Globalisasi? Menguntungkan ? Merugikan ? Ah, capek juga mikir hal semacam itu.. Ada pendapat yang menggelitik juga tentang penggolongan globalisasi, menurut seminar “Hak Atas Kekayaan Intelektual” [Meskipun ‘bau-bau’ yang ditawarkan lebih kepada piracy software, paten, dll.] yang saya hadiri, menurut pembicara, globalisasi itu dibagi ke dalam tiga era:

– Version 1 : Kamu dari bangsa mana sih??? [Rekan-rekan tentunya tahu bahwa pada zaman kapal-kapal layar berkembang dengan pesatnya yang dipelopori oleh bangsa Spanyol dan Portugis, bangsa-bangsa tersebut melakukan globalisasi dengan jalan imperialisme (kuno).. Nemu tanah, tancep bendera!!! Kaum Pribumi dianggap sebagai masyarakat yang tidak memiliki peradaban.]
– Version 2 : Kepada siapa kamu bekerja??? [Disebut juga era korporat, zaman ini, kalau bisa bekerja di perusahaan multinasional yang melakukan globalisasi dengan melaksanakan ekspansi (imperialisme modern), wuuh, derajat kita naik mas. Tidak peduli apakah saya seorang pribumi indonesia ataupun seorang ‘bule’, selama bekerja pada orang yang tepat, anda menjadi penting]
– Version 3 : Siapa orang terpenting??? Andalah orangnya !!! [Siapa Anda? Kemampuan apa yang anda miliki? Pada zaman ini, terjadi banjir informasi. Ajukan pertanyaan yang tepat, akan dapat jawaban yang memuaskan]

Yang menggelitik lagi tentang kejahatan dunia maya. Cyber crime. Khususnya yang kemarin dibahas adalah tentang pembajakan.
Begini argumennya :
– Kalau seseorang mencuri di dunia nyata. Misalnya seseorang tersebut mencuri HP. HP korban hilang kan??? berpindah tangan ke pihak pencuri. Ada barang bukti nyata [barang berpindah tangan]
– Nahh, kalau seseorang itu membajak suatu film/lagu [jangan tanya ini, banyak kan download centre mp3 dan dvdrip]. Dia mengcopy file tersebut. Apakah file ‘korban’ hilang, apakah ‘korban’ dirugikan? [Belum lagi masalah manipulasi data komputer, itu kan ‘mudah’ untuk dilakukan].

Nah, dalam dunia cyber, kasian juga kan musisi ataupun produser film yang harusnya mendapatkan untung, namun hasil karyanya dibajak. Oleh karena itu, ada pengenalan sistem copyright [hak cipta], ataupun trademark [hak dagang]. Ah, males bahas bahan itu, nanti malah pada tidur [kalau lihat undang-undangnya yang selayar penuh dan tulisannya kecil-kecil pasti pada males]. Tapi hal yang menggelitik tentang copyright itu adalah NSP [Nada Sambung Pribadi], kita bisa memilih kan, lagu apa yang kita inginkan tanpa harus membeli satu album penuh. Tapi hal ini dikritik oleh composer/musisi/artis.
“Album itu adalah suatu kesatuan, ya enggak boleh kalau cuma mau ambil sebuah lagu, dipotong pula jadi hanya sepuluh detik, itu penganiayaan terhadap karya seni!”
“Coba kalau beli buku matematika, hanya saya berikan bab integral, dan cuma dua lembar, apa jadinya???”
[kalau tidak salah pembicara menyebutkan tentang pembelaan bahwa keuntungan yang didapatkan composer/musisi/artis akan jauh lebih besar dengan sistem NSP ini daripada mengandalkan sistem royalti (yang lagi-lagi albumnya dibajak)]

Tapi uniknya, ada perbedaan yang mendasar tentang copyright antara di Indonesia dan Amerika Serikat :

Indonesia – Kalau kamu sampai berani ganggu hak cipta saya, saya hukum kamu ! [padahal jelas-jelas banyak pelanggaran, dan oiyah, katanya di Amerika, susah cari tempat fotokopian dan penjilidan, orang-orang di USA pun cenderung malu untuk fotokopi buku-buku yang ber-“hak cipta”. Tapi di indonesia, wuuh, di setiap belokan jalan hampir ada semua, dan dikit-dikit main fotokopi…]

Amerika Serikat- Mau hak cipta saya, bayar dong… [Pantesan bisa kaya]

Oh iya tapi ada yang menggelitik lagi masalah paten. Perusahaan seperti Coca-Cola ataupu KFC [dengan Original Recipe-nya], tidak akan melakukan paten. Kenapa? Ternyata ketika suatu hal dipatenkan, hal tersebut ‘hanya’ dapat dipajang ataupun dikomersilkan selama 20 tahun. Setelah itu? Bebas! Kita boleh menggunakan hal tersebut ataupun mengembangkannya sesuka hati kita. Lalu, apa yang dilakukan perusahaan dengan rahasia tersebut? Mereka merahasiakan hal tersebut dengan embel-embel “Rahasia Perusahaan” [dasar gak mau rugi]. “Rahasia Perusahaan” bisa bertahan selamanya!

Yang pasti, yang saya dapatkan dari seminar “Hak Atas Kekayaan Intelektual”, setelah seseorang menemukan suatu hal baru [apalagi yang berguna], terserah kepada dia, apakah dia ingin membuat dirinya terkenal, kaya, aneh[merahasiakan penemuan tersebut]. Semua itu adalah haknya.