Yes or No

Tinggalkan komentar

Salah satu kodrat manusia yang paling mendasar adalah mempunyai keinginan. Kemudian, ketika kita telah mencapai keinginan tersebut kita bisa jadi akan mendefinisikan diri kita sebagai orang yang ‘sukses’. Sering sekali dalam hidup kita punya keinginan yang kita bentuk secara mental dengan mengatakan,

“Ya, gw ingin jadi mentri yang bisa membentuk karakter.”

“Gw ingin mengabdi buat bangsa gw.”

“Gw pengen bikin ini, itu, anu, …”

dsb.

Membentuk keinginan dan berusaha mencapai sukses dengan cara seperti itu seringkali bekerja dengan baik, dan sangat realistis untuk dilakukan. Namun, secara personal, saya memiliki masalah untuk membangun keinginan (dreams) dengan cara seperti itu. Salah satunya adalah kepribadian dasar saya yang lebih imaginative dan abstrak dalam membentuk keinginan. Hasilnya, bisa jadi dalam satu waktu keinginan yang saya miliki jumlahnya sangat banyak dan sangat tidak realistis.

Beberapa kali di masa silam, saya sempat memiliki banyak ide, hingga berpikir untuk dapat melakukan semuanya di waktu yang sama. Saya bilang “iya” untuk semua keinginan tersebut. Berharap mendapatkan hasil kerja yang sangat banyak, alih-alih saya hanya mendapatkan hasil kerja yang dampaknya lebih kecil dari usaha yang saya berikan. Teringat beberapa tahun silam, saat saya lagi parah-parahnya mengatakan “ya” pada setiap peluang yang ada. Ayah saya beberapa kali mengingatkan bahwa energi yang kita miliki terbatas, dan kita ga bisa melakukan banyak hal di satu waktu dan mendapatkan hasil yang terbaik di setiap usaha yang berlainan tersebut. Saat itu saya ga percaya. Nyatanya, saya salah. Memang mungkin sudah kodratnya anak muda adalah manusia yang bodoh, dan lambat sekali belajar dari orang tua.

Semenjak saat itu, saya berusaha mengubah diri sehingga saya lebih sering mengatakan “no”. Menjadi Badan Pengurus organisasi, saya katakan tidak. Aktif peluang aktif di organisasi tertentu, saya pun katakan tidak. Terlalu ekstrim mungkin. Saya yang sekarang mungkin akan bilang, “ga gitu juga kalee” ke saya yang di masa silam. Parahnya adalah, saya pun lebih tenggelam pada ide escapism, alienism, depression, dan loneliness. Tenggelam dalam banyak syair Charles Bukowski.

I WAS DRAWN TO ALL THE WRONG THINGS: I LIKED TO DRINK, I WAS LAZY, I DIDN’T HAVE A GOD, POLITICS, IDEAS, IDEALS. I WAS SETTLED INTO NOTHINGNESS; A KIND OF NON-BEING, AND I ACCEPTED IT. I DIDN’T MAKE FOR AN INTERESTING PERSON. I DIDN’T WANT TO BE INTERESTING, IT WAS TOO HARD. WHAT I REALLY WANTED WAS ONLY A SOFT, HAZY SPACE TO LIVE IN, AND TO BE LEFT ALONE.

Charles Bukowski

Sudah sangat jelas, saya pun tertarik dan ditarik oleh banyak hal yang sangat salah. Saya tenggelam makin dalam dan dalam.. Hingga akhirnya seorang kawan saya, Irfan menunjukkan sebuah artikel dengan cerita seorang bilyuner dari Afrika Selatan, yang sekarang hidup di USA. Saya pun membaca lebih lanjut artikel tersebut, dan bersambung ke banyak artikel lainnya, hingga menemukan sebuah teori yang sangat membekas di kepala saya, tentang first principle method-nya elon musk dan extreme focus-nya peter thiel.

