#22 Pohon Inovasi dan Kreativitas dari Belanda

Tinggalkan Komentar

Reblogged from KOMPETIBLOG 2012:

Belanda merupakan negara yang sangat kreatif dan inovatif. Di negeri kincir angin ini, banyak sekali ide segar bermunculan. Di masa lalu, Belanda membuat tanah rendah (Nederland) yang semula berada di bawah permukaan laut menjadi daratan yang dapat ditinggali. Kini, kita semua tahu Philips: perusahaan raksasa penghasil produk elektronik, perangkat pencahayaan, dan peralatan medis terkemuka di dunia. Saking banyaknya karya inovatif yang diciptakan, membuat 

Read more… 480 more words

my blog post on kompetiblog

Pekerjaan Rumah Teknologi

Tinggalkan Komentar

We choose to go to the moon. We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win, and the others, too.

Rasa-rasanya, potongan pidato John F. Kennedy di tahun 1962 ini adalah momen yang paling epic di abad kemarin. Untuk pertama kalinya dalam sejarah : manusia bermimpi, dan berikrar untuk pergi ke bulan!

Coba deh, kita melihat semangat seperti yang ditunjukkan di tahun 1962 itu, ataupun semangat di awal abad ke-20 ketika  manusia menemukan banyak kemajuan teknologi.. Kemudian, kita bandingkan dengan semangat dan keingintahuan manusia di tahun 2012 ini.. Akan muncul sebuah pertanyaan :

Entah kenapa, jaman sekarang ini kok kemampuan kita untuk memimpikan sebuah kemajuan teknologi gak segitu hebatnya yah?

Kenapa dari 50 tahun yang lalu, hingga saat ini, mimpi-mimpi manusia masih saja sama : mobil terbang, Listrik tanpa kabel, hologram, teleportasi, Alien, Penjelajahan luar angkasa, dst.

Belum ada mimpi yang baru.

Di jaman ini, orang lebih senang dengan kenyamanan yang diberikan oleh teknologi yang ada. Rasa penasaran pun seolah-olah hilang di jaman ini. Bingung sedikit, tinggal googling. Seolah-olah semua pertanyaan mampu dijawab oleh internet.

Terkadang, kita sebagai manusia pun menjadi terlalu pintar. Berusaha menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang ada. Ataupun menjawab pertanyaan-pertanyaan orang lain -dengan berdasarkan logika dan pemikiran sendiri-

Artinya, kita semakin sedikit belajar dari sejarah. Padahal, sejarah sendiri telah memberikan kita banyak pelajaran dan tugas. Antara lain, untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah dicetuskan oleh masyarakat di era sebelumnya. Ditambah lagi, PR kita masih banyak sekali, untuk mewujudkan mimpi-mimpi orang sebelum kita.

Ada salah satu PR yang sangat menarik untuk saya

But we shall not satisfy ourselves simply with improving steam and explosive engines or inventing new batteries; we have something much better to work for, a greater task to fulfill. We have to evolve means for obtaining energy from stores which are forever inexhaustible, to perfect methods which do not imply consumption and waste of any material whatever.

Ini adalah salah satu PR yang diberikan oleh Nikola Tesla, salah satu inventor terhebat di abad 20. Lucunya, kita malah melakukan hal yang tidak disarankan oleh Tesla. Kita berpuas diri dengan sumber daya minyak, gas, dan batubara yang kita miliki. Merasa masih dapat hidup enak beberapa ratus tahun lagi, kita berpuas diri dengan teknologi yang sudah ada sekarang.

Padahal, kita masih punya banyak PR yang lainnya. PR yang umurnya sudah ratusan tahun.

Harga

2 Komentar

Kalau dipikir-pikir, berapa biaya yang udah dikeluarin sampai detik kehidupan kita yang sekarang ya?

Dari kecil, kita dirawat dengan menggunakan duit orang tua. Dimulai dari biaya  rutin seperti transportasi, makan, pakaian, dsb. Kemudian, ada juga biaya untuk pendidikan. Belum lagi, akan ada biaya lagi yang keluar bila kita sakit. Kadang-kadang juga suka ngeyel,  minta duit ke orang tua : merengek-rengek untuk dibelikan sesuatu.

Biaya-biaya tersebut adalah hal yang materiil. Biaya berupa harta yang dikeluarkan orangtua untuk membesarkan kita. Dalam kasus ini, setiap anak belum tentu mendapatkan investasi berupa biaya dengan jumlah yang sama. Jadi, biaya diri kita hingga detik ini bisa saja sangat jauh berbeda.

Janganlah berkecil hati bila biaya yang dikeluarkan untuk diri kita masih kecil. Janganlah juga berbesar kepala bila telah merasa berbiaya mahal. Besar kecilnya biaya diri kita belum tentu menghasilkan ‘harga’ diri yang besar.

