
Teman di Malaysia
Januari 12, 2008Bukan, ini bukan post yang berkaitan dengan budaya Indonesia yang “dicuri” oleh Malaysia, seperti ini, itu, dan lain-lain… Kemarin, saya mengobrol dengan teman sekelas sewaktu saya SMA. Sama seperti saya, teman saya ini bisa dibilang sebagai bright kid [males, tukang tidur, main, pacaran, nilai sekolah gak bagus-bagus amat, sering dimarahi guru, hehe…]. Bahkan, teman saya yang satu ini disebut sebagai biangnya virus malas dan ngantuk. Kalau melihat dia, rasanya kita jadi ikut-ikutan ngantuk, hihi…
Ok, cukup latar belakangnya.
Ternyata rekan saya yang satu ini kuliah di APIIT, Malaysia, jurusan IT Business. Kira-kira, beginilah obrolannya :
Me : Wah, jadi udah belajar apa aja nih? Kalau di sini sih masih mirip-mirip SMA gitu deh.. Kalkulus, Fisika, Kimia, hoeek..
Him : Kalau bab-bab awalnya sih masih mirip-mirip SMA, tapi ke sana-sana udah masuk VB.Net, di sana juga dah belajar Microsoft Visual Studio kan?
Me : [Kaget! Sama sekali enggak ngerti dia ndobos apa.] Oh, ya, ya, Visual Studio, bisa untuk bahasa pemrograman juga kan? [kebetulan kakak suka pake program ini.] Oh, iya by the way, memangnya ada berapa pelajaran di sana?
Him : Ada 3.
Me : [Kaget! Lagi!] Waduh?! Cuman tiga??? Apa aja?
Him : [dia menyebutkan nama matakuliah dalam bahasa inggris, saya lupa namanya, tapi ada hubungannya dengan bisnis dan pemrograman] Tapi kalau di sini, satu tahunnya ada tiga semester. Kalau di sana ada berapa pelajaran ?
Me : Mantabs. Tambah pinter aja kamu. Di sini ada 7 pelajaran. Muntah darah bisa-bisa.
Him : Haha, iya inget juga waktu belum ke sini, masih kuliah di ***** [sebaiknya saya sensor], ku dapet 10 matakuliah, pusing banget ! Di sini diajarin dulu dari yang simpel, jadi semua orang kayaknya bisa ngerti.
Me : [Tadinya mau ngajak untuk kerjasama di masa depan, tapi saya rasa terlalu dini, wong saya belum bisa apa-apa, malu bisa kalah sama teman lama, hihi…] Oh iya, kuliahnya pakai bahasa inggris ya?
Him : Iya nih, ada tugas pula untuk presentasi, pakai bahasa inggris. Pusing.
Me : Lulus berapa tahun lagi?
Him : 3 tahun, kalau gak ngulang,
Me : Haha, kamu masih juga ya….
[Selanjutnya hanya pembicaraan tentang hal lain yang pribadi, hihi…]
Di saat saya masih berkutat dengan tahun pertama saya dengan kalkulus, fisika dan kimia, dia sudah selangkah lebih maju. Entah sistem pendidikan mana yang lebih unggul, Indonesia [kampusku], atau Malaysia [kampusnya].
Lucu juga, mengingat waktu SMA saya membayangkan masa depan kami yang suram, sementara sekarang, setidaknya kami sudah punya pijakan untuk masa depan, meskipun masih buram, hihi…
Sepertinya teman saya yang satu ini memang bright kid. Dia udah tau kalau sebaiknya masa SMA [remaja] memang harus digunakan untuk bersenang-senang. Peduli nilai anjlok atau dimarahi guru. Yang penting, hati senang. Semalas-malasnya di sekolah, yang penting punya mimpi.
I’m not exhausted anymore! Siap belajar ! Masa kalah sama teman di Malaysia???







Personality Disorder | Rating
Paranoid: Low
Schizoid: Moderate
Schizotypal: Moderate
Antisocial: High
Borderline: Low
Histrionic: Moderate
Narcissistic: High
Avoidant: Low
Dependent: Low
Obsessive-Compulsive: Moderate
Setengahnya hampir sejenis di saat saya SMA.
…bedanya pas mau kuliah saya bingung mau ambil apa.
berjuang !
iya yang penting punya mimpi dan sukur2 nanti bisa diwujudin……
sbnernya di malaysia ato indonesia ituh sama aja Bung, sy penah kesana, secara ilmiah mereka jg bukan SDm yg luwar biayasa, bahkan justru mereka kalah kreatif dgn org2 kita..
nah, yg membedakan antara kita dan mereka sbnernya hanyalah satu : system!
@rozenesia
wah sejenis :d
@nicoustic
wokey.
@abeeayang
amin
@fauzansigma
beda, mnurut saya. Pastinya bibit indonesia lebih bagus. Nah sistemnya itu yang berbeda.
Saya tertarik bagaimana jika bibit yang sama ditaruh d dua tmpat yang berbeda. Bagusan mana yaa?
salaam dan maaf saya orang malaysia numpang lalu.
saya pernah bertugas di indonesia selama 4 tahun dan 4 orang anak saya pernah belajar di SD & SMA di indo. Sama saja anak2 indo dgn malaysia, yg kreatif tetap kreatif, yg pinter tetep pinter, yg males tetep males. tapi sistem pendidikan di malaysia lebih baik. pada tahap SMA sudah ada pen-jurusan, otomotif, preakaunan, bisnis, elektronik, sains rumahtangga, dll.
dan kalo di institusi pengajian tinggi swasta, student bisa aja memilih matakuliah mereka sesuai dengan kemampuan sendiri. Pinjaman pembiayaan pendidikan hampir2 otomatis apabila mendapat tempat di institusi pengajian. pembayaran pinjaman boleh dibuat secara angsuran setelah selesai pengajian dan mendapat pekerjaan. Ini juga agak beda dengan di indo, ya mas?
@exzede
wah, beda banget!
kalau di indonesia, penjurusannya masih ‘gengsian’, ilmu alam dianggap lebih ‘wah’ dari ilmu sosial.
itu di SMA,,
kalau SMK, lebih parah lagi. SMK dianggap sebagai ’sisa’.
orang miskin ‘gak boleh kuliah’.
mungkin pemimpin gak salah, tapi sistemnya..
masih berkutat dengan UN dan kurikulum yang gak jelas.
bisa gila.
bingung gimana Caranya indonesia bisa benar.
@exzede
wah, beda banget!
kalau di indonesia, penjurusannya masih ‘gengsian’, ilmu alam dianggap lebih ‘wah’ dari ilmu sosial.
itu di SMA,,
kalau SMK, lebih parah lagi. SMK dianggap sebagai ’sisa’.
orang miskin ‘gak boleh kuliah’.
mungkin pemimpin gak salah, tapi sistemnya..
masih berkutat dengan UN dan kurikulum yang gak jelas.
bisa gila.
bingung gimana Caranya indonesia bisa benar.
Memang TPB menyebalkan.. terutama buat jurusan macam EL & IF, enggak banyak enggak nyambungnya!
Yang saya inginkan sih sebuah sistem pelajaran yang terpadu dan sinergi..
Oh ya, Les, kautanya bagaimana caranya indonesia bisa benar? seorang diktator.
@spitod
waduh, diktator?
Hmm.. numpang lewat ya.. kebetulan sy anak APIIT juga, hehe