Saya pun kembali mengatur dan merencanakan tentang arah fundamental dari kehidupan yang saya inginkan. Membuat daftar tentang hal apa yang make sense, dan hal apa yang ngawur untuk dilakukan. Kemudian saya pun mempelajari, fokus pada keinginan bukanlah mengatakan “iya” pada setiap peluang yang baik dan bagus. Fokus adalah mengatakan “iya” pada satu ide yang sangat bagus, dan juga mengatakan “tidak” pada ribuan ide lain yang bisa jadi sama bagusnya. Sambil berdoa, semoga satu “iya” yang kita miliki ini memang layak untuk diperjuangkan.

Extreme Focus

Tinggalkan komentar

Tiap generasi punya jamannya sendiri, tiap jaman punya generasinya sendiri. Jaman dulu, kemungkinan besar tantangan terberat kebanyakan dari masyarakat adalah untuk bagaimana mendapatkan makan untuk hari esok. Jika sudah bisa makan, baru mikir bagaimana bisa sekolah. Jika sudah bisa sekolah baru mikir gimana caranya beli buku, ataupun akses informasi.

Jaman sekarang, banyak hal sudah berubah. Jumlah masyarakat kita yang merangsek naik ke “middle class” sangatlah banyak, dan terus bertambah jumlahnya. Bertambahnya jumlah orang ke kelas ini bisa dianggap sebuah kemajuan, tapi juga tentu juga ada sisi lain dari kemajuan tersebut. Rata-rata dari masyarakat kelas ini sudah mampu mengakses informasi dengan mudah. Informasi memang seringkali dapat memudahkan urusan dalam kehidupan kita. Tapi saya percaya sekali bahwa informasi yang mengalir ke benak kita seringkali terlalu banyak.

Terlalu banyak, sehingga seringkali kita terdistraksi oleh aliran berita sebanyak satu atau dua kalimat yang menganggu keinginan kita untuk membaca sebuah essay delapan paragraf. Terlalu banyak, sehingga seringkali dari satu informasi dan tulisan singkat yang mengalir ke benak kita, lalu membuat kita meninggalkan prioritas utama kita selama berjam-jam.

Di jaman ini, saya percaya bahwa kita memerlukan sebuah tingkatan pemikiran, yang mampu membuat semacam filter pikiran untuk menolak informasi-informasi yang tidak relevan. Di tingkatan pemikiran ini, kita hanya perlu mengambil informasi yang kita inginkan, untuk kemudian dipadu dengan premis-premis yang kita miliki di kepala: untuk menelurkan sebuah pengetahuan yang baru, atau mengecek keabsahan informasi yang sudah ada.

Tentu, hal yang saya sebut dengan “informasi yang kita inginkan” perlu didefiniskan lebih lanjut.

Contoh orang yang saya anggap telah menerapkan tingkatan pemikiran tersebut, adalah Peter Thiel. Dia menerapkan konsep extreme focus.

Thiel believes that people should work only on their one most important project until it is finished.  Paypal executive Keith Rabois recalls that Thiel “would refuse to discuss virtually anything else with you except what was currently assigned as your number one initiative.”

“The most important benefit of this approach is that it impels the organization to solve the challenges with the highest impact. Without this discipline, there is a consistent tendency of employees to address the easier to conquer, albeit less valuable, imperatives. As a specific example, if you have 3 priorities and the most difficult one lacks a clear solution, most people will gravitate towards the 2d order task with a clearer path to an answer.

As a result, the organization collectively performs at a B+ or A- level, but misses many of the opportunities for a step-function in value creation.”

Sekarang dan 1984

Tinggalkan komentar

Salah satu buku yang paling menarik dan sangat meninggalkan bekas di pikiran saya hingga saat ini adalah buku yang berjudul 1984. Buku ini dikarang seorang penulis inggris, George Orwell, dan menceritakan dunia masa depan di tahun 1984. Diceritakan, bahwa di masa depan dunia akan dikuasai oleh pemerintahan-pemerintahan totaliter. Beberapa negara super (super-states) akan saling berperang. Saking sibuknya berperang hingga hak-hak kemanusiaan pun sudah tidak ada harganya.

