Tulisan terkirim dikaitan (tagged) ‘itb’

h1

Hari ini

Agustus 15, 2009

Hari ini, saya cukup lelah nih. Lelah, tapi puas (jangan mikir macem-macem yak). Kelelahan yang seperti ini sudah lama tidak saya rasakan.

Kali ini, bukan kelelahan yang disebabkan berlari men-dribble bola lalu memasukkan bola ke gawang, tapi karena seharian berinteraksi dengan adik-adik kelas !!!

Dimulai dari pagi hari ketika secara tidak sengaja diminta untuk jadi moderator dadakan di acara pengenalan himpunan pada mahasiswa baru STEI (Sekolah Teknik Elektro dan Informatika). Ketika saya melihat mahasiswa-mahasiswi barunya, wuihh… matanya banyak yang berbinar, menaruh banyak harapan pada kampus itb yang sedang mereka masuki. Saya hanya bisa berharap, semua harapan itu dapat terjaga, dan semakin kuat begitu memasuki kehidupan kampus.

Selanjutnya, setelah jum’atan adalah waktunya untuk menjadi trainer SSDK (Strategi Sukses di Kampus).

Kesan pertama saya memasuki kelas : panas euy, haha. Sudah waktunya ITB memasang AC di semua ruangan kelas.

I love the class! Ceweknya cantik-cantik, cowoknya juga ganteng-ganteng.. Tapi di atas itu semua, hal yang membuat saya senang adalah sebagian besar dari mereka ingin belajar. Selalu ingin menjadi lebih baik. Yah… Meskipun gak semuanya sih, saya hanya bisa berharap saya bisa menyentuh isi hati mereka yang paling dalam dan menyalakan sedikit api semangat di dalamnya.

Kesan yang diberikan oleh peserta juga lucu-lucu. I love it.

Tapi, di atas itu semua, saya harap peserta yang mengikuti kelas saya, maupun kelas lainnya dapat memahami apa yang ingin disampaikan kepada mereka. Kita harus menyadari bahwa kita telah dianugerahi senjata terhebat di dunia, yakni kebebasan untuk memilih. (ayo inget2 yaaa… dari buku 7th habits, saya sepakat dengan teori ini)

Kebebasan memilih tersebut, harus digunakan untuk mengikuti dorongan hati. Gak usah takut hati mikir macem-macem, hati itu tulus dan dapat dipercaya. Inget ya, ketika saya bilang dorongan hati, itu beda dengan bisikan setan ataupun hawa nafsu. Dorongan hati itu adalah teriakan keinginan dari hati kalian tentang apa yang benar-benar ingin kalian lakukan dalam hidup. Dengan hidup mengikuti hati kalian yang tulus, maka kita gak akan pernah menyesal dalam hidup ini. Apapun yang kita lakukan. Sepakat?

Nice day, semoga hari ini dapat membuat orang-orang yang lebih baik : baik itu diri saya sendiri, maupun orang lain.

Foto menyusul yak… haha.

h1

Kenapa EL (Elektro)?

Mei 25, 2008

“ Pilih EL saja, hihihi… Kabur, “

Irvan 132, my friend in blogosphere

Pada awalnya, seperti anak-anak pada umumnya, saya yang berumur 15 tahun (Masih SMA) menganggap programmer sebagai profesi yang keren (kamu juga?). Bisa bekerja freelance, bisa berkeliaran bebas seperti kuda liar [weleh…]. Plus, dunia IT merupakan dunia yang sangat-sangat menarik karena perkembangan yang terjadi di dunia ini sangatlah pesat.

Sampai akhirnya pada akhir kelas 3 SMA, saya melihat dunia informatika yang sebenarnya : algoritma, coding, math, logic. Itulah “jeroan-nya” programmer. Merasa tidak tega pada otak cocok dengan hal tersebut, akhirnya saya hunting jurusan lain yang akan saya masuki.

Sempat bingung antara teknik industri dengan teknik elektro, akhirnya saya memutuskan untuk memilih STEI, karena ada teknik elektronya. Nah di sini masalah kembali muncul ketika saya kuliah di STEI, ternyata …

Jeroannya EL (elektro) juga sama aja!!! Cacing integral, bilangan complex, persamaan diferensial, membuat saya merasa bahwa dunia IF (informatika) lebih ringan. Akhirnya saya membayangkan jika saya masuk ke jurusan tertentu.

