Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘Kuliah’

h1

Kehilangan Rasa Takut

November 24, 2009

Baru sadar nih, entah kenapa akhir-akhir ini saya tidak bisa merasakan beberapa hal yang dulu sangatlah menarik perhatian saya.

Misalnya, ketika saya masih berada pada titik-titik awal pendidikan : saat SD/SMP saya gak bisa ngerjain ujian, biasanya akan ada kekecewaan ataupun kesedihan mendalam saat ujian nge-blank. Nah, sekarang? Mau ada ujian besok juga, perasaan panik itu hilang entah kenapa. Entah kenapa gak ada dorongan rasa takut atau apapun yang bisa memaksa saya untuk belajar.

Selain itu, kalau dulu saya ragu untuk maki-maki orang ataupun mencela orang yang salah, sekarang entah kenapa perasaan itu udah hilang. Sekarang, saya gak ragu untuk mengucapkan sesuatu yang mungkin menyakiti orang lain.

Apa yang terjadi yah? Saya sendiri bingung. Apakah mungkin ini semua terjadi pada semua orang yang bertambah tua? apakah ketika kita bertambah tua akan banyak hal-hal dan perasaan yang akan kita lupakan?

Saya sendiri saat ini berusaha untuk mempertahankan perasaan tersebut, dan berharap bertambah tua tidaklah seburuk itu. Saya ingin bisa takut lagi, takut ketika dunia ini tidak bekerja seperti yang saya inginkan, ataupun takut ketika orang lain tersakiti, oleh orang yang tidak memiliki perasaan.

h1

Pendidikan Sekarang

Agustus 29, 2009

Beberapa waktu yang lalu saya masuk kuliah jam 7 pagi, untuk pertama kalinya setelah sekian lama. Saya kira hari ini akan menjadi hari biasa yang ‘elektro’ banget. Eh, tapi ternyata saya kecipratan sedikit kebijaksanaan dari pengalaman dosen. Boleh lah ya, dibagi-bagi :

Cerita dimulai dari kisah sebuah dielektrik, namun entah kenapa akhirnya nyambung ke cerita tentang pendidikan di indonesia. Salah satunya adalah tentang kebudayaan ‘IPA’, yakni pada umumnya keluarga di indonesia cenderung memaksakan anak-anaknya untuk menjadi seorang sarjana.

Entah kenapa budaya itu bisa muncul ya, tapi yang pasti kalau di SMA, yang namanya IPS udah identik dengan orang-orang bego, dan IPA identik dengan anak-anak yang cemerlang akademiknya (matematika, sains, etc.)..

Setelah masuk IPA, selanjutnya anak-anak tersebut dituntut agar masuk jurusan favorit, semacam kedokteran dan teknik. Bisa disimpulkan kan, kalo masa depan sebagian besar anak di indonesia yang mampu sekolah adalah untuk menjadi sarjana/dokter.

Nah, sarjana/dokter nantinya ke mana sih? Kalau pinter banget paling lanjut sekolah lagi, kalau agak pinter biasanya diculik perusahaan asing : untuk jadi ‘onta’ pengurus fasilitas (yang kerjanya cuma ngejalanin mesin, mengawasi alat-alat dan digaji lumayan gede), yang bodo untung-untungnya jadi pengusaha, atau kalau keterlaluan bodonya bisa jadi pegawai biasa. Bahkan, bisa aja nganggur meski punya ijazah sarjana.

Nah, sekarang anak IPSnya (yang katanya waktu SMA jelek akademiknya) akan masuk ke ilmu sosial macam hukum, akuntansi, komunikasi, hubungan internasional, dll. yang ternyata kadang-kadang bisa lebih penting dari sains! Orang-orang ini bisa melakukan something beyond sekedar mengurus fasilitas, seperti berpolitik, bernegosiasi, dll. yang ternyata bisa lebih penting dan lebih strategis daripada orang teknik. Di sinilah anehnya, orang yang notabene ‘gak pinter’ kok diminta ngurus keputusan-keputusan penting? Argumen sang dosen adalah bahwa bila yang mengurus keputusan-keputusan strategis tersebut adalah orang-orang yang kurang pintar, maka sangat sulit bagi bangsa ini untuk maju.