Seperti apa ‘harga’ diri kita? Mari kita ukur..

Seperti apa kita memperlakukan orang tua? Apakah hormat..? atau tidak sopan?.. semakin lancang diri kita tentunya maka diri kita akan semakin murah

Seperti apa kita memperlakukan orang yang kita kenal?…(kawan kampus, rekan kerja, bos di kantor, saudara)

Seperti apa kita memperlakukan orang yang kita tidak kenal?… (office boy, cleaning service, satpam, supir bus,dsb)

Seperti apa sikap kita ketika mengalami hari yang membosankan?…

Seperti apa kita memperlakukan ilmu dan pengetahuan…? Selalu penasarankah kita…?

Seperti apa sikap kita ketika diberi musibah?… Apakah mengeluh terus, atau bersabar…?

Bagaimana kita mengekspresikan kegembiraan?… Apakah perlu semakin narsis dengan pencapaian?..

Apa yang kita lakukan ketika melihat aib orang..? Perlu di-tweet kah?..

Bagaimana juga, kita bersikap atas kepercayaan kita…?

sebenarnya masih banyak pertanyaan lain untuk mengukur harga diri kita sendiri…

dengan mengetahui ‘harga’ diri kita… kita bisa mengetahui… layakkah kita bangga dan senang atas pencapaian dan prestasi diri kita sendiri..?

Jawabannya… tentu saja tidak.

Sebenarnya kita sangat beruntung karena Tuhan akan selalu menutupi sebagian dari aib kita… sehingga kita akan selalu nampak lebih mahal dari harga kita yang semestinya, di depan makhluk yang lainnya…

Tidur sedikit?

Tinggalkan Komentar

Banyak sekali kawan-kawan saya dulu yang waktu mahasiswanya gemar sekali begadang. Entah itu begadang untuk main game, mengerjakan tugas yang semakin dekat deadline, ataupun hanya iseng-iseng begadang untuk mengoprek sebuah alat.

Mungkin memang benar, tidur sedikit dapat memberikan dampak buruk bagi kesehatan. Kadang-kadang, begadang juga membuat kita gak bisa fokus di kegiatan esok harinya. Tapi saya sekarang tidak ingin membahas pengaruh buruk dari begadang. Ternyata ada kabar gembira untuk orang yang tidurnya kurang, jika kita mau melihat sedikit tokoh-tokoh dari generasi sebelum kita yang hobinya juga begadang.

Untuk semua mahasiswa/i yang gemar begadang dan tidur sedikit demi menciptakan sebuah karya, berbahagialah.  Berarti anda semua telah mengikuti jejak leonardo da vinci, thomas edison, nikola tesla, napoleon bonaparte, dan banyak tokoh dunia lainnya.

Salah satu inventor dan penghasil karya terhebat (menurut saya), nikola tesla, bahkan bisa begadang hingga 84 jam di labnya tanpa istirahat ataupun tidur. Selain tesla, ada juga penemu hebat lainnya : thomas edison yang gemar begadang berhari-hari untuk menyalurkan ide-idenya.

Apa yang membuat mereka semua kuat tidak tidur berhari-hari? saya rasa kutipan tesla berikut dapat menjelaskan..

“I do not think there is any thrill that can go through the human heart like that felt by the inventor as he sees some creation of the brain unfolding to success… Such emotions make a man forget food, sleep, friends, love, everything.”

~ Nikola Tesla

selamat begadang!

Berdoa…

Tinggalkan Komentar

Saya adalah orang yang jarang berdoa (jika definisi berdoa adalah menengadahkan tangan sambil meminta sesuatu ke tuhan). Alasannya, kok saya merasa manja sekali kalau ada apa-apa langsung berdoa. Seolah-olah Tuhan nggak ngasih macam-macam tools dan kesempatan ke kita saja.

Saya takut, kalau sedikit-sedikit langsung berdoa, bisa-bisa dicibir oleh para setan (karena malaikat mana mungkin mencibir manusia): “Lihat nih makhluk yang satu ini, kalau ada maunya aja banyak berdoa. Padahal usaha aja baru sedikit.”

Tapi dengan keadaan jarang berdoa juga, saya punya kekhawatiran. Setan lagi-lagi bisa mencibir : “Sombong bener nih makhluk, berdoa cuma dua kali sehari. Pas bangun tidur dan mau tidur doang!”

Wah… serba salah memang. Semoga saja, jarangnya saya berdoa bukan merupakan wujud sebuah sikap sombong. Saya hanya merasa tidak pantas untuk banyak meminta kepada Tuhan. Sudah banyak sekali karunia yang diberikan hingga detik ini. Sayang sekali jika semua karunia itu tidak dimanfaatkan hanya karena kita sibuk untuk meminta lebih.