Kayaknya kalau masuk IF jadi:

- Ngerjain tugas sampai malem

- Kurang tidur

- Hidup untuk tugas dan tidur

Kalau masuk EL, saya akan bernasib seperti orang-orang berikut :

tidur

- Tidur di kelas

- Kebanyakan tidur

- Hidup untuk tidur dan tidur

Bukan, bukan, itu sih bayangan si pemalas, tentunya saya membayangkan bidang apa yang akan saya tekuni kalau masuk jurusan tertentu. Keunggulan, serta kekurangan masing-masing jurusan. Hasil dari pertapaan saya menghasilkan bahwa elektro lebih baik (bagi saya), kenapa?

1. Hampir semua energi dikonversi menjadi listrik, karena listrik mudah digunakan dan ditransmisikan

Dengan demikian, tentunya semua orang membutuhkan listrik, dan saya pun jadi dibutuhkan (hehe)

2. Indonesia krisis listrik

Meskipun belum terbayang akan membantu negeri ini dengan jalan apa, saya pikir saya dapat membantu negeri ini dengan masuk jurusan ini (halah gombal)

3. Banyak Cabangnya!

Tidak seperti di Informatika yang tidak mempunyai cabang ilmu, teknik elektro punya enam sub-jurusan, yakni power engineering, telecommunication engineering, biomedical engineering, computer engineering, control engineering ( teknik kendali ?), dan teknik elektro (aneh juga ya, teknik elektro dalam teknik elektro).

4. EL udah banyak yang sukses

Cari aja deh, banyak sih lulusan EL yang udah jadi direktur macem-macem perusahaan, tapi saya pikir ini hanya karena usia EL yang udah tua, sementara IF baru aja ultah yang ke 25

5. “Anak EL bisa belajar IF, IF belum tentu bisa belajar EL”. Kata orang

“Sok tau kamu, belajar aja belum.” Kata saya.

6. Anak IF antisosial

“Awas lo ngatain kakak gue antisosial.” Kata saya.

h1

[ Mengisi Stand] Edufair di SMAN 5 Bandung

Februari 1, 2008

Senang rasanya bisa kembali ke tempat saya menimba ilmu selama tiga tahun, yakni SMA Negeri 5 Bandung. Saya kembali dalam rangka mengisi acara Edufair, yang telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Acara Edufair ini sendiri [menurut saya] terbagi menjadi tiga jenis, yakni panggung hiburan, kelas presentasi, dan stan-stan yang disewakan.

Nah, unit yang saya masuki, yakni Kokesma ITB [Koperasi Kesejahteraan Mahasiswa ITB], mengisi stan pada acara Edufair tersebut. Selain stan yang kami tempati, juga ada stan yang dihuni oleh perwakilan dari Prasetya Mulya Business School, STPDN/IPDN, UPI, UNPAR, Polban, Widyatama, STAN, U.K. Maranatha, STIE, dll. [banyak sekali, sampai lupa]

Karena saya merupakan orang yang cukup populer sewaktu SMA, ternyata adik-adik kelas [bukan hanya kelas XII, namun juga kelas X dan XI] tidak malu untuk mendatangi stan kami dan bertanya tentang segala sesuatu tentang ITB. Bahkan, kami cukup kewalahan ketika banyak sekali orang yang mengerumuni stan kami untuk menanyakan banyak hal. Brosur yang telah kami siapkan pun telah ludes sebelum tengah hari.

Ternyata, kembali sebagai seorang sosok yang bisa diteladani ternyata cukup menyenangkan. Saya bisa nostalgia & mengobrol [dengan adik kelas yang cantik-cantik, maklum di kampusku kering], berbagi pengalaman [meski belum banyak], memompakan motivasi [ke siswa kelas tiga], menjadi SPG [mempromosikan suatu hal, dalam hal ini kampus ITB], bertemu guru [yang dulu saya maki-maki di kelas], bertemu guru [yang saya cintai karena gaya mengajarnya].

Overall, saya cukup puas dengan minat yang ditunjukkan oleh adik-adik kelas saya. Semoga Edufair semakin sukses di tahun-tahun berikutnya. Semoga dinasti SMAN 5 Bandung terus menjadi dinasti yang kokoh, tidak melupakan motto : “Lima besar karena kebersamaan.”.

Selalu menyenangkan kembali ke tempat yang kita cintai!

*mohon maaf tidak ada media foto sebagai bukti, hihi… jadi saya beri saja foto ini yah,,

 

SMAN 5 Bandung

*saya tidak ada di foto. Adanya juga Beben, Jessi, Dhisa, Topa, Anti, Ntedh, Ina, Cheris. Jadi kalau yang merasa terpampang ridokan saja ya, foto kalian sudah menyebar di dunia nyata, haha