Mathematics is the heart of engineering

Masa-masa liburan lebaran kemarin lebih banyak saya gunakan untuk belajar, dengan harapan saya dapat lebih memahami konsep-konsep yang saya lewatkan di kelas karena tidur. Alih-alih lebih jago, saya malah mengalami kesulitan yang cukup mengganggu, terutama di kuliah Rangkaian Listrik (RL) yang banyak persamaan matematikanya. Hmm,, kenapa ya? Biasanya kalau di urusan matematika saya tidak terlalu kesulitan. Apakah tingkat kesulitannya yang semakin tinggi, atau otak saya yang jarang dipakai (tidur di kelas)?

Iseng-iseng browsing, saya mendapatkan informasi kalau ternyata memang kuliah Rangkaian Listrik cukup sulit, terbukti dengan jumlah mahasiswa yang lulus biasanya sekitar 50% dari jumlah total mahasiswa. Buset dah, malah ada yang ngulang mata kuliahnya sampai 4-5 kali baru lulus. Serem juga, hiii…

Mencoba berpikir positif, dengan menganggap dosen sebagai penyebab hancurnya nilai mahasiswa, saya mendapatkan fakta bahwa nilai mahasiswa di kuliah RL hancur semua!!! Siapapun dosennya, hancur nilainya. Namun, setelah melihat sekilas, ternyata di antara nilai-nilai yang hancur, terdapat juga mahasiswa yang mendapatkan nilai A. Ini membuktikan satu hal : Rangkaian Listrik gak susah.

Kalau tingkat kesulitannya tidak terlalu tinggi, berarti tinggal satu alasan mengapa nilai mata kuliah RL hancur semua, yakni : malas!

Saya telusuri jalur hidup saya di masa silam, saya mendapati diri saya sebagai orang yang malas (haha). Pada pelajaran eksak, saya hanya mengandalkan kecerdasan dan intuisi untuk memilih satu jawaban dari pilihan ganda yang ada. Sementara pada pelajaran non-eksak, kerjaan saya nyontek, nyalin, kerjasama, atau apapun namanya lah. Yang penting dapat jawaban. Pada masa tersebut, kemalasan itu masih dapat membawa saya ke jenjang kuliah.

Nah, masalahnya muncul ketika saya kuliah, terutama di masa-masa sekarang, pada tingkat kedua, pada saat berbagai mata kuliah yang sudah pernah dipelajari muncul dengan tuntutan yang berbeda. Tuntutan tersebut adalah kemampuan dasar yang sebelumnya saya abaikan, karena kemalasan saya. Jadi, rasanya seperti seluruh kemalasan yang telah kita lakukan seumur kita diakumulasikan ke satu titik di masa kini, hihi..

Konsekuensinya, saya harus belajar mundur dan mengulang berbagai pelajaran yang sebenarnya mudah, namun banyak, sehingga banyak menyita waktu yang harusnya saya gunakan untuk hal yang lain. Namun, ada untungnya juga sih (there’s always a silver lining in every cloud, right?),, saya menyadari kemalasan saya pada saat saya belum mengenal persamaan Maxwell ataupun Schrödinger.

Masa-masa sekarang, matematika yang saya lawan jauh lebih sulit, bukan karena materinya semakin sulit, tapi karena semakin banyak. Jadi, kalau saya pikir kemalasan mahasiswa juga disebabkan oleh sistem pendidikan kita (bukannya menyalahkan, namun harus ada perbaikan kan?).

Kalau saya bandingkan pendidikan SD Indonesia dengan pendidikan SD perancis, ada hal yang cukup menarik, yakni lulusan SD Indonesia lebih ‘pintar’ daripada lulusan SD perancis. Kalau di sana, lulusan SD hanya bisa melakukan operasi matematika : tambah, kurang, kali, bagi. Kontras dengan lulusan sini yang udah bisa KPK, FPB, luas itu, luas ini, dll.

Saya pikir tidak ada masalah kalau siswa benar-benar paham apa yang mereka pelajari, namun masalahnya adalah pendidikan kita (*opini pribadi) mencoba berbagai hal terlalu cepat, yang berujung ke budaya serba instan. Pendidikan berpengaruh pada karakter, ya kan? Sehingga jangan heran mengapa budaya ‘kita’ serba instan. Saya pikir harus ada perubahan yang sangat mendasar pada sistem pendidikan (bukan dengan ganti kurikulum saja), tapi juga pengajar, fasilitas, dll. dll. dll.

*sori jadi pengkritik tanpa solusi.

Aduh, kok malah jadi ngeblog, bukannya belajar???

Bentar, ah masa belajar terus sih?

Yaudah, beres ngeblog belajar yah!

Bentar,, tidur dulu ah..