Jadi ingat, salah satu saat terdekat saya dengan kematian. Waktu itu saya masih bocah. Kelas 5 SD tepatnya.. Saya sedang berlari riang, menyanyikan lagu crayon sinchan, “Sang gajah terkena flu..” [padahal yang bener kan, “Selalu saja terkena flu…”]. Setelah itu saya, menaikkan pantat saya ke pegangan tangga. Biasanya, saya berhasil sampai di bawah dengan selamat. Tidak terpikirkan oleh saya bahaya yang menghadang. Saya kehilangan keseimbangan dan terjatuh ke tangga, menuju anak tangga di lantai satu dengan kepala berada di bawah.. Saat itu gerakan saya terasa seperti slow motion.. Kepalaku siap pecah menghantam anak tangga.

Untung aja ada teman saya, namanya Rifki [thanks for saving my life]. Saya hantam badannya, seperti smack down. Setelah itu saya mengalami blackout. Bangun-bangun, saya udah ada di UKS. Kepala terasa berat. Teman-teman mengerumuni saya. Kepalaku sangat pusing. Blackout lagi. Bangun-bangun saya udah berada di alat MRI, untuk mengecek jika tulang tengkorak ataupun otak saya mengalami kerusakan. Saya tidur lagi.. [Hmm, satu juta keluar tuh, mayan waktu saya masih SD]

Ternyata, otak saya tidak mengalami kerusakan, hanya memar biasa. Saat saya kembali ke sekolah, mata teman saya, Rifki, merah sebelah. Setelah saya ucapkan terima kasih padanya, dia bilan, “enggak apa-apa kok” [wah, dia memang ikhlas, gak marah udah ditimpa sama saya, tapi katanya dia nangis waktu ditimpa saya. Gak ada dendam atau pamrih, salut]..

Waktu itu, momen itu tidak terlalu penting. Tapi, sekarang… Entah apa jadinya kalau waktu itu tidak ada dia. Dimana ya saya? Hidup ini takkan kusia-siakan [sekarang sih mikirnya gitu]. Thanks ya Rifki, dimanapun kamu, for saving my life…