Sangatlah sulit untuk memikirkan kemajuan teknologi bangsa ketika kita masih berpikir tentang padi dan kapas, tentang bagaimana caranya untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat. Ada sebuah cerita yang menarik tentang salah satu electrical engineer di indonesia. Ketika dia dihadapkan pilihan untuk :

  • go lokal dan berdedikasi dengan indonesia yang masih berkutat dengan padi dan kapas.. dengan bayaran yang gak jelas, dan teknologi yang belum tentu sebidang dengan yang dipahami, atau
  • go international dan memberikan sumbangsih pada dunia dengan membuat teknologi dan inovasi baru di dunia kelistrikan, dan dihargai dengan harga yang tinggi?

Selama masih berpikir tentang padi dan kapas, bangsa ini belum pantas untuk berbicara tentang teknologi. Bolehlah kita punya pemenang olimpiade science, lomba robot, ataupun software design. Tapi, begitu mereka ‘besar’ nanti : apa iya pengetahuan mereka akan ‘ditagih untuk diabdikan’ demi padi dan kapas? Pastinya mereka akan memilih untuk berkarya pada ‘dunia’ dan mendapatkan bayaran yang setimpal.