Memang dunia kita tidak ekstrem seperti itu sekarang. Meskipun demikian, ada beberapa cerita di buku itu yang masih sangat relevan dalam kehidupan kita sekarang.

1. Penyadapan oleh NSA

Dalam dunia 1984, “Big Brother” menyadap setiap pejabat pemerintahan yang bekerja untuk pimpinan partai, dengan menempatkan “telescreen” (semacam layar besar yang bisa video conference). Meskipun demikian, tidak semua orang disadap. Ada sebuah golongan masyarakat yang disebut “proletar” yang tidak dianggap membahayakan sehingga bebas dari sadapan pemerintah.

Bagaimana di 2014? Kejadian penyadapan yang terjadi ternyata lebih parah. Bukan hanya orang-orang penting, tapi semua manusia yang mempunyai telescreen (smartphone) dapat diawasi komunikasinya oleh NSA. Ya memang entah tujuannya mereka apa. Tapi kecenderungan yang ada adalah masyarakat kita masih senang2 saja membagi apa yang ada di pikiran kita, mencantumkan hal2 yang kita suka, membagi lokasi kita, dsb. Sebenarnya yang dibagi seringkali ga penting sih. (termasuk juga nulis di blog ini juga sih :p).

2. Perang terus menerus

Jika di 1984, ada perang terus menerus yang didesain oleh pemerintah, kurang lebih di 2014 juga kejadian masih mirip. Di buku karangan Orwell tersebut, pemerintah akan membuat pengumuman2 seperti “We Have Always Been At War With Eastasia”. Padahal, sebenarnya perang tersebut tidak ada. Bahkan Big Brother sengaja membuat serangan palsu, ataupun tokoh palsu dengan nama Goldstein yang menjadi musuh bangsa. Padahal Goldstein itu sebenarnya hanyalah tokoh karangan.

Di 2014, contohnya cukup jelas. Perang yang telah terjadi ( Iraq, Afghanistan) dan terus terjadi di daerah lain (Libya, Syria) akan selalu ada.

3. Proletarian

Ada juga yang namanya golongan masyarakat proletar, yakni golongan masyarakat yang “dikendalikan” oleh pemerintah. Pokoknya Big Brother ngomong apa, mereka manut-manut saja. Yang penting untuk masyarakat proletar adalah bahwa mereka bisa dapat makanan, tempat tinggal, hiburan, dsb.

Di tahun 2014, kita sudah mengenal istilah 1% dan 99%-ers. Menurut saya, kemungkinan besar struktur masyarakat kita ya akan tetap seperti itu dengan melihat keadaan sekarang. Ada masyarakat superkaya, dan masyarakat bisa saja cuap2 di twitter ataupun media sosial, tapi tetap kesulitan membuat perubahan. Di sisi lain, kebanyakan yang miskin akan semakin miskin, dan yang kaya bersedekah untuk yang miskin.

4. Kamus Bahasa Newspeak

Di 1984, pemimpin partai berusaha menghilangkan rasa cinta antar manusia. Pernikahan (dan juga pacaran) dilarang di masa itu. Untuk menghilangkan perasaan tersebut dari akarnya, pemerintah juga menghilangkan kata-kata yang bisa memunculkan rasa cinta. Mengerikan.

Sekarang?

Gambar

Sumber gambar

Enough said. Di sisi lain, Twitter juga membatasi kemampuan kita berekspresi jadi hanya 140 kata, serta informasi yang didapat cenderung terpotong-potong.

Tentu saja masih ada kemiripan2 lain yang digambarkan oleh “1984″. Tapi tulisan saya akhiri di sini, selamat beraktivitas.

Kapan ya sumber daya Indonesia habis?

Tinggalkan komentar

Oke, jadi ceritanya negeriku Indonesia adalah salah satu negara yang sedang berkembang ekonominya. sampai-sampai tahun lalu dapat predikat ‘best after china’. Ada banyak sekali faktor yang mendukung pertumbuhan itu. Saat ini, saya ingin mengarahkan fokus kita ke faktor energi.