Sedikit berdoa, belum tentu sedikit mengingat Tuhan, ataupun sedikit bersyukur. Yang namanya mengingat Tuhan dan bersyukur mesti diperbanyak! Kalau kata cak nur, wujud dari rasa syukur yang paling tinggi adalah kerja keras. Jadi artinya kalau masih males malesan bin ngantukan, artinya kita belum bersyukur.

~ ditulis sambil menunggu tengah hari

Pohon Inovasi dan Kreativitas Belanda

6 Komentar

Belanda merupakan negara yang sangat kreatif dan inovatif. Di negeri kincir angin ini, banyak sekali ide segar bermunculan. Di masa lalu, Belanda membuat tanah rendah (Nederland) yang semula berada di bawah permukaan laut menjadi daratan yang dapat ditinggali. Kini, kita semua tahu Philips: perusahaan raksasa penghasil produk elektronik, perangkat pencahayaan, dan peralatan medis terkemuka di dunia. Saking banyaknya karya inovatif yang diciptakan, membuat the Netherlands seperti sudah terbiasa untuk menghasilkan ide-ide yang brilian.

Telah menjadi 10 besar negara terinovatif[1], tidak membuat Belanda berpuas diri. Pohon-pohon penghasil ide dan inovasi terus ditanam untuk menghasilkan banyak buah karya yang segar. Untuk memastikan buah-buah itu memiliki rasa yang istimewa, bangsa Belanda memiliki caranya tersendiri. Yaitu, dengan membina hubungan yang mesra antara universitas, industri dan pemerintah Belanda. Hubungan inilah yang menciptakan lingkungan ideal agar pohon-pohon ide dan inovasi dapat tumbuh dengan subur.

Baru-baru ini, komitmen hubungan tersebut kembali ditunjukkan. Philips mengumumkan sebuah hubungan kerjasama dengan beberapa universitas di Belanda. Kerjasama tersebut berupa pengembangkan inovasi produk di perangkat kesehatan [2]. Dengan cara ini, bibit-bibit ide dan pemikiran yang berseliweran di universitas dapat ditanamkan pada sebuah tanah yang luas dan gembur. Tanah subur ini lah yang disediakan oleh pemerintah Belanda, sementara pihak industri bertugas untuk menyiram dan memupuknya agar tetap subur.

Ide-ide yang berseliweran di universitas tentu saja tidak serta merta muncul. Butuh proses panjang agar bibit-bibit unggul bermunculan. Sepanjang studi, para pelajar ditempa di kelas-kelas sains dan teknologi untuk mendapatkan landasan pemikiran sesuai bidangnya. Tentu saja ini tidak cukup. Oleh karena itu, pelajar kembali dibekali dengan pengetahuan praktis melalui kisah-kisah nyata yang diberikan oleh pengajar tamu di kelas entrepreneurship. Kelas-kelas tambahan ini lah yang berhasil mengajak banyak pelajar untuk memikirkan inovasi teknologi yang tepat guna (dan tentu saja harus bisa dibisniskan!).

Aspek pendanaan seringkali menjadi momok dalam mewujudkan sebuah inovasi. Di Belanda, kita tidak perlu khawatir dengan hal klasik ini. Banyak, banyak, banyak sekali saluran pendanaan yang dapat diperoleh di belanda. Dari pihak universitas sendiri, banyak bantuan yang diberikan, baik berupa dukungan infrastruktur canggih ataupun pendanaan awal [3]. Selain itu, seorang profesor juga dapat memberikan saluran pendanaan tertentu melalui kerjasama dengan industri.

Dukungan pemerintah Belanda untuk ide-ide dari universitas sangatlah besar. Salah satu contohnya adalah STW Grant, yang nilainya dapat mencapai milyaran rupiah untuk sebuah rencana bisnis. Selain itu, banyak juga bantuan pendanaan dari berbagai organisasi serta innovation grant dari pihak bank di Belanda[4]. Tidak hanya masalah pendanaan, pemerintah Belanda juga gemar menciptakan iklim optimal untuk melakukan bisnis.  Semua aspek untuk menjalankan inovasi dan bisnis benar-benar dipertimbangkan. Tak heran, belanda menjadi negara terbaik kedua di dunia untuk melakukan bisnis![5]

Menurut Ir.Saputra, sebuah bangsa akan maju bila jumlah entrepreneur melebihi 2% dari jumlah penduduk[6]. Saat ini, persentase entrepreneur di belanda sudah lebih dari 4% dari jumlah penduduknya[7]. Sebagai negara unggul di bidang inovasi, Belanda sudah siap untuk melaju dengan kencang dengan negara-negara inovatif lainnya. Tentunya, kita  tak mau ketinggalan kan? Mari belajar banyak dari pohon inovasi dan kreativitas Belanda!

