Mencari identitas diri. Siapa diantara anda yang tidak tertarik untuk mencarinya? Mungkin ada beberapa pembaca yang sama sekali tidak mempermasalahkan tentang identitas diri karena kesibukan ataupun hal lainnya, tapi bagiku hal ini sangatlah penting, sampai-sampai hal ini terus berputar-putar di kepalaku sejak lama.

Atas dasar itu, di awal tahun ini saya merencanakan sebuah perenungan selama satu semester yang tenang dan bersifat pribadi untuk mencari identitas tersebut. Benar-benar ide yang sangat brilian di kala itu, tapi saat ini kupikir itu adalah salah satu ide terkonyol dalam hidup. Oya, Kurang lebih ini pertanyaanku :

“ Aku selalu merasa kehilangan sesuatu di dunia ini, tapi gak pernah tau apa yang hilang di dunia ini.. Apakah itu semangat? Emosi? Ketenangan? Hasrat? Cinta?? Entahlah, coba kupikir apa yang hilang itu…Apa ya…? Hmm…”

Begitulah keseharianku di awal tahun ini.. Semula kupikir bisa menemukan jawaban dari pertanyaan itu dengan melihat kembali kisah perjalanan hidup, apa saja yang telah kualami, kulakukan, ataupun kupikirkan di waktu silam. Setelah mencoba mencari relevansi dan hubungan antara sejarah dan apa yang kualami, ternyata aku mendapatkan jawaban setelah menyepi beberapa minggu.

Jawaban itu berhasil membuatku kembali ke bangku kuliah dan juga kembali ke dunia nyata, dengan aktivitas sosialnya. Meskipun demikian, entah kenapa jawaban dari pertanyaanku menjadi tidak valid ketika bertemu dengan realitas di dunia nyata. Hal ini mungkin disebabkan jawaban yang kudapatkan telah terpengaruh oleh keadaan pikiranku waktu itu. Jawabanku waktu itu, disusun berdasarkan kondisi identitas ideal yang disusun berdasarkan sejarahku sendiri, yang membuatku yakin bahwa diriku ini adalah seseorang yang unik, one-of-the-kind : mempunyai kemampuan khusus yang berbeda dari orang lain.

Nah, ternyata di sini masalahnya. Berdasarkan identitas tersebut, yang merasa diri ini unik, aku mencari orang lain yang dapat memahami keadaan ini. Setelah mencari-cari kemungkinan orang yang dapat memahami, akhirnya kudapatkan seseorang yang sangat memahami pribadiku ini. Namun, setelah melakukan obrolan lebih lanjut, ternyata semakin kukenal seseorang ini, semakin jauh kepribadian dia dengan gambaran yang selama ini kuharapkan.

Keadaan ini membawaku ke dalam keadaan ‘kehilangan harapan’ untuk menemukan seseorang yang dapat menunjang kehidupanku selanjutnya, dan akhirnya membuatku terpaksa ‘membuat sendiri’ image kawan yang benar-benar kuinginkan, sementara terus mencari seseorang itu.

Selama proses pencarian itu, banyak sekali hal yang kuabaikan : kuliah, himpunan, unit, teman, sampai someone-special. Kutolak berbagai tanggung jawab, berbagai aktivitas dilakukan tanpa makna dan hasrat, terbengkalai, karena aku sendiri sibuk mencari seseorang itu. Semakin aku mencari, semakin yakinlah aku bahwa kebanyakan dari orang lain itu tidak berbagi sesuatu yang kucari.

Akhirnya, tanpa kusadari, aku semakin memutuskan diri dari produktivitas dan kreativitas : bentuk partisipasi di dunia. Ya.. meskipun tidak sepenuhnya sih. Berbagai aktivitas dilakukan, namun berdasarkan mood : bisa main kartu, ping-pong, bola, jalan-jalan, belajar, ataupun merenung. Bisa dibilang, semester yang lalu aku hidup dalam mimpi dan imajinasi kosong, yang tidak menghasilkan apapun. Sementara aku punya banyak kelebihan yang dapat dimanfaatkan, aku malah fokus pada kelemahan dan hal negatif yang tidak kumiliki sama sekali. Nah, sudah jelas kan, kehidupan seperti itu hanya akan menyiksa diri sendiri, bahkan bisa juga orang sekitar kita.

Ada yang punya cerita sama? Berdasarkan pengalaman tersebut, aku bilang :

Janganlah menaruh perhatian sepenuhnya pada perasaan, karena perasaan yang kita miliki tidak suportif pada diri sendiri. Pemahaman yang salah adalah untuk memahami identitas diri, kita harus memahami perasaan diri sendiri. Aku sendiri telah membuktikan jika kita menyusun identitas berdasarkan perasaan (memori), maka identitas yang kita bentuk adalah berdasarkan perasaan tersebut. Selalu ingat, bahwa perasaan berubah-ubah dan jika kita mengandalkan perasaan untuk membentuk identitas, maka identitas yang terbentuk adalah perasaan kita tersebut.

Jangan MOODY. Terlalu banyak berpikir, membuat kita melalaikan tugas dan kehendak kita sebenarnya. Berusahalah untuk berkomitmen untuk melakukan sesuatu yang baik untuk dirimu dan orang lain, tak penting seberapa besar kontribusinya untuk komunitas. Hanya dengan bekerja, kita bisa mencari apa kesenangan kita, apa yang benar-benar kita cintai dan ingin lakukan : berujung pada pembentukan identitas diri… tanpa perlu sibuk memikirkannya!

Tempatkan diri pada peluang yang baik. Kebiasaan menunda membuat kita semakin nyaman dengan keadaan nganggur, sehingga biasanya kita menolak peluang yang ada. Lain kali, ketika peluang datang, ambillah peluang yang ada. Jika belum terbiasa, mulailah dari peluang yang paling kecil dan pastikan kamu dapat memberikan yang terbaik di peluang itu. Dengan demikian, kita bisa memulai kontak ke dunia dan mulai berkarya.

Hindarkan imajinasi berlebihan, ataupun percakapan dengan diri sendiri : terutama tentang hal-hal yang buruk. Seperti yang telah dikatakan, lebih baik kita mulai melakukan tindakan, biarpun dengan hal-hal yang kecil, karena imajinasi semacam itu biasanya tidak akan kita lakukan. Cobalah untuk mulai dengan menerapkan disiplin : misalnya saja berusaha hidup sehat dengan olahraga teratur. Hal-hal sederhana semacam itu akan menimbulkan efek kecil pada awalnya, namun dapat memperbaiki hidup kita secara mendasar.

Dengan membebaskan diri kita dari imajinasi dan guncangan perasaan yang berlebihan, kita dapat memanfaatkan kemampuan imajinasi kita untuk mencapai tujuan yang kita inginkan. Kita harus belajar untuk membentuk identitas tidak hanya dari imajinasi dan perasaan saja. Dengan menghindari untuk mencari identitas ini seorang diri, maka kita akan terselamatkan dari perangkap imajinasi, dan dapat membawa kecantikan imajinasi kita untuk dunia. Kita dapat menjadi pembaru dunia yang membawa berbagai hal : kebaikan dari keburukan, harapan dari keterpurukan, makna dari ketidakjelasan, serta menyelamatkan apa yang hilang dari dunia ini.

About these ads