Pertumbuhan ekonomi yang tinggi pasti didukung juga oleh asupan energi yang baik. Negeri kita didominasi oleh 4 jenis asupan energi utama, yakni minyak, gas alam, batu bara, dan biomassa. Mayoritas dari energi tersebut adalah bahan bakar fosil, yang jelas akan habis suatu saat. Pertanyaan besarnya adalah kapan sumber daya ini akan habis, dengan cara kita mengeksploitasi dan menggunakannya seperti sekarang. Mari kita hitung saja secara simpel dan sederhana.

  • Minyak : Indonesia miskin akan minyak bumi. Cadangan proven reserve kita hanya 0.3% dari proven reserve dunia. Dengan proven reserve 4.3 miliar barel minyak, dan mengingat di 2009 kita memproduksi minyak (dan kondensat) sebanyak 350 juta barel minyak. Dengan matematika sederhana, sudah jelas kita akan kesulitan mendapatkan minyak (dengan harga wajar) dari tanah air kita dalam waktu kurang dari 15 tahun. Sebagai pembanding, Saudi Arabia punya proven reserve lebih dari 100 tahun.
  • Gas alam : Indonesia dapat ranking 11 di dunia untuk proven reserve natural gas (dengan 1.7% proven reserve di tahun 2009). Menghitung dengan cara yang mirip seperti poin sebelumnya, kita bisa melihat bahwa gas alam dari bumi kita bisa dinikmati selama kira-kira 50 tahun.
  • Biomassa : Untuk kasus indonesia, yang dimaksud biomassa adalah kayu bakar. Banyak sekali masyarakat yang menggunakan kayu bakar untuk mendapatkan energi. Bisa diasumsikan hutan adalah energi yang terbarukan, sehingga kita bisa katakan energi ini akan ada untuk waktu yang sangat panjang. 
  • Batu bara : Indonesia adalah eksportir batu bara terbesar di dunia, meskipun hanya punya sekitar 0.5% dari proven reserve batu bara dunia. Dengan laju ekspor seperti sekarang, batu bara akan bertahan selama sekitar 80 tahun.

Sedikit pandangan pribadi untuk hasil perhitungan di atas.

  • Minyak : Jelas cadangan minyak akan habis, dan akan habis secara cepat. Kelak, kita pasti akan mengimpor minyak lebih banyak lagi, tapi tentu saja saat itu harga minyak 80 dollar/ barel sudah tidak akan ada lagi di dunia ini. Implikasinya banyak sekali, kemungkinan adalah kelak pemerintah pun pasti sudah tak sudi dan tak mampu mensubsidi BBM. 
  • Gas alam : Gas alam adalah alternatif minyak yang lebih bersih, dan syukur kita punya lebih banyak. Tapi lambat laun nasibnya akan mirip seperti minyak.
  • Biomassa : Masyarakat yang sudah mengenal migas, serta teknologi yang menggunakan energi dari migas, rasa-rasanya akan sulit untuk kembali mengandalkan kayu bakar. Di sisi lain, progress untuk mengembangkan biomassa yang modern (biogas, biofuel, dsb) masih sangat minim. Padahal bisa jadi biomassa modern adalah salah satu jalan keluar kita.
  • Batu bara : Entah kenapa dengan cadangan yang sangat sedikit (relatif dengan china yang punya 50x cadangan batu bara kita), kita malah pol-polan menggaruk bumi dan mencari batu bara. Mungkin niat kita sebenarnya baik, untuk mendorong ekspor dan pertumbuhan ekonomi. Tapi ini seperti mengulang kejadian masa silam di tahun 70an, saat kita merasakan booming eksplorasi migas. Saat ini,40 tahun dari kejadian itu, toh kita sadar kalo kita miskin migas.

Tulisan ini akan saya akhiri tanpa kesimpulan. Hal yang muncul hanyalah banyak pertanyaan lain. Mari kita simpan untuk lain kesempatan.

Continuing the Millennium Development Goal Post-2015 in Energy Sector

Tinggalkan komentar

Ini essay yang sempat saya tulis sebulan yang lalu. Tulisan ini saya masukkan ke lomba global energy essay, dengan tema sustainable energy for all.

