Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘pendidikan’

h1

Pendidikan Sekarang

Agustus 29, 2009

Beberapa waktu yang lalu saya masuk kuliah jam 7 pagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya kira hari ini akan menjadi hari biasa yang ‘elektro’ banget. Eh, tapi ternyata saya kecipratan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman dosen. Boleh lah ya, dibagi-bagi :

Cerita dimulai dari kisah sebuah dielektrik, namun entah kenapa akhirnya nyambung ke cerita tentang pendidikan di indonesia. Salah satunya adalah tentang kebudayaan ‘IPA’, yakni pada umumnya keluarga di indonesia cenderung memaksakan anak-anaknya untuk menjadi seorang sarjana.

Entah kenapa budaya itu bisa muncul ya, tapi yang pasti kalau di SMA, yang namanya IPS udah identik dengan orang-orang bego, dan IPA identik dengan anak-anak yang cemerlang akademiknya (matematika, sains, etc.)..

Setelah masuk IPA, selanjutnya anak-anak tersebut dituntut agar masuk jurusan favorit, semacam kedokteran dan teknik. Bisa disimpulkan kan, kalo masa depan sebagian besar anak di indonesia yang mampu sekolah adalah untuk menjadi sarjana/dokter.

Nah, sarjana/dokter nantinya ke mana sih? Kalau pinter banget paling lanjut sekolah lagi, kalau agak pinter biasanya diculik perusahaan asing : untuk jadi ‘onta’ pengurus fasilitas (yang kerjanya cuma ngejalanin mesin, mengawasi alat-alat dan digaji lumayan gede), yang bodo untung-untungnya jadi pengusaha, atau kalau keterlaluan bodonya bisa jadi pegawai biasa. Bahkan, bisa aja nganggur meski punya ijazah sarjana.

Nah, sekarang anak IPSnya (yang katanya waktu SMA jelek akademiknya) akan masuk ke ilmu sosial macam hukum, akuntansi, komunikasi, hubungan internasional, dll. yang ternyata kadang-kadang bisa lebih penting dari sains! Orang-orang ini bisa melakukan something beyond sekedar mengurus fasilitas, seperti berpolitik, bernegosiasi, dll. yang ternyata bisa lebih penting dan lebih strategis daripada orang teknik. Di sinilah anehnya, orang yang notabene ‘gak pinter’ kok diminta ngurus keputusan-keputusan penting? Argumen sang dosen adalah bahwa bila yang mengurus keputusan-keputusan strategis tersebut adalah orang-orang yang kurang pintar, maka sangat sulit bagi bangsa ini untuk maju.

Inilah yang disebut pak dosen sebagai kerugian orang-orang pinter yang masuk IPA, peluang mereka untuk jadi ‘onta’ yang nyaman sangatlah besar. Sementara itu, anak-anak ‘kurang pinter berkemampuan kurang’ malah mengurus keputusan yang sangat-sangat penting. Bisa berabe kan?

Tapi, kerugian ini bisa aja jadi keunggulan : kenapa? karena di bidang teknik, mahasiswa belajar secara sistematik dengan proses latihan yang cukup keras. Bila mahasiswa memanfaatkan fasilitas tersebut, maka akan dihasilkan orang yang sangat cakap. Contohnya, mahasiswa belajar tentang sistem vektor yang secara analogis dan filosofis dapat diterapkan di banyak bidang lain di dunia (saya sendiri masih bingung hubungan vektor dengan dunia, di mana ya pak?). Tapi, hal tersebut dipastikan dengan banyaknya orang-orang ’sukses’ yang berasal dari bidang teknik.

mau contoh ? ini sebagian kecil contohnya dari teknik elektro

  • Arifin Panigoro dan Bu Yani Panigoro (pemilik medco)
  • Rinaldi Firmansyah (dirut telkom)
  • Hasnul Suhaimi (dirut xl)
  • Wahyu Wijayadi (direktur Indosat)
  • Wityasmoro (dirut mobile 8)
  • Dany Buldansyah (deputi dirut Bakrie Tel)
  • Aburizal Bakrie (menko kesra)
  • Fahmi Muchtar (dirut PLN)
  • And of course… many more !!!

(sedikit ya yang jadi politikus?)

Kalau saya pikir, memang aneh juga sih kebudayaan di indonesia ini mengenai pendidikan. Di sini, orang berburu sekolah negeri dan jurusan teknik. Sementara itu, di amerika serikat, orang-orang biasanya mengincar private school (swasta) dan berburu jurusan sosial (hukum, etc.). Mungkin saja, itu penyebab keadaan kedua bangsa tersebut cukup berbeda. Orang-orang yang mengurus negeri ini bukanlah bakat-bakat terbaik.

Pertanyaannya : perlukah anak teknik terjun ke politik?

Terserah, yang pasti saya denger politik aja udah mau muntah.

h1

[ Mengisi Stand] Edufair di SMAN 5 Bandung

Februari 1, 2008

Senang rasanya bisa kembali ke tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun, yakni SMA Negeri 5 Bandung. Saya kembali dalam rangka mengisi acara Edufair, yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Acara Edufair ini sendiri [menurut saya] terbagi menjadi tiga jenis, yakni panggung hiburan, kelas presentasi, dan stan-stan yang disewakan.

Nah, unit yang saya masuki, yakni Kokesma ITB [Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa ITB], mengisi stan pada acara Edufair tersebut. Selain stan yang kami tempati, juga ada stan yang dihuni oleh perwakilan dari Prasetya Mulya Business School, STPDN/IPDN, UPI, UNPAR, Polban, Widyatama, STAN, U.K. Maranatha, STIE, dll. [banyak sekali, sampai lupa]

Karena saya merupakan orang yang cukup populer sewaktu SMA, ternyata adik-adik kelas [bukan hanya kelas XII, namun juga kelas X dan XI] tidak malu untuk mendatangi stan kami dan bertanya tentang segala sesuatu tentang ITB. Bahkan, kami cukup kewalahan ketika banyak sekali orang yang mengerumuni stan kami untuk menanyakan banyak hal. Brosur yang telah kami siapkan pun telah ludes sebelum tengah hari.

Ternyata, kembali sebagai seorang sosok yang bisa diteladani ternyata cukup menyenangkan. Saya bisa nostalgia & mengobrol [dengan adik kelas yang cantik-cantik, maklum di kampusku kering], berbagi pengalaman [meski belum banyak], memompakan motivasi [ke siswa kelas tiga], menjadi SPG [mempromosikan suatu hal, dalam hal ini kampus ITB], bertemu guru [yang dulu saya maki-maki di kelas], bertemu guru [yang saya cintai karena gaya mengajarnya].

Overall, saya cukup puas dengan minat yang ditunjukkan oleh adik-adik kelas saya. Semoga Edufair semakin sukses di tahun-tahun berikutnya. Semoga dinasti SMAN 5 Bandung terus menjadi dinasti yang kokoh, tidak melupakan motto : “Lima besar karena kebersamaan.”.

Selalu menyenangkan kembali ke tempat yang kita cintai!

*mohon maaf tidak ada media foto sebagai bukti, hihi… jadi saya beri saja foto ini yah,,

 

SMAN 5 Bandung

*saya tidak ada di foto. Adanya juga Beben, Jessi, Dhisa, Topa, Anti, Ntedh, Ina, Cheris. Jadi kalau yang merasa terpampang ridokan saja ya, foto kalian sudah menyebar di dunia nyata, haha

h1

Teman di Malaysia

Januari 12, 2008

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lain-lain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, :D

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???