Inilah yang disebut pak dosen sebagai kerugian orang-orang pinter yang masuk IPA, peluang mereka untuk jadi ‘onta’ yang nyaman sangatlah besar. Sementara itu, anak-anak ‘kurang pinter berkemampuan kurang’ malah mengurus keputusan yang sangat-sangat penting. Bisa berabe kan?

Tapi, kerugian ini bisa aja jadi keunggulan : kenapa? karena di bidang teknik, mahasiswa belajar secara sistematik dengan proses latihan yang cukup keras. Bila mahasiswa memanfaatkan fasilitas tersebut, maka akan dihasilkan orang yang sangat cakap. Contohnya, mahasiswa belajar tentang sistem vektor yang secara analogis dan filosofis dapat diterapkan di banyak bidang lain di dunia (saya sendiri masih bingung hubungan vektor dengan dunia, di mana ya pak?). Tapi, hal tersebut dipastikan dengan banyaknya orang-orang ’sukses’ yang berasal dari bidang teknik.

mau contoh ? ini sebagian kecil contohnya dari teknik elektro

  • Arifin Panigoro dan Bu Yani Panigoro (pemilik medco)
  • Rinaldi Firmansyah (dirut telkom)
  • Hasnul Suhaimi (dirut xl)
  • Wahyu Wijayadi (direktur Indosat)
  • Wityasmoro (dirut mobile 8)
  • Dany Buldansyah (deputi dirut Bakrie Tel)
  • Aburizal Bakrie (menko kesra)
  • Fahmi Muchtar (dirut PLN)
  • And of course… many more !!!

(sedikit ya yang jadi politikus?)

Kalau saya pikir, memang aneh juga sih kebudayaan di indonesia ini mengenai pendidikan. Di sini, orang berburu sekolah negeri dan jurusan teknik. Sementara itu, di amerika serikat, orang-orang biasanya mengincar private school (swasta) dan berburu jurusan sosial (hukum, etc.). Mungkin saja, itu penyebab keadaan kedua bangsa tersebut cukup berbeda. Orang-orang yang mengurus negeri ini bukanlah bakat-bakat terbaik.

Pertanyaannya : perlukah anak teknik terjun ke politik?

Terserah, yang pasti saya denger politik aja udah mau muntah.

h1

Rencana 22 SKS

Agustus 9, 2009

Respon ketika ada mahasiswa sekarang denger temennya ambil SKS lebih adalah :

“Ha??? Kebelet kawin lo?”

“Yaelah slow aja kali, banyak2 amat ngambilnya, toh lulusnya tetep 4 tahun”

“Buset, bisa apa lo?”

Peduli bagong dengan semua perkataan di atas, berdasarkan konsultasi saya dengan senior di jurusan, gak ada bedanya ngambil antara 19 SKS, 21 SKS, atau 23 SKS. Atas dasar tersebut, saya mendeklarasikan diri di semester ini untuk mengambil 22 SKS.

Berikut adalah mata kuliahnya, serta target nilai yang ingin dicapai :

Mesin-Mesin Elektrik (3 SKS – B)

Material Elektromagnetik (3 SKS – B)

Komputasi dan Analisis Numerik (3 SKS – A)

Kompatibilitas Elektromagnetik (3 SKS – B)

Teknik Tegangan Tinggi (3 SKS – B)

Praktikum Teknik Elektro 1 (1 SKS – A)

Analisis Sistem Tenaga (3 SKS – A)

Manajemen Proyek (3 SKS – A)

Target IP semester ini : 3,45

Entah apa dasarnya ingin mengambil 22 SKS, namun kepala saya bilang untuk mengambil 22 SKS semester ini. Well, i’m governed by my head and i will trust my head without second thought.

Semoga ini merupakan keputusan yang terbaik, amin.

 

h1

Rencana Semester Ini

Agustus 9, 2009

Well, kalau saya nilai kehidupan saya dua semester belakangan dengan bahasa amerika, maka akan saya bilang : “i suck”.

Maksud hati ingin mencari identitas diri, eh malah terjebak pada pikiran sendiri. Berbagai tanggung jawab terbengkalai, meski untuk urusan nilai dengan ajaibnya bisa di atas ekspektasi.

