Sebenarnya saya sudah menemukan ‘spot’ menarik ini sejak bulan juni, yang lalu, namun baru kesampaian untuk nge-post ‘spot’ tersebut :

patah hati karena miyabi

patah hati karena miyabi

Bagaimana ceritanya di sebuah institusi yang katanya top university di Indonesia bisa ada orang yang patah hati sama miyabi??? Saya Cuma bisa geleng-geleng sambil nyengir-nyegir lihat tulisan anak muda yang satu ini.

Btw, butuh keberanian juga untuk melakukan tindakan seperti ini, saya sewaktu sma dulu termasuk oknum yang sering melakukan tindakan criminal berseni ini. Coret-coret pilar sekolah, bangku sekolah, sampai celana sekolah (eitsss,, siapa tuh?). Kalau guru-guru di sekolah sih biasanya (pastinya) gak suka sama tindakan seperti ini, karena dianggap tidak disiplin, merusak kenyamanan, dan lain-lain, dan lain-lain.

Namun, dari pihak tertuduh (pencoret-coret) maksudnya adalah mengekspresikan diri, misalnya kalau saya sendiri gak bisa duduk nyaman di kursi lama-lama, pasti harus ada yang bergerak, entah itu kaki, tangan, pulpen, atau otak (loh? Emangnya bisa???)

Salahnya di sini sih, kalau menurut saya adalah tidak adanya (atau kurangnya) media atau wadah ekspresi yang dapat digunakan oleh orang-orang yang patah hati oleh miyabi,, eh,, oleh orang-orang yang suka coret-coret di dunia nyata.

Contoh yang bagus, saya pernah melihat post ini, dari Pak Budi Rahardjo, jadi dia menyediakan tempat khusus sebagai tempat anak-anaknya melakukan proses corat-coret miyabi kreativitas.

Namun, kalau tidak ada space di dunia nyata, kan masih ada space di dunia maya yang jumlahnya banyak banget,, atau aplikasi bajakan yang dapat dicari dengan mudah di berbagai sudut kota di Indonesia. Ya toh?

Sekarang sih, saya udah gak pernah lagi corat-coret kursi, meja, atau apapun di kampus,, mungkin sekedar menggambar kurva sinus di meja kuliah aja sih,, gak apa-apa kan???