Almost fifteen years after the Millennium Development Goals is established, currently we still have 1.3 billion people without electricity, and almost half of people in the world still rely on traditional biomass energy source for cooking and heating (United Nations, 2012). This situation asserts that there is huge inequality in energy sector. This fact is also reported in UN Development Group report that reflects the voices of more than one million people, that the inequality and insecurities is growing for the poorer and marginalized people (UNDG MDG Task Force, 2013).  Therefore, I believe that for next decade, energy access inequality and marginality is the foremost thing that we have to tackle, alongside with the research and implementation of sustainable energy sources, energy efficiency improvement, and energy security preservation.

Energy access inequality and marginality is rooted from the source of extreme poverty, which still exists in our life today. Looking at previous decade, we already “succeeded” with Millennium Development Goal, by escalating about half billion of people to above of poverty line (UN High Level Panel, 2012). However, it is imperative that we must strive to leave nobody below the poverty line. It is unquestionable that we have to push the limit more than MDG. In the other hand, United Nations aware of these facts, and already declared that for year 2014-2024 is the decade of sustainable energy for all (United Nations, 2012).  By that resolution, it is pointed that:

  1. Access to the reliable, affordable, economically feasible, socially acceptable, and environmentally sound energy services and resource for sustainable development must be improved
  2. It is imperative to improve energy efficiency
  3. Share of renewable energy, clean energy, and energy efficient source increment is important

We are currently having the momentum of The Sustainable Energy for All Initiatives (SE4ALL) that mobilizes 50 billion dollars from private sector and investors, which is a very huge resource to be used in developing sustainable energy. In the other hand, there are ideas to reduce the inequality make the huge energy consumers to pay full price for the harmful impact that the current energy generates. By implementing energy tax, remove the inefficient subsidies, and also the resources from the SE4ALL initiative, infrastructure on remote areas can be built to reduce those inequalities (UN High Level Panel, 2012).

Providing a reliable and modern energy for lighting and cooking will improve the social, economics, and environment benefits. This is where technology will hold a major role, where it can provide different solutions to the poorer society. In practical terms, there are few solutions like LED solar panel, solar dish cooking devices, that can be implemented in certain areas of remote and poorer area.

In the other hand, an agreement between the technology owner, government, and financier must be in place to provide those appropriate energy solution to the poorer people. Technology owner can provide a bull’s-eye technology to be implemented in poor areas, while government can put a right tax, investment environment, and policy to make the financier willing to put their money in developing poor areas. In the other hand, developing country is also having a part in developing the technology that can be implemented in those poor areas.

Developed countries are also having their own challenges. Even though the importance of renewable energy development is recognized in most of developed country, currently earth is already exceeded its planetary boundary limit on CO2 gas emissions (Rockstrom, Johan, et al., 2009). Current situation of CO2 gas emission is the highest amount in at least 800.000 years. This alarming fact can be furthermore become worse if we still continue the huge amount usage of fossil fuel (currently more than 80% of global energy use) which is not changing since 1990s. Staying on this track in business-as-usual will be very unfavorable to the sustainable development.

Thus, for the way forward, every developed country have to make a choice of a sustainable future, with a feasible, affordable, efficient, and clean energy. In addition, sustainable future here is not just about emission reduction. It is also consist of agreement how to save our current available energy, with future generations. To achieve that future, International Energy Agency has made recommendations to achieve the clean energy future (International Energy Agency, 2012).

-          Create an investment climate of confidence in clean energy

-          Unlock the incredible potential of energy efficiency

-          Accelerate innovation and public research, development, and demonstration (RD&D)

To achieve that goal, governments have to make sure that they understand that different energy systems choice will results in different future. It is each government’s responsibility to create the future and the appropriate energy system according to their potential energy and available energy sources. To achieve efficient energy usage in the future, it is natural to assume that the energy intensity will not growing as fast as it is on business-as-usual. This condition could be a problem if a country relied hugely on energy growth to expand its economic growth. Therefore, to achieve success in implementing sustainable energy future in developed country, it is also important to consider few aspects in next decade:

