Setelah kemarin memuat post yang cukup serius *kyaa kyaa* (cewek seneng cowok serius) maka sekarang waktunya untuk post yang penting, yaitu tentang saya, mbwahahaha *ketawanya bagong narsis*

Ceritanya dimulai ketika saya kuliah di semester dua lalu, tepatnya saat mata kuliah pengantar rangkaian elektrik. Nah, di pelajaran itu ada yang namanya bilangan kompleks. Bilangan ini dipakai di analisis sistem rangkaian satu fasa di kawasan fasor *terlihat rumit? memang rumit :D*. Sebenarnya pelajaran ini gak susah-susah amat sih, tapi karena suatu sebab saya sangat sulit untuk menerjemahkan bilangan-bilangan kompleks tersebut dari bentuk yang satu ke bentuk yang lain (iya, iya, ini pembelaan).

Sebab itu adalah kalkulator.

Kalkulator tua yang saya pakai selama ini tidak mendukung fitur bilangan kompleks (ya iya lah, udah tau kalkulator jadul tapi masih dipakai-pakai juga). Walaupun udah banyak orang yang bilang kalau ngitung bilangan kompleks susah, tapi saya malah nekat pake kalkulator jadul itu. Hasilnya? Luar biasa bung, saat orang lain menghitung dengan kalkulator mereka yang modern, saya masih terbengong bengong ngitung bilangan kompleks. (ibaratnya orang lain udah pake korek api, saya masih pake batu, hiks…)

Kalkulator biadab nan jadul

Setelah ujian itu, saya pun langsung pulang ke rumah dan mencari kalkulator yang lebih modern (eh ga gitu juga deng) dengan mengubek-ubek kamar, karena teringat kalau dulu pernah ngelihat kalkulator yang super canggih dan super keren, peninggalan kaka’ *kyaa kyaa* (bukan kaka’ pemain bola loh),, , dan ternyata setelah pengubekan lebih lanjut kalkulatornya ketemu!

Keren kan??? Keren kaaan????

Namun, ternyata kalkulator tersebut habis batrenya, sehingga saya harus beli batre ukuran AAA (yang imut-imut itu lho) sebanyak empat biji. Mahal juga sih, lumayan *halah 20.000 doang, dasar pelit. Bilang aja gak mau beli kalkulator yang baru kan?*buat siap-siap ujian berikutnya.

Ternyata, setelah saya beli batere dan memasangnya ke kalkulator,, it works!

Serasa mendapatkan hidayah, saya pun langsung sujud syukur (halah lebay) untuk mensyukuri kalkulator baru saya *baru? baru beli batere kali???* . Namun, ternyata kesenangan tersebut hanya bertahan lama, karena keesokan harinya kalkulatornya mengalami kerusakan memori yang tidak dapat diperbaiki hanya dengan mengganti batere seperti hal yang saya lakukan dengan mudah tersebut. (antiklimaks banget ga sih?)

Waktu pun berlalu…

Dari saat itu, saya tidak bertemu dengan si bilkom (bilangan kompleks, tapi disingkat biar jadi norak). Namun, si bilkom ternyata akan muncul di ujian rangkaian elektrik (sekuel dari pengantar rangkaian elektrik) besok!!! Teringat akan pengalaman saya dengan kalkulator, saya berinisiatif untuk mengambil langkah ekonomis, yakni dengan meminjam kalkulator *yaaahh,, itu mah kere dudul bukan ekonomis* ke temen-temen saya.

Namun, terbayang di benak saya kalau saya kerjanya minjem melulu,

Apa kata dunia??? (iklan Telkom itu lho,, eh bukan ya? Iklan Telkom mah yang “teeelllpoooonn, teeellpoooon ruuumaaah *jadul banget wakakaka*”)

Ya sudah, akhirnya saya merogoh kocek *sebenarnya bukan kocek saya juga sih, kocek bonyok* untuk membeli kalkulator baru,, horeeee *kyaa kyaa akhirnya beli juga*

Kalkulator baru, hore!!!

Saking senangnya punya kalkulator baru, walaupun secara fitur kalkulator ini kalah dengan kalkulator yang kedua (contoh pemakaian secara yang salah :D) saya sampai semangat untuk langsung nge-post berita bahagia ini *hiks hiks* (tangis bahagia), namun lupa bahwa saya masih ada ujian besok.

*eh cara make kalkulatornya gimana ya???

belajar dulu ah cara make’-nya,, eh tunggu. Kalau belajar kalkulator terus, kapan belajar rangkaian elektriknya???