gede), yang bodo untung-untungnya jadi pengusaha, atau kalau keterlaluan bodonya bisa jadi pegawai biasa. Bahkan, bisa aja nganggur meski punya ijazah sarjana.

Nah, sekarang anak IPSnya (yang katanya waktu SMA jelek akademiknya) akan masuk ke ilmu sosial macam hukum, akuntansi, komunikasi, hubungan internasional, dll. yang ternyata kadang-kadang bisa lebih penting dari sains! Orang-orang ini bisa melakukan something beyond sekedar mengurus fasilitas, seperti berpolitik, bernegosiasi, dll. yang ternyata bisa lebih penting dan lebih strategis daripada orang teknik. Di sinilah anehnya, orang yang notabene ‘gak pinter’ kok diminta ngurus keputusan-keputusan penting? Argumen sang dosen adalah bahwa bila yang mengurus keputusan-keputusan strategis tersebut adalah orang-orang yang kurang pintar, maka sangat sulit bagi bangsa ini untuk maju.

Inilah yang disebut pak dosen sebagai kerugian orang-orang pinter yang masuk IPA, peluang mereka untuk jadi ‘onta’ yang nyaman sangatlah besar. Sementara itu, anak-anak ‘kurang pinter berkemampuan kurang’ malah mengurus keputusan yang sangat-sangat penting. Bisa berabe kan?

Tapi, kerugian ini bisa aja jadi keunggulan : kenapa? karena di bidang teknik, mahasiswa belajar secara sistematik dengan proses latihan yang cukup keras. Bila mahasiswa memanfaatkan fasilitas tersebut, maka akan dihasilkan orang yang sangat cakap. Contohnya, mahasiswa belajar tentang sistem vektor yang secara analogis dan filosofis dapat diterapkan di banyak bidang lain di dunia (saya sendiri masih bingung hubungan vektor dengan dunia, di mana ya pak?). Tapi, hal tersebut dipastikan dengan banyaknya orang-orang ‘sukses’ yang berasal dari bidang teknik.

mau contoh ? ini sebagian kecil contohnya dari teknik elektro

  • Arifin Panigoro dan Bu Yani Panigoro (pemilik medco)
  • Rinaldi Firmansyah (dirut telkom)
  • Hasnul Suhaimi (dirut xl)
  • Wahyu Wijayadi (direktur Indosat)
  • Wityasmoro (dirut mobile 8)
  • Dany Buldansyah (deputi dirut Bakrie Tel)
  • Aburizal Bakrie (menko kesra)
  • Fahmi Muchtar (dirut PLN)
  • And of course… many more !!!

(sedikit ya yang jadi politikus?)

Kalau saya pikir, memang aneh juga sih kebudayaan di indonesia ini mengenai pendidikan. Di sini, orang berburu sekolah negeri dan jurusan teknik. Sementara itu, di amerika serikat, orang-orang biasanya mengincar private school (swasta) dan berburu jurusan sosial (hukum, etc.). Mungkin saja, itu penyebab keadaan kedua bangsa tersebut cukup berbeda. Orang-orang yang mengurus negeri ini bukanlah bakat-bakat terbaik.

Pertanyaannya : perlukah anak teknik terjun ke politik?

Terserah, yang pasti saya denger politik aja udah mau muntah.