Sumber Informasi dan Contoh Program:

[1]
http://www.insead.edu/media_relations/press_release/2011_global_innovation_index.cfm

[2]
http://www.newscenter.philips.com/main/standard/news/press/2012/201204-leading-dutch-players-in-healthcare-and-technology-join-forces.wpd

[3]
http://www.yesdelft.com

[4]
http://www.stw.nl/Programmas/

[5]
http://nesoindonesia.or.id/indonesian-students/kompetiblog-2012/resources/ekonomi/belanda-negara-terbaik-kedua-di-dunia-sebagai-best-place-for-business

[6]
http://www.tempo.co/read/news/2011/07/23/089347983/Ciputra-Indonesia-Butuh-Dua-Persen-Wirausahawan

[7]
http://www.gemconsortium.org/docs/download/2244

Implikasi Demokrasi Indonesia

Tinggalkan Komentar

Sudah satu dekade lebih ‘kita’ setuju untuk menjadi sebuah negara demokrasi. Saat ini, demokrasi kita luar biasa. Menurut Amerika Serikat, kita sukses besar. Menurut saya, demokrasi kita sukses besar juga. Sukses besar dalam melayani pihak asing memanfaatkan sumber daya kita. Bagaimana tidak, kita memang sangat baik dalam urusan luar negeri. Tak heran banyak bangsa asing yang senang dengan bangsa kita. “Orang Indonesia ramah-ramah” sangatlah sering kita dengar.

Sampai satu hal yang sangat penting pun, misalnya ketahanan energi, kita sangat fleksibel dan ramah. Sangat ramah sekali, bahkan. Ingin menjaga ‘harkat’ demokrasi, kita berusaha menghindari jauh-jauh pengalaman menjadi bangsa totaliter di masa lalu. Artinya kita menjauhi juga hal yang berkaitan dengan pemerintah totaliter. Jadi, yang namanya pengambilalihan properti pribadi ataupun aset asing sangat dihindari. Meskipun hal tersebut merugikan negara. Di dalam pikiran kita, tidak menghormati kontrak adalah ciri negara totaliter. Kita sangat takut, jika kita melakukan hal tersebut, kita dicap menjadi negara totaliter lagi.

Kontrak-kontrak seperti gas tangguh jaman megawati yang merugikan negara, pun kita hormati. Sebagai negara, kita tidak akan berani untuk mempersoalkan kontrak tersebut. Walhasil kita hanya bisa merayu dan memohon pada RRC untuk melakukan rembukan. Presiden pun pasti terpikir masalah ini, dan memang pernah melakukan ‘renegosiasi’ kontrak itu. Hasilnya? Berhasil naik. Tapi sangat sedikit sekali.

Memang, kesannya negara kita lemah sekali. Tapi inilah implikasi dari negara demokrasi pancasila. Kita akan makin sedih sekali kalau membayangkan, jika gas tersebut dijual dengan harga pasar, maka kita akan untung ratusan trilyun. Dengan keuntungan itu, ribut-ribut subsidi BBM seperti yang terjadi sekarang tidak akan terjadi. Selama menjadi negara demokrasi pancasila, penyesalan itu mesti kita pendam dalam-dalam. Sekaligus berharap kontrak-kontrak blunder seperti itu tidak terjadi lagi.

Implikasi lain yang kita peroleh adalah media massa. Pemerintah sendiri bisa dibilang tidak memiliki televisi. Bahkan TVRI sekalipun. Ini merupakan implikasi dari demokrasi kita. Sebagai hasilnya, pemerintah pun dihajar oleh TV-TV swasta itu. Rakyat pun dihajar dengan berita-berita yang menunjukkan seolah-olah negara kita akan bubar esok hari. Depresif mungkin. Tapi inilah negara kita dengan demokrasi pancasila. Masih ada sisi positifnya memang : kita diberi peluang untuk mempelajari realitas media, realitas tv, dan realitas kehidupan kita.

Melalui demokrasi, rakyat semua terlibat dalam pemerintahan. Memang itulah tujuan utama dari demokrasi : kesetaraan rakyat.

Melalui demokrasi pancasila, rakyat setara dan bebas memilih siapa yang akan mewakilinya. Apakah ingin memilih pemimpin yang moderat, pemimpin yang sangat ramah pada pihak asing, ataupun pemimpin yang tidak dinginkannya sekalipun.

#mohon maaf untuk sedikit post yang sedikit depresif, kita butuh yang seperti ini kadang-kadang. minggu depan saya akan menulis yang positif :D

Entri Lama

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.