Sebelum baca post ini, harap siapkan mindset anda bahwa saya sedang membicarakan masalah UN, UAN, UNAS, atau apapun namanya yang soal dan pembahasannya bocor, atau malah banjir tiap tahunnya. Saya yakin fenomena ini terjadi secara nasional (hmm, mungkin kecuali daerah yang terpencil, saya tidak tahu).

Topik yang sudah basi, yaitu soal UN, UAN, UNAS bocor. Hal tersebut mencerminkan betapa bobroknya pendidikan serta moral bangsa kita ini. Kebobrokan tersebut jelas berasal dari orang-orang pengurus pendidikan kita, dep***dik***nas (oops, saya sensor), yang saya pikir juga bobrok dengan membela dirinya dengan mengatakan bahwa kunci jawaban yang beredar merupakan kunci palsu, padahal udah jelas (terutama bagi kita yang udah UN) kunci tersebut nyata. Ya enggak sih? Atau mau mencoba mengabaikan kenyataan pahit ini?

Kalau melihat kondisi kita saat ini, saya yakin kalau soal UN, UAN, UNAS akan bocor terus-menerus, tahun ke tahun jika tidak ada penanganan khusus dari pemerintah. Terutama pada tahun ini, saya yakin soal UN akan bocor lagi karena pemerintah sedang fokus ke pemilu, jadi pendidikan dikesampingkan dahulu. Tapi saya ingin coba fokus membahas tentang fenomena sosial yang terjadi di negeriku ini.

Tentang Kunci Jawaban

Sebenarnya, menurut rekan saya yang memiliki relasi yang cukup (sangat) dekat dengan seseorang yang memiliki posisi tinggi di dep***dik***nas, tidak ada masalah kebocoran pada kunci jawaban UN, karena kunci jawaban sudah dijaga dengan sangat ketat oleh aparat pemerintah di pemerintah pusat sana di Jakarta, disegel dan tidak ada seorangpun (halah lebay) kecuali orang-orang tertentu yang mengetahui kunci tersebut. Di keadaan ini, saya harus memberikan apresiasi lebih pada petinggi yang menjaga kunci jawaban, good job.

Bagaimana kunci jawaban ada

Masalah dimulai ketika distribusi soal UN dilakukan. Begini deh, soal yang dibuat oleh dep***dik***nas kan harus merata, adil, menyebar, dan berada tepat waktu di tempat ujian. Bisa dibayangkan kan kalau Negara kita adalah Negara yang sangat-sangat besar (walaupun sudah dibagi menjadi beberapa rayon), sehingga untuk melakukan distribusi soal ujian nasional dibutuhkan waktu yang cukup lama, sehingga distribusi soal harus dilakukan agak jauh hari sebelum UN dilaksanakan.

This is the period where shit happens. Pasti aja , ada oknum yang menginginkan keuntungan dari segala kesempatan yang ada. Dengan berbagai metode (yang gak mungkin saya jabarkan di sini), mereka mendapatkan soal-soal ujian tersebut (somehow tidak merusak segel) pada sore-malam sebelum ujian, lalu mereka pergi menyebar ke SMA-SMA yang dianggap ‘potensial’ untuk menghasilkan keuntungan bagi mereka.

Ada beberapa metode yang saya ketahui untuk ‘menjual’ soal-soal tersebut. Ada yang menjual secara ‘mentah’, yakni siswa membeli soal langsung tanpa jawaban, bisa juga siswa membeli paket sms ‘halah’ yang biasanya banyak siswa terjebak pada paket sms ini. Selain itu, bisa juga kadang-kadang siswa yang membeli kunci jawaban tersebut mendatangi siswa yang ‘pintar’ malam-malam sebelum UN, lalu mengerjakan soal tersebut bareng-bareng, kemudian meng-SMS siswa-siswa satu sekolah lainnya pada pagi sebelum UN.

Bagaimana cara mendapatkan kunci jawaban

Gampang aja sih, kalau kamu siswa-siswi SMA, kamu tinggal nongkrong di depan sekolah kamu, sekitar sore hari – kalau bisa sampai malem dan kalau bisa rame-rame – (usahakan juga kelihatan cemas dan bingung). Pasti akan ada mas-mas, atau om-om lah yang akan menghampiri anda dan kemudian akan menawarkan soal, kunci, atau apapun yang berhubungan dengan UN. Jikalau sampai malam hari belum ada tanda-tanda penawaran, maka SMA anda kurang beruntung dan semoga tahun depan SMA anda dapat menjadi SMA incaran penjual-penjual kunci jawaban.

Mudah bukan? Mendapatkan kunci jawaban Ujian yang digadang-gadang sebagai ujian yang sangat sulit. Eits, tunggu dulu. Ujian yang sulit? Bukankah setelah ujian itu masih ada ujian-ujian yang lain??? UMPTN, SPMB, SNMPTN? STAN? Ujian mertua? Ujian Dunia? Ujian Akhirat? Bentar-bentar, saya cari dulu cara dapat bocoran ujian yang lain ya.

*walaupun saya tahu hal-hal di atas bukan berarti saya ‘pengguna’ bocoran UN dan juga jangan simpulkan bahwa almamater saya dan ‘SMA sebelah SMA saya’ adalah ‘pengguna’.