*artikel ini tidak berhubungan dengan phreaking, hacking, atau mencurangi provider selular, namun berisi tentang pengalaman saya menggunakan jasa selular gratis.

Ceritanya dimulai ketika saya kehilangan simcard kartu AS saya, sekitar dua minggu yang lalu. Sejak saat itu, dapat dikatakan kalau saya kehilangan kehidupan sosial (walah lebay banget) yang biasanya terfasilitasi melalui nomor 08522255xxxx.

Setelah bertanya sana-sini mengenai prosedur pemulihan nomor HP tersebut, akhirnya saya pergi ke BEC, lantai dasar, tempat graha telkomsel (atau apalah itu) untuk recovery nomor tersebut.

Me : Mbak, simcard saya hilang dan saya ingin membuat yang baru.

Mba : Baik. Namanya siapa mas?

Setelah menyebutkan nama saya, si mbak bilang kalau ternyata simcard saya “belum” terdaftar (padahal udah woy! Mau ngambek takut malu-maluin almamater). Si mbak bilang kalau saya masih punya box kartunya, saya bisa pergi ke grapari (atau apa lah). Dengan perasaan cukup sebel juga,, saya pulang, dengan tangann kosong.

Keesokan harinya (tentunya setelah melakukan aktivitas, saya bukan pengangguran, hehe.) saya mendatangi sentra telkomsel yang berada di kantor pos jalan banda. Ketika datang pertama kali, waaah, gede juga ya gedungnya, dengan PD-nya saya naik tangga ke sebelah kiri (padahal ada dua tangga dan saya bingung mana yang sentra telkomsel), dan ternyata SALAH naik! sial! udah PD-PD-nya, dipanggil mas-mas di tangga sebelahnya (lain kali ajak temen aja dah biar gak sendirian malunya).

Setelah masuk sentra telkomselnya, wah, mas-mas nya ramah-ramah, mbak-mbaknya juga cantik-cantik (gak tau digaji berapa biar bisa senyum terus). Saya tinggal menunggu sambil minum gratis, sambil menyebutkan nomor telepon saya yang hilang. Selanjutnya mbak2 tadi minta KTP sebagai alat identitas, dan 10 nomer yang sering dihubungi. Saya nunggu lagi, sambil main elasto mania (game yang bikin kita bisa sekaligus exiting dan juga sebel), ternyata nomernya bisa di-recovery^^’, asik banget, serasa mau joged tapi malu bung ini tempat umum.

Tanpa biaya apapun, saya diberikan kartu baru dan sebuah pesan:

Mas, nomornya baru bisa dipakai setelah maksimum 1×24 jam

Hmm, mungkin urusan administratif, pikirku saat itu (kembali ke tata bahasa yang benar ah). Dengan perasaan senang ( karena pelayanan dan prosedur yang relatif sederhana) saya kembali ke kehidupan normal (?). Malamnya, saya ingin menguji apakah nomornya sudah bisa dipakai, namun ternyata saya ketiduran (duh maklum orang males).

Keesokan harinya, saya harus pergi ke kampus pagi-pagi, dan sebelumnya saya menguji kartu baru dengan memasangnya di hp dan menelponnya, ternyata bisa (hore!), nomornya sudah berfungsi. Oleh karena itu, saya langsung mengisi pulsa terlebih dahulu (pulsanya 74 rupiah cuy,, gak bisa dipake) sepuluh ribu aja, sambil uji coba ( berarti pulsanya jadi berapa pembaca? pinteer… 10.074).

Saya berangkat sambil sms-an sama teman saya,, tanpa mengecek pulsa saya.

Setelah hari agak siang, saya mengecek pulsa, dan saya cukup kaget karena pulsa HP-ku masih 10.074!!! Setelah menguji dengan puluhan SMS ke orang lain, serta telpon2 iseng pun pulsanya tidak berkurang!!! Peluang Kondisi ini membuat saya langsung menelepon teman saya untuk menguji seberapa jauh “kekuatan” pulsa saya (ada kekhawatiran pulsa saya yang sebenarnya dan yang di layar berbeda, namun demi memuaskan diri atas rasa penasaran, saya mencoba untuk menelepon).

Begini, misalnya pulsa yang tertulis adalah 10.074, dan pulsa (misalnya) di telkomsel telah berkurang, maka waktu telpon yang dapat saya gunakan adalah sebesar 10.074/6,5 = 1.549 detik, atau sekitar setengah jam. Jika waktunya mencapai detik tersebut, maka terdapat “celah” pada telkomsel yang dapat saya manfaatkan untuk jangka waktu tertentu, namun jika kurang dari itu (karena sms dan telepon iseng saya, otomatis pulsanya sudah berkurang), maka jumlah pulsa yang tertera di layar telepon adalah salah.

Setelah melakukan ujicoba, ternyata saya mampu menelepon sampai detik ke 1540-an (diputuskan oleh telkomsel), dan pulsa saya berkurang sampai habis. Kesimpulan yang saya ambil saat itu adalah saya dapat menelepon, SMS, dan GPRS gratis, selama pemakaian saya tidak menghabiskan pulsa yang tersedia (dalam artian kalau mau nelpon diputus tiap 20 menit, agar pulsa tidak habis). Akhirnya saya isi pulsa 10.000 lagi, untuk mencoba teori yang baru. (hidup adalah trial and error kawan!)

Ternyata benar, selama pemakaian kurang dari pulsa yang ada, pulsa saya tidak berkurang. Serasa berada di surga telekomunikasi, saya nelpon kesana kemari, sampai puassssssssssssssssssssss, bangettttssssssssss, eneeeksssss, hoeeeeks.

Namun, ternyata setiap kepuasan mempunyai akhir. Pada saat saya membuat telepon iseng (lagi) dan mengecek pulsa, ternyata pulsanya berkurang (yaaahhh, saya kecewa).

Saya bertanya-tanya mengapa pulsanya bisa berkurang, lalu saya teringat perkataan mba2 di sentra telkomsel

Mas, nomornya baru bisa dipakai setelah maksimum 1×24 jam

Hoo,, saya baru mengerti,, mungkin itu maksudnya 1×24 jam, mungkin saat 1×24 jam itu registrasi nomor saya belum selesai, sehingga penggunaan pulsa saya tidak tercatat. Ternyata provider selular sebesar telkomsel mempunyai celah juga (dan saya yakin banyak celah yang lain).

Kesimpulannya? Kalau mau nelpon gratisan, ilangin simcard kalian! (hehe) Bukan-bukan, yang benar adalah kadang-kadang kesempatan dan kemampuan sudah ada pada diri kita sendiri, namun kita tidak menyadarinya, dan ketika kita menyadari kemampuan tersebut, waktu yang kita miliki sudah menipis.

So, don’t waste your time.