Prologue

“Saya tidak tahu bagaimana saya tampak pada dunia; tetapi bagi saya sendiri saya nampaknya hanyalah seperti seorang anak laki-laki yang bermain-main di pantai dan mengalihkan diri sendiri sekarang dan kemudian menemukan koral yang lebih halus atau karang yang lebih indah daripada yang biasa, sementara samudera besar dari kebenaran semuanya terbentang di hadapan saya tak terungkapkan.”

Isaac Newton, yang pada saat remajanya bosan sekolah, lebih suka bermain layangan, roda air, jam, ataupun alat lainnya. Untung aja pamannya mengenali bakat luar biasanya, lalu ia disekolahkan di Universitas Cambridge. Selanjutnya? Cari tau sendiri yah, saya tidak akan membahas hal ini.

[sebenarnya cerita di atas tidak ada korelasinya dengan tulisan berikutnya]

Isi

Jadi inget commentnya Pak Budi Rahardjo di post [Akhirnya] Bolos Lagi.

If School is fun, why take a holiday?

Nah, dalam kehidupan saya sendiri, ‘if’ dalam kalimat tersebut cuma bener-bener bisa jadi ‘if’. Faktanya, kapan yah sekolah menyenangkan? Bentar-bentar. Ah iya!

· Ketika guru enggak ada, terus bisa main dan ngobrol dan jalan-jalan dan ‘mengeceng’.

· Ada guru yang seru, cerita hal yang seru!

· Pentas Seni, Bazaar, Festival dan ada turnamen antar kelas [nonkurikuler]

Bentar lagi. Seharusnya di sekolah, apa yang kita lakukan sih?

· Tidak ada guru, belajar dong…

· Utamakan studi, kurikuler hanya sebagai penunjang

Kalau seperti itu, akan terjadi konflik antara membuat sekolah menjadi menyenangkan dengan keadaan sekolah yang tidak akan pernah yang kurang menyenangkan. Kesan sekolah itu bosan, lalu nyontek, kemudian tawuran. Di sisi lain, passion untuk belajar di sekolah, rasanya udah gugur oleh game, pacaran, dll. [walaupun tentunya ada orang yang benar-benar tekun sekolah, saya taksir sekitar 10% dari populasi pelajar].

Selanjutnya saya akan bertanya, bagaimana membuat sekolah menjadi menyenangkan? Saya pikir sih dengan :

Passion siswa harus dibangkitkan. How? Dengan membuat sistem [guru] yang menarik minat siswa terhadap pelajaran. Duh, berarti gurunya juga harus punya passion, harus terlatih, harus nambah gaji. Duit masalahnya.

Hilangkan budaya ‘IPA’. Entah kenapa orang tua di Indonesia cenderung ‘memaksa’ anaknya untuk masuk jurusan IPA. Kan pusing.. Tidak setiap orang dibekali kecerdasan intelektual yang mumpuni. Kalau otaknya otak ‘IPS’, namun dimasukkan ke ‘IPA’, seperti menyuruh pele menjadi pemain golf. Gak nyambung kan? Daripada memble di IPA, lebih baik jadi raja di ilmu sosial kan? Di sini, budaya masalahnya.

Kurangi beban belajar yang terlalu besar. Di tanah kelahiran saya, Perancis, yang namanya lulusan SD itu bisanya hanya pertambahan, pengurangan, dll. Waw, kalau di Indonesia hebat banget bo! Udah bisa perkalian, pembagian, KPK, FPB, luas, volum, dll. Kalau beban belajar menumpuk, sekolah tidak menyenangkan. Coba bangun dasar yang kuat terlebih dahulu, jangan luluskan siswa secara ‘prematur’, yakni dengan kemampuan akademik tinggi, namun hanya cekokan. Coba kita lihat, Indonesia banyak menghasilkan siswa yang mampu mendapatkan medali emas olimpiade sains internasional, namun kalau kita lihat dari segi inovasi? Belum ada yang ‘dahsyat’. [Saya benci bimbel yang menggeser makna pembelajaran, hehe tapi saya suka menawarkan diri untuk mengawas, demi penghasilan tambahan😀 ] Di sini, kurikulum masalahnya.

Dan banyak cara lain untuk membuat sekolah menjadi ‘agak’ menyenangkan. Sebenarnya banyak metode pembelajaran yang dianggap dapat mengembangkan kecerdasan siswa secara tepat, plus menyenangkan, misalnya : quantum learning, accelerated learning, dll. [Saya udah baca kedua buku tersebut] Tapi, seandainya semua hal di atas berhasil diterapkan, apakah sekolah akan benar-benar menyenangkan? Saya ragu.

Oh iya, ada komentar yang menggelitik saya dari salah seorang guru saya [dalam bahasa inggris], saya suka komentar ini, karena realistis.

“The process of study is painful. If you are not ready to feel the pain, do not study. But, If you are not take any study, you will get nothing. Get nothing? Go to hell!”

Epilogue

Nampaknya memang sulit untuk membuat sekolah menyenangkan. Karena proses pembelajaran yang saya alami hingga saat ini, sangat mengandung sedikit makna kegembiraan. Yah, jadi aja saya ganti kalimat pertanyaan di atas jadi If conditional type III.

If school had been fun, I would not have taken a holiday [School is not fun, so I take a holiday].

Nah, sekarang, siapa yang setuju sekolah itu menyenangkan?