  1. Power generation sector holds a huge portion of clean energy system. To save energy in one end is the same as producing energy in the other hand. This is why implementing energy efficiency is often said as attaining a hidden fuel. On top of saving energy, we can also contribute to achieving climate goals, by providing most of the electricity generation using clean energy source.
  2. It is also imperative to put the renewable and emission reduction of current energy generation source. For renewable, there are bio-energy and renewable energy potential specific to each area to be assessed. For emission reduction, Carbon Capture and Storage (CCS) technology should be implemented, while the efficiency of electricity transmission and distribution infrastructure should be improved by modernization.
  3. Implementation of the technology to achieve flexible energy source. There are potential to implement flexible grid, which implements electricity regional integration, demand side resources management, flexible generation & storage, and scheduling of energy usage that can further improve the efficiency of energy use (Harris, 2013).

Regarding the renewable energy source, one of the SE4ALL initiative aim is to double the share of renewable energy in 2030. It is an achievable goal, and there are few important measures that have to be implemented in next decade (IRENA, 2013). First of all, it is important to increase the efficiency of the traditional biomass energy source, since it will free up resources used to generate the same amount of energy. Currently biomass account for about 80% of all renewable energy sources, and its’ application will continue to grow more than traditional use. It will be also used on transportation, buildings, and industry. In the other hand, It is important to start developing RE technologies and projects, since it will take long lead time to develop energy system. This condition asserts that the investment in renewable power generation must be accelerated.

However, in developing renewable energy, energy security and availability in the long run have to be considered. That security consists of availability, accessibility, affordability, and acceptability (Kruyt, et al, 2009). The future energy that a government chooses has to be available and accessible physically, or it is proven potentially. Social and environmental aspects of energy usage, is also have to be considered while maintaining economic sense of the energy value. Each country has their own situation, and those situations have to be assessed thoroughly to achieve the optimum sustainability.

In conclusion, it’s our job to make sure that we continue the work that has been put through the MDG. In energy sector, it is imperative to enhance the live of billions people who still have no access to electricity, or people who live below the poverty line. The foremost challenges are to reduce the inequalities that still exist, through the development and implementation of sustainable energy source in poor area. Through close collaboration between technology owner, governments, and financier, we should be able to make a platform to make billions of people access clean and reliable energy. In the other hand, developed countries also have their own challenges to reduce the emissions, and to push the planetary boundary within the limits. This can be pushed through the sustainable energy development implementation, through efficiency improvement and technology project development. At the top of that, to achieve sustainable energy future, it is also our aim to double the amount of renewable energy sources in 2030. To achieve that, in next decade we have focus on biomass modernization, and also push a huge number of capital projects in renewable power generation. However, we must not forget that to achieve that, we must achieve it in secure way by ensuring the availability, accessibility, affordability, and acceptability of the energy.

Bibliography

Harris, A. (2013, October 11). Flexible Grid The Key To A Clean Energy Future. Retrieved October 20, 2013, from Clean Technica: http://cleantechnica.com/2013/08/11/flexible-grid-the-key-to-a-clean-energy-future/

International Energy Agency. (2012). Energy Technology Perspectives – how to secure a clean energy future. Paris: International Energy Agency.

IRENA. (2013). Doubling the Global Share of Renewable Energy, A Roadmap to 2030. Abu Dhabi: International Renewable Energy Agency.

Kruyt, et al. (2009). Indicators for energy security. Energy Policy, Volume 37, Issue 6 , 2166–2181.

Rockstrom, Johan, et al. (2009). A safe operating space for humanity. Stockholm: Stockholm Resilience Centre.

UN High Level Panel. (2012). A New Global Partnership: Eradicate Poverty and Transform Economies through Sustainable Development. New York: United Nations.

UNDG MDG Task Force. (2013). A Million Voices: The World We Want. New York: United Nations Development Group.

