Paul Arden bilang, kalau kita kuliah, maka kehidupan kita di bangku kuliah dapat menjadi tahun-tahun kosong. Apa itu tahun-tahun kosong? Saya sendiri menginterpretasikan tahun-tahun kosong sebagai tahun-tahun tanpa perkembangan yang berarti. Apa yang kita lakukan gak sejalan dengan apa yang kita harapkan. Belajar ya belajar, bisa banyak bisa sedikit. Namun, pembelajaran tersebut tidak nyambung dengan potensi kita yang sebenarnya. Aku pikir, tahun-tahun kosong ini juga terjadi padaku.

wastedyear

Kehidupanku selama 19 tahun ini seperti sudah tercetak pada batu saja. Terlahir di keluarga akademisi di indonesia, sudah sewajarnya saya mendapatkan pendidikan ala ‘orde baru’, yakni mengeyam pendidikan formal : SD, SMP, SMA, kemudian melanjutkan ke bangku kuliah. Setelah lulus kuliah, lalu kerja, jadi bos, akhirnya kaya raya, lalu kemudian pensiun.

Oke, saya sudah menjalani pendidikan ala orde baru tersebut selama 19 tahun, dan sekarang sedang menjalani fase ‘bangku kuliah’. Sudah dua tahun ini saya menjalankan kehidupan di salah satu kampus terbaik di indonesia, dengan mendapatkan nilai dan kemampuan yang.. yaa.. bisa dibilang cukup baik untuk menjadi bos atau dirut suatu perusahaan di masa depan.. hehe.

Meskipun demikian, saya dan beberapa rekan selalu gagal untuk melihat nilai esensi istimewa yang terkandung pada kampus ini, dan sama sekali tidak mengerti bagaimana kehidupan di kampus ini dapat menunjang sisa hidup kami, ataupun sekedar menjawab pertanyaan : “apa yang akan kami lakukan pada sisa hidup kami?” . Kami berpikir bahwa kegagalan untuk melihat esensi tersebut menyebabkan kami memiliki ‘tahun-tahun kosong di bangku kuliah’ yang dibuktikan dengan kegagalan kami pada dua tahun ini untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat, atau sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan tadi.

Oleh karena itu, saya ingin berbagi beberapa saran bagi pembaca, terutama adik-adik SMA ataupun SMK, yang hendak melanjutkan hidupnya pada bangku kuliah, agar kehidupan di kampusnya tidak menjadi tahun-tahun yang kosong.

1. Jangan kuliah kecuali subjek yang kamu pilih bener-bener melekat di hati

Biasanya, memilih jurusan pada saat mendaftar masuk universitas merupakan hal yang cukup sulit untuk lulusan SMA, karena biasanya mereka selalu dicekokin bahwa jurusan ini yang bagus lah, itu gak favorit lah.. cekokan tersebut gak perlu didengarkan, yang perlu kamu dengarkan adalah panggilan hati kamu. Apa yang benar-benar kamu cintai dalam hidup? Apakah dengan mengambil subjek tertentu, maka kecintaan kamu tersebut dapat tersalurkan? Itu pertanyaan penting yang harus ditanyakan. Jangan sampai sisa hidupmu dihabiskan dengan melakukan hal-hal yang tidak disukai hanya karena pilihan konyol pada saat usia 17 tahun.

Misalnya, kamu suka memacu adrenalin, lalu ingin jadi pilot, tapi kamu malah masuk teknik penerbangan. Bego itu namanya. Perlu diketahui yang namanya jurusan teknik itu isinya matematika semua, sehingga jurusan teknik itu cocok untuk kamu yang mencintai subjek matematika pada bidang pekerjaan tertentu. Masuk teknik penerbangan gak akan buat kamu jadi pilot, kamu bakal jadi engineer yang menyusun konstruksi pesawatnya. Gitu…. Kalau mau masuk teknik, pastikan kamu suka matematika, kemudian cari subjek yang berkaitan pada hal yang kamu minati. Jadi kalau kamu suka matematika yang berhubungan dengan listrik? Masuklah teknik elektro. Matematika pada perminyakan? Masuklah teknik perminyakan.

2. Seandainya memang harus kuliah, milikilah alasan yang kuat

Kalau ternyata kamu diterima di jurusan yang tidak sesuai minat, dan ingin mencoba untuk bertahan, milikilah alasan yang kuat untuk tetap dapat hidup di sana. Ya, dimulai dari yang standar ingin lulus cumlaude untuk membahagiakan ortu, sampai jadi presiden badan eksekutif mahasiswa, aktivis kampus yang memajukan organisasi, ataupun jadi bintang olahraga kampus.

3. Bekerja saja

Dengan bekerja lebih awal (misalnya pada saat lulus SMA), maka kita dapat memulai apa yang lulusan universitas lakukan beberapa tahun lebih awal. Meskipun demikian, saran ini paling sulit untuk dilakukan, karena diperlukan kecerdasan yang luar biasa dalam melakukannya, karena kalau tidak cerdas dalam memilih pilihan ini, bisa-bisa kuli seumur hidup. Pastikan pekerjaan yang dipilih adalah pekerjaan yang disenangi. Di indonesia, contohnya amat sedikit dan kurang populer (mungkin karena budaya yang masih mementingkan ijasah dan jabatan, kurang memandang kemampuan), tapi saya mengenal rekan yang memulai bisnis baksonya di semeter satu kuliah, dan dapat hidup mapan di semester lima. Kalau di luar negeri, contoh yang populer adalah steve jobs yang sempat bekerja pada atari.

Perlu diingat kalau kuliah bukanlah merupakan sebuah keharusan, karena kita punya kebebasan untuk memilih. Pilihlah apa yang kamu senangi, dan jalani hidup pada kesenangan tersebut.

*picture from here