Sebagai manusia yang memiliki akal, tentunya sudah menjadi respon alami agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Oleh karena itu, saya ingin membuat rencana kecil di semester ini, agar semua tanggung jawab di masa bisa saya emban dan jalani dengan baik.

Read the rest of this entry ?

h1

Semester yang aneh

Juni 22, 2009

Ketika badai kehancuran yang datang dilawan dengan sebuah ketenangan, maka kita dapat menjinakkan badai tersebut *halahhhhh*

Setidaknya itulah hal yang kudapatkan semester ini. Semester yang digadang-gadang bakal membawa kenistaan dan penderitaan, karena adanya kuliah mematikan : MEDAN ELEKTROMAGNETIK, ternyata tidak memberi dampak separah yang dibayangkan. Aku masih berdiri di sini kawan, AKU MASIH BERDIRI.

Jujur, saat ini saya kaget juga dengan raihan di semester ini, wong semester kemaren hal yang kuinget adalah asyiknya main kartu atau main ping-pong dengan menomorduakan kuliah dan mengutamakan kesenangan sesaat *iya iya, tau ini salah*

Bolehlah badai tugas, ujian, dan kuis melanda.. tapi aku tetap membawa diri ini dengan tenang dan pelan.. just take it slow babe!

Anyway, aku akan mengajak anda sekalian untuk melihat raihanku semester ini, dengan analisis dari tiap mata kuliah :

Read the rest of this entry ?

h1

Pagi hari bersama Pak Sarwono Hadi,,

Februari 16, 2008

Thanks Goodness!! Itu yang saya pikir ketika melihat dosen kimia saya sewaktu semester pertama, Pak Sarwono Hadi, kembali mengajar di kelas saya semester ini.

Kenapa? Bukan karena kebiasaan saya titip absen yah…

Tetapi karena beliau tidak mengajar [atau hanya sedikit] kimia!!! Itu yang saya suka! Dari beliau saya belajar tentang banyak filosof-filosofi hidup, yang meskipun sepele, tetapi benar-benar merupakan hal yang fundamental di kehidupan kita.

Mulai dari diagram maxwell, bulu babi, pramuka, etos kerja, ospek, dan lain-lain..

Tetapi fokus saya sekarang, adalah pada pagi hari di hari jumat. Pagi itu berbeda, karena kami berada pada kelas yang agak berbeda dibandingkan kelas yang biasa kami tempati. Kelas itu panjang, ke arah belakang. Nah,, karena situasi mendukung, banyak mahasiswa yang tidur di bagian belakang kelas [termasuk saya sudah mengantuk, haha]

Sampai Pak Sarwono mengatakan, “Ya, bapak akan bertanya pada mahasiswa yang tidur”

Sebelum itu, Pak Sarwono mengeluarkan pertanyaan yang terdiri dari dua jawaban, tentang kimia, tentunya. Begini aturannya, dua orang akan diberi pertanyaan, satu orang yang melek, sementara satu orang lagi adalah orang yang baru dibangunkan dari tidur. Wah, kalau yang bener yang tidur saya bakal langsung joget nih di depan kelas, pikir saya.

Orang yang ‘melek’ menjawab A, sementara orang yang tidur menjawab B.

Pak Sarwono : “Yak, jawaban yang benar adalah A!”

Yah, kagak jadi joget nih,, haha..

Ternyata ada juga gunanya bangun, kalau yang bener yang tidur, bisa pecah kepala, ternyata kuliah tidak selamanya merusak,, hahaha…

h1

Kembali kuliah

Februari 4, 2008

Pers : Gimana perasaannya mas bisa kembali kuliah?

Me : Biasa saja mas, bahkan sebenarnya saya malas untuk kembali kuliah.

Pers : Kenapa bisa malas mas? Kampusnya mas kan terbaik di Indonesia?

Me : Iya ya? Tapi I don’t think so, I think semua kampus itu sama aja. [cinta laura style :D ]

Pers :  OK deh kalau begitu. Tapi, kalau malas terus mau jadi apa mas?

Me :  Oh,, maaf saya masih ada kuliah,, no comment.

h1

Teman di Malaysia

Januari 12, 2008

Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lain-lain Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi

Ok, cukup latar belakangnya.

Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :

Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..

Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?

Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?

Him : Ada 3.

Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?

Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?

Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.

Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget !  Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang  kayaknya bisa ngerti.

Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?

Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.

Me : Lulus berapa tahun lagi?

Him : 3 tahun, kalau gak ngulang, :D

Me : Haha, kamu masih juga ya….

[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]

Di saat saya masih berkutat dengan tahun  pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].

Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi

Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.

I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa  kalah  sama teman di  Malaysia???

h1

Pentingnya Angka dalam Engineering

November 4, 2007

 

Angka

Kehidupan engineers penuh angka. Engineers cenderung untuk membuat sesuatu dalam bentuk model matematika, yang juga dalam angka. Nah, tentunya dalam menulis angka serta mengomunikasikannya, harus terdapat suatu notasi standar yang disetujui secara internasional.

Begini cara penulisan yang disetujui : tiga angka berurutan dipisahkan dengan spasi, dan angka desimal [lebih kecil dari satu] ditulis dengan menggunakan titik. [bandingkan dengan kita yang umumnya menggunakan titik untuk setiap tiga angka dan koma untuk angka desimal]. Misalnya : 7 400.5 [tujuh ribu empat ratus koma lima]

Tapi kalau banyak angka di belakang nol? Nah kita bisa menggunakan notasi scientific.

Misal : tetapan avogadro = 6.0221367 x 1023

Analisis Kesalahan Pengukuran [Simple Error Analysis]

 

Misalnya kita mengukur benda dengan penggaris. Tentunya kita dapat dengan sangat mudah untuk memberikan suatu nilai. Tetapi apakah nilai yang kita berikan itu benar-benar pasti? Tentunya tidak. Akan ada kesalahan dalam pengukuran, yang disebut dengan ketidakpastian. Mungkin saja kita dapat menggunakan alat ukur yang lebih akurat, misalnya jangka sorong atau milimeter sekrup. Alat-alat tersebut tetap saja akan menghasilkan ketidakpastian. Yah, mungkin kalau hanya benda-benda kecil tidak akan terasa terlalu penting, namun apabila kita mengukur sesuatu yang membutuhkan ketelitian tinggi [misalnya microchip] kesalahan sedikit saja bisa berakibat fatal.

 

Ketika kita mengukur sesuatu, muncul berbagai masalah. Misalnya :

 

Akurasi : Seberapa banyak sih angka yang didapatkan yang benar, bebas dari kesalahan?

 

Presisi : Seberapa banyak jawaban yang didapatkan sama?

 

Kesalahan Acak : Ketika kita mengukur benda berulang-ulang, sangat mungkin untuk mendapatkan hasil yang berbeda-beda. Bisa saja sudut pandang kita berubah, atau acuan yang berubah menyebabkan hasil pengukuran berubah-ubah.

 

Kesalahan Sistematik : Pengukuran yang dasarnya salah. Misalnya dalam pengukuran tekanan udara menggunakan barometer, tentunya ada pengaruh suhu dan ketinggian yang membuat pengukuran menjadi tidak akurat. Untuk memperbaiki kesalahan ini, kita dapat menggunakan faktor koreksi.

 

Ketidakpastian : Hasil dari pengukuran yang memiliki kesalahan acak, kurang presisi. Dapat ditulis menggunakan dalam perbandingan ataupun persentase.

 

Kesalahan : Perbedaan antara hasil yang didapatkan dengan jawaban yang sesungguhnya.

 

Angka Penting [Significant Figure]

 

Dalam menulis angka laporan, angka penting yang kita gunakan bergantung pada sebaik apa kita mengetahui angka tersebut. Untuk sebuah angka perkiraan, cukup satu atau dua angka penting, namun untuk alat yang akurat kita bisa mencantumkan sampai banyak angka penting. Angka tersebut haruslah akurat, walaupun mungkin saja memiliki kesalahan.

 

Jangan lupa dalam pembulatan angka [0-4 abaikan,5-9 bulatkan ke atas], kita hanya membulatkan suatu angka yang merupakan hasil akhir. Jika kita membulatkan angka dalam suatu proses, akan muncul suatu error, yakni kesalahan pembulatan.

 

That’s all about numbers in engineering

 

Bingung? Seru? Gak Penting?

 

*again, tugas dari mata kuliah Konsep Teknologi, dosen Pak Budi Rahardjo.