United Nations. (2012, December 21). UN General Assembly Declares 2014-2024 Decade of Sustainable Energy for All. Retrieved October 20, from United Nations, Departement of Public Information: http://www.un.org/News/Press/docs/2012/ga11333.doc.htm

 

Tinggalkan komentar

atmo4th:

my blog post on kompetiblog

Originally posted on KOMPETIBLOG 2012:

Belanda merupakan negara yang sangat kreatif dan inovatif. Di negeri kincir angin ini, banyak sekali ide segar bermunculan. Di masa lalu, Belanda membuat tanah rendah (Nederland) yang semula berada di bawah permukaan laut menjadi daratan yang dapat ditinggali. Kini, kita semua tahu Philips: perusahaan raksasa penghasil produk elektronik, perangkat pencahayaan, dan peralatan medis terkemuka di dunia. Saking banyaknya karya inovatif yang diciptakan, membuat the Netherlands seperti sudah terbiasa untuk menghasilkan ide-ide yang brilian.

View original 434 more words

Pekerjaan Rumah Teknologi

Tinggalkan komentar

We choose to go to the moon. We choose to go to the moon in this decade and do the other things, not because they are easy, but because they are hard, because that goal will serve to organize and measure the best of our energies and skills, because that challenge is one that we are willing to accept, one we are unwilling to postpone, and one which we intend to win, and the others, too.

Rasa-rasanya, potongan pidato John F. Kennedy di tahun 1962 ini adalah momen yang paling epic di abad kemarin. Untuk pertama kalinya dalam sejarah : manusia bermimpi, dan berikrar untuk pergi ke bulan!

Coba deh, kita melihat semangat seperti yang ditunjukkan di tahun 1962 itu, ataupun semangat di awal abad ke-20 ketika  manusia menemukan banyak kemajuan teknologi.. Kemudian, kita bandingkan dengan semangat dan keingintahuan manusia di tahun 2012 ini.. Akan muncul sebuah pertanyaan :

Entah kenapa, jaman sekarang ini kok kemampuan kita untuk memimpikan sebuah kemajuan teknologi gak segitu hebatnya yah?

Kenapa dari 50 tahun yang lalu, hingga saat ini, mimpi-mimpi manusia masih saja sama : mobil terbang, Listrik tanpa kabel, hologram, teleportasi, Alien, Penjelajahan luar angkasa, dst.

Belum ada mimpi yang baru.

Di jaman ini, orang lebih senang dengan kenyamanan yang diberikan oleh teknologi yang ada. Rasa penasaran pun seolah-olah hilang di jaman ini. Bingung sedikit, tinggal googling. Seolah-olah semua pertanyaan mampu dijawab oleh internet.

Terkadang, kita sebagai manusia pun menjadi terlalu pintar. Berusaha menjawab sendiri pertanyaan-pertanyaan yang ada. Ataupun menjawab pertanyaan-pertanyaan orang lain -dengan berdasarkan logika dan pemikiran sendiri-

Artinya, kita semakin sedikit belajar dari sejarah. Padahal, sejarah sendiri telah memberikan kita banyak pelajaran dan tugas. Antara lain, untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang telah dicetuskan oleh masyarakat di era sebelumnya. Ditambah lagi, PR kita masih banyak sekali, untuk mewujudkan mimpi-mimpi orang sebelum kita.

Ada salah satu PR yang sangat menarik untuk saya

But we shall not satisfy ourselves simply with improving steam and explosive engines or inventing new batteries; we have something much better to work for, a greater task to fulfill. We have to evolve means for obtaining energy from stores which are forever inexhaustible, to perfect methods which do not imply consumption and waste of any material whatever.

Ini adalah salah satu PR yang diberikan oleh Nikola Tesla, salah satu inventor terhebat di abad 20. Lucunya, kita malah melakukan hal yang tidak disarankan oleh Tesla. Kita berpuas diri dengan sumber daya minyak, gas, dan batubara yang kita miliki. Merasa masih dapat hidup enak beberapa ratus tahun lagi, kita berpuas diri dengan teknologi yang sudah ada sekarang.

Padahal, kita masih punya banyak PR yang lainnya. PR yang umurnya sudah ratusan tahun.

Older Entries

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 26 